Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
025. Para Pemberontak Muncul Bagian II


__ADS_3

Masa pemberontakan telah terjadi. Salah satu hambatan untuk penyatuan negri timur, membuat Yongchun kesal.


Pemimpin Yang mengatakan bahwa pemberontak yang ada di bawah sana belum seberapa. Nyatanya mereka ada ribuan namun entah di mana mereka bersembunyi.


Para pemberontak yang saat ini ada dapat dihitung dengan jari. Memorak-porandakan rumah para penduduk, namun tak seorang pun terbunuh kecuali para pendekar. Terutama para pengikut pemimpin kultus 7 Surgawi.


Dendam terselubung pada kekaisaran semata. Dapat dilihat pola serangan mereka berantakan, malam yang dingin itu para pemimpin kultus bekerja sama untuk memberhentikan hal tersebut.


Dan di sela-sela itu, Yang Jian justru meminta kerja samanya pada Yongchun. Untuk menghentikan pemberontakan, dan hal lainnya yang bisa dikerjakan.


Rembulan bercahaya, salju turun membasahi mereka semua yang bertarung. Darah yang menggenang dan mayat yang berserakan di jalanan pun tak dihiraukan oleh para pendekar.


Semua penduduk sibuk berlarian tuk mencari tempat yang aman. Wanita, pria, anak-anak dan lansia dilanda kepanikan luar biasa. Sudah beberapa kali masa ini terjadi dan tak ada habis-habisnya. Semua orang juga pasti sudah sangat lelah menghadapi para pemberontak.


Sekalipun menangkap salah satunya, pasti tak lama kemudian ia mati dengan menggigit lidahnya sendiri. Sebab tak ingin, motif ataupun rencana mereka terungkap pada kekaisaran.


Begitu api menjalar membakar rumah para penduduk, saat itulah salah satu pemimpin kultus datang. Pemimpin Wang Xian.


“Pemimpin Wang! Ke mana saja dirimu?”


“Ah, aku? Baru saja keluar dari toilet. Akhirnya perutku lega setelah seharian ini sembelit,” ucap Wang Xian.


Di antara banyaknya pendekar saling bertarung, sosok dari Wang Xian begitu jelas di matanya. Semburat aura transparan, tak jelas berwarna apa dan tak jelas bagaimana sifat aslinya.


Mengingat bahwa dirinya telah dikhianati oleh Wang Xian, tak kuasa ia menahan amarah. Gejolak emosi itu dihantarkan dengan aura yang menggelegar.


“Tunggu! Kau ingin ke tempatnya?” tanya Yang Jian menghentikan langkah Yongchun.


“Kalau iya, kenapa? Apa kau juga berniat menghalangiku?” ketus Yongchun.


“Kau bersama Ao Ran saja. Jangan pedulikan dia selagi ada peperangan di sini,” tutur Yang Jian.

__ADS_1


“Tidak di sini, tidak di sana pun sama saja, Pemimpin Yang!”


Trang! Trang!


Yang Jian bukan bermaksud meremehkan namun terbesit olehnya kalau perang antar pemberontak ini akan kacau sebentar lagi.


Serangan dari penguasa wilayah timur tengah juga tidak semudah itu dibaca. Dengan mudah, Yongchun menerobos mereka yang di mana pemberontak juga mengincar orang yang dirasa kuat.


Hanya dalam sekali ayunan pedang, ia menghalaunya. Sekilat cahaya dan langkah kakinya yang melesat cepat ke arah Wang Xian.


Wang Xian tersenyum. Ia tahu siapa yang mengincarnya saat ini. Tentu gejolak amarah itu tak bisa disembunyikan terlalu lama. Namun bukannya ia menghadapi, ia justru melarikan diri.


Wang Xian menarik tubuh pengikutnya ke depan seraya berkata, “Dia juga bagian dari pemberontak. Habisi dia.”


“Bukankah dia ...”


Tersenyum membelakangi pengikutnya sendiri. Tak disangka ia ternyata pengecut. Yongchun tak segan-segan pada orang yang menghalanginya.


“Kenapa dia tidak membunuhnya saja? Sudah kuduga dia masih bisa menahan dirinya. Tidak asik sama sekali,” umpat Wang Xian.


Melempar bilah pedangnya ke atas. Sinar rembulan pun membuat pedang itu tampak berkilau. Dalam sekejap, pedang itu melesat cepat dan menusuk pundak Yongchun.


Mustahil Yongchun menghindarinya di kala medan perang dipenuhi oleh banyak pendekar. Apalagi saat ini, bukan hanya Wang Xian saja yang menyerangnya tapi juga banyak dari pemberontak ikut maju berebut mangsa empuk.


Langkah Yongchun terhenti. Tenaga dalam yang ia alirkan telah menguras sebagian dari napasnya. Rasa lelah terus menumpuk, masih mustahil untuknya menggunakan tenaga dalam yang kuat.


Mengerti akan hal tersebut, Yongchun menghela napas panjangnya. Mengeratkan genggaman pada pedang lalu mengangkat satu pedangnya lagi yang masih terselip di pinggang.


“Bertarung dengan emosi kuat itu bukan gayaku.” Sembari ia mengucapkan kalimat itu, Yongchun menebas mereka semua dalam satu gerakan dengan kedua pedangnya.


Satu persatu mereka tumbang. Luka dari mereka juga tidak parah lantaran Yongchun masih menahan diri. Karena membunuh juga tak ada habisnya, lagipula tujuannya kemari pun mengumpulkan banyak orang untuk menggulingkan kekaisaran.

__ADS_1


Yongchun bahkan sempat berpikir bahwa para pemberontak kekaisaran bisa dimanfaatkan. Kala itu, badai salju menerjang kembali. Angin kencang membuat mereka tak dapat bergerak leluasa lagi.


“Aku pikir, mereka cukup bodoh untuk menyerang di malam bersalju,” celetuk Yongchun sembari menginjak salju yang tebal.


“Wang Yongchun!!” panggil Pemimpin Zhao Yun dari kejauhan.


Yongchun pun tersentak mendengarnya. Padahal angin cukup kencang dan teriakan para pendekar juga terdengar sangat keras. Namun suara Pemimpin Zhao mengalahkan semuanya.


Tap! Zhao Yun menepuk pundaknya, ia menyapa sekali lagi sembari menyunggingkan senyum yang lebar. Keberadaan Zhao Yun sungguh membuat orang di sekitar ciut seketika.


“Oh, kau membunuh mereka tanpa ragu, ya?” tanya Zhao Yun, melihat ke sekeliling, beberapa dari pendekar pemberontak tumbang.


“Tidak. Mereka semua masih hidup. Dan ada pengikut Pemimpin Wang di sini yang ikut menyerangku. Lalu, apa yang dilakukan Pemimpin Zhao kemari? Kupikir kau ada di sisi selatan, dekat dengan kediamanmu,” pikir Yongchun tanpa melirik ke arahnya.


“Heh! Jangan takut begitu. Aku cuman dapat tubuh besar saja tapi bukan berarti aku terlalu kuat buatmu. Hei, kau menyerang mereka yang memiliki tenaga dalam tahap menengah dengan pedang kosong. Kau tahu maksudku?”


Crak!


Ketika mereka dengan asiknya berbincang di tengah medan perang, seorang pemberontak pun memberanikan diri untuk memanfaatkan celah itu. Namun, Pemimpin Zhao dengan mudahnya, meninju tanpa melihat siapa yang menyerang, hingga tulang lehernya patah.


“Aku terlalu bodoh untuk mengerti apa maksud Pemimpin Zhao. Tapi kalau boleh aku mengatakan satu hal ini ...apa mungkin Pemimpin Zhao hendak menghabisi diriku?”


“Hahaha!” Zhao Yun tertawa keras, para pemimpin kultus yang berada jauh dari sisi utara ini pun mendengar tawanya itu.


“Tidak. Justru aku datang kemari karena melihatmu begitu kuat. Karena itu aku mempertimbangkan apa yang kau katakan pagi ini.”


“Pemimpin Zhao harusnya tahu aku bermaksud menggunakan dirimu untuk kepentinganku sendiri,” ujar Yongchun tak merasa percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Zhao Yun.


“Ya. Kau datang untuk menyatukan negri timur. Tapi dalam kondisi seperti ini, harusnya kau berpikir dua kali. Nah, sekarang bukankah harusnya seorang penguasa akan melakukan apa saja demi wilayah dan rakyat tercinta?” Zhao Yun kemudian sedikit membungkukkan badan, berbisik, “Termasuk menjatuhkan Kaisar Ming, benar?”


Yongchun terdiam. Memahami situasi ini, di mana penyamarannya diketahui oleh semua pemimpin kultus 7 Surgawi. Yang ia pikir, bahwa mereka akan berusaha untuk membunuhnya namun ternyata mereka bersedia menjalin kerja sama demi kepentingan masing-masing.

__ADS_1


Tapi masalahnya, apa yang Pemimpin Zhao Yun incar sampai mau menjalin kerja sama dengan Yongchun?


__ADS_2