
Yongchun meminta Li Bai pergi bersama dengan Zhao Yun untuk menyampaikan sebuah pesan ke wilayah timur tengah. Perjalanan mereka pasti sangatlah panjang, karena itulah Yongchun meminta mereka untuk segera pergi.
Pesan untuk membawakannya sebuah kapal dan beberapa orang untuk menjemput. Li Bai merasa menyesal karena sudah mengikuti Yongchun, sebab permintaannya tidak tanggung-tanggung. Zhao Yun pun demikian, akan tetapi ia sudah menduga hal ini akan terjadi, mengingat Yongchun dengan mudah meninggalkan wilayahnya pada orang lain yang ada di sana.
Sejujurnya tipikal orang semacam Yongchun itu sulit ditemukan, ia juga pernah bercerita bahwa ia seringkali dimanfaatkan, dikhianati dan tidak dipercayai orang sekitar. Meskipun pada akhirnya ia mendapatkan semua itu semenjak memenangkan peperangan antar saudara.
Diola, adalah orang yang saat ini menggantikan posisi Yongchun sementara. Orang itu juga yang akan menerima pesan dari Yongchun melewati dua pemimpin kultus 7 Surgawi. Pria tua yang sudah berumur, pasti beliau akan marah kalau yang kembali bukanlah si penguasa melainkan hanya sebuah pesan ataupun perintah singkat.
Membayangkan saja sudah terasa mengerikan. Dan karena Yongchun yang meminta Li Bai dan Zhao Yun, mungkin mereka yang akan kena getahnya.
Lalu, Yongchun memberikan sebuah pedang pendek. Bentuknya tidak unik, warnanya juga sangat polos berupa polesan kayu. Ia menyuruhnya untuk untuk memberikan itu pada Diola.
“Ingat, jangan dibuka sarungnya. Biarkan seperti ini sampai dia menerimanya,” pinta Yongchun seraya menyerahkan pedang pendek dari balik bajunya.
Kemudian, ia memperingatkan Li Bai dan Zhao Yun untuk jangan mengatakan sesuatu yang direncanakannya pada beliau. Terutama apa yang telah terjadi padanya akhir-akhir ini.
Karena jika mereka mengatakan hal selain pesan yang hendak disampaikan, maka Diola pasti akan menjemputnya cepat atau lambat. Nanti bisa kacau kalau beliau datang.
Demikian, Yongchun menyampaikan beberapa hal itu sembari tersenyum lebar. Pria buta ini seolah tak pernah menanggung dosa.
Li Bai berbisik, ia menutup mulutnya dengan kipas kertas, ”Apa ini tidak salah? Kita diperintah untuk menuju ke wilayah timur tengah sedangkan wilayah kita dengannya saja belum ada tanda-tanda berdamai.” Ia berbisik pada Zhao Yun yang sepemikiran.
“Kau tuli? Mau aku jelaskan sekali lagi?” Meskipun sepemikiran namun bukan berarti Zhao Yun menolak perintah dari orang yang ia telah ikuti.
“Bukan itu maksudku!”
“Aku tahu, aku ini masih dianggap pemuda. Tidak sepantasnya memberi perintah pada orang yang lebih tua seperti kalian. Bahkan mungkin kalian sudah seperti pamanku sendiri. Maafkan aku yang egois,” kata Yongchun dengan suara lirih, ia memelas.
Diola saja lebih tua darinya, mana mungkin Yongchun merasa sungkan pada mereka. Apalagi memelas dengan mengerutkan kening dan sudut bibir yang menurun. Seperti kucing liar yang meminta makanan.
Jadi wajar saja sekarang ia meminta ini dan itu seenak jidatnya sendiri.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong selain melewati laut di ujung perbatasan kita, apakah ada jalan lain?” tanya Li Bai.
“Tentu ada. Jalannya akan lebih panjang, yang kalian perlukan hanya memutari laut saja. Tetapi setelah kalian masuk ke wilayahku, perhatikan kuda yang kalian tunggangi aman karena daerah sana cukup panas. Pastikan kalian berhenti di pesisir pantai saat ingin beristirahat.”
“Apa ada bagian yang belum digunakan?”
“Bukan bagian yang belum digunakan. Hanya saja penduduk di sana sedikit dan daerahnya mencakup luas,” kata Yongchun. Ia menegadah dan kemudian teringat sesuatu. “Aku teringat satu hal, berhati-hatilah kalian pada seseorang yang sering membawa barang berupa kotak kecil berwarna hitam.”
“Ada apa dengan dia?” tanya Zhao Yun.
“Dia bukan pendudukku tapi musuhku!” ungkap Yongchun menegaskan.
“Apa katamu? Kenapa musuhmu ada di wilayahmu?!” amuk Li Bai dan menarik kerah bajunya.
Seperti dugaan, reaksi mereka seperti ini. Yah, itu wajar saja. Berbagai pertanyaan mulai dilontarkan oleh Li Bai dan Zhao Yun hanya diam dengan tertegun sesaat. Memikirkan kenapa musuh Yongchun berkeliaran di wilayahnya.
“Sudah kubilang, dia hanya musuhku. Kalian akan aman, asal kalian tak menyebut nama asliku di depannya,” ucap Yongchun sambil melipat kedua tangan ke depan dada.
Awalnya juga mereka hanya berteman biasa, tetapi karena saat itu kedatangan guru yang melatih mereka di suatu akademi, semua murid termasuk Bon dan Yongchun saling berebut perhatian.
Pertarungan itu ada sejak kecil. Lalu pada suatu hari, guru yang bukanlah seorang wanita itu melakukan suatu hal pada keluarga Yongchun. Tidak memendam justru hanya ingin guru itu kembali dan menanggungnya.
Sedangkan Bon berpikir bahwa Yongchun atau Asyura ini berniat membunuhnya.
“Tapi itu masa lalu. Guruku sudah lama mati karena kutukan turun-temurun.”
Yongchun menganggap hal ini sepele dan berlalu begitu saja, namun Bon masih tak terima ditambah mengenai sikap Yongchun seperti itu. Sehingga mereka tidak pernah akur sekalipun.
Selalu saja, setiap kali mereka bertemu pasti akan bertarung habis-habisan.
“Sampai segitunya. Memangnya apa yang guru itu lakukan pada keluargamu?” tanya Li Bai yang kembali duduk dengan tenang.
__ADS_1
“Kau tidak perlu tahu.”
“Li Bai, kau ini apa-apaan? Membuka luka masa lalu orang itu 'kan tidak baik,” sahut Zhao Yun.
***
Jika waktu dapat diputar kembali, maka Yongchun juga takkan merasakan penyesalan lebih dalam.
Namun, hal itu sudah berlalu. Sudah saatnya ia mulai melakukan sesuatu terhadap wilayah timur laut.
Wilayah yang terlihat damai, tentram dan tak ada satupun penduduk yang mengeluh. Tapi itu semua palsu. Nyatanya saat pemberontak "kembali" datang dan menyerang para pendekar kekaisaran, kedok aslinya terbuka.
Banyak cara yang telah dilakukan oleh Kaisar Ming Guo. Pajak yang berlebih bahkan penipuan terhadap penduduk sendiri.
Terbesit suatu pikiran, "Apakah kesepakatan itu hanya omong kosong saja?"
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar Yongchun, yang kemudian masuk ke dalam.
“Apa kau mengeluarkan darah itu lagi?” tanya Relia sembari menaruh teh herbal di atas meja.
“Aku sudah bilang kalau tidak apa-apa. Lagipula aku sering begini,” jawab Yongchun.
“Dulu sekali, kau itu seringkali kehilangan ingatan. Bilang bahwa kau tidak apa-apa, tapi sebenarnya kau sungguh sakit.”
“Jangan berkata seperti aku ini penyakitan. Kalau penduduk kita tahu, mereka akan gusar,” tutur Yongchun dengan lembut padanya.
“Relia harap kau lebih mementingkan dirimu sendiri. Tentang rencanamu ...setidaknya biarkan Relia yang menggantikan posisi untuk membunuhnya,” pinta Relia.
Yongchun tersenyum. Lalu bangkit dari tempat duduknya, berjalan keluar dari ruangan, ia menoleh ke belakang dan melihat Relia sekali lagi.
__ADS_1
“Urusan membunuh, pria-lah ahlinya.”