Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
PROLOG-MUSIM KEDUA-PULAU NIHONKOKU


__ADS_3

Di suatu alam yang tak kenal batas. Dikelilingi awan putih lembut seperti kapas serta langit biru yang cerah. Begitu bersinar layaknya surga abadi. Lapisan terakhir, tersuci dan ternikmat dari segala-galanya nikmat dunia fana.


Suatu ketika, salah satu makhluk berbalut jubah putih itu merundukkan kepala dan bersujud di antara banyaknya mahluk lain yang seperti dirinya.


Tak berwujud, entah bagaimana rupa asli si mahkluk berbalut jubah putih saat ini. Awan yang ia pijaki tiba-tiba saja menjadi runtuh dan membuatnya terjatuh bebas.


Di balik jubah putih terdapat sayap yang luar biasa besarnya. Lebar hingga menutupi dunia. Yang disebut sebagai Dewa namun berubah menjadi Yang Terkutuk di antaranya.


Ia jatuh dengan mengepakkan kedua sayap seolah enggan terbang. Gravitasi menarik dirinya ke bawah dan setiap dari bagian tubuhnya terpotong-potong. Berjatuhan ke dunia manusia.


Tangan dan setiap jari jemarinya yang besar nan bercahaya. Lidah terbelah tanpa luka ataupun darah mengucur. Telinga tak nampak dan hanya berwujud bulat seperti bola salju yang terkecil pun meleleh. Hingga bola mata berwarna putih dan bulat berubah menjadi hitam legam. Kosong tak bernyawa.


Sekali lagi, bagian-bagian lainnya mulai terpisah dari jiwanya. Jiwanya entah pergi ke mana namun juga terjatuh ke dunia manusia. Dunia fana yang dipenuhi nikmat dan melupakan barang yang lebih berharga dari harta.


Menembus banyaknya lapisan surga. Buntung, tuli, bisu dan buta menjadikan ia sebagai Yang Terkutuk. Terlepas ikat janji di antara leher yang terkekang, perlahan mulai menampakkan wujudnya dengan rantai besi. Semua yang terlepas dari raganya berubah menjadi hitam bagai arang tak ternilai. Namun jika digesekkan akan muncul percikan api.


Crak! Crak!


Bagian tubuhnya yang sudah jatuh lebih dulu itu juga perlahan mengeluarkan darah. Sederas air terjun turun dari atas ke bawah, darah tak henti-hentinya menyembur keluar. Aura pekat antaran kejahatan dan kebajikan bercampur jadi satu.


Tidak ada yang bisa membedakan kecuali beberapa orang yang telah mendapatkan bagian tubuh dari sang Dewa Terkutuk itu.


Tangan yang berkuasa di atas udara, telinga yang mendengar dari segala arah dan diperdengarkan isi hatinya, lidah tercela bagai hasutan lalu kedua mata tembus pandang dari segala sisi dapat diperlihatkan segala jenis yang tak terlihat sekalipun.


Orang-orang yang mendapatkannya adalah orang-orang yang dahulu sekali pernah melakukan suatu kejahatan tak dapat dimaafkan. Menutup atau ditutup, kejahatan tak dapat disingkirkan justru dipajang seolah mereka di museum bersejarah.

__ADS_1


Entah keburukan atau kebajikan yang menyelimuti orang-orang itu. Tapi yang pasti, tak satupun dari mereka adalah orang yang waras. Tak sekalipun dari mereka adalah manusia yang tak bisa disebut sebagai manusia sejati itu sendiri.


Ambisi, kekuatan, kekayaan atau apa pun itu. Incaran satu demi satu meski nyawa taruhannya pun mereka sudi mengambil resiko tuk mendapatkan apa yang mereka mau.


Keserakahan berujung maut. Siapa pun terlibat dengan orang-orang seperti kelak akan mati menyisakan penyesalan. Mereka disebut sebagai PEMILIK TUBUH DEWA.


Dari segala penjuru dunia, mereka akan berkumpul dalam satu tempat. Akankah sesuatu yang besar terjadi di antara mereka? Bertarung atau berkawan? Namun jika berkawan, keuntungan apa yang mereka dapatkan?


Di suatu daratan, seorang pria hendak menyebrang ke wilayah selanjutnya. Mungkin ia sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari pulau lain. Terlihat dari dagu yang dipenuhi jenggot, banyak luka di setiap bagian tubuhnya serta bulu-bulu pada kedua kaki ataupun tangannya pun mulai terkikis.


Panas menyengat membuat ia terus menyeka keringat di wajahnya. Ia adalah seorang pendekar pedang, tunggal juga ganda. Kekurangan yang terlihat secara fisik adalah buta. Tak hanya sekadar buta ia sudah tak punya yang namanya bola mata.


Semua akan berpikir, "Oh betapa malangnya pria ini buta!", tetapi itu tak sepenuhnya benar karena dirinya dapat melihat dengan Mata Dewa.


Pendekar itu dikenal sebagai Asyura Ayah. Namun sekarang ia tengah menggunakan identitas sebagai Yongchun.


“Tuan ingin ke mana panas-panas begini?”


Terpaan angin serta arus laut terombang-ambing terdengar begitu keras hingga Yongchun berdeham lantas menoleh ke orang yang barusan menyapanya.


“Aku ingin ke pulau itu,” kata Yongchun sembari menunjuk ke depan.


Sontak pria itu terkejut, kemudian menoleh ke arah yang tengah ditunjuk olehnya. Seketika matanya terbelalak.


“Tuan, yakin? Di pulau itu, orang-orangnya cukup kasar,” ujarnya memperingati.

__ADS_1


“Aku yakin.”


Pria itu mendengus tak percaya dengan senyum tersinggung lalu menyodorkan telapak tangannya pada Yongchun.


“Kalau ingin diantar menggunakan kapalku, setidaknya Tuan harus memiliki beberapa di kantung celanamu,” ujar pria itu.


Yongchun merogoh-rogoh bagian kantung celananya dan juga di bagian dalam pakaiannya. Setelah menemukan ia lantas mengeluarkan sekantung kecil yang kemudian ia buka.


Yongchun berkata seraya ia menyerahkan beberapa keping logam di telapak tangannya, “Aku hanya punya beberapa.”


“Itu cukup, Tuan. Mari saya antar,” kata pria itu dengan wajah penuh kebahagiaan menerima kepingan logam itu.


Mengarungi laut yang nyaris terasa sama. Namun terdapat sedikit perbedaan yakni hawa dari langit. Yongchun menengadah ke langit biru melihat awan bergerak saling membentur, melebur dan menjadi satu.


Warna putihnya tidak begitu mencolok karena nyaris berpadu dengan warna langitnya biru.


Pulau yang memanjang lebar itu terlihat sangat bernyawa daripada pulau-pulau lainnya. Telah sampai ia ke suatu pulau yang dinamakan Pulau Nihonkoku. Daratan di sana terlihat sangat mencolok dengan tumbuhan hijau dan pepohonan yang tumbuh subur. Rumah-rumah di sana pula terlihat sangat tertata dengan rapi.


“Sudah sampai. Tuan, ingin saya tuntun untuk turun?”


Yongchun menggelengkan kepala, perlahan ia turun sembari menoleh ke kanan dan kiri. Semua orang yang melihatnya menjadi terdiam dengan mulut menganga.


Saat Yongchun menginjakkan kedua kaki ke daratan lain, ia merasa hawa yang selama ini ia cari akhirnya ditemukan sekarang. Meski transparan Yongchun masih dapat merasakannya melalui tanah.


Pulau Nihonkoku yang memiliki beberapa daerah di sepanjang lebarnya pulau ini. Sekarang Yongchun berada di posisi paling ujung. Melihat ramainya orang-orang sekitar tanpa memperhatikan keberadaannya, entah kenapa terasa aman dan tentram.

__ADS_1


Setelah beberapa langkah masuk ke pulau Nihonkoku, perhatiannya terfokus pada banyaknya gerbang (tori) merah yang mengarah puncak menuju ke suatu tempat.


__ADS_2