Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
015. Bertemu Zhao Yun Sekali Lagi


__ADS_3

Musim salju pertama bagi Nia dan Yongchun tidak membuat kenangan indah. Apalagi di wilayah musuh, saat dirinya hendak masuk kembali ke dalam kediaman Wang, banyak penduduk dan para pendekar mendatanginya.


“APA YANG KAU LAKUKAN PADA PEMIMPIN LUO! DASAR PENDATANG BARU!”


“JANGAN BERI AMPUN! BUNUH SAJA DIA SEBAGAI GANTINYA! DASAR PRIA TAK TAHU DIUNTUNG!”


Berbagai kata makian, ia dicerca habis-habisan oleh mereka. Mereka seolah mengatakan bahwa Pemimpin Luo dibunuh oleh pendatang baru dari Wang, Yongchun.


Ia juga merasa heran namun mengerti kalau hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Tetapi, melempar kerikil, buah atau yang lainnya itu benar-benar keterlaluan bagi Yongchun.


“Katanya aku ingin dibunuh, tapi kenapa tidak ada seorang pun mengangkat senjata dari pinggang kalian?” Karena kesal, Yongchun membalas semua perkataan itu seolah ia menyerahkan nyawanya yang berharga begitu saja.


“Kakak! Ah ...maksudku, suamiku, Yongchun! Kenapa berkata begitu?” Nia tentu merasa was-was terhadap cercaan yang tidak ada habisnya ini.


“SIAPA GADIS INI? KATANYA SUAMI DARI ORANG BIADAB ITU?”


“Hei, kalian tahu apa! Orang yang mencapai tahap nirwana juga bukan suamiku! Kenapa tidak tanya pada Kultus 7 Surgawi itu? Harusnya mereka itu yang sudah mencapai tahap nirwana dan dapat membunuh si Luo, 'kan?” sahut Nia tak mau kalah berdebat.


“Apa katamu!? Mereka adalah kawan, tak mungkin mereka saling melawan! Mereka juga hanya bertanding di Arena Batu Kuasa, secara adil! Istri kecil sepertimu tahu apa, hah?!” sahut seorang rakyat wanita.


“Dasar orang-orang kolot! Beraninya menyebutku kecil? Rakyat seperti kalian itulah yang paling kecil!” amuk Nia.


“Sudah, sudah Nia. Kau tak harus berkata begitu. Pemimpin Wang sebentar lagi datang dan membubarkan mereka. Ya?” Yongchun berusaha menenangkan istrinya yang mengamuk dan beradu mulut terus-terusan.


“Ada-ada saja. Tanggapan mereka juga tepat sasaran. Yah, itu tak buruk untuk menguji mental, 'kan? Lagipula salah dia sendiri yang datang ke kediaman Luo. Tapi jika bukan karena dia, ini semua juga takkan berjalan lancar,” batin Wang Xian menyembunyikan senyum bahagia itu diam-diam. Lantas menghampiri untuk membubarkan mereka yang berisik.


***


“Akhirnya mereka berhenti melakukan hal yang sia-sia, ya. Yongchun, kau tidak apa-apa? Pasti kau merasa kesal dan tertekan, ya,” ujar Wang Xian.

__ADS_1


Yongchun membuang napasnya dengan lega. Sedikit tertawa kecil lantas berkata, “Ya, benar-benar merasa tertekan.”


“Sangat hebat, penguasa wilayah timur tengah. Tak heran kau mampu menghadapi ini bahkan di medan perang kau terkenal sebagai ahli strategi daripada ahli pedang. Pedangmu yang tumpul kau gantikan dengan akal yang licik.”


“Apanya yang tertekan? Justru suamiku ini benar-benar membuat semua orang semakin marah dan kesal. Bahkan dia juga menantang mereka ...” Nia mengoceh lagi.


Para rakyat dan pendekar, sebelumnya mereka baik-baik saja. Tetapi entah kenapa setelah beberapa saat mereka justru menuduh Yongchun sepihak tanpa bukti. Mencercanya tanpa ampun bahkan berkata akan membunuhnya meski mereka enggan mengangkat senjata.


“Dasar dungu,” ketus Yongchun.


Awalnya Yongchun berniat masuk kembali ke dalam namun melihat Wang Xian, ia merasa muak hanya dengan mendengar suara darinya.


“Kau tadi kenapa masuk duluan?” tanya Yongchun.


“Yah, kau tahu. Aku punya adik-adik yang masih kecil, tak semua orang bisa membantuku kecuali aku sendiri. Maaf sekali, karena telat membantumu.”


Karena dibuat buruk setelah apa yang dikatakan oleh Wang Xian dengan tuduhan secara tak langsung dan ditambah dengan cercaan para rakyat dan pendekar, Yongchun pun memutuskan untuk keluar. Dengan Nia yang mengikuti dari belakang.


“Aku ingin ke tempat Pemimpin Zhao sebentar. Ada hal yang ingin kutanyakan pada pria besar itu,” ucap Yongchun dengan wajah masam.


“Pria besar? Siapa lagi dia? Jangan bilang yang dari 7 Surgawi itu. Oh, ya ampun kak! Mereka secara tak langsung membuat kakak sebagai pelaku yang membunuh si Luo itu! Jangan pergi ke sana dan lupakan semua kesepakatan itu sekarang, mari kita pulang, kak.”


“Tidak bisa aku lakukan. Ini sudah setengah jalan, Nia. Dan akan lebih baik kau janganlah mengikuti diriku. Pemimpin Zhao itu tampak seram dari depan dan belakang,” ujar Yongchun membuat Nia terdiam.


Setelah sampai di kediaman Zhao. Tidak ada orang yang terlihat di sekitar jalanan ini, bahkan mungkin di dalam sangat sepi.


Berkali-kali Yongchun memanggil nama Pemimpin Zhao juga tak ada seorang pun yang menjawab.


“Zhao Yun! Aku datang untuk menemuimu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan langsung!” teriak Yongchun tak tahu malu.

__ADS_1


Brak! Akhirnya pintu gerbang kediaman Zhao terbuka, meskipun caranya tidak sesantai kediaman Wang.


“Berisik, dasar bocah bau kencur! Mau apa kau?” tanya seorang pria kekar dengan suara yang amat keras.


“Uwah, pengikutnya saja terlihat kekar begitu. Pantas saja Pemimpin Zhao sangat besar.”


“Apa katamu!? Sana pergi kalau tak ada urusan dengan kami!”


Brak! Sekali lagi pria itu menutup pintu dengan membantingnya.


Sebenarnya dengan kalimat seperti itu, Yongchun tak berniat mengejek mereka justru ia memuji. Namun ternyata perkataannya yang berniat hanya sekadar memuji berbalik seolah mengejek.


Setelah beberapa saat, pintu kembali terbuka. Dengan pelan tidak dibanting lagi seperti tadi. Pria kekar yang tadi menyambutnya tadi juga kembali datang bersama dengan dua orang lainnya.


“Kau ...masuklah ke dalam. Pemimpin Zhao ingin berbicara padamu,” ucap salah satu dari mereka.


Mendengarnya membuat Yongchun merasa senang. Ia disambut baik setelah apa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Ia dibawa ke sebuah ruangan berbentuk kotak, dari segi mana pun hanya berbentuk kotak.


Pemimpin Zhao ada di dalam saat ini. Ia duduk di lantai menghadap segelas air di atas meja. Yongchun dipersilahkan masuk dan duduk di sana.


“Kau membutuhkan sesuatu, Yongchun?” tanya Zhao Yun.


“Kudengar para Pemimpin kultus 7 Surgawi tidak akur. Termasuk Pemimpin Zhao, sekte Tinju Besi. Aku ingin mendengar sesuatu tentang Pemimpin Yin darimu, jika kau tahu?” ujar Yongchun, duduk tegak menghadapnya dengan serius.


“Kalau tentang Yin Ao Ran, aku tidak tahu di mana dia saat ini. Apa yang sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Zhao, dengan rasa curiga padanya.


Yongchun tersenyum lantas berdiri membelakangi pria besar itu. Yang kemudian ia menepuk-nepuk badan yang kekar, pujian dari kalimat indah Yongchun utarakan.


“Yah ...tubuh Pemimpin Zhao memang sangat besar. Sudah sejak dulu aku mengaguminya. Aku jadi teringat Bing He yang menjadi mata-mata di wilayahku. Haha,” ucapnya dengan tawa, tanpa maksud mengejek.

__ADS_1


“Kau seolah mengatakan sesuatu di antara pemimpin kultus lalu memuji tubuhku dan menyinggung hal yang tak kumengerti. Apa kau sadar itu akan berakibat buruk padamu?!” Tatapan Zhao menukik tajam, aura yang ia pancarkan membuatnya tertekan dalam diam.


Pemimpin Zhao beranjak dari tempat duduknya lalu berbalik pergi setelah ia berteriak, “Pergi temui Nona Xie Xie sana, baru tahu rasa kau yang seenaknya menyinggung kami!”


__ADS_2