Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
014. Musim Salju yang Dingin


__ADS_3

Cuaca yang dingin adalah pertama kalinya Yongchun rasakan. Merasakan hal yang sama, seorang gadis, istrinya keduanya bergegas datang menghampiri Yongchun. Ia berlari secepat mungkin, membuka pintu dengan kasar dan berusaha untuk membangunkan suaminya.


“Kak Asyura! Kau mendengarku? Hei! Jangan mati?!” pekik Nia. Teramat panik, gelisah dengan perasaan campur aduk tak jelas. Bahkan sampai ia menitihkan air mata.


Akan tetapi, Nia yang terlanjur mengambil kesimpulan itu mulai menyadari suara suaminya yang masih terdengar. Yongchun mengorok.


“Paman Yong! Apa sudah bangun?”


“Kami membawakan sarapan untukmu jadi jangan pergi keluar lagi, ya!”


Dua sepupu Wang datang membawa sarapan untuk Yongchun. Nia tersentak, ia memeriksa denyut nadi di tangan maupun di leher Yongchun.


“Dia hanya tidur, rupanya ...” ucap Nia mengusap wajah.


Terlanjur sedih tapi ternyata suaminya hanya tertidur pulas saja, Nia jengkel seolah merasa tertipu padahal ia sendiri yang seenaknya mengambil kesimpulan.


Pak! Nia memukul punggung Yongchun dengan amat keras, lalu terbaring di lantai. Tubuhnya terasa lemas dan lega sebab tahu bahwa Yongchun masih hidup.


“Ah! Apa? Punggungku sakit, jangan dipukul begitu!” amuk Yongchun tiba-tiba bangun.


“Ah, lihat? Paman betulan sudah bangun tapi masih saja malas-malasan di tempatnya.” Wang Nam mengoceh.


Kedua sepupu Wang itu sangat antusias menyambut pagi hari ini bersama Yongchun. Mereka memaksa pria buta itu untuk makan di saat dirinya sedang mual untuk makan.


“Ayolah Paman! Minum-minum itu 'kan tidak baik, maka dari itu ayo cepat makan dan lancarkan kembali pencernaannya,” ucap Wang Nam semangat.


“Lalu setelah itu kita belajar lagi, ya?” Sepupu perempuan juga sama semangatnya.


Penglihatan Yongchun meremang-remang. Hendak ia melepas kain yang menutupi tetapi tidak jadi karena tahu pasti sesuatu buruk akan terjadi lagi. Melihat istri kedua, Nia tampak lemas di sisinya, Yongchun pun kembali berbaring sambil memeluk tubuh mungil itu.

__ADS_1


“Hei, Paman! Jangan tidur dan bermesraan begitu!” pekik Wang Nam dengan jengkel.


“Cekoki saja dia dengan sayuran yang mentah!” sahutnya.


Tak peduli apa kata sepupu Wang, Yongchun tetap memeluk si istri dengan lembut. Ia merasa hangat, karena itulah Yongchun betah.


“Nia, apa yang terjadi padamu? Dari semalam sepertinya kau tak kunjung pulang,” tanya Yongchun.


“Lupakan itu. Aku benar-benar khawatir pada kakak karena orang dengan alis tebal itu berkata, "Suamimu tertidur seperti orang mati", bagaimana aku bisa tenang?” ujarnya kembali menangis.


Bukannya merasa bingung, sedih atau haru, Yongchun justru terkekeh-kekeh lalu memeluknya kembali sampai Nia tenang.


Untuk semalam Yongchun hanya samar-samar mengingat apa yang dibicarakan oleh Pemimpin Wang. Saat ia keluar dari gerbang kediaman, hanya ada beberapa orang yang sedang berbisik-bisik.


“Apa yang mereka bicarakan di pagi-pagi begini?”


Di tengah perjalanan menuju hutan yang biasa ia kunjungi, ia menemukan sekelompok rakyat dan pendekar menyatu melihat sebuah papan besar di depan mereka.


“Pemimpin Luo mati dibunuh oleh seseorang yang mencapai tahap nirwarna. Entah siapa orang itu, tapi kejamnya tak hanya beliau bahkan para pengikutnya juga.” Salah seorang menjelaskannya.


Pemimpin Luo diberitakan mati dibunuh oleh seseorang yang mencapai tahap nirwana tapi seingat Yongchun, Pemimpin Wang pernah berkata, "Pemimpin Luo mati bunuh diri", namun jika apa yang dikatakan Wang Xian itu benar maka yang tertulis di papan besar adalah kebohongan belaka?


“Mengapa jadi tidak benar begini?” gumam Yongchun, ia berjalan menjauhi mereka.


Yongchun merasakan kehadiran dari Pemimpin Wang, semakin mendekat sampai mendengar suaranya memanggil dengan keras.


“Yongchun, kau keluar lagi? Harusnya kau tak boleh seperti ini, mari masuk dan makan bersama. Para sepupu juga sudah menunggumu,” ujar Wang Xian.


“Pemimpin Wang, apa yang dikatakan mereka benar?” tanya Yongchun seraya menunjuk ke arah belakangnya, tempat di mana mereka semua berkerumun.

__ADS_1


“Ya?” Wang Xian menoleh. “Itu sepenuhnya tidak benar. 'Kan sudah kukatakan kemarin kalau Pemimpin Luo bunuh diri,” bisiknya mendekat.


“Sepenuhnya tidak benar? Entah kenapa aku merasa janggal dengan kata-katanya kali ini. Apa dia menunjukkan bahwa dia sendiri sedang menyembunyikan sesuatu dariku dan para rakyat serta para pendekar?”


Yongchun melirik ke belakang, melihat kerumunan itu terus bertambah. Kemudian berbalik lagi dan menghadap Wang Xian.


“Benar juga. Aku hampir lupa kemarin kita minum-minum,” ucap Yongchun yang kemudian berjalan melewati dirinya.


“Yongchun, apa kau merasa bahwa apa yang mereka katakan, atau tertulis di papan itu ada benarnya? Karena mana mungkin Pemimpin Luo yang berada di posisi kedua itu bunuh diri. Itu akan jadi masuk akal bila seseorang yang mencapai tahap nirwana yang melakukannya. Aku benar, bukan?” pikir Wang Xian hendak menyinggung Yongchun secara tak sadar.


“Kemarin dia tahu kalau aku pergi ke kediaman Pemimpin Luo? Jika iya, maka itu artinya dia sedang mendesak diriku. Tapi aku tidak melakukannya.” Kening Yongchun berkenyit.


Yongchun benar-benar tidak melakukan apa-apa di kediaman Luo. Setelah apa yang ia lihat pada diri Pemimpin Luo, justru Yongchun membantunya bahkan diobati oleh tabib yang dipanggil sendiri.


Ia masih mengingatnya, kalau Pemimpin Luo yang tengah diselamatkan itu bertanya, "Kenapa mata dewa ini menyelamatkan diriku?", lantas Yongchun hanya menjawabnya bahwa Pemimpin Luo harus hidup. Itu saja.


“Yah, aku pun membiarkan dia hidup karena dia kubutuhkan,” batinnya seketika ia merasa bersalah.


“Ada apa dengan langkahmu, Yongchun?” tanya Wang Xian menyindir Yongchun yang berhenti di tengah jalan.


“Ah, maaf. Karena Pemimpin Wang sedang bicara, tiba-tiba aku jadi terpikirkan oleh sesuatu. Dan sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Pemimpin Wang, akan masuk akal kalau Pemimpin Luo dibunuh oleh orang sepantarannya. Para pemimpin kultus 7 Surgawi itu benar-benar tidak akur,” tanggap Yongchun tersenyum lebar.


Merasa disindir balik oleh Yongchun, Wang Xian tertawa.


Cuaca yang semakin dingin, membuat Yongchun tidak tahan lagi. Berkali-kali ia memeluk tubuhnya namun tidak kunjung menghangat. Hembusan napas pun sangat dingin, ia rasa.


Hingga salju turun perlahan.


Di saat yang sama di Istana Wulan. Di sebuah kamar, Putri Yu Jie sedang menyendiri. Melihat ke arah jendela yang terbuka, salju yang turun nampak indah di kedua matanya.

__ADS_1


“Aku masih tak mengerti, "Apa kau ingin hidup?", pesan yang disampaikan oleh Tuan Yongchun. Tetapi aku berharap maksudnya menyelamatkan diriku dari kekangan Ayahku sendiri,” celetuk Yu Jie. Berharap bahwa itulah maksudnya.


Manik berwarna kelabu mungkin terlihat suram tapi itu tampak menyatu jika dipadukan dengan salju yang sangat putih itu. Sangat indah tapi menyakitkan kalau terus dihujani olehnya.


__ADS_2