Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
129. Pengorbanan


__ADS_3

“Tidak.” Yongchun kemudian bangkit dari sana. Lantas kembali berucap, “Aku tidak akan menyelamatkan diriku sendiri sebelum aku menyelamatkan seseorang yang berharga.”


Tetapi ia mengubah dedikasi awalnya menjadikan orang terpenting adalah hal prioritas dalam kehidupannya.


“Melindungi? Melindungi seseorang yang sudah akan mati dengan sendirinya? Jangan melucu,” bisik Dewa Hitam langsung pada telinganya dengan wujud asap hitam.


“Jangan berisik di dekat telingaku. Lagi pula kau itu tak berguna, kau bahkan berani mengendalikan tubuhku walau ujung-ujungnya tidak bisa kau lakukan?” ucap Yongchun seraya berjalan menghampiri Relia.


“Harusnya aku lah yang bilang padamu, jangan melucu!” imbuh Yongchun, sesaat ia menoleh ke belakang lalu kembali berjalan menghampiri sang istri dengan langkah cepatnya.


Sosok Dewa Hitam itu hanya terkikik. Meski dirinya berada dalam wujud asap namun yang sebenarnya jiwa itu ada pada tubuh Yongchun dan dalam keadaan terjebak. Tak bisa melakukan apa-apa, bahkan niatnya untuk mengendalikan tubuh Yongchun pun kadas mengenaskan.


Dewa Hitam, identik dengan kegelapan, kesuraman, dan kematian.


Sembari ia menatap wajah Relia yang masih dengan pandangan kosong. Yongchun bertanya pada Dewa Hitam, “Bisakah kau menjelaskan alasanmu, kenapa kau melakukan hal ini pada istriku? Dan tidak membunuhnya?”


“Khe, khe, khe!” Dewa Hitam kembali tertawa, lalu muncul lagi dari dalam tubuhnya. “Kau tanya kenapa aku melakukan itu? Aku bahkan tidak punya alasan untuk melakukannya. Haha!”


Grtk!


Gigi gerahamannya saling tergesek seolah ia memakan sebuah kerikil dalam mulutnya. Tanda ia sangat marah mendengar alasan tak jelas dari Dewa Hitam, namun ia tak bisa melakukan apa terhadap Dewa Hitam sekarang.


“Relia, apa kau mendengarku?” tanya Yongchun yang berusaha keras memanggilnya seraya ia membelai wajah Relia dengan lembut.


“Percuma tahu! Dia takkan bisa mendengar omonganmu yang sok lelaki pejantan seperti itu! Kya hahahaha!” Dewa Hitam kembali tertawa dengan mengejek Yongchun. Tawanya yang menggelitik sungguh membuat Yongchun kesal.


“Berisik!” tegas Yongchun dengan dinginnya, langsung ia menatap wujud Dewa Hitam itu hingga membuatnya sedikit terkejut.


“Keh, lelaki sepertimu bahkan tidak cocok menjadi manusia apalagi sampai punya istri,” celotehnya sesaat sebelum ia kembali masuk ke dalam tubuh Yongchun.


“Asyura,” panggil Relia.


“Ya, Relia. Kau mendengarku? Ah, tidak ya. Tadi kau juga sudah bilang bahwa kau ini tuli. Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya tapi aku tahu itu karena kekuatan dewa-nya,” tutur Yongchun.

__ADS_1


“Asyura ...Relia sudah tidak merasakan tubuh sendiri. Dan mungkin kau sudah tahu kalau Relia sudah tidak bisa diselamatkan.”


“Kau bilang apa? Mari kita pulang,” ucap Yongchun seraya ia meraih tangannya. Hendak membawa Relia pergi namun saat itu Relia menolak dengan gelengan kepala.


“Relia sudah tidak bisa diselamatkan.”


Relia bukan sembarangan berucap lantaran yang ia katakan adalah benar. Nyatanya, kedua telinga Relia dipenuhi bercak hitam yang mendarah daging hingga ke kulitnya. Tampak sangat mengerikan, bisa dikatakan ini adalah penyakit mematikan.


“Apa—”


“Relia akan mati. Tapi, Relia merasa kalau hanya menunggu, selain tersiksa Relia juga merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk bila hanya berdiam diri saja,” ungkap Relia yang sejujurnya juga merasa itu demikian.


“Kau benar. Dewa Hitam itu juga mengatakannya bahwa kau sudah tidak bisa diselamatkan. Dan harus segera dibunuh atau kau akan kembali hidup sebagai arwah neraka. Itu hal buruk,” ucap Yongchun yang bahkan tidak akan didengar oleh Relia sendiri.


“Karena itulah, Relia,” imbuh Yongchun mengecup punggung tangannya.


“Karena itulah, Asyura. Tolong,” ucap Relia menatap ke arah Yongchun.


Sesaat kalimatnya terjeda. Ia memejamkan mata dalam beberapa waktu. Lantas kembali melanjutkannya dengan tatapan sendu.


Kalimat yang tidak ingin didengar mendatangkan hujan cukup deras. Mengguyur mereka yang berada di bawah langit, dengan perasaan teramat sedih di hati. Ini sangat pedih, andai ia tak mendengarnya maka mungkin kebahagiaan akan terus berlanjut.


“Relia, aku tidak bisa.” Yongchun menggelengkan kepala.


“Jangan biarkan Relia hidup tersiksa. Ini permohonanku. Kumohon,” ucap Relia dengan menahan rasa sakit di dada. Ia tentu merasakan sakit dari kedua telinga itu, akan tetapi juga di bagian dadanya yang entah mengapa menjadi seperti ini.


Yongchun kemudian mengambil posisi setengah duduk dengan dua lutut bersujud. Meraih wajah sang istri dan mencium keningnya.


“Ah, Relia lupa satu hal. Betapa bodohnya. Maaf,” ucap Relia.


“Reli—”


Relia mendekatkan wajahnya, ia kemudian berbisik di telinga, “Anak kita sudah berada di tempat yang aman. Dia berada dekat dengan rumah seseorang yang bernama Amiya.”

__ADS_1


Lalu mengecup bibir sang suami dan berkata, “Relia akan sangat senang jika namanya diambil dari nama orang yang Relia cintai.” Senyum tersinggung jelas di wajah Relia.


Kabar bahagia namun di satu sisi juga tidak. Entah harus berekspresi seperti apa Yongchun sekarang. Lantaran, kabar baik dan buruknya selalu berdampingan. Itu terlalu mengerikan sehingga Yongchun hanya berwajah datar atau mungkin bingung.


“Re ...lia.”


Hujan semakin deras, menyembunyikan air mata yang begitu deras mengalir. Yongchun mendekap tubuh Relia dengan perasaan cemas, bingung, senang dan sedih. Semua perasaan itu bercampur aduk.


“Terima kasih ...lalu, maaf Relia,” lirih Yongchun.


Meski Relia tidak mendengar, ia seperti menerima perasaan Yongchun. Tubuh yang gemetar bukan karena kedinginan serta pelukan yang erat dan tak mau melepaskannya. Tindakan seperti itulah yang membuat Relia percaya bahwa Yongchun telah mengatakan sesuatu yang membuatnya sedikit bahagia.


“Asyura, lakukan sekarang.”


“Baiklah.”


Grep!


Sebuah pedang yang patah kembali menyatu dan melesat ke arah Yongchun. Pedang yang bukan miliknya itu seolah memang miliknya. Semula pedang tipis itu berubah menjadi sedikit lebih tebal dengan berwarna kehitaman dengan garis merah.


“Relia, kita akan menanggung rasa sakit yang sama.”


JLEB!


Sebilah pedang menembus dari belakang punggung Relia hingga ke tubuh Yongchun. Mengeluarkan darah segar dari luka serta mulut begitu derasnya hingga menggenang di atas genangan air sekitar mereka.


“Dasar dungu. Kau pikir aku akan membiarkanmu mati begitu saja?” Terucap kalimat Dewa Hitam yang bersemayam dalam tubuh Yongchun.


Hujan semakin deras rasanya. Relia pun menutup mata untuk selama-lamanya. Tentunya ia merasa bahagia walau meski ini tragis dengan terbunuhnya di tangan sang suami sendiri.


Bruk!


Keduanya ambruk di jalanan tanpa kesadaran tersisa. Pedang pun masih menembus di tubuh mereka secara bersamaan dengan berpelukan erat yang seolah maut pun takkan memisahkan mereka.

__ADS_1


Di satu sisi, sosok hitam yang menyerupai Dewa Hitam. Namun itu bukanlah sang dewa melainkan semacam penjaga neraka, sosok mahluk yang dikenal oleh Yongchun tengah memandanginya.


__ADS_2