Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
040. Merayu Para Gadis Dengan Kebaikan


__ADS_3

Pertama kali si gadis itu merasa bahagia karena akhirnya bertemu seseorang yang menyelamatkannya. Teman-teman yang lain pun juga merasa senang.


Seperti yang dibicarakan sebelumnya, para gadis akan menyelinap di antara barang-barang, mereka juga diberi sehelai kain yang besar tuk menutupi kepala. Dengan begitu, tak seorang pun yang akan kenal dengan mereka kalau melewati jalan itu.


“Kita benar-benar terbebas?”


“Aku rasa iya. Ini keajaiban. Baru saja kita mengeluh soal kebebasan dan lainnya. Tapi sekarang lihat, kita dapat bantuan tak terduga. Kita harus bersyukur, benar?”


“Iya.”


Senyum yang tersungging di wajahnya benar-benar membuat hati gadis lainnya merasa tenang. Memang sifatnya sangat keras kepala, beringas atau kasar tapi terkadang ia mampu tersenyum kala itu merasa bahagia.


Drak!


Gerobak itu berhenti di jalan setapak setelah rodanya tersangkut batu.


“Kalian, tunggu sebentar, ya. Aku akan memeriksa apakah di jalan ada sesuatu,” kata pedagang itu yang kemudian turun dan memeriksanya.


“Baiklah. Kami akan turun jika terjadi sesuatu yang buruk.”


“Oh, ya ampun. Rodanya jadi rusak karena menabrak batu ini. Maaf, ya. Sepertinya kita berhenti di sini dulu,” ucap si pedagang, merasa kecewa karena rodanya cepat sekali rusak.


Para gadis pun turun dari gerobak. Sembari menunggu pedagang itu selesai mengatasi masalahnya, mereka berpencar pergi.


“Kalian ingin ke mana?” tanya pedagang itu.


“Maaf. Kami akan segera kembali, kami hanya ingin membawakanmu sesuatu,” kata si gadis itu yang kemudian melambaikan tangan dan pergi.


Tak disangka mereka akan memberikannya sesuatu, untuk balasan karena telah diselamatkan. Pedagang itu mendesah lelah namun dengan perasan lega.


Sembari melepaskan roda yang rusak dari gerobak itu, ia terkekeh karena sesuatu.


“Hei, tangkap orang itu!” seru seorang pria dari kejauhan.


Samar-samar disusul oleh seorang gadis kecil yang tubuhnya sangat kurus. Ia berlari ke arah jalan setapak dan nyaris menubruk gerobaknya.


“Hei, kau! Apa kau melihat ada anak kecil di sini? Dia tadi berlari ke arah sini,” tanya pria itu.


“Tidak. Aku tidak melihatnya. Dia mungkin melewati jalan lain, karena di sekitar sini banyak jalan kecil, bukan? Mungkin saja dia melewati salah satu jalan itu,” jawabnya.


Ia telah berbohong pada pria yang nampak akan melakukan suatu hal buruk kepadanya. Gadis kurus itu kini sedang mengumpat di balik kuda yang jauh lebih besar.

__ADS_1


Melihat situasi sudah aman, pedagang pun mendekat padanya.


“Apa kau baik-baik saja, Nona kecil yang manis?”


Alih-alih menanyakan kondisinya dengan rayuan, bagi gadis kecil itu ia melihat seorang pria yang terlihat akan menjahati dirinya.


Ia berlari dan meninggalkannya dengan perasaan takut yang luar biasa. Ada sesuatu yang menurutnya itu buruk, karena itulah ia berlari menjauh.


“Kyaa! Tidak! Lepaskan!”


Namun langkah kecilnya tak sebanding dengan langkah seorang pria dewasa yang cepat dan lebar. Gadis itu ditangkap.


“Haha ...beruntung sekali aku hari ini. Pertama, beberapa gadis yang tak sengaja datang ke tendaku. Lalu sekarang gadis ini. Jadi aku tak perlu bersusah payah untuk membayar mereka, ini peruntungan yang luar biasa!” Sembari mengucapkan kalimatnya, ia menyunggingkan senyum lebar dengan sudut mata menurun ke bawah.


Senyum itu bukanlah senyum biasa. Melainkan senyum bengis yang biasa ditunjukkan saat mereka sudah menangkap mangsa. Pria brengsek haus akan nafsunya. Tak hanya wanita dewasa, bahkan sudah banyak gadis yang diincarnya selama ini.


Diketahui bahwa semua perempuan yang pedagang itu ada di beberapa barang di dalam gerobaknya. Semuanya yang ada dalam kondisi sudah mati.


“Kau harus tenang!”


“Tidak! Tidak! Tidak!”


Setelah beberapa waktu, gadis berambut panjang berwarna hitam itu kembali. Ia mendengar semua yang dikatakan oleh pedagang yang ia pikir pria itu adalah pria baik. Bukan seorang penyelamat yang ia kira juga.


“Hei, hei! Tenanglah, Nona kecil!” ucapnya bernada tinggi seraya mengancamnya dengan sebilah pisau.


Tap! Tap!


Susah payah ia mendapatkan beberapa makanan untuknya pun terjatuh tanpa sengaja. Gadis itu berlari, menahan tangis dan kemudian menarik gadis kurus itu dari si pedagang.


“Ugh ...”


Nyaris, sebilah pisau menggorok leher gadis malang ini. Namun gadis dengan rambut hitam itulah yang kena getahnya. Lengannya tertusuk, darahnya pun bercucuran.


“Oh, kau. Sudah kembali? Apa yang kau bawa?”


Pedagang ini sama saja. Sama-sama tak waras seperti pria yang kerap kali ia temui. Perasaan kecewa, sedih, penyesalan, dan berbagai emosi negatif bercampur menjadi satu.


“Kenapa? Apa yang hendak kau lakukan padanya?” tanya gadis itu dengan menahan tangis dan rasa sakitnya. Tatapannya menukik tajam.


Crak!

__ADS_1


Pedagang hanya melotot diam lalu mencabut sebilah pisau dari lengannya. Ia kemudian berjalan ke arah gerobak, tampak ia mencari sesuatu.


Sebuah benda yang terlihat seperti ekor tikus. Sangat panjang dan sangat tebal.


“Kurang ajar! Berani-beraninya menatapku seperti itu! Dasar gadis tak tahu diuntung!” amuknya seraya mengayunkan benda tersebut ke punggung gadis yang membuatnya marah.


Berkali-kali benda itu diayunkan, rupanya sejenis dengan alat pecut. Kalau kena sekali saja sudah pasti sangat sakit, apalagi kalau berkali-kali seperti itu.


Gadis yang mempunyai rasa keadilan yang tinggi dengan relanya menjadi pelindung bagi gadis asing itu. Karena lemah, ia merasa harus melindunginya sama seperti saat para wanita dewasa melindungi dirinya waktu itu.


Pecutan membuat tubuh itu semakin meringkuk dan memeluk erat si gadis. Rasa sakitnya tak tertahankan, ditambah dengan lengan yang barusan terluka karena sebilah pisau. Darahnya terus mengucur deras.


“Sakit ...sakit ...”


Rintihan lirih jelas terdengar bagi si pedagang yang terus memecut dirinya tanpa belas kasih. Punggungnya pun mulai mengeluarkan darah, rasa nyerinya juga semakin membuat penderitaan terus berlanjut.


“Apa yang kau lakukan padanya?!”


Hingga para gadis kembali, tak percaya dengan apa yang dilihat mereka. Karena terkejut sekaligus takut, tubuh mereka langsung gemetaran tapi berusaha keras untuk menyelamatkan temannya itu.


Mereka bekerja sama, mendorong tubuh si pedagang. Meski hanya tak seberapa kuatnya, hanya tergeser sedikit saja sudah membuat pecutan itu berhenti.


“Lari!!”


Bersama mereka berlari sekuat tenaga. Namun pria brengsek ini rupanya masih memendam rasa kesal karena tadi, ia pun memecut salah satu di antara mereka yang tertinggal di belakang.


Sekali pecut membuat tubuh si gadis tumbang. Terluka di bagian punggung dan juga di bagian kepala, pecutan itu membuatnya mati seketika.


“Lari! Lari! Tidak ada waktu! Lari!”


Mustahil untuk bisa diselamatkan, mereka terus berlari. Hingga akhirnya si gadis berambut hitam menyadari bahwa banyak gadis yang sudah tak tersisa lagi.


3 orang termasuk dirinya dengan gadis kurus ini yang selamat.


“Hah ...hah ...bersembunyi di sini. Takkan ada yang tahu ini di mana, 'kan?”


“Tapi, bukankah ini tempat yang seperti diceritakan pedagang itu?”


“Pokoknya bersembunyi saja dulu!”


Mereka berada di pelosok. Bangunan yang ditumbuhi banyak tanaman liar. Napas mereka terengah-engah. Saking lelahnya, kedua kaki mereka mati rasa.

__ADS_1


__ADS_2