Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
086. Ucapan Perpisahan


__ADS_3

Ejekan takkan mempan untuknya. Tidak berguna. Sungguh.


“Ucapan perpisahan kita harus diakhiri. Terima kasih.”


Setelah mengobrol panjang lebar, nampak Yang Jian tak bertenaga seolah energinya terkuras saat berbincang dengan pria buta itu. Tapi di satu sisi, ia lega. Sebab adiknya Yin Ao Ran, mati tanpa terbelenggu oleh kekuatannya sendiri.


Sakit rasanya ditinggal namun meninggalkan rasa haru dan percaya bahwa kematiannya adalah hal yang paling diinginkan. Karena Seni Iblis, bukanlah hal yang patut dipergunakan semata-mata untuk meningkatkan kekuatan.


“Mata Dewa!”


Sebutan yang seringkali terucap dari bibir para pendekar di masa ini. Mata Dewa. Yang Jian menundukkan kepala tanda hormat bagi orang berkuasa. Yang Jian mengucapkan beberapa patah kata berupa kesetiaan, sanjungan dan hal-hal lainnya.


Serta rasa terima kasih yang mendalam.


Yongchun hanya menunjukkan punggung lebar itu. Tanpa sedikitpun menoleh, dan tetap berjalan keluar dari pondok Wang.


Setelah itu, ia kembali ke tempat di mana ia meninggalkan Yu Jie bersama Bon. Di sana sudah sangat ramai ditambah kedua istrinya lalu Bing He.


“Ke mana saja?” Istri pertamanya, Relia bertanya.


“Benar-benar bikin cemas!” Istri keduanya, Nia berteriak kesal.


“Maaf, hanya berkunjung sebentar ke tempat lain. Apakah kalian semua baik-baik saja?” Yongchun menyahut mereka.


“Baik-baik apanya? Kami hampir lenyap karena aura pekat-mu itu!” teriak Nia sekali lagi.


“Maaf, Nia. Semuanya ...oh.” Pandangan Yongchun teralihkan pada pedang milik Relia, satu-satunya pedang sudah terbagi menjadi dua.


“Apa yang terjadi pada pedangmu, Relia?” tanya Yongchun mendekat. Terlihat ia gelisah karena sangat disayangkan kalau senjata itu rusak.


“Ini terjadi tiba-tiba saat hawa keberadaan-mu lenyap. Kira-kira apa yang terjadi sebenarnya? Lalu, sekarang pun sama. Hawanya lenyap,” jawab Relia diimbuhi pertanyaan lain.


Yongchun kemudian duduk di tanah seraya memeriksa bagian pedang yang sudah terbagi itu. Berharap ia dapat melakukan sesuatu untuk memperbaikinya nanti.

__ADS_1


“Ceritanya cukup panjang. Tapi aku sudah tahu apa maksud dari kekuatan yang ini,” jawab Yongchun sembari menunjuk matanya.


“Maksudnya, buta tapi tidak buta karena itulah kekuatanmu meningkat seiring waktu? Terutama saat pengendalian kekuatan tenaga dalam?” pikir Relia. Yongchun mengangguk.


“Orang-orang di sini seringkali melakukan latihan untuk mengendalikan tenaga dalam mereka. Tetapi berbeda denganku, ini seperti dianugerahi namun juga dikutuk hidup-hidup. Tubuhku juga terpengaruh dan inilah hasilnya,” tutur Yongchun dengan sumringah, menunjukkan semua lukanya yang telah pulih total.


Nia tertawa bahak-bahak begitu mendengar pernyataan Yongchun. Sedangkan yang lain hanya terdiam karena tidak begitu mengerti apa yang dikatakan oleh Yongchun sebelumnya.


“Inilah mengapa semua orang menyebut kakak adalah monster!” tukas Nia tanpa pandang bulu. Mengejeknya dengan tertawa girang.


“Ya, ampun. Nia ...kamu ini,” ucap Yongchun yang merasa sakit hati.”


“Relia sangat senang mengetahui keadaanmu yang baik-baik saja,” ucap Relia dengan tutur kata yang lemah lembut seraya ia memeluk Yongchun dengan hati yang tenang.


Sesaat, situasi kembali menghening. Di antara mereka berdua membuat suasana ini menjadi canggung. Terutama untuk para lelaki yang tidak punya pasangan.


“Tubuhmu bau arak,” bisik Relia sembari mengendus tubuhnya.


Mereka berdua seolah saling memperebutkan suami mereka sendiri. Yu Jie nampak kesal saat melihat momen manis ini depan mata. Ingin sekali ia juga memeluknya seperti itu, tapi tahu bahwa itu adalah tindakan tidak pantas.


“Seandainya, benar-benar terjadi kecelakaan. Pasti aku sudah memeluknya dan memintanya bertanggung jawab,” batin Yu Jie seraya memejamkan kedua mata dan menggeram.


Kebahagiaan di antara mereka, seolah seperti reuni keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Mereka benar-benar sangat berbahagia karena masih dapat berkumpul. Bing He melihatnya pun merasa terharu, sesaat ia berlinang air mata tak kuasa menahan rasa sedihnya.


“Crow, kenapa kau begitu?” Bon bertanya dengan ketus.


“Kita sama-sama tidak punya keluarga kandung. Tapi lihat mereka, mereka bisa bahagia dan aku ikut senang,” ucap Bing He mengusap air matanya yang terus mengalir.


“Aku tak mengira orang tua sepertimu bisa menangis seperti anak kecil,” sindir Bon.


“Hei, setiap sifat orang tua itu pasti akan berubah seperti anak kecil. Kembali ...mengenang masa lalu,” tuturnya.


“Terserah apa katamu.”

__ADS_1


Tetapi, sebaris kalimat yang dikatakan oleh Yongchun kali ini membuat mereka terkejut.


“Tapi aku belum bisa pulang,” ucap Yongchun.


Membuat semua tersentak kaget. Semua dari mereka menatap Yongchun dengan tatapan tak percaya. Setelah pergi, ke mana lagi ia akan pergi? Meninggalkan semuanya.


“Kau baru saja menyelesaikan masalah di tempat ini. Penyatuan antar wilayah juga pasti sudah, bukan? Ke mana kau akan pergi untuk mengantar nyawamu sendiri?” Bing He marah, berbagai pertanyaan pun dilontarkan habis-habisan.


Menatapnya tajam seraya mencengkram kedua pundak Yongchun. Kedua istrinya pun melepaskan pelukan darinya, sama-sama menatap Yongchun dengan perasaan kesal.


“Tidak. Disebut sebagai penyatuan pun sepertinya tidak. Tetapi yang terpenting kedua wilayah takkan berperang lagi. Wang Xian akan menepati janjinya. Sama-sama membantu dan membentuk aliansi seutuhnya,” jelas Yongchun.


“Lalu, apa lagi yang kakak lakukan dengan mengatakan kau tidak akan pulang?” sahut Nia.


“Soal itu ...sepertinya aku belum bisa bilang. Lalu Relia, apa boleh aku meminta bantuanmu?” tanya Yongchun sembari menoleh ke arah Relia. Mengubah arah p pembicaraan.


Sesaat Relia memejamkan kedua mata. Lalu menatap Yongchun dengan alis yang ditekuk, sorot mata yang sedih serta hati yang terasa patah kecewa.


“Jika masalah wabah yang terjadi di timur laut, aku akan membantu. Keuntungan kita juga terhitung lebih banyak, Relia yakin dengan harta yang dimiliki mereka maka pasti wilayah timur tengah akan bercukupan dengan itu semua,” tutur Relia. Telah ia mengerti apa maksud pertanyaan Yongchun meski tidak pernah dijelaskan sama sekali.


Relia mengerti akan kondisi wabah di suatu daerah yang ada di timur laut. Relia pun mengajukan diri sebagai ahlinya, kelak bantuan darinya akan mempermudah mereka tuk membantu wilayah timur tengah tanpa sungkan.


“Tetapi ...ke mana dirimu akan pergi?” Relia pun bertanya mengenai kepergiannya.


Namun tak bisa dijawab oleh Yongchun. Terdiam dengan tundukan kepala, menatap tanah dan termenung dalam kondisi bisu.


“Tidak bisakah pulang dulu? Dirimu juga sangat letih, bukan?”


Relia tak lagi menatapnya, namun ia hanya menarik ujung pada lengan pakaiannya. Yongchun pun kembali menoleh seraya membelai wajah Relia dengan lembut.


“Aku tahu tanpa ku pun kalian ataupun Diola pasti bisa mengatasinya layaknya seorang penguasa itu sendiri. Tapi ...tolong maafkan aku. Sungguh aku tak bisa pulang untuk saat ini,” tutur Yongchun dengan raut wajah yang tak bisa ditebak.


Sedih, marah, kesal atau lainnya. Tidak dapat mereka tebak apa ekspresi Yongchun yang sekarang. Tapi satu hal yang mereka tahu, bahwa kepergiannya kali ini berkaitan dengan Mata Dewa.

__ADS_1


__ADS_2