Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 101


__ADS_3

Sementara di sisi lain. Dirga dan kedua wanitanya melesat dengan kecepatan sedang, Selain mengimbangi kecepatan Fanni, Dirga juga memiliki maksud lain.


"Sayang, Sepertinya di depan ada kekacauan. Bagaimana klalau kita mendekat dan melihat nya?" Ucap Laniya manja sambil menatap depan.


Di mana arah depan sekarang hanyalah phon pohon besar.


Dirga menatap depan dengan ekspresi datar. "Tidak perlu, Mereka hanyalah seorang bandit perampok. Dari sini saja aku bisa melakukannya!" Kata Dirga sambil melesatkan beberapa siluet pedang perak.


Memang benar. Di depan ada lima pria yang memiliki wajah grang sedang merampok kereta kuda, Sepertinya itu kereta pedagang. Pikir Dirga.


"Emm~ " Laniya mengangguk sambil bersenandung. Dia hanya bisa menuruti perkataan Dirga apapun itu.


"Hei! Cepat serahkan barang barang kalian, Jika tidak- " Belum sempat perkataan bandit itu selesai, Kepalanya tiba tiba terpotong diikuti keempat temannya.


Sedangkan di dalam kereta itu terdapat dua pria. Satu pria paruh baya dan satu pria muda.


Ketika melihat pergantian ini. Hatinya yang semula merasa takut kini bisa menghela napas lega.


Tapi yang membuat nya tak habis pikir siapa yang melakukan ini? Tidak ada seorang pun yang terdeteksi di dekat nya.


"Ayah! Lihat di sana!" Pekik pria muda itu sambil menunjuk atas.


Sontak pria paruh baya itu mendongak dan terkejut. Di atas yang jauh terlihat tiga orang yang sedang melayang tinggi.


Satu pria dan dua wanita. Dia tidak tahu siapa orang itu. Namun firasat nya mengatakan jika tiga orang itu yang sudah membantu nya.


Ketika ingin keluar, Dia melihat ketiga orang itu melesat pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuatnya tertegun.


'Siapa ketiga orang itu? Aku yakin mereka bukan orang sembarangan!' Batinnya dan menghela napas.


Satu pria mendekat ke arahnya dan berkata hormat. "Tuan Patriak! Lima ratus meter ke depan adalah Kota Mutian. Apa Tuan Patriak singgah lebih dulu?"


Si pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu! Kita lanjutkan perjalanannya! Misi ini harus berhasil!" Ucap nya dan di angguki pria itu.


Lalu pria paruh baya itu masuk ke kereta kuda nya.


"Ayah, Apa ayah tahu siapa orang tadi?" Setelah duduk. Dia di beri pertanyaan oleh putranya.


Menoleh dan berkata dengan lirih. "Ayah tidak tahu! Wade! Sebaiknya nanti jaga sikapmu! Aku pernah mendengar jika ada Sekte baru baru ini yang menggemparkan seluruh Benua Timur!"


Pria muda yang di panggil Wade itu mengangguk. "Ya, Ayah. Ayah tahu sendiri bukan sikap ku yang berbeda ini?" Ucap nya.


"Baguslah jika begitu!"


***


Di sisi lain


Di sebelah utara Kota Mutian nampak tiga pria berbeda usia yang sedang melesat dengan kecepatannya.


Di belakangnya juga ada lima puluhan orang yang mengikuti ketiganya.


Selang beberapa menit kemudian. Tiga pria itu menghentikan laju nya di dahan pohon besar. Secara otomatis, Lima puluh orang di belakangnya juga berhenti.


Salah satu pria yang nampak menoleh ke belakang dan berkata tegas. "Pulihkan energi kalian terlebih dulu dan kita tunggu waktu menjelang malam untuk melakukan nya!"


"Baik!"


Mereka berkata serempak namun pelan dan setelah itu semua nya bersila sambil menuangkan pil ke dalam mulut nya.


"Saudara, Mengapa kita tidak langsung melakukan nya saja?" Ucap salah satu nya setelah melihat para murid duduk bersila.


"Saudara Kai, Sebelum melakukan tindakan, Lebih baik melihat situasi terlebih dahulu. Aku merasakan aura kuat yang terus mondar mandir di depan sana! Dari pada melakukan kesalahan, Lebih baik kita memikirkan nya terlebih dahulu agar tidak ceroboh" Tegas pria muda itu yang ternyata Arya.


'Hm, Aku tak menyangka jika dia bisa mengendalikan situasi. Sepertinya aku tak menyesali tindakanku ini' Batin pria tua di sisi nya yang ternyata adalah Leluhur Suwi Lapo.


Ya, Sebelum mereka berangkat ke sini. Arya membagi tugas kepada para saudara nya seperti yang di katakan oleh Dirga sebelum nya.


Arya, Kai dan Leluhur Suwi Lapo berangkat ke arah Utara Kota Mutian. Sedangkan Tei, Zei, dan Leluhur Sido Lawang melesat ke tempat berbeda, Yaitu di selatan Kota Mutian.


Hanya Siwa Kenta yang tidak ikut karena ingin menjaga Sekte Pedang Langit Abadi jika terjadi sesuatu yang tak terduga.


Jauh di depan sana. Terlihat dua bangunan bobrok yang seperti tak layak untuk di huni.


Namun, Tidak ada yang mengetahui jika di dalam tanah ada ratusan sosok yang entah melakukan apa.


"Leluhur, Tolong nanti jangan sampai membuat keributan. Oke?!" Arya menatap Leluhur Suwi Lapo dengan raut wajah aneh nya.


Leluhur itu hanya tersenyum. "Tenang saja. Aku hanya melihat kalian dari jauh untuk menyaksikannya." Tanggap nya sambil mengeluarkan satu kendi anggur nya dan menenggak nya sambil bersendawa.


Arya dan Kai yang melihat kelakuan leluhur itu saling menatap satu sama lain.


"Apa? Mau? Aku tahu jika kamu sering minum anggur!" Ucap Suwi Lapo melirik Arya yang tertegun.

__ADS_1


"Bagaimana leluhur tau?" Tanya Arya sedikit terkejut.


"Yah! Meskipun aku tak tau mengapa kamu sudah tidak minum, Tidak sulit bagiku untuk mengetahuinya!" Ucap leluhur itu dengan acuh.


Arya tersenyum masam mendengarnya. Memang benar ia selalu minum minum hingga mabuk bersama teman temannya waktu dulu. Kini ia sudah tidak minum karena ada sesuatu.


"Dia tak minum karena tidak ingin istrinya marah marah leluhur." Celetuk Kai sambil melemparkan kacang ke mulutnya dengan ekspresi tak peduli.


Arya tersentak mendengar nya. "Bodoh! Siapa yang takut? Ak- Sebelum ucapan nya selesai. Kai menyelanya. "Jika tak takut, Coba kamu meminum anggur itu!"


"Nah! Anak muda, Ayolah! Sekali kali kamu minum anggur enak ini! Untuk urusan istri, Kita pikirkan nanti!" Leluhur Suwi Lapo menuangkan anggur ke gelas nya dan menjulurkan kedepan Arya.


Arya ragu ragu melihat ini meskipun hatinya ingin sekali menyambar gelas anggur itu. "Lihatkan! Aku yakin kamu takut dengan istrimu itu ya- Belum sempat selesai. Arya menyelanya. "Hentikan omong kosongmu itu! Oke, Aku meminumnya!"


Arya menyambar gelas itu dan langsung menenggaknya dengan sekali tenggakan.


"Wow, Aku tak menyangka jika kamu pandai dalam hal minum anak muda!" Puji Leluhur Suwi Lapo sambil mengacungkan jempolnya.


"Hahaha, Bagus...bagus! Sekarang giliranku!" Kai tertawa dan meminta leluhur Suwi untuk menuangkan nya.


"Nah, Beginikan lebih baik. Sekali kali kita bersenang senang dan tidak harus bertarung melulu. Haha..!" Ucap Leluhur Suwi sambil tertawa di akhir.


Mereka pun melanjutkan acara minum minum nya sambil mengobrol dan tertawa membuat ketiganya merasa akrab satu sama lain.


***


Di tempat lain


Bruak!


"Ahk! Hoek..!"


Suara menabrak dan diikuti suara rintihan serta muntahan darah terdengar.


Nampak seorang gadis sambil menumpu tubuh nya dengan pedang. Di mulut nya terlihat ada darah yang baru saja di semburkan lagi.


Dia menatap depan dengan raut wajah kebencian. Di mana di depannya terdapat belasan pria yang menatap nya seolah menatap benda berharga.


'Sial! Kenapa nasibku benar benar buruk?!' Batinnya kesal nan geram.


"Ba-Bajingan! Kalian benar benar brengsek! hah..hah..hah" Suara geram wanita itu di ikuti engahan napasnya.


"Hehe, Nona manajer! Tadi ya tadi, Sekarang ya sekarang. Jika tadi statusmu cukup terhormat, Kini sekarang kamu tak lebih dari masyarakat kecil." Ucap pria di depannya dengan sinis.


"Nona manajer! Kamu baru saja membunuh putra Patriak kami! Sebaiknya anda menyerahkan diri!" Salah satu pria kekar berbicara. Di sisinya ada tiga pria kekar lainnya.


Mereka berempat adalah bawahan dua Patriak yang berhasil menangkap gadis manajer itu.


Mendengar itu, Raut wajah sang gadis itu berubah muram. Sambil mengatur napasnya, Ia bersuara. "Kalian tidak akan bisa menangkapku sampai kapan pun! Aku berasal dari Organisasi Serigala hitam!"


Usai bicara, Ia merobek pakaian bagian punggung dan memperlihatkan kulit putih nya yang indah.


Bukan itu yang menjadi fokus utama para pria itu. Di punggung nya terdapat sebuah tato merah agak kehitaman bergambar kepala serigala.


Sontak raut wajah semuanya berubah ketika melihat nya.


"Di-Dia? Dia berasal dari Organisasi itu...!" Pekik salah satu sedikit takut.


Melihat raut wajah kesemuanya, Gadis manajer itu sangat senang.


"Bagaimana? Apa kalian berubah pikiran? Jika kalian menangkapku lebih baik kalian pikirkan nasib kalian sendiri selanjutnya!" Suara gadis itu terdengar.


Namun kali ini. Suara itu berbeda dari sebelumnya karena mereka sudah tahu identitas gadis itu.


Saat ini, Terdengar suara lembut seorang wanita dari dalam kerumunan.


"Kalian tenang saja, Dia hanyalah seorang murid biasa yang tidak memiliki status tinggi di Organisasi nya! Bukan begitu Nona Xenia?"


"Siapa itu? Cepat keluar!" Ekspresi gadis itu benar benar berubah kali ini karena mendengar perkataan orang tadi.


"Yo! Kita bertemu lagi, Nona Xenia Xu! Bagaimana? Apa kamu terkejut? " Suara itu terdengar kembali dan dari balik kerumunan pria itu seseorang maju memperlihatkan sosoknya.


Tiba tiba mata gadis yang di panggil Xenia Xu melebar ketika melihat siapa orang yang berbicara itu.


"K-Ka-Kamu? B-Bajingan! Kamu penghianat! Qena! Kau benar benar bajingan! Brengsek! Tak tahu malu! Apa kau sudah melupakan kebaikanku selama ini?" Xenia Xu meraung marah.


Dia benar benar marah ketika melihat gadis pelayannya yang ia anggap teman kini malah berhianat.


"Haha, Xenia Xu! Maafkan aku kali ini, Aku benar benar tak tahu mengapa orang itu menunjukmu sebagai manajer sekaligus pemilik penginapan itu. Alangkah baik nya jika itu semua kamu serahkan kepadaku!" Qena tak peduli reaksi Xenia Xu.


Yang ia pikirkan saat ini hanyalah penginapan itu agar di serahkan kepadanya. Ia melambaikan tangannya kepada semua orang.


"Jangan takut dengannya! Serang dan pukul dia! Pikirkan kembali hadiah yang di berikan Patriak Tenu dan Patriak Wadi tadi! Jika bagi kalian masih kurang, Aku menambahkan Lima ribu koin emas, Bagaimana?" Qena memprovokasi mereka.

__ADS_1


Dan benar saja, Ekspresi mereka berubah menjadi keserakahan meskipun agak ragu namun tak seperti sebelumnya.


Melihat empat pengawal kekar maju kearahnya. Xenia Xu tidak punya tenaga selain berteriak. "B-Bajingan! Jangan mendekat! Aku adalah anggota Organisasi Serig- Qena segera memotong ucapan Xenia Xu. " Cepat! Jangan buang buang waktu kalian!"


"T-Tolong! Bu-Bukan aku yang membunuhnya! Kalian benar - benar salah menilai orang!"


Xenia Xu meraung sambil meneteskan air mata di pipi halus nya ketika kedua kaki beserta dua tangannya di gotong oleh keempat nya.


Plak!


"Hentikan omong kosongmu Nona Xenia Xu! Lebih baik kamu nikmati kenikmatan yang di berikan kedua pria itu!" Qena menampar pipi Xenia Xu hingga memerah dan berbisik lirih ke telinga Xenia Xu.


Xenia Xu tidak menjawab dan hanya pasrah dengan apa yang terjadi. Dia tak menyangka jika orang yang sangat di kenal nya malah menghianati dirinya.


Ketika ingin menutup matanya, Tiba tiba terdengar suara desingan pedang tajam.


Slashh! Slashh! Slashh!...Slashh!


Xenia Xu merasa tubuh lemas nya seakan ingin roboh. Belum sempat terjatuh ke tanah, Sebuah tangan halus menangkapnya agar tidak jatuh.


Qena dan para pria yang ingin kembali pun menyadari ada suara desingan yang tampak tak asing itu.


Ketika meneh kebelakang. Mata semua orang melebar tak percaya.


Bahkan Qena membelalakkan matanya dan tanpa sadar ia merasakan firasat buruk menimpanya.


Nampak dua orang wanita cantik yang entah bagaimana muncul tiba tiba dan keduanya memapah tubuh lemah tak berdaya Xenia Xu.


Di depan ketiganya. Seorang pemuda tampat rambut perak menatap semuanya dengan tajam namun datar.


"Si-Siapa kamu?" Qena adalah orang pertama bereaksi.


Pemuda itu melirik gadis di depannya tanpa mengubah ekspresi nya. "Aku melihat semuanya dari tadi. Omong omong, Aku tidak suka dengan orang yang berhianat sesama temannya sendiri!"


"Jadi, Rasakan akibat dari ulahmu sendiri!" Pemuda itu menjentikkan jari nya dan seketika muncul bola hitam kecil yang langsung melesat ke Qena.


Pupil mata Qena menyusut berubah ngeri melihat itu. Firasatnya mengatakan jika bola kecil itu sangat berbahaya.


Ingin mengelak, Namun terlambat. Tubuhnya langsung di selimuti oleh api hitam yang berkobar panas.


"Ahk! Pa-Panas! T-Tolong aku..." Qena meringis dengan berguling guling kesakitan.


Namun, Tidak ada yang menanggapi nya sama sekali. Sesaat pekikan Qena berhenti dan tubuhnya berubah menjadi abu yang tertiup angin berlalu.


His!


Semua orang memandangnya dengan ngeri serta ketakutan yang luar biasa.


Bahkan Xenia Xu yang melihat itupun matanya melebar tak percaya. Sebelumnya ia sempat meremehkan pemuda berambut perak itu.


Sekarang ia tahu jika pemuda itu bukanlah pemuda sembarangan yang tidak harus ia provokasi.


Dirga tak peduli dengan reaksi semuanya. Eksresinya masih terlihat datar nan acuh tak acuh nya.


Menatap para pria di depannya sejenak dan berkata mengejutkan. "Aku yang membunuh ketiga Tuan muda bajingan itu! Lebih baik kalian pergi dari pada aku berubah pikiran!"


Sontak, Mereka yang mendengarnya pun tanpa ragu ragu ingin pergi. Baru saja menjauh, Dirga menghentikannya. "Tunggu!"


Mereka semua pun berhenti dengan wajah berubah ubah namun hanya satu, yaitu ketakutan.


Dirga melanjutkan ucapan acuhnya. "Katakan kepada mereka jika aku akan mendatanginya nanti!"


Mereka yang mendengarnya pun yerkejut bukan kepalang. Namun mereka mengangguk dan di persilahkan pergi.


Lalu mereka semua nya pun lari tunggang langgang ke segala arah.


Mereka sedikit berharap jika kedepannya tidak harus bertemu dengan pemuda mengerikan ini.


Membalikkan badannya dan menatap ekspresi Xenia Xu yang tertegun. Sebelum berkata, Xenia Xu mendahuluinya. "Terima kasih"


Kepala Dirga sedikit mengangguk dan melirik ke kedua wanitanya itu.


Kedua wanita itu mengerti lirikan Dirga dan keduanya mengeluarkan sebutir pil.


Laniya berkata lembut sambil menunjukkan pil itu. "Telanlah dan pulihkan energimu itu!"


"Dan juga, Ini akan membantu mengeringkan luka di pipimu" Timpal Fanni lembut juga sambil menyodorkan sebuah pil berwarna putih susu.


"I-Ini?!"


Xenia Xu terkejut melihat kedua pil itu. Dia tahu betul pil itu adalah pil tingkat tinggi yang cukup langka di Kota Mutian.


"Omong omong...Mengapa kalian membantuku? Sudah jelas jika kemarin saya telah membuat masalah dengan anda bertiga." Xenia Xu bertanya mengapa dengan ketiga orang ini.

__ADS_1


Kedua wanita cantik itu tidak menjawab melainkan menatap Dirga. "Pulihkan lukamu itu! Nanti aku akan memberi tahu nya!" Dirga tak menjawab melainkan menyuruh agar gadis itu memulihkan energinya.


__ADS_2