Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 142


__ADS_3

 Di sisi lain


"Hei! Kamu! Cepat habiskan! Aku sudah lapar ini!"


 Seorang pemuda sedikit gemuk dan dua pengawal pria masuk ke dalam kedai tempat Dirga dan kedua gadis kecilnya makan.


 Dirga menoleh dan melihat jika pemuda gemuk itu tampaknya sedang berbicara dengannya karena menunjuk meja makannya.


 Sedikit kejutan terlintas di matanya ketika melihat wajah pemuda itu yang mengingatkan seseorang.


 "Tuan! Kami harap, jangan membuat keributan di sini..Pemuda dan dua gadis kecil itu belum selesai makan. Maka tuan harus menunggu sebentar." Seorang gadis pelayan tadi buru buru berkata agar kedai tempat kerjanya tidak di ganggu oleh orang ini.


 Pemuda gendut itu melirik pelayan dengan hina. "Hei! Kamu hanyalah pelayan rendahan. Apa kamu tidak tahu siapa aku? Aku Feri dari Keluarga Kintang! Sekarang, Apa kamu mau mengusirku?"


 Sontak gadis pelayan itu terkejut mendengar akan identitas pemuda gendut itu. Namun, Di dalam hatinya ia mencaci maki pemuda gendut ini. 'Sialan babi ini! Apa hubungannya Keluarga Kintang dengan menunggu untuk mengantre saja?'


Melihat diamnya gadis pelayan ini, Feri Kintang menyeringai dan berfikir jika pihak lain takut dengannya.


 "Huh, Kenapa kamu diam saja? Apa kamu takut denganku? Mana manager mu? Biar dia memecatmu karena kinerjamu buruk!" Ucapnya mendengus dingin.


 Wajah gadis itu pucat begitu mendengarnya. Belum sempat memohon, Terdengar suara yang tak asing di belakangnya.


 "Oh, Ternyata tuan muda Feri rupanya. Ada apa? Apa ada orang yang mengganggu anda?" Seorang pria tua gundul tanpa rambut sedikit pun muncul dari pintu.


 Sontak gadis pelayan itu keringat dingin. Ia mengetahui siapa sebenarnya pria botak itu.


 Feri yang melihat kedatangan pria botak itu melihatnya sekilas dan menduga jika pria tua itu adalah pemilik kedai makan ini.


 "Apa kamu pemilik tempat ini? Jika iya, Pecat pelayanmu itu karena berani menggangguku!" Feri berkata angkuh sambil menunjuk wajah gadis pelayan itu yang pucat.


 "Tu-tuan manager! Ak-ak-aku...- " Belum sempat berkata, Orang yang di panggil manager itu membentak marah. "Selly! Kamu aku pecat! Apa kamu tidak tahu siapa yang kamu singgung..Bahkan pemilik kedai ini belum tentu mengatasinya. Cepat keluar dari sini!"


 Sontak ekspresi gadis pelayan yang di panggil Selly itu tertunduk lesu dan tubuhnya hampir goyah.


 Mau tidak mau ia pun keluar dengan wajah lesu dari kedai makan karena tahu jika sosok manager ini tidak bisa di negosiasi.


 Para pelanggan kedai yang menyaksikan ini hanya bisa diam. Jika ingin protes pun tidak ada gunanya karena sosok yang di hadapinya bukanlah dari masyarakat kelas rendah.


 Manager yang melihat pelayannya yang baru ia pecat tidak ada raut wajah kasihan sedikitpun. Ia maju selangkah menghadap Feri.


 "Maaf karena pelayan bodohku itu yang tidak menyambut anda Tuan muda Feri. Sekarang tuan muda Feri bisa duduk, Biar saya yang membuatkan makanan untuk anda!" Ucapnya dengan sapaan ramah tamah.

__ADS_1


 Feri melihat gaya menjilat manager ini pun tersenyum senang. Dia melambaikan tangan dan berkata menunjuk. "Aku tidak mau duduk di tempat lain kecuali di sana!"


 Manager menoleh ke arah tunjukkan jari Feri dan melihat ada satu sosok pemuda berambut perak dan dua bocah cilik yang sedang menggosok perut kecilnya.


 "Apa tuan muda ingin saya mengusirnya?" Ucap manager karena merasa jika ketiga manusia itu tidak ada yang menunjukkan auranya sedikit pun.


 "Menurutmu?" Feri berkata muram melihat kebodohan manager ini.


 Manager berubah pucat karena merasa salah. Dia pun buru buru berkata menyanjung. "Ah, Maafkan kebodohan manager ini tuan muda Feri! Tenang saja, Saya akan mengusir tiga manusia bodoh itu!"


 Berjalan dan menghampiri tempat meja makan Dirga dan kedua gadis ciliknya.


 "Hei! Kalian bertiga! Cepat ti...-"


 Bruakk!


 Belum sempat berkata, Tubuh manager itu meluncur dan menabrak tubuh Feri dan dua pengawalnya hingga membuat keempatnya roboh ke tanah.


 "Ahk! Sialan! Siapa yang memukulku tadi??" Manager bangkit dan berkata sambil mengusap perutnya.


 Ia tadi merasakan perutnya seperti di tampar oleh sebuah tangan kecil.


 "Paman botak! Apa kamu tidak bisa melihat jika kami bertiga sedang makan!?" Suara kecil membuatnya mengalihkan pandangannya.


 "Bocah! Apa yang ka– Arhg...!!"


 Bentakannya berganti dengan suara jeritan kesakitan dan tubuhnya kembali menabrak tempat sekitarnya membuat benda benda beterbangan.


 Tercengang. Semua pasang mata yang melihat aksi bocah cilik Ania tadi tercengang dan terkejut pada waktu bersamaan.


 "Ugh! Bocah! Kamu tidak tahu siapa aku ha? Aku akan- Arhg....!!"


 Sama seperti manager tadi, Tubuh tuan muda Feri terjungkal kebelakang bersama dengan kedua pengawalnya.


Brak!


 Tubuhnya menabrak meja meja makan dan membuatnya berserakan.


 "Ck! Seorang tuan muda kaya ternyata sangat lemah, Bahkan dengan tinju kecilku saja tidak bisa menahannya!" Ania berkata sambil mendecakkan lidah.


 Kembali terkejut.Semua yang melihat ini pun tidak bisa untuk menahan napasnya. Seorang bocah cilik berusia 8 hampir 9 tahun bisa membuat seorang tuan muda kaya tak berkutik.

__ADS_1


 "Dia? Dia seorang bocah dapat memukul seorang pemuda sejauh itu?..."


 "Bagaimana bisa? Apa gadis kecil itu berasal dari keluarga lain?..."


 "Hiii...."


 "...."


 Banyak orang yang memuji kehebatan seorang gadis kecil itu membuat si empu tersenyum senang. Bahkan ada sesekali orang yang mengutuk tuan muda Feri karena tak dapat menahan serangan tinju dari seorang bocah.


 Tuan muda Feri merasa malu ketika di hadapkan dengan situasi ini. Dia tak bisa membalas serangannya karena tadi ia bisa merasakan jika tinju milik Ania bukan kaleng - kaleng.


 "Ka-kamu? Bocah! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Bajingan! Aku adalah tuan muda kaya kelas atas, Keluarga Kintang!! Aku tidak akan melupakan kejadian ini dan tunggu saja hadiah dariku!...Ayo pergi!"


 Tuan muda Feri berkata merintih dan melambaikan tangan bersiap pergi bersama dua pengawalnya.


 Sebelum benar benar pergi, Sebuah suara dingin yang membuatnya bergidik terdengar tak jauh darinya.


 "Oh, Ternyata tuan muda Feri mau memberi gadis kecil ini hadiah ya. Kalau begitu, Aku tunggu di sini dan melihat apa hadiah yang engkau beri nanti! Semoga saja tidak mengecewakanku!"


 Langkah kaki Tuan muda Feri berhenti ketika mendengarnya. Dia tidak bisa tidak untuk menoleh ke arah sumber suara itu.


 Sontak saja raut wajahnya tercengang namun berganti dengan ekspresi yang sulit di artikan.


 Namun semua yang melihat ekspresi itu dapat mengenalinya. Melihat sekilas saja mereka tahu jika Tuan muda Feri ini ketakutan.


 "Ka-kakak? K-ke-kenapa kakak ada di sini?" Tuan muda Feri mencoba untuk berkata. Namun kalimatnya terdengar sangat gugup dan tubuhnya terlihat sedikit gemetar.


Apa yang di lihatnya adalah sosok gadis cantik berpakaian ungu. Kulitnya putih seperti salju. Wajahnya tenang sedalam lautan sedang memandangnya.


Namun dalam pandangannya itu bukanlah pandangan biasa!


 Namun yang membuatnya terkejut setengah mati adalah. Kakaknya itu berada dekat dengan sosok pemuda asing berambut perak itu.


 'Siapa dia sebenarnya? Bagaimana mungkin orang itu bisa dekat sekali dengan kakak? Apa aku tidak salah lihat?' Batin tuan muda Feri menelan ludah.


Ia tahu jika kakaknya ini tidak pernah sekalipun dekat dengan sosok pria, Apalagi ini pria asing yang baru kali ini melihatnya.


Entah kenapa ia merasakan firasat buruk menghantuinya.


 "Hmhp! Kakak, ya? Jika masih ingin memanggilku kakak, Kamu harus menjaga sikapmu sekarang juga dan jangan lupa, Jika kamu pulang nanti kamu harus datang ke tempat biasanya!" Sosok gadis cantik itu kembali berkata tenang namun mendengus.

__ADS_1



__ADS_2