Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 29


__ADS_3

Saat ini hari sudah pagi. Dirga dan Laniya bersiap untuk keluar dari hutan ini menggunakan pintu portal pemberian guru Laniya waktu itu. Bagaimanapun jika keluar menggunakan kekuatan merka, Itu sangat lama.


Mereka berdua saling tatap menatap dan mengangguk kemudian berjalan perlahan memasukinya meninggalkan kenangannya selama beberapa tahun.


"Wushh!"


........................


"K-kau bajingan! Ayahku tidak akan mengampuni nyawa busukmu itu!" Ucap seorang gadis sekitar berusia 17 tahunan yang pakaiannya sedang berlumuran darah sambil berlutut dengan pedangnya.


Di depannya ada seorang pria muda berusia dua puluh tahun berpakaian putih bersama dengan lima pengawalnya di belakang. Pria muda itu tertawa terbahak bahak sambil berkata dingin. "Hahaha, Cindy! Ayahmu hanyalah tua bangka cacat yang hanya memiliki waktu, Setidaknya tiga hari untuk bisa hidup."


Gadis yang di panggil cindy itu wajahnya berubah muram, Ia menunjuk pria muda di depannya sambil menstabilkan nafasnya. "Hh, Gya Thel! Kau kejam! kau bajingan! Kau keparat! Kau berani melakukan ini hanya untuk kesenanganmu saja, Kau tidak memiliki hati nurani!!" Raungnya malah penuh kebencian.


Pria muda yang bernama Gya The menyeringai kejam. "Kejam? Aku tak peduli!...Begitu ayahmu mati, Ayahku akan menggantikan posisi Tetua Agung di Sekte Seribu Pedang dan aku akan menjadi tuan muda jenius yang penuh sanjungan." Ucapnya dengan nada mengejek membuat Cindy seketika marah.


Sebelum berkata lagi, Tuan muda Gya Yhel telah melambaikankan tangannya dan berkata kejam. "Bunuh dia!"


Lima orang Pemurnian Qi tingkat menengah di belakangnya maju dan menebaskan pedangnya bersama ke depan di mana wajah Cindy kini berubah pucat penuh ketegangan.


"Wushh!"


Boom!


Suara ledakan serangan pedang terdengar menggema di sekitar halaman hutan terlarang. Mereka melihat lubang satu meter di tempat gadis tadi berada, Tapi mereka berlima tidak menemukan keberadaan Cindy membuatnya bingung.


"Tuan muda Gya Thel, Kami tidak menemukan gadis itu." Ucap salah satu melaporkan bingung.


Tuan muda Gya Thel mengerutkan keningnya ketika melihat lubang dalam di depannya. "Biarkan saja! Mungkin saja tubuhnya sudah meledak karena serangan kalian." Ucapnya mengejek sambil melambaikan tangannya tak peduli.


Kelima orang itu mengangguk dan bersiap pergi. Baru saja membalikkan badannya, Gya Thel bersama kelimanya tercengang begitu melihat depan.


Pria tampan berambut perak berwajah datar nampak sedang melayang bersama wanita cantik di depannya. Tapi yang membuat semua tertegun adalah, Di mana wanita cantik itu sedang menggendong seorang gadis berlumuran darah.


"B-ba-bagaimana mungkin??...Siapa kalian? Kenapa kalian berada di sini?" Ucap Gya Thel tergagap sambil mengacungkan pedangnya ke depan.


Secara alami,Mereka berdua adalah Dirga dan Laniya. Sebelumnya mereka muncul di halaman hutan terlarang dan kebetulan juga mereka melihat perseteruannya yang tak jauh darinya.


Mereka tak menjawab. Laniya menyerahkan tubuh berlumuran darah ke Dirga dan sosoknya tiba tiba menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Boom!...Krack!


Boom!...Krack!


Boom!...Krack!


Boom!...Krack!


Boom!...Krack!


Lima ledakan teredam di sertai suara tulang retak terdengar di belakang pemuda Gya Thel yang masih tercengang. Tersadar dari lamunannya, Ia membalikkan tubuh dan tercengang melihat lima pengawalnya sudah tergeletak sambil memegang perutnya.


"A-akh, Tuan muda tolong aku..."


"Tu-tuan m-muda..."


"T-tuan muda! Wanita ini kuat sekali..."


"Tuan m-muda..."


"A-akh, tu-tuan muda Gya Thel, Tolong selamatkan kami..."


"Apa kamu tidak menolong kelima temanmu itu?" Suara lembut yang terdengar dingin membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Se-senior! Apa kami mempunyai permusuhan sebelumnya?" Tanyanya sedikit takut dengan wanita cantik ini yang awalnya mengira seperti wanita wanita pada umumnya.


"Ya! Aku memusuhimu karena kamu hampir membunuh wanita hanya demi sebuah status saja." Jawab Laniya tanpa mengubah ekspresi.


Wajah tuan muda Gya Thel berubah muram, Ia mencibir. "Memangnya kenapa jika aku membunuhnya? Dia hanyalah gadis pecundang yang hanya bisa berlindung di balik status ayahnya saja!"


Wajah Laniya tetap dingin, Ia berkata. "Kalau begitu, Aku akan memberimu pelajaran!" Sosoknya tiba tiba menghilang dan langsung muncul di depannya sambil melepaskan tamparannya.


Plak!


"K-kamu- Plak!


"Be-beraninya km- Plak!


Plak!

__ADS_1


Wajah tuan muda Gya Thel tampak babak belur macam kepala babi yang gemuk. Tuan muda Gya Thel tidak berani bersuara, Takut jika pipinya di tabok oleh wanita mengerikan ini. 'Siapa sebenarnya wanita ini?...Sial! Sial!'. Kutuknya di hati tanpa sadar ngeri.


Tanpa mengucapkan apapun Laniya meninju perut Gya Thel membuatnya terlempar ke kelima bawahannya.


Brukk!


"Akh!" Ringisnya sambil memegang perutnya yang terasa amat amat sakit baginya.


"Pergilah! Aku tak ingin melihat wajah babimu lagi, Jika aku melihatmu memperlakukan orang seperti itu, Aku akan membunuhmu!" Ucap Laniya dingin sambil mengibaskan tangannya.


Tuan muda Gya Thel menggertakkan giginya dan di papah oleh kelima bawahannya lari tergesa gesa.


Laniya kembali ke sisi Dirga yang saat ini bengong sambil menggendong tubuh Cindy yang berlumuran darah.


"Dirga, Bagaimana keadaan gadis ini? Apa dia tidak apa apa?" Tanya Laniya menjadi melembut.


Dirga menjawab. "Tidak apa apa, Aku akan memberikan pil pemulihan, Mungkin beberapa saat lagi dia pasti siuman"


Laniya menghela napas lega. "Baguslah kalau gitu" Berhenti sejenak. Dia berkata bingung. "Terus kita apakan gadis ini? Apa kita harus menggendongnya sambil masuk ke kota?"


Dirga menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Laniya. Tubuhnya menghilang bersama Cindy membuat Laniya kembali melongo.Tidak sampai dua tarikan napas kemudian, Dirga muncul tanpa adanya Cindy.


"Di mana gadis itu?" Tanya Laniya celingukan mencari keberadaan Cindy yang tiba tiba menghilang.


"Tidak apa apa. Aku sudah membawanya ke tempat aman, Sebaiknya kita masuk ke kota depan itu." Kata Dirga ringan sambil melangkah kedepan meninggalkan Laniya yang kebingungan. "Tunggu!"


Mereka tiba di depan gapura masuk kota. Di kedua sisi ada dua prajurit yang menjaganya. Ada beberapa orang yang mengantri keluar masuk, Dari pejalan kaki, pedagang dan yang lainnya.


Tiba tiba terdengar suara kereta kuda dari belakang di sertai lengkingan panjang seseorang.


"Awas! Minggir minggir! Kami sedang membawa tuan muda Tian Marde!...Cepat! Cepat! Cepat!"


Mereka yang mendengar itupun segera menyingkir memberi jalan dengan tergesa gesa. "Hei bocah! Cepat minggir! Apa kamu tidak takut di tabrak?" Ucap arogan pengawalnya ke bocah perempuan kecil yang masih berdiri diam menatapnya.


Melihat ini, Dia marah. "Bocah! Apa kamu tidak mendengar perkataanku hah??" Teriaknya dengan arogan.


Dirga yang melihat penindasan orang itu menghela napas panjang. Berjalan mendekati bocah kecil itu, Dirga menggendongnya.


"Tidak perlu takut, Kakak tidak akan menyakitimu." Ucap Dirga lembut sambil tersenyum ketika melihat wajah ketakutan bocah kecil itu.

__ADS_1


Sebelum beranjak pergi, Dirga mendengar perkataan seseorang dengan sinis. "Oh ternyata kamu kakaknya, Karena kamu telah membuang buang waktu perjalan kami, Aku tidak segan segan untuk memberimu pelajaran."


__ADS_2