
Pada saat ini, Di tempat yang tidak di ketahui, Seorang lelaki tua tapi tegap sedang menahan amarahnya.
"Bajingan! Siapa sebenarnya pemuda itu? Kenapa bisa mengalahkan kedua saudara sialan itu dengan mudah? Benar benar bodoh!" Teriaknya dengan wajah muram.
Saat ini, Pintu ruangan di buka oleh seseorang. Ketika melihat siapa itu, Dia berkata geram. "Chu Lung! Siapa yang memberimu masuk ke sini?"
Orang yang di panggil Chu Lung tubuhnya gemetar, Tapi tetap maju dan berlutut dengan hormat. "Tuan Agasta, Saat ini acara pelelangan akan segera dimulai, Apa tuan tidak kesana?" Ucapnya dengan hormat sambil kepala menunduk takut takut.
Mendengarnya, Agasta segera meredam emosinya. 'Siapapun kamu, Tunggu saja! Aku akan mencarimu sampai dapat, Bahkan di ujung dunia sekalipun!' Batinnya sambil senyum menyeringai.
Melambaikan tangannya, Agasta berkata dengan cepat. "Tentu saja kita harus kesana! Kebetulan master sedang membutuhkan eliksir bunga rantai kematian...Baiklah, Kita berangkat!"
Chu Lung mengangguk dan mengikuti tuannya dari belakang.
.....................
Di restoran Samora
Saat ini, Naila atau biasa di sebut nona Lala sedang menunggu di dalam sambil makan.
'Lama sekali, Apa yang di lakukannya?' Pikirnya dengan kesal.
"Apa aku lama sekali?" Sebuah suara yang tak asing terdengar di belakangnya.
Ketika menoleh, Ia tertegun melihat pemuda yang ia tidak kenali sama sekali tapi memiliki suara yang sama.
Dengan gugup sambil menunjuk, Ia berkata. "Si-siapa kamu? Apa kita saling mengenal?"
Pemuda itu tertegun lalu menggelengkan kepalanya. Duduk di seberang meja Naila ia berkata. "Apa ingatanmu begitu buruk hingga tak mengenalku lagi?"
Naila tercengang mendengar suara yang berasal dari pemuda itu. Melihat wajah pemuda di depannya dengan seksama sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Pemuda itu mengetahui jika dirinya sedang di tatap dengan serius. Ia berkata dengan menggoda. "Apa aku begitu tampan?"
Naila yang di tanyai tanpa sadar mengangguk dan reflek berkata. "Sangat tampan!" Tapi kemudian wajahnya memerah dan memalingkan mukanya sambil berkata malu. "Ah- Tidak- Maksudku, Kenapa wajahmu berbeda dari yang sebelumnya? Tuan muda Dirga?"
Pemuda yang di panggil Dirga tersenyum tipis. Saat ini ia memang berganti penampilan karena ia memakai Jubah Pengubah Penampilan pemberian systemnya.
Rambutnya yang perak telah berganti warna menjadi hitam legam sebahu lebih sedikit. Meskipun wajahnya berbeda, Tapi tetap saja tidak menutupi ketampanannya.
Dirga menjawab acuh sambil melambaikan tangannya. "Tidak usah di pikirkan, Waktu itu aku hanya memakai wig!"
Naila bingung dan tidak bisa untuk tidak bertanya. "Apa itu wig?"
Dirga tersentak, Lalu membatin. 'Bodoh! Bukankah ini dunia kuno, Sudah pasti dia tidak mengetahuinya!' Untuk meredam malunya, Ia berdehem pelan. "Ehem, Itu semacam rambut palsu...Sebaiknya kita berangkat sekarang."
Untungnya Naila hanya mengangguk - angguk saja dan berkata. "Baiklah, Tuan muda Dirga, Sebaiknya kita pergi!"
Mereka berdua keluar dari restoran. Sepanjang jalan, Ada begitu banyak orang berlalu lalang, Mungkin karena ada acara lelang, Makanya tidak biasanya seperti ini.
Saat ingin berjalan lebih lanjut, Tiba tiba seorang pemuda berambut kuning dengan jubah warna kuning juga sedang berjalan ke arahnya dengan angkuh. Di belakangnya ada pria dewasa yang memiliki otot otot kekar dengan wajah sangar.
"Hei hei, Bukankah ini nona Lala yang memiliki rumor sangat di takuti semua orang di Kota Luyung ini? Hehehe ternyata nona sedang mengikuti acara lelang" Ucap pemuda itu dengan angkuh.
Semua pengunjung di sekitarnya berhenti dan menatap Naila beserta Dirga yang ada di sisinya dengan raut wajah rumit.
"Apa pemuda itu tidak takut dengan nona Lala? Lihat tubuhnya yang kurus itu! Dengan pukulan nona Lala aku yakin dia terbang tinggi..."
"Hahaha, Sungguh bodoh ada orang yang mengganggu ketenangan nona Lala, Aku yakin tidak lama lagi tulangnya bergeser sedikit..."
"Sedikit kepalamu...!"
Banyak pengunjung yang mencemooh dan mencibir pemuda berambut kuning ini yang membuat wajahnya gelap kesal.
__ADS_1
Pemuda itu membentak dengan suara melengking. "Diam!...Apa kalian tidak takut aku? Aku Pwa Nhu murid inti dari dari Sekte Giok Abadi! Siapa yang menghinaku tadi biar aku yang memberikan pelajaran!" Ujarnya sambil membusungkan dadanya melihat wajah kerumunan pengunjung menjadi pucat ketakutan.
Naila yang melihat ini juga agak takut, Tapi dengan memberanikan dirinya ia berkata dengan sedikit muram di wajahnya. "Maaf, Tuan muda Pwa Nhu, Saya hanya ingin mengikuti acara ini dan tidak mau ada kekacauan!"
Tuan muda Pwa Nhu menyunggingkan senyum seringainya. Menatap Naila dari bawah sampai atas, Ia mengangguk puas sambil menjilat bibir bawahnya.
Naila yang melihat mata kecabulan Pwa Nhu merasa risih. Tapi ia tidak memarahinya dan berkata. "Maaf tuan muda Pwa Nhu, Aku harus masuk kedalam takut terlambat"
Tuan muda Pwa Nhu memblokir jalan yang di lalui Naila yang membuat wajahnya sedikit pucat. "Oh nona Lala, Sebaiknya kamu masuk bersamaku! Aku juga memiliki tiket untuk masuk!" Ucapnya sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan Naila.
Tapi ada tangan kuat yang menghentikan tindakannya, Membuatnya kesal dan mendongak melihat pemuda yang tidak ia kenali sama sekali.
"Siapa kamu? Cepat lepaskan! Jika tidak aku akan membunuhmu!" Ucapnya sembari mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang masih di cekal Dirga.
Dirga menekankan dengan sedikit tenaganya membuat Tuan muda Pwa Nhu merintih kesakitan. "Arrgh...! Aduh..Aduh..Aduh! Cepat lepaskan! Apa yang kamu lakukan? Bajingan! Apa kamu tidak tahu siapa aku?"
Dirga melepaskannya dan menatap Tuan muda Pwa Nhu dengan acuh. "Aku tak peduli siapa kamu, Tapi kamu telah mengganggunya, Aku pikir kamulah yang bajingan itu! Tuan muda tai!" Ucapnya dengan datar.
Tuan muda Pwa Nhu meringis sambil menggenggam pergelangan tangannya dan berkata marah. "Bocah! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Aku hanya ingin dia masuk menemaniku, Tapi dia tidak mau! Dan siapa yang kau panggil tai itu?" Berhenti sejenak, Ia melambaikan tangannya. "Kalian berdua! Pukul dia sampai retak tulangnya!"
Kedua pengawalnya yang tampak gagah maju dengan angkuh. Baginya, Dirga hanyalah pemuda tanpa kultivasi, Tidak cukup untuk melawannya yang berada di Alam Bumi tingkat rendah.
Tuan muda Pwa Nhu menyeringai dan berkata. "Hehe, Bocah! Meskipun wajahmu sangat tampan, Tapi nanti akan menjadi biru!" Sambil terkekeh.
Dirga hanya menatap kedua pengawalnya dengan acuh. Bagaimana bisa dirinya yang berada di tahap Pertapa diremehkan seorang Alam Bumi tingkat rendah.
"Benar benar tidak tahu malu! Apa murid sekte kelas atas memang seperti ini? Bisa bisanya pemuda itu harus melawan dua pengawal berotot..."
"...."
Banyak dari mereka menyayangkan nasib Dirga. Tapi tuan muda Pwa Nhu memelototinya membuatnya diam. Kedua pengawal Pwa Nhu menyeringai sambil melangkah kedepan dengan menggerakkan kepalan tangannya hingga menimbulkan suara gemertak tulang.
__ADS_1