
Dirga mengangguk kepalanya pelan. Sebelum berkata, Ia merasa ujung bajunya ditarik dan melihat Cindy sedang menatapnya dengan cemberut.
Mengalihkan pandangannya ke tuan kota, Ia berkata lagi. "Mungkin nanti aku akan ikut, Tapi sekarang saya ada urusan."
Melihat pemuda di depannya ikut dengannya, Ia berkata lagi. "Baiklah, Tuan muda nanti cukup kesini saja dan aku rasa hanya putriku saja yang cukup menemani anda! Sekarang saya juga ada urusan." Tanpa melihat wajah memerah Naila, Ia berdiri dan membungkuk terima kasih ke Dirga lalu permisi pergi.
Naila yang masih bengong seketika tersadar dan mengucapkan terimakasih kepada Dirga lalu berlari terburu buru dengan wajah memerah.
Melihat kepergiannya, Dirga tak peduli, Ia mengusap kepala Ania lalu berkata. "Kalian sebaiknya masuk dunia cermin saja dan ganti pakaian yang lebih baik untuk Ania!" Sambil menatap Laniya.
Laniya manaikkan satu alisnya sambil menatap Dirga. "Kamu mau kemana? Apa mau cari wanita lain lagi? Apa aku masih belum cukup?" Ujarnya dengan cepat.
Dirga tertegun, Lalu menyeringai. "Gadis bodoh! Aku hanya mengantarkan Cindy, Kamu yang menolongnya aku yang direpotkan!" Sambil menyentil dahi Laniya.
__ADS_1
Laniya hanya tersenyum acuh dan berkata sambil mencubit pinggang Dirga. "Baiklah jangan lama lama."
Dirga hanya mengangguk, Lalu melanjutkan makannya. Sedangkan Cindy yang melihat keakraban mereka berdua membuat wajahnya cemburu.
Tapi bagaimanapun juga, Dirinya bukan siapa siapanya pemuda tampan ini jadi dirinya hanya menghela napas kasar.
Apalagi melihat wajah Laniya yang lebih cantik darinya, Membuatnya tidak ingin bertindak lebih jauh lagi.
'Saudara, Apa pemuda itu yang dimaksud oleh tetua Chu Lung?' Ucap salah satu lelaki yang punya jenggot sedikit tapi menjuntai kebawah menggunakan telepati.
Dengan telepati, Lelaki di depannya menjawab. 'Sepertinya begitu, Tapi kenapa aku merasa dia sepertinya menyadiri kita?'
Lelaki berjanggut itu berseru lagi. 'Itu tidak mungkin! Kekuatan kita sudah berada di Alam langit tingkat delapan, Mustahil dia menyadari kita!"
__ADS_1
Lelaki di depannya mengerutkan keningnya. 'Tapi saudara Sing, Ada yang aneh dengan pemuda itu, Aku tidak bisa mendeteksi kekuatannya sama sekali, Aoa mungkin dia hanya pemuda biasa?'
Lelaki tua yang dipanggil Sung mengeluarkan kain coklat tipis dan menatap Dirga sebentar lalu melihat teman depannya. 'Benar benar dia Thing! Lihatlah gambarnya! Sama persis dengan yang di suruh oleh tetua Chu Lung." Serunya dan temannya mengangguk sebagai jawaban sambil menyeringai.
'Hehe, Target kita hanya seorang bocah ternyata, Ini benar benar mudah bagiku' Batinnya sambil mempertahankan seringainya.
Setelah selesai memasukkan Laniya dan kedua gadis kecilnya. Dirga terbang ke arah barat laut. Di depannya, Cindy sedang memimpin jalan.
Dahi Dirga tiba tiba mengernyit dan menoleh kebelakang. Mengalihkan pandangannya kedepan, Ia berkata dengan telepati. 'Cindy, Sebaiknya kita turun di hutan depan itu! Ada dua orang Alam Langit tingkat tinggi yang mengikuti kita!'
Cindy terkejut begitu mendengar suara yang ada di benaknya dan berseru di dalam hati. 'Pertapa? Tuan muda Dirga ini sudah berada di ranah Pertapa tingkat tinggi??'
Tapi tidak ada waktu untuk kaget saat ini. Suara Dirga terdengar lagi jika orang yang mengikutinya sudah berjarak tiga kilometer darinya. Meskipun ia penasaran bagaimana Dirga bisa merasakan seseorang yang jauh dan bisa trlepati, Ia tetap mengikuti perintahnya dan mempercayainya.
__ADS_1