
Raut muram Gya Thel menunjukkan wajah terkejut. Sambil mengacungkan pedangnya kedepan, Ia mencibir. "Tidak peduli jika aku bersekutu dengan iblis, Yang terpenting aku bisa menjadi kuat, Apalagi ketika aku merasakan lezatnya darah anak anak dan gadis, Hehe"
Kekehnya sambil diikuti kesemblian pemuda di belakangnya tanpa memperdulikan teman temannya yang sudah terbunuh di tangan sosok serba hitam.
Sosok berjubah hitam itu kembali berkata dengan acuh. "Kalian tidak layak untuk hidup di dunia ini, Biarkan aku membalaskan dendam orang orang yang saudaranya kamu bunuh!"
Tubuhnya tiba tiba menghilang membuat tuan muda Gya Thel dan sembilan kawannya menjadi lebih waspada.
Selama beberapa saat, Tidak ada yang terjadi apa apa pada mereka. Salah satu dari mereka berkata dengan nada mengejek. "Huh, Ternyata dia hanya menggertak saja, Membu-
Sebelum perkataannya selesai, Kepala orang itu dan dua teman disisinya tiba tiba terpenggal membuat darah muncrat kemana mana.
Bruk Bruk Bruk
Gya Thel yang melihat ketiga kawannya yang mati dengan kepala terpisah tanpa tau apa penyebabnya membuatnya marah. Ketika ingin berkata, Tiga kepala tiba tiba jatuh dan diikuti dengan tubuh ketiganya.
Raut wajah tuan muda Gya Thel dan ketiga sisanya berubah menjadi pucat ketakutan. Tuan muda Gya Thel mendongak ke berbagai sisi dan berteriak. " Keluar kamu! Jangan jadi pengecut! Ayo kita bertarung satu lawan satu!"
Ketika kata itu jatuh, Tiba tiba suara serak bergema di sekitarnya. "Semut! Tidak pantas kau menjadi lawanku, Hanya Alam Bumi tingkat sembilan belaka berani melawanku!"
Ketika suara itu jatuh, Sosok serba hitam muncul sepuluh meter di depannya bersamaan dengan kepala ketiga temannya yang tiba tiba terlisah dari tubuhnya.
Kini, Tersisa tuan muda Gya Thel seorang dengan lutut yang bergoyang hebat menatap depan dengan wajah ketakutan. "S-si-siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu membunuh semua temanku?" Ucapnya dengan gugup.
Sosok itu kembali bertanya. "Apa aku perlu menjelaskannya?"
Mendengar ini, Raut wajah Gya Thel benar benar jelek, Karena ia tahu dirinya sudah bersekutu dengan iblis yang bisa membuat semua orang mengutuknya seribu cacian, Bahkan tak luput membunuhnya.
bruk
__ADS_1
Tubuh tuan muda Gya Thel berlutut kedepan dan berkata memohon sambil ketakutan. "Se-senior! Tolong ampuni aku, Aku tidak bermaksud untuk menghianati bangsaku sendiri, Aku hanya ikut ikutan saja dan saat itu aku mulai ketagihan, Tolong lepaskan aku."
"Ikut ikutan saja?" Ulang sosok itu terpana, Lalu berkata dengan geram. "Ikut ikutan kepalamu! Bukankah itu sama saja menunjukkan jika kamu benar benar berkhianat?"
Tuan muda Gya Thel tertegun, Lalu mengutuk di dalam hatinya. 'Sialan! Bagaimana bisa mulutku asal bicara seperti itu?' Ketika ingin bersuara lagi, Ia merasa tubuhnya lemas dan seketika ambruk dengan mulutnya yang tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. 'A-apa yang terjadi dengan tubuhku?'
Sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Dirga. Sebelumnya, Ia menggunakan Jubah penyamaran pemberian system waktu di hutan terlarang yang dapat membuat tubuhnya berubah bahkan suaranya bisa ia rubah sesuka hati.
'Benar benar jubah hebat!' Pujinya sambil menatap tubuhnya yang terbungkus oleh kain hitam seperti sosok assasin. Menatap atas, Ia berkata. "Turunlah! Tidak ada yang bisa mengganggumu saat ini!"
Raut wajah Cindy berubah tegang ketika mendengar perkataan sosok tak di kenal itu. Sebelumnya, Ia sudah mendengar semua perkataan Tuan muda Gya Thel yang membuatnya marah.
Tapi ketika ingin bertindak, Tiba tiba saja sosok serba hitam ini muncul membantai semuanya dan kini hanya menyisakan Tuan muda Gya Thel.
Ketika ragu ragu sejenak, Ia kembali mendengarkan suara yang tidak asing dari sosok itu. "Kenapa kamu hanya diam saja?"
Dirga hanya mengangguk acuh, Dan Cindy melompat turun kebawah. Ketika ingin bersuara, Tubuhnya tiba tiba di peluk. "Dirga, T-terima kasih sudah menolongku, Aku...Aku minta maaf atas perkataanku tadi!" Ucapnya sambil terisak di pelukan Dirga.
Dirga tak membalasnya melainkan berkata acuh. "Tidak apa apa! Kamu benar jika aku hanya orang luar!"
Begitu mendengar perkataan Dirga, Entah mengapa dirinya menjadi sedih. "Ma-maafkan aku!" Ucapnya lirih sambil memeluk erta tubuh Dirga membuatnya tercekik.
Dengan susah payah, Ia berkata. "No-nona! Apa kamu mau membunuhku?"
Cindy segera melepas pelukannya dan wajahnya merah merona malu. Wajah Dirga tetap acuh dan datar, Ia berkata. "Baiklah, Apa yang kamu lakukan dengan orang ini? Tapi lebih baik bunuh saja dia!"
Cindy segera berseru. "Jangan! Lebih baik aku membawanya ke balai penegak hukum atau ke pemimpin, Aku akan memberitahunya!"
Dirga menggeleng pelan dan berkata lagi. "Sebaiknya bunuh saja orang ini, Dia tidak pantas untuk hidup lebih lama"
__ADS_1
"Ta-tapi- Wajah Cindy ragu ragu ragu tapi di sela oleh Dirga dengan tegas. "Jika kamu tidak melakukannya, Biarkan aku yang membunuhnya."
Dirga menjentikkan jarinya dan seketika, Api hitam langsung meleset ke tubuh Tuan muda Gya Thel dan menjadikannya menjadi abu menyisakan cincin penyimpanannya, Begitu juga dengan banyaknya mayat mayat di sekitarnya.
Raut wajah Cindy berubah tegang. Ia menunjuk Dirga sambil berkata dengan gugup. "Ka-kamu! Kenapa kamu membunuhnya? K-kamu kejam! Kamu tidak punya hati nurani! Kamu bajingan!" Dengan marah, Ia mengepalkan tangannya sambil di selimuti energi dan menjulurkan kedepan.
Tapi, Dirga hanya menangkap tinjunya dan berkata acuh. "Kenapa kamu keras kepala sekali? Dia sudah bersekutu dengan iblis dan kamu masih sempat sempatnya kasihan dengannya."
"A-aku...aku" Wajah Cindy berubah muram dan lidahnya tercekat karena ia tidak bisa membantah perkataan Dirga. Lalu ia berkata dengan takut. "Di-dia putra dari tetua pertama, Aku takut dia tahu jika putranya sudah tewas, Apalagi ayahku sekarang hanya bisa tidur di ranjang. Jadi tidak ada yang bisa menjelaskannya sama sekali sekalipun aku sudah jujur sejujurnya."
"Apa karena sebuah status membuatmu menjadi takut?"
"I-itu- Dia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Karena ia putra tetua agung yang sebelumnya di hormati oleh semua orang, Bahkan patriak sekte pun juga harus menghormatinya.
Namun sekarang, Ayahnya sendiri terkena racun dan menduga, Jika tak lama kemudian, Statusnya akan di cabut dan dialihkan ke tetua selanjutnya.
Dirga yang mendengarnya hanya tersenyum tipis tak menjawab. Ia mengambil cincin penyimpanan tuan muda Gya Thel lalu menyimpanannya.
Menoleh ke Cindy yang masih berdiri diam, Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut, Seolah ia tahu apa yang di pikirkannya.
"Jika tidak ada masalah lagi, Aku akan pergi! Masih ada orang yang belum aku urus." Ucap Dirga sambil mengeluarkan benda kotak sukuran rokok surya.
"Apa ini?" Alis Cindy berkerut dan menolak pemberiannya. Tapi Dirga segera berkata. "Nona Cindy! Itu adalah token teleportasi yang bisa menteleportasikan seseorang sejauh ribuan kilo meter, Sebaiknya kamu simpan saja! Barangkali barang itu berguna"
"Aku tidak membutuhkannya!" Tolak Cindy tegas dengan wajah yang masih menyimpan amarah ke Dirga.
Dirga tak menjawab. Ia membelakangi Cindy sambil tersenyum tipis. "Nona Cindy! Terserah dirimu mau membuangnya apa tidak, Tapi ingatlah! Hati manusia tidak ada yang bisa menebaknya kecuali sang pencipta! Bisa saja orang yang kamu sayangi itu berubah menjadi orang yang kamu benci seumur hidupmu!" Dirga berkata dengan suara dalam dan tubuhnya menghilang dari pandangan.
Wushh!
__ADS_1