
Lenguhan aneh Laniya membuat bulu kuduknya merinding. Tapi, Ia tetap fokus mengalirkan energinya melalui jarum perak.
Dirga mundur dua langkah dan duduk bersila. Memejamkan matanya dan diam sejenak. Kedua tangannya terangkat ke udara dan membuat gerakan gerakan jari rumit.
Dari gerakan itu muncul simbol cahaya emas dan ungu disertai beberapa rune rune rumit yang mengambang lembut di sisinya.
"Pembukaan Segel Keabadian — Hancurkan!"
Teriaknya dengan menghentakkan kedua tangannya ke depan. Dan seketika itu simbol seukuran bedug masjid menyusut menjadi kecil dan langsung melesat masuk ke dalam tubuh Laniya.
Tubuh Laniya terangkat ke udara dengan sendirinya. Di bawah silanya, Muncul siluet bunga teratai biru yang indah.
Laniya menggertakkan giginya menahan sakit di seluruh tubuhnya. Organ dalamnya serasa bergelombang di atur ulang.
"Klik!"
"Booms!"
Suara retakan dan ledakan kecil terdengar dari dalam tubuh Laniya. Seketika seluruh tubuh Laniya memancarkan cahaya putih menenangkan.
Tidak hanya itu, Energi abadi dunia cermin terkumpul di sekitar Laniya dan langsung berubah menjadi untaian - untaian bunga berwarna warni.
__ADS_1
'Tidak hanya menerobos tingkat sembilan, Elemen cahayanya juga ikut terbuka!' Gumam Dirga di hatinya terkejut. Tak menyangka jika elemen cahaya milik Laniya juga ikut terbangun.
Sesaat setelah itu, Wajah Dirga seketika berubah. Ia melihat wajah Laniya yang memerah dengan nafasnya yang tersengal.
Secara pribadi ia tahu jika tubuh Laniya memanas ingin melampiaskannya. Tapi ia tidak tahu kenapa Laniya bisa seperti ini.
Seketika ekspresinya berubah ketika teringat dengan ucapan jiwa lelaki tua Tri Wulyo pada saat itu.
'Brengsek! Apa ini yang membuatnya tidak bisa melepaskan segelnya?' Kutuknya di benak, Sambil menelan ludahnya begitu melihat tubuh Laniya sedikit berubah dari sebelumnya.
'Sangat indah!' Pikirnya.
"Pluk!"
'Sialan! Apa aku harus kehilangan keperjakaanku?' Ucapnya di hati dengan perasaan rumit.
Melihat Laniya yang tidak ingin melepaskannya. Mulutnya menyeringai dan tubuhnya berpindah di kamar random meninggalkan tawa samar Dirga. "Hehe!"
***
Di tempat lain
__ADS_1
Saat ini, Di sebuah ruangan yang di penuhi dekorasi indah. Nampak sepasang suami istri yang sedang duduk dengan tatapan kosong.
Mata keduanya tidak lepas dari sosok tubuh yang berbaring lemah di ranjang. Tubuh sosok itu di selimuti es es yang dingin dan hanya menyisakan kepalanya saja.
Meskipun suhu di dalam ruangan itu sangat dingin. Kedua sepasang suami istri itu tak bergeming sedikitpun dari tempatnya.
Saat ini, Pintu ruangan di buka oleh seseorang. Seorang pria yang nampak dewasa dan memiliki wajah sedikit tampan di sertai mata yang tajam menuju ke depan dan berlutut.
"Saya ingin melapor kepada Yang Mulia Kaisar Zhan Thong dan Permaisuri Ye Yuezi!" Ucapnya dengan hormat.
Orang yang di panggil Kaisar Zhan Thong melambaikan tangannya dan berkata dengan tatapan kosongnya. "Jenderal Tanbi! Bangunlah! Apa ada masalah di istana?"
Orang yang di panggil Jenderal Tanbi bangkit dan membungkukkan badannya sekali lagi. "Bukan itu Yang mulia!...Tadi penasehat Fu Shat memberiku informasi yang meng- " Ucapannya di sela oleh Kaisar Zhan. "Katakan intinya saja!"
Jenderal Tanbi berkata dengan cepat. "Putri Zhan Laniya sudah di temukan keberadaannya!"
Suasana seketika menjadi hening begitu mendengarkan perkataan Jenderal Tanbi. Mereka berdua tertegun dalam waktu tidak singkat.
"A-apa Ka-kakak Laniya sudah d-ditemukan?" Saat ini yang bersuara lemah serta tergagap itu adalah sosok yang terbaring di ranjang.
Ketiganya mengalihkan pandangannya ke sosok itu dengan tatapan prihatin.
__ADS_1
Saat ini tubuh sepasang suami istri itu gemetar dan tidak tahu harus menjawab seperti apa. Informasi tadi baru saja mengejutkannya.
Dengan suara lemah dan tubuh sedikit bergetar. Kaisar Zhan Thong berkata. "L-laniya?...Di-di-dimana putriku saat ini berada?"