Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 132


__ADS_3

 Pada saat ini, Arya, Kai dan para murid berada di wilayah perbatasan Ibu Kota.


 Di depan sekitar lima ratus meter dari sini, Terlihat benteng Kota yang menjulang tinggi. Dan ada pula gerbang gapura yang cukup besar serta megah.


 Di gapura itu terlihat tulisan 'Kota Sanging' berwarna emas indah.


 Arya menatap semua murid dan berkata sungguh sungguh. "Kalian berpencar dan buatlah lima kelompok! Jika ada sesuatu yang menurut kalian mencurigakan, Segera hubungi kami!"


 Sambil mengeluarkan batu komunikasi pemberian Dirga dan menyerahkannya kepada mereka.


 "Tetua, Apakah?..." Salah satu murid berkata terputus dengan raut bingung kepada Arya.


 "Kalian tenang saja, Batu komunikasi ini sedikit berbeda dari apa yang kalian lihat. Cukup alirkan energi kalian dan bicaralah dalam hati, Maka secara otomatis ucapan kalian terekam sendirinya dan tinggal mengirim ke kami!" Bukan Arya yang menjawab melainkan Kai yang berada di sisinya.


 Batu Komunikasi adalah batu yang di gunakan oleh seorang kultivator tingkat tinggi untuk berkomunikasi dengan rekannya. Namun, Ada syarat tertentu jika ingin bisa berkomunikasi menggunakan Batu Komunikasi yaitu seorang kultivator harus berada di ranah Raja Langit. Berbeda dengan Batu Komunikasi pemberian Dirga, Cukup dengan aliran energi dan bicara di hati, Maka semuanya telah di rekam. Terlepas dari ranah apapun itu.


 "Eh? Apa itu benar?" Sang murid terkejut begitu mendengar perkataan Kai.


 Kai tersenyum dan menepuk pundak murid itu seraya berkata. "Kalau tidak yakin, Kamu bisa mencobanya!"


 Sang murid pun segera menuruti perkataan Kai dan mencobanya. Lalu wajahnya yang bingung tadi kini berubah menjadi kagum.


 "Ini? Ini benar - benar bisa! Baru kali ini aku menemukan batu komunikasi yang berbeda dari yang lain!" Sang murid berseru kaget serta kagum.


 Begitupun juga dengan murid lain yang penasaran akan cobaannya. Mereka kagum Sektenya memiliki Batu Komunikasi yang berbeda dari biasanya.


 Arya dan Kai yang melihat ini saling berpandangan dan tersenyum simpul.


 "Baiklah, Kalian kerjakan apa yang aku perintah dan jaga diri kalian baik - baik! Jika ada suatu masalah di antara kalian, Lebih baik hubungi yang lain atau aku dan Kai! Jika ada yang tidak perlu, tinggalkan saja!" Arya berkata panjang lebar kepada para murid Sektenya.


 Mereka berulang kali mengangguk dan mengikuti apa kata Arya lalu membuat kelompok sendiri.


 "Oh ya, Apa kalian memiliki Koin emas?" Kai baru tersadar dan bertanya kepada mereka.

__ADS_1


 Namun, Ekspresi mereka sedikit berubah dan menundukkan kepalanya membuat Arya dan Kai bingung.


 "Ada apa? Bukankah kalian di bagi koin emas dengan adil oleh Tetua Retania?" Arya bertanya penasaran.


Retania memang yang di beri tugas untuk memberi koun emas pada para murid karena telah ikut andil dalam misi.


 "Tetua, Kami sangat - sangat cukup dengan pemberian Sekte! Jadi, Kami semua yang ada di sini maupun yang ada di Sekte sepakat untuk mengumpulkannya bila ada terjadi hal - hal yang di luar batas kita." Seorang pria dewasa maju menjawab hormat kepada mereka berdua.


 Pemuda di sebelahnya pun mengangguk dan menimpali. "Itu benar tetua! Dengan kami memiliki tempat tinggal saja sudah membuat kami bersyukur dan saya sangat malu melihat tetua semua masih memberikan koin emas kepada kami, Padahal keadaan kami masih layak."


 Arya serta Kai yang mendengar seruan murid Sekte nya pun di buat kagum. Tidak menyangka jika mereka tidak memperdulikan benda berharga itu.


 Ini yang membuatnya semakin kagum dengan anggota Sektenya karena tidak ada yang mengincar harta.


 "Baiklah, Aku kagum dengan kalian semua! Tapi master kalian menginginkan kalian semua agar bisa sesekali berbelanja atau lainnya yang berada di Ibu Kota." Arya berkata seraya mengeluarkan beberapa cincin penyimpanan dari cincin penyimpanan pribadinya.


 Para murid menerimanya dengan enggan. Namun mereka juga sulit untuk tidak menerima karena master nya yang berkata.


 Ketika melihat isi cincin itu, Mata semuanya membelalak lebar dan rahang semua jatuh kebawah dengan tak percaya.


 Sebelum ada yang mencecar pertanyaan atau ke enggangan mereka. Kai berkata serius. "Sudahlah! Lebih baik simpan saja dan kita melanjutkan misi ini agar tidak membuat master marah!"


 Sontak raut wajah mereka berubah mendengarnya. Meskipun mereka masih enggan, Mereka menghirup napas dalam - dalam dan siap untuk menerimanya.


 "Kalian pergilah dulu! Aku masih ada urusan. Ingat! Apapun yang terjadi kalian harus saling komunikasi!" Arya berkata mengingatkan sebelum mereka pergi.


 "Baik!" Semuanya menjawab hormat serempak dan satu persatu kelompok mereka melesat secara teratur.


 Setelah beberapa saat menunggu, Kini hanya Arya dan Kai yang tersisa.


 "Saudara, Apakah...." Arya berkata terputus sambil mengitari pandangannya.


 "Kamu tenang saja! Lihatlah di sana!" Kai berkata seraya menunjuk atas depan.

__ADS_1


 Arya sedikit mendongak dan melihat sinar cahaya berekor yang melesat kemari. Tidak sampai satu tarikan napas, Cahaya itu berada di depannya dan menampilkan sosoknya yang berwajah merah padam.


 "Bajingan! Apa yang kalian sebenarnya lakukan kepadaku? Kenapa kalian malah meninggalkanku?" Leluhur Suwi Lapo berkata dengan nada beringas.


 Namun kedua pemuda itu tetap tenang nan menatap pria tua itu dengan aneh.


 Merasa ditatap, Leluhur Suwi menjadi lebih kesal. "Brengsek! Apa yang kalian lihat? Kenapa kalian malah diam saja hah??" Bentaknya dengan marah.


 "Huh, Sudah tua masih marah - marah. Apa leluhur sedang dapat??" Kai mendengus berkata membuat wajah leluhur naik pitam.


 Kalian..." Ucapannya terputus di sela oleh Arya. "Leluhur, Aku rasa ada yang salah denganmu! Lihatlah benda yang mengintip itu! Apa benda itu ingin di tabok??"


 Leluhur Suwi sedikit bingung mendengar perkataan Arya. Masih dengan perasaan kesal ia mengalihkan pandangannya sesuai dengan lirikan mata Arya.


 Matanya tiba - tiba membelalak sempurna melihat benda sekecil itu yang malu malu mengintip itu.


 Dengan wajah memerah entah malu ia segera membenarkan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan.


 "Dari pada leluhur marah dan membuat seisi Kota gempar, Lebih baik kita cari makan! Aku sudah lapar!" Kai menyela cepat ketika melihat mulut leluhur tua itu yang seakan ingin berbicara.


 Sebelum leluhur Suwi bicara, Kini Arya menyelanya. "Kamu benar saudara! Perutku sudah lama bunyi. Lebih baik kita cari restoran atau kedai pinggir jalan untuk mengisi perutku yang kosong ini."


Arya menimpali seraya merangkul pundak Kai sambil berlalu pergi meninggalkan leluhur tua itu yang kini melongo kesal.


 "Sialan! Mereka tidak mengijinkanku bicara! Brengsek! Tunggu saja kalian, Aku akan membuat kalian terkapar nanti!" Leluhur Suwi menggerutu sepanjang jalannya.


•••


Tiga hari kemudian


 Pada saat ini, Dirga berada di barat perbatasan Ibu Kota. Selama perjalanan, Dirga sesekali berhenti karena tidak sengaja melihat tanaman obat yang cukup langka.


 Meskipun semuanya tidak ada satupun yang berguna untuknya, Tapi tetap saja namanya benda berharga ya berharga.

__ADS_1


 Walaupun bukan untuk dirinya.


__ADS_2