Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 38


__ADS_3

"Ka-kamu! Ja-jangan mendekat! Ap-apa yang kamu lakukan? Aku murid dari sekte Giok Abadi! Apa kamu tidak takut??" Raungnya ketakutan yang masih sempat membanggakan statusnya.


Namun, Dirga tak peduli. Ia meraih kaki kanan pemuda itu, Dan menghentakkan ke arah kanan.


Krack!


"Argh!...K-kamu apa yang kamu lakukan?"


Sayangnya Dirga tak peduli dengan jeritan pemuda nakal ini. Meraih kaki satunya lagi dan menghentakkan ke kiri.


Krack!


"Argh! Bajingan! K-kau! Kau kejam!"


Dirga menyeringai dan bertanya. "Oh, Apa kau bilang? Telingaku sedang sakit akhir akhir ini dan tidak bisa mendengar perkataanmu tadi!"


Sion menatap Dirga dengan ekspresi kebencian serta ketakutan. "Kau Bajingan! Kau sangat kejam! Argh...!" Serunya kembali sambil mengulurkan tangannya menunjuk Dirga.


"Bajingan? Bukankah kau yang bajingan itu?" Cibir Dirga dan dengan cepat meraih tangan yang menunjuk dirinya lalu


Krack!


"Argh...!


Jeritannya kembali terdengar ketika Dirga mematahkan pergelangan tangannya. Menatap Dirga dengan ketakutan ia berkata memohon. "Bocah!...Oh- Tidak tidak, Tuan! Tolong maafkan aku, Biarkan aku pergi!"


Dirga tetap tak bergeming. "Pergi? Sebaiknya minta maaf kepadanya dulu dan aku akan membiarkanmu pergi!" Kata Dirga sambil menunjuk gadis kecil di belakangnya dengan mata melebar.

__ADS_1


"I-itu- Ia ragu ragu. Dia adalah murid sekte kelas atas yang selalu di banggakan semua orang. Bagaimana dia bisa meminta maaf kepada gadis kecil belaka, Dimana harga dirinya nanti jika ada teman temannya yang mengetahuinya, Pasti akan menertawakan dirinya sebagai pecundang.


Melihat pemuda itu hanya diam, Dirga berkata dingin. "Masih ada satu tanganmu, Apa aku harus mematahkannya juga?"


Pemuda Sion menjawab dengan cepat. "Aku akan meminta maaf, Aku akan meminta maaf!"


"Cepatlah!" Sela Dirga dengan dingin.


Melirik gadis kecil yang hanya diam saja, Ia menghirup napas dalam dalam. "Boc-...Oh salah salah. Gadis kecil, Maafkan aku yang mengganggumu lagi!" Ucapnya dengan gugup sambil menggertakkan giginya.


Dirga melirik gadis kecil itu yang juga menatapnya, Ia melihat anggukan lirihnya. Menoleh ke pemuda itu yang masih bersimpuh membentuk huruf V.


Ia berkata ringan. "Baiklah, Kamu boleh pergi sekarang!"


Pemuda Sion itu menghela napas panjang, Ketika ingin beranjak dari duduknya, Tanpa sadar menjerit lagi.


Dirga berkata ringan. "Aku akan membantumu berdiri."


Mata pemuda itu berbinar, Ketika ingin berkata lagi, Ia melihat Dirga melambaikan tangannya membuat matanya kembali melebar.


Tubuhnya melayang dan meluncur keluar pintu restoran. Whung..!


His!


Para pengunjung menatapnya dengan ngeri. Pemuda yang tak di ketahui asal usulnya ini tidak hanya kuat, Tapi juga kejam, Meskipun pihak lain sudah mengatakan statusnya.


Dirga tak peduli dengan tatapan semua orang, Menoleh ke belakang dan berjalan mendekatinya. Lalu berjongkok di depan gadis kecil itu sambil mengelus kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Gadis kecil, Siapa namamu? Dan bagaimana kamu bisa berada disini?" Tanya Dirga dengan lembut.


Gadis kecil itu menunduk takut takut dan menjawab dengan suara pelan. "N-namaku Ania tuan."


Meskipun suaranya sangat pelan, Dirga masih bisa mendengarnya dan tersenyum tipis.


"Nama yang bagus!" Pujinya sambil celingak celinguk ke segala arah. "Dimana kedua orang tuamu? Apa mereka ada disini?" Tanyanya sekali lagi.


Tapi, Gadis kecil yang bernama Ania itu semakin menunduk dan Dirga melihat ada tetesan air ke lantai. Seketika Dirga mengetahui apa yang dialaminya.


"Baiklah, Nia! Apa sekarang Ania mau ikut bersamaku? Namaku Dirga" Ucapnya sambil menatap Ania mengambil keputusan.


Kepala kecil Ania mendongak dan melihat wajah tampan Dirga. Ia berkata dengan takut takut. "A-apa...Apa benar Ania boleh ikut tuan?"


Dirga mengangguk sambil tersenyum dan berkata. "Tentu saja boleh! Ania nanti juga akan mempunyai saudari perempuan, Sama seperti kamu."


Ania menatap Dirga dengan mata sayunya dan meneteskan air matanya. Dirga buru buru mengusap air matanya dan berkata dengan kasih sayang.


"Jangan nangis, Ya? Sekarang kita pergi dari sini dulu." Ucapnya sembari mengangkat tubuh kecil Ania.


Ania mengangguk dan mendekap leher Dirga dengan erat sambil membenamkan kepalanya di dada bidangnya dengan terisak.


Dirga hanya tersenyum tipis, Ia tidak tahu bagaimana bisa ada seorang anak kecil di bawah umur yang keluyuran tanpa memiliki orang tua.


Bahkan orang di sekitarnya tidak terlalu peduli dengan keberadaannya, Seolah olah anak kecil itu hanyalah sebuah sampah yang tak layak di pungut.


'Hah, Semoga saja ini yang terakhir kalinya.' Batinnya sambil mendesah.

__ADS_1


__ADS_2