
Qin Rama dan Qin Arma sudah tak bisa berkata - kata mendengar perkataan selir barusan.
Namun kemudian keduanya tersenyum kejam dan tertawa terbahak bahak.
"Hahaha, Dengan ini, Kita bisa mudah untuk menguasai daratan ini!" Tawa Qin Rama dan diangguki yang lain dengan seringai kejam.
Mereka berempat berambisi untuk menggenggam dan mengatur benua timur.
Tak peduli perbuatannya jahat atau tidak. Yang pasi keinginan mereka terpenuhi.
"Tapi ingat! Kalian harus mengumpulkan seratus anak kecil berusia di bawah lima tahun. Begitu juga dengan bibimu!" Ucap Selir Tara menatap Qin Rama sambil menyunggingkan senyum.
Masih dengan ekspresi senangnya. Qin Rama mengangguk tanpa ragu.
"Ibu dan bibi tenang saja! Nanti aku akan menyuruh bawahanku untuk mencari apa yang ibu dan bibi inginkan!"
•••
Istana Sekte Pedang Langit Abadi
Sudah 5 jam telah berlalu. Tiga wanita cantik itu kini telah terkapar lemas akibat gempuran Dirga.
Ketiganya menutup mata dan nampak tertidur pulas akibat ulahnya.
Dirga menggeleng menyunggingkan senyum. Memakai kembali pakaiannya dan keluar ruangan menuju balkon Istana.
Melihat danau luas serta bangunan - bangunan yang berderet membentuk setengah C.
__ADS_1
Merasa ada yang penting, Dirga mengeluarkan Andira. Murid perempuan cantiknya.
Wush!
"Guru! Gu..Eh? Kenapa wajah guru banyak keringat-nya? Apa guru sedang berlatih?"
Andira yang baru keluar dari dunia cermin melihat Dirga tampak berkeringat tidak bisa untuk tidak bertanya.
Dirga tersenyum masam dan ia tak perlu untuk menjelaskannya. Karena tak guna!
Ia mengangkat satu telapak tangannya dan muncul cermin agak oval berbingkai merah tua dan agak retak.
"Teteskan darahmu ke bingkainya!" Perintah Dirga kepada Andira.
Andira merasa bingung mengapa gurunya menyuruhnya meneteskan darah ke cermin itu.
"Ini cermin yang kamu masuki tadi! Aku mempercayaimu untuk menjadi tuannya!" Jelas singkat Dirga.
"I-itu??" Andira membulatkan matanya sempurna kaget mendengar perkataan gurunya barusan.
"Ta-tapi guru...Mengapa guru memberikan dan mempercayaiku?" Tanya Andira agak sedikit ragu.
"Kamu sekarang menjadi muridku...Jadi mudah untuk menunjukkan identitasmu ke para murid!" Ucap Dirga dan membuat Andira semakin bingung.
"Sudahlah, Sekarang teteskan darahmu dan ikuti apa yang aku katakan kepadamu!" Tambahnya agar Andira tak semakin bertanya yang membuatnya semakin pusing.
"Eh-...Baiklah, Guru." Ucap Andira sedikit kaku dan mengikuti apa yang di katakan Dirga.
__ADS_1
Wush!
Sebuah sinar merah bercampur emas memancar indah di cermin itu dan tak lama kemudian berubah menjadi bola kecil dan masuk ke tubuh Andira melalui antara keningnya.
Andira merasakan adanya suatu energi asing namun sangat kuat memasuki pikiran serta tubuhnya.
Dan juga ia memiliki seperti hubungan dengan cermin itu seperti luas maupun pergerakan yang ada di dalamnya.
"Sekarang kamu dengarkan aku! Biarkan para murid memasuki.....
•••
Bukit Timur
Pada saat ini, Tuan Jing berada di dekat bukit timur dan ini adalah target terakhirnya.
Penampakannya saat ini tubuhnya di penuhi warna darah. Namun itu bukan darahnya sendiri melainkan darah para anggota Organisasi Serigala Hitam.
Selama tadi, Ia sudah banyak membunuh anggota Organisasi Serigala Hitam dan para petinggi Organisasi.
Meskipun ia dulu mempunyai keterikatan dengan Organisasi itu, Namun ia tidak memiliki ekspresi sedih ataupun marah.
Malah ia lega dan seperti telah membalaskan dendam yang seolah olah ia pendam jauh puluhan tahun.
Wushh! 5×
Tiba - tiba di depannya muncul lima seorang pria dan kejutan muncul di matanya karena tidak mendeteksi kemunculannya.
__ADS_1
Namun ia sedikit tersenyum melihat pakaian yang di pakai kelimanya karena ia mengenalnya.