Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 176


__ADS_3

Dua sosok wanita bercadar hijau dan biru terlihat melayang mendekati mereka bertiga.


Aura ranah Saints begitu menyebar membuat yang merasakannya serasa di cekik kesulitan napas.


"Kalian benar-benar bodoh! Hanya Formasi lemah belaka saja kalian tak sanggup menghadapi. Lihatlah!" Cibir wanita bercadar hijau menoleh ke mereka.


Qin Arma, Qin Rama tersenyum masam mendengar perkataan dari sosok itu. Sedangkan Lian Xin mengernyit seolah pernah mengetahui dua wanita itu.


'Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi, Dimana?' Batinnya menatap aneh dua wanita bercadar itu.


Mereka berdua tak peduli meskipun sedikit mengernyit melihat sosok Lian Xin yang adalah tamu Kerajaan.


Wanita bercadar hijau itu mengangkat telapak tangannya ke depan membentuk gerakan mencakar.


"Cakaran Iblis!"


Wushh!


Sebuah telapak tangan hitam raksasa penuh dengan aura iblis keluar dan melesat cepat menuju Formasi.


Laniya dan lainnya yang melihat ini pupil matanya menyusut.


Laniya berkata menggema kepada mereka. "Buat pertahanan terkuat kalian!"


Segera. Para murid dan wanita Dirga lainnya bersatu dan mengalirkan energi membentuk perisai energi besar hingga menutupi Sekte.


"Bodoh!" Wanita bercadar hijau itu mencibir dan menjentikkan jarinya.


Boom!


Krak! Pyarr!


Tak butuh sedetik Formasi bintang itu langsung hancur dan serangan cakar hitam itu masih melaju ke arah mereka.


Boom!

__ADS_1


Suara ledakan keras terdengar hingga ke terdengar sampai ke Kota Kota terdekat Sekte.


"Ahk! Sakit!"


"To-tolong kami tetua!"


"Arhg! Ini menyakitkan!"


Banyak jeritan - jeritan para murid terdengar begitu menyedihkan. Bagaimanapun, Mereka hanyalah murid murid luar yang kultivasinya Pemurnian Qi dan yang terkuat adalah Alam Bumi.


"Sialan! Wanita ini sangat kuat! Saudari Bai! Saudari Fanni! Saudari Xenia! Cepat bantu mereka pergi menjauh dan obati mereka!" Perintah Laniya menggertakkan gigi.


"Ta-tapi...." Perkataan Fanni di sela oleh Laniya serius. "Tidak ada tapi - tapi. Cepat! Jangan sampai para tetua kita tewas!"


Mereka yang mendengar itupun tersadar dan segera membawa tubuh lemah Jenderal Tanbi dan lainnya yang terkena racun masuk ke dalam Sekte.


"Hehe, Gadis kecil! Kau begitu keras kepala. Sudah jelas jika kau hanyalah Pertapa belaka! Ingin melawan kami yang berada di ranah Saints? Huh, Bodoh!" Cibir wanita bercadar biru menatap bodoh Laniya.


Ekspresi Laniya dingin. Mengeluarkan Pedang pemberian Dirga dan mengayunkan ke arah dua wanita itu.


"Niat Pedang Bunga!"


Melihat ini, Tatapan cibiran tak terelak dari dua wanita bercadar itu.


"Huh, Serangan kecil belaka!" Cibirnya sambil membentuk perisai dengan ekspresi malas.


"Bodoh!" Cibir Laniya menyeringai.


Serangannya yang hampir tiga meter mengenai keduanya berbelok dan mengarah ke arah Qin Arma, Qin Rama, Dan Lian Xin.


Tak bereaksi, Mereka yang awalnya meremehkan seketika terkena serangan telak dari Laniya.


Boom!


"Arhg!"

__ADS_1


Jerit ketiganya dan tubuh ketiganya jatuh ke tanah dengan luka bakar serius.


Pupil mata dua wanita itu menyusut. "Bajingan! Kau menipuku! ******! Rasakan ini!" Wanita bercadar hijau itu berkata marah.


Aura ranah Sainst meletus semakin meluas. "Prajuritku! Serang murid murid mereka! Bunuh dan jangan ada yang sampai tersiksa!" Perintahnya dengan aura membunuh yang kental.


Segera, Mereka melesat ke Sekte dan mengeluarkan senjatanya masing masing bersiap menyerang.


"Takkan kubiarkan semut semut seperti kalian menghancurkan Sekte guru!"


Entah sejak kapan, Andira muncul di belakang Laniya dan di belakangnya seratus lebih wanita dengan aura Raja Langit menyebar.


Di sisi kiri jauh juga, Tampak dua ratus lebih murid elit laki laki Sekte muncul dan langsung menyerang musuh dengan membabi buta.


Melihat ini, Laniya tersenyum mengangguk. "Andira! Kuberikan semua ini padamu! Biar dia urusanku!" Perintahnya dan melesat ke atas.


"Baik Kak!" Jawab Andira mengangguk dan memberi perintah. "Zisya! Xueyi! Bunuh mereka semua!"


"Baik!"


Boom! Trang! Boom!


Trang! Boom! Trang!


Boom! Boom! Trang!


Trang!...Boom!


Suara ledakan terjadi bersahut - sahutan.


"Arhg! Tolong!"


"Sakit! Pinggangku sakit!"


"Aduh! Aduh! Dadaku!

__ADS_1


Seketika pertarungan terjadi. Suara tabrakan pedang, Suara jeritan terdengar begitu memilukan.


Namun rata - rata jeritan pilu itu berasal dari musuh!


__ADS_2