
Wanita itu mendongak menatap pria yang selama ini ia rindukan. "Meskipun tuan Lesmana sangat jahat, Kamu tidak harus membencinya. Bagaimanapun batu roh ini darinya."
Arya yang mendengar perkataan istrinya hatinya tersentuh dan membatin. 'Maafkan aku istriku! Batu roh ini aku mencuri dari rampasan si tua Lesmana itu!'.
Saat ini, Dirga sudah berada di kamar penginapannya. Sebelumnnya ia berpisah dengan Naila karena ada urusan. Ia berkata dengan semangat kepada system. "Sistem, Serap kedua batu ini!"
"Tring! Penyerapan batu nompok jiwa sedang berlangsung 1%..."
"Tring! Selamat kepada tuan rumah telah mendapatkan 200 poin energi mental sejati."
Seketika pikirannya menjadi jernih dan kekuatan jiwanya meningkat. Bahkan ia merasa bisa menggunakan energi mental selama tiga jam penuh.
"Tring! Selamat kepada tuan rumah telah mendapatkan elemen cahaya!"
Seketika saja, Tubuhnya di selimuti cahaya putih seputih susu. Dirga merasakan ketenangan di jiwanya seolah olah tidak memiliki pikiran apapun.
Selama beberapa saat ia membuka matanya sambil menghembuskan napas kasarnya. "System, Tampilkan status!" Perintahnya.
[ Nama: Dirga ]
[ Jenis Kelamin: Pria ]
[ Usia: 18 Tahun ]
[ Kultivasi: Pertapa *4 (+) ]
[ Tubuh Khusus: Tubuh Semesta ]
[ Energi mental sejati: 5.323/∞ ]
[ Keterampilan Teknik: –Tinju Mandraguna –Niat Pedang Penghancur Langit –Alkemis Alam –Teleportasi Lv:akhir –Mata Surgawi Lv:akhir –Pernapasan Dewa Lv:akhir–Jari Dewa Lv7 –Formasi Bintang Kuno Lv6 ]
[ Kemampuan: «Disembunyikan» ]
[ Koin System: 154.240.000 ks ]
[ Elemen: Api (immortal). Kegelapan. Angin. Cahaya ]
[ Ruang Penyimpanan: « Di sembunyikan » ]
Melihat koin sistemnya yang banyak tapi tidak bisa meningkatkan kultivasinya, Membuatnya mwnghela napas panjang.
"Biarlah! Nanti juga akan ada waktunya!" Ucapnya acuh dan tubuhnya menghilang dari kamar penginapan.
Hari sudah malam. Saat ini, Sepasang pria dan wanita sedang di kejar dua lelaki dengan tawa liarnya.
"Hahaha, Kalian tidak bisa kabur! Bahkan di ujung dunia sekalipun, Cepat serahkan eliksir itu!" Ucap lelaki dewasa sambil menatap sepasang manusia beda kelamin di depannya.
Di sisi lelaki dewasa ada juga pria tapi masih nampak muda dengan usia 60 tahun. Ia berkata dengan pelan. "Tuan! Apa kita tidak habisi saja kedua orang ini? Hanya Raja Langit belaka saja berharap menandingi kita!"
"Lung! Apa kamu tidak melihat wajah wanita itu? Sangat disayangkan jika kita tidak mendapatkannya" Ucap lelaki yang dipanggil tuan olehnya.
Chu Lung mengalihkan matanya ke wanita muda itu. Seketika matanya berbinar dan berkata penuh semangat. "Tuan Agasta! Wanita ini cukup cantik! Tapi sayangnya wajahnya terlihat pucat!"
Agasta tersenyum menyeringai dan merintah bawahannya. "Lung! Singkirkan pria itu! Aku akan melakukannya di depannya, Hehe!"
Chu Lung mengangguk dan melesat kebawah. Pria muda yang bernama Arya itu ketakutan setengah mati. Dirinya tidak berharap jika ada dua orang kuat yang bukan tandingannya sama sekali.
__ADS_1
"A-apa yang kalian lakukan? Jangan mendekat! Jika kamu mendekat aku akan membunuhmu!" Seru Arya dengan terbata bata.
Chu Lung yang mendengarnya seketika tertawa. "Hahaha! Apa kamu yakin bisa membunuhku? Meraih pakaianku saja kamu tidak bisa a- Ucapannya di sela oleh Agasta. "Cepat lakuka! Jangan banyak omong!"
Chu Lung mengangguk dan mendekati Arya. Arya yang melihat ini mendekap tubuh Retania dengan erat. Saat ini kondisi Retania masih pingsan akibat gempuran keduanya.
Chu Lung mengangkat kakinya membentuk posisi menyepak ke Afya. Tapi sebelum menyentuh tubuhnya. Sekelebat bayangan hitam meraih kaki itu dan membantingnya dengan keras.
Baam!
"Ugh!" Chu Lung memuntahkan darah. Tapi sebelum melihat siapa yang berani membantingnya. Tubuhnya kembali berayun ke tanah sekali lagi.
Baam!
Baam!
Baam!
Tulangnya terasa remuk akibat tubuhnya terus menerus di ayunkan ketanah. Darah terus menerus di semburkan dari mulutnya. Begitu juga dengan organ dalamnya yang terasa bergeser.
Seketika suasana menjadi hening. Agasta maupun Arya tercengang begitu melihat tubuh Chu Lung yang terus menerus di banting oleh sosok bayangan hitam itu.
Saat ini, Agasta pulih dari keterkejutannya dan berseru sambil menunjuk sosok itu. "S-siapa kamu?"
Sosok itu tak menjawab, Mengangkat tangannya ke langit dengan posisi mencakar. Dia menancapkan cakarnya ke dada Chu Lung.
Mata Agasta dan Arya membulat sempurna melihat itu. Bukan karena apa. Mereka berdua melihat cakar itu langsung menembus dada dan tampak tangan sosok itu merogoh rogoh sesuatu di dalamnya lalu menariknya kembali.
Kali ini rahang mereka jatuh begitu tangan sosok hittam itu mengangkat benda yang ada di cengkramannya.
Agasta seketika menggertakkan giginya marah. Lalu ia berseru garang. "Kamu! Apa yang kamu lakukan ha? Kenapa kamu membunuh orangku tanpa sebab?"
Sosok itu menjawab dengan ringan. "Dia pantas mati!"
Agasta seketika berang. Ketika ingin berkata lagi, Ia melihat sosok itu menghilang dari pandangannya. "Hilang?"
Ketika dirinya menengok ke segala arah untuk melihat sosok itu dimana. Pelipisnya terasa di hantam balok baja yang keras.
Baam!
Tubuh tuan Agasta terdorong mundur seratus meter. Tatapan terkejut tidak bisa di sembunyikan dari wajahnya. Ini pertama kalinya ada orang yang bisa memukulnya mundur kecuali kakaknya dan pemimpinnya.
Melihat sosok itu lebih dalam, Ia tak bisa melihat kultivasinya sama sekali. Tapi, Jika lebih tinggi darinya, Setidaknya pukulan tadi bisa membuatnya cedera.
Tapi tadi ia hanya merasakan sakit sejenak lalu menghilang. Hanya tubuhnya saja yang terdorong mundur. 'Siapa sebenarnya dia? Apa dia menggunakan artefak tingkat tinggi?' Pikirnya.
Tapi saat ini, Tidak bisa memikirkannya lebih lanjut karena melihat sosok itu sudah menghilang lagi.
Baam!
Baam!
Baam!
Mereka berdua bertukar beberapa serangan di atas langit malam. Saat ini Arya tercengang melihat kedua pertarungan jauh di atasnya.
"I-ini? Ini pertarungan tingkat tinggi!" Serunya dengan kagum.
__ADS_1
"A-ar-ya! A-apa yang t-terjadi?" Suara samar Retania terdengar di pelukannya. Melonggarkan pelukannya, Ia melihat Retania sudah bangun dari pingsannya tapi dalam keadaan lemah.
"Minumlah pil ini! Ada seseorang yang menolong kita!" Ucap Arya sambil mengeluarkan pilnya dan membantu Retania menelan pilnya.
Setelah menelannya, Retania cukup pulih dan bertanya. "A-arya! Dimana kedua orang itu?"
Arya tak menjawab, Melainkan telunjuknya mengarah ke atas. Retania bingung, Tapi ketika ia mendengar suara yang memekakkan telinganya, Tanpa sadar ia mendongak dan tercengang begitu apa yang memasuki visinya.
Ada cahaya emas dan hitam keabuan yang saling mengejar satu sama lain. Terkadang cahaya emas yang terdorong mundur jauh, Dan tidak jarang pula cahaya hitam keabuan yang terdorong mundur juga.
"Hahaha, Ternyata kemampuanmu tidak seberapa! Aku rasa kamu sok menjadi pahlawan di malam hari!" Ucap Agasta sambil menstabilkan posisi lajunya.
Tidak berbeda dengan sosok itu. Meskipun tidak terlihat wajahnya sama sekali, Sosok berpakaian hitam itu tengah setengah berlutut sambil memegang dadanya.
Sosok itu menatap Agasta dengan raut wajah permusuhan. "Apa kamu si Agasta itu?"
Agasta terkejut ketika mendengar perkataan sosok yang tidak di ketahui ini. "Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu tahu namaku?" Teriaknya sambil menunjuk sosok itu dengan ragu ragu.
Sosok itu tak menjawab, Tapi di balik wajahnya bibirnya melengkung sedikit keatas. "Ternyata itu kamu! Aku rasa membunuhmu itu hal yang benar!" Ucapnya dengan dingin.
Bibir Agasta berkedut. Ia tak menyangka orang aneh ini mau membunuhnya. "Membunuhku? Membuatku luka saja tidak bisa apalagi membunuhku! Kamu hanyalah ber- omong kosong!" Ujarnya dengan bangga sekaligus membusungkan dadanya.
Sosok itu berkata lagi. "Mungkin ini saatnya kamu tahu agar kematianmu tidak penasaran siapa yang membunuhku!"
Agasta ingin melesat, Tapi ia urung karena melihat sosok itu melesat tinggi ke.langit. "Apa yang di lakukan?" Gumamnya bingung.
Sosok itu berhenti seratus meter di atas Agasta. Mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi. Seketika saja, Dari punggungnya muncul siluet sayap seukuran dua meter berwarna emas yang melambai lambai dengan lembut.
Bersamaan dengan itu, Wajahnya yang di tutupi terbuka dan muncul wajah tampan berambut hitam legam sebahu lebih sedikit.
Agasta mengerutkan keningnya karena tak mengenal siap pria ini. Tapi, Sedetik kemudian matanya melotot sempurna sambil menunjuk sosok di atasnya itu.
"Ka-ka-kamu! Ternyata itu kamu?" Serunya tergagap.
Sosok itu saat ini rambutnya berubah menjadi putih perak indah. Di atas kepalanya, Muncul tiga siluet cahaya perak berbentuk pedang seukuran lengan manusia dewasa.
"Ternyata kamu mengenalku!" Ucap sosok itu yang tak lain adalah Dirga.
Ia melambikan tangannya kedepan dan seketika tiga cahaya perak berbentuk pedang itu melesat ke Agasta.
Agasta yang melihat itu tersenyum menyeringai dan berkata mengejek. "Aku akui niat pedangmu sangat hebat! Tapi mau melawanku? Sampah!"
Dirga tersenyum tipis dan diam diam melemparkan granat lalu melesat kebawah dimana Arya dan Retania masih mendongak dengan mulut menganga.
Menepuk kedua pundak mereka, Dirga berkata. "Tutup mata kalian!" Mereka berdua segera menutup mata entah karena apa.
Dirga dan keduanya menghilang dari tempat itu dan muncul dua kilo meter dari tempat tadi. Mereka berdua membuka matanya penasaran.
Boom...!
Boom...!
Boom...!
Boom...!
Ledakan terjadi berturut turut di atas langit. Pohon pohon di sekitarnya seketika tersapuh bersih akibat ledakan yang mengandung aura destruktif yang sangat besar dan kuat.
__ADS_1