Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 131


__ADS_3

Keesokan paginya.


Dirga membuka matanya sambil menghirup napas dalam - dalam lalu membuangnya dengan perasaan lega.


Semalam, Ia tertidur di dahan pohon yang lebar setelah ia melarikan diri.


"Hm?" Alisnya tiba - tiba mengkerut menatap depan.


Ada rombongan lima orang dan kesemuanya lelaki. Dua pria dewasa yang kultivasinya Raja Langit bintang 7 dan 9, Dua orang yang tampaknya pengawal Raja Langit bintang 7.


Dua lainnya adalah seorang pemuda. Salah satu dari pemuda itu Dirga telah melihatnya dan mengenalnya.


Erga! Ya! Erga Longgo dari Keluarga Longgo yang ia selamatkan waktu lalu!


"Apa yang dia lakukan disini? Eh-...Kenapa aku sepertinya pernah melihat orang itu?" Gumam Dirga sambil mengernyitkan dahi.


Karena penasaran, Ia mendekati sambil menyembunyikan auranya agar tidak terdeteksi.


"Kakak! Aku senang kakak sekarang kembali! Aku khawatir kakak yang waktu itu tiba - tiba hilang dan tidak bisa di deteksi keberadaan kakak!" Seorang pemuda berpakaian indah berkata dengan wajah berseri - seri.


Di sebelahnya ada seorang pria dewasa yang dari awal meremas senyumnya. Saat ini dia berkata menimpali. "Wade benar! Erga! Apa kamu tahu dimana ibumu sekarang??" Dia berkata dengan senyum misteriusnya.


Sontak, Raut wajah Erga berubah ketika di tanyai ini. Wajahnya yang muram menatap pria paruh baya itu dan memegang tangannya cemas.


"Paman patriak! Katakan! Apa paman tahu dimana ibuku sekarang?? Apa paman sudah mencari keberadaannya? Jika iya, Cepat katakan! Aku akan pergi menyusulnya!!" Erga berkata cepat dengan raut wajah khawatir.


Melihat kecemasan Erga, Pria dewasa itu menenangkan hati Erga sambil mengelus pundaknya dengan kasih sayang.


"Tidak usah cemas begitu...Kamu adalah keponakanku! Tidak mungkin bukan aku membiarkan ibumu di bawa pergi menjauh! Sekarang, Ibumu sudah berada di mension Keluarga kita. Tapi..." Pria itu tak melanjutkan kata - katanya ragu.


Ia melirik pria yang tampaknya seumuran dengannya yang dari tadi diam meskipun mendengarnya.


Melihat ucapan pamannya terputus, Erga curiga jika ada suatu masalah mengenai ibunya.


"Paman! Tapi apa?? Apa yang terjadi dengan ibuku paman?! Kenapa paman tidak melanjutkan kata - katanya? Paman- " Ucapan marahnya terhenti karena ada tangan yang memegang pundaknya dengan kuat.


Menoleh ke arah pemilik tangan, Raut wajah nya sedikit berubah dan kembali tenang.


Karena yang memegang pundaknya adalah ayahnya! Tetua pertama bernama Abra Longgo yang juga adalah kakak dari Patriak Longgo!


Alasan dia tidak menjabat sebagai keluarga, Karena dirinya hanya ingin tidak mengekspos kekuatan serta penampilannya.


Awalnya adiknya yang bernama Yoiki yang tadi di panggil paman oleh Dirga sempat menolak. Namun karena desakan Abra, Akhirnya dia pun menjabat sebagai Kepala Keluarga.

__ADS_1


Melihat Erga sudah tenang, Abra Longgo menghela napas panjang dan berkata. "Tenanglah sedikit! Saat ini, Kondisi ibumu dalam keadaan terkena racun yang susah untuk mencari penawarnya"


"Apa?! Ibu kena racun? Bagaimana bisa..?" Erga memekik kaget begitu mendengar perkataan ayahnya.


Dia mengguncang pundak ayahnya sendiri. "Ayah! Bagaimana bisa ibu terkena racun? Mengapa ayah membiarkan ibu terkena racun? Lalu saat ini bagaimana keadaannya??" Dia tak peduli tubuh ayahnya yang ia goncang dengan sekuat tenaga.


Saat ini yang ia pikirkan hanya keselamatan ibunya!


Lalu ia tiba - tiba menepuk pundaknya dan berkata mengeluh. "Ah!...Kenapa aku lupa dengan ini??"


Abra dan lainnya yang melihat perubahan raut wajah Erga menjadi berkerut.


"Kak! Ada apa denganmu? Kenapa kamu malah senyum - senyum sendiri ketika mengetahui ibu kena racun? Apa jangan jangan...." Wade berkata dengan raut wajah berubah.


Menyadari akan perubahan wajah orang yang di kenalnya ini, Erga menggelengkan kepalanya. "Jangan berpikir yang tidak - tidak!"


Sebelum ada yang sempat berkata. Erga mengeluarkan satu buah pil berwarna putih susu yang membuat mereka terkejut.


Aroma harum khas pil langsung menyeruak ke hidung mereka masing - masing.


"P-pil penyembuh bintang 8!!!" Semuanya memekik serempak, Bahkan kedua pengawalnya pun sama.


Bagaimanapun, Pil bintang 8 adalah pil tingkat tinggi yang keberadaannya sangat - sangat langka!


"I-ini? Nak! Dari mana kamu mendapatkan harta ini? Sekarang cepat sembunyikan itu!" Abra yang pertama tersadar berkata cepat sambil menutupi pil yang berada di telapak tangan Erga.


Erga sedikit tidak senang melihat ini. Namun ekspresinya senang melihat reaksi mereka.


"Ayah! Apa yang ayah khawatirkan? Lihatlah ini!!" Erga berkata dan mengeluarkan beberapa Pil sekali lagi membuat mereka kembali melongo seakan tak percaya.


"B-Bagaimana mungkin??" Seru mereka serempak tercengang dengan apa yang di lihatnya.


"N-Nak! Da-darimana kamu mendapatkan semua pil-pil berharga ini? Jika kita memilikinya, Keluarga kita akan meningkat drastis dan tidak mungkin menempati peringkat pertama! Cepat katakan! Apa kamu mencurinya??" Abra Longgo berkata kepada putranya dengan terbata dan sedikit khawatir.


Namun ekspresi Erga tetap tenang dan menjawab dengan nada penghormatan. "Ini semua pemberian dari guruku! Waktu itu....


Erga menceritakan semuanya dan tidak ada yang ia tutupi kepada mereka.


Raut wajah Patriak, Wade, dan Abra berubah ketika mendengar lama cerita Erga itu.


"Pemuda tampan berambut perak? Apakah mungkin??" Patriak berkata dengan sedikit ragu. Ia melirik Abra yang diam dan berkata ragu. "Kak! Bagaimana denganmu? Apakah...."


Abra mengerti maksud perkataan adiknya dan setelah berpikir sejenak. Ia pun kembali berkata kepada putranya untuk membuktikan keraguannya.

__ADS_1


"Nak! Apa pemuda itu memakai pakaian putih dan ada tiga wanita cantik di sisinya??"


Erga terdiam dan tidak tahu kenapa orang - orang ini berbicara seperti ini.


"Ayah benar! Namun aku tidak melihat tiga wanita yang ayah maksud! Guru hanya seorang diri menyelamatkanku!" Erga berkata dengan bingung dan sedikit menambahkan. "Kenapa ayah berkata seperti itu? Apa kalian tau tentang guru?"


Mereka kembali menggelengkan kepalanya dan Patriak berkata. "Tidak ada! Mungkin kita salah orang! Ayo sedikit lebih cepat lagi!"


Erga mengangguk dan mengeluarkan pedang berwarna emas dan berkata gembira. "Ayah! Lihat pedangku ini!"


Sontak, Raut semuanya berubah melihat pedang yang di genggam oleh Erga.


"Pe-pedang tingkat Surgawi? I-ini??" Patriak dan Abra menelan ludah melihat Erga yang mengejutkannya ini.


"K-kak! Sebaiknya kita temui guru kakak dan berterima kasih kepadanya! Bagaimanapun, Semua ini pemberiannya dan kita harus berterima kasih padanya!" Wade berkata kepada kakaknya dengan berbinar.


Meskipun kakaknya mengatakan gurunya adalah seorang pemuda. Namun entah kenapa hatinya berdebar dan ingin melihat sosoknya.


Jika sosok guru yang dimaksud oleh kakaknya benar tentang pikirannya, Dia tidak akan menolak meskipun di tendang berapa kali pun.


Erga menggelengkan kepalanya dan berkata mengernyit. "Sangat sulit untuk menemui guru...Sial! Aku juga tidak menelusuri tentang identitas guru!"


"Tapi itu lebih baik! Dari pada kamu mencoba mencari tahu tentang nya, Itu akan membuat dia terusik dan bisa membuat keberadaannya terjadi masalah."


"Hah, Aku harus berterima kasih pada gurumu itu...Jika kamu tidak bertemu dengannya, Mungkin kamu tidak lama bisa mendampingi ibumu!" Abra berkata panjang lebar seraya mendesah dan mendapat anggukan yang lain.


Erga yang melihat ini pun tersenyum samar dan memasukkan kembali pedangnya. Lalu ia mendekap cincin yang tersemat di jari tengahnya di dada.


'Guru! Terima kasih! Jika bukan karena mu...Mungkin aku sudah tidak bisa melihat ibuku lagi. Terima kasih guru!' Erga berbicara di dalam hatinya dengan rasa penuh syukur.


Dirga yang melihat dan mendengarnya dari atas pun tersenyum namun juga terkejut.


Ia tak menyangka jika dua pria yang tidak asing tadi ternyata saudara dari Erga.


Tapi juga tak berdaya melihat dirinya di klaim seenaknya menjadi guru oleh Erga.


"Orang ini...." Ia berkata singkat dan menggelengkan kepala dengan senyum kecut.


Karena urusannya nampak selesai, Ia pun berencana mengikuti rombongan ini. Karena ia tahu arah mereka adalah Ibu Kota.


Sebelum benar - benar pergi, Dirga mengirimkan informasi kepada Tei dan Zei serta leluhur yang masih berada di Sektenya.


Wushh!

__ADS_1


..........................


__ADS_2