Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 108


__ADS_3

Raut wajah Patriak Tenu dan Patriak Wadi sontak berubah.


"Brengsek! Siapa yang mengganggu waktu nikmatku. Aku akan menghabisinya..!" Kutuk Patriak Tenu marah berjalan keluar diikuti Patriak Wadi di belakangnya.


"Huh, Akhirnya kamu datang juga. Katakan! Kematian seperti apa yang kalian inginkan?" Suara dengusan dingin di sertai aura menakutkan menyebar ke seluruh penjuru Kelurga Tenu.


Raut wajah kedua pri itu berubah. Suara itu berasal dari atas dan tanpa sadar mendongak.


Dua wanita cantik menatapnya dengan dingin. Di samping itu ada pria berambut perak dan di belakangnya ada gadis berpakaian lusuh.


Pupil mata dua Patriak itu menyusut. Situasi saat ini bukanlah situasi yang pernah ia bayangkan. Kedua pria itu hanya bisa mendeteksi Ranah dua wanita, Sedangkan sisanya tidak di ketahui.


Meremas senyum merekah, Patriak Tenu berkata sopan. "Nona, Siapa anda? Apa kita memiliki permusuhan?"


"Benar Nona! Kami tidak mengenal anda dan anda juga tidak mengenal kami. Mengapa anda menghancurkan tempat kami?" Timpal Patriak Wadi dengan ramah.


Meskipun hatinya entah mengapa gelisah. Persepsinya mengatakan bahwa wanita itu sangat berbahaya, Apalagi pria berambut perak yang sedang menatapnya tajam, Membuat bulu kuduk merinding.


"Hm, Tidak ada, Hanya saja aku ingin menghancurkan kediaman kalian!" Tegas wanita itu lagi dengan raut wajah dingin. "Laniya! Bunuh saja kedua pria tua itu!" Perintah pria berambut perak dengan datar.


"Baik!"


Laniya mengangguk dan menatap kedua pria itu dengan dingin. Membuat gerakan tangan indah, Sambil berkata sinis. "Mengapa aku ingin membunuh kalian berdua? Karena aku sudah melihat semuanya jika tua bangka sepertimu sudah menculik banyak wanita untuk memuaskan nafsu kalian. "


"Jadi jangan harap bisa kabur dari genggamanku!"


Segera, Energi berbentuk puluhan bunga muncul di atas kepala Laniya. Wangi harum menyebar kemana mana, Membuat siapapun terpana akan kewangiannya.


Tak terkecuali Patriak Tenu dan Patriak Wadi.


Sebelum memelesatkan energi bunga itu, Laniya berkata mengejutkan. "Kalian tahu? Akulah yang membunuh putra kalian. Salahnya sendiri sudah berani bermain main denganku!"


"Apa?!" Kedua pria itu sontak terkejut.


Lalu wajahnya berubah muram. "Aku tak peduli seberapa kuat dirimu! Kamu sudah membunuh putraku dan harus menerima akibatnya!" Kata Patriak Wadi dengan wajah merah marah.


Ia mengeluarkan pedangnya dan menebaskan pedangnya beberapa kali ke arah Laniya dengan gila.


Wushh!


Suara angin berhembus kuat bersamaan dengan munculnya belasan kilatan cahaya silang yang keluar dari pedang Patriak Wadi menuju ke Laniya.


"Huh, Serangan lemah ini tidak mempan untuk melukaiku!" Cibir Laniya dan melambaikan tangannya ke depan.


Wushh!


Puluhan energi berbentuk bunga itu melesat dengan sangat cepat menuju ke kilatan cahaya itu.


Ketika gampir bertabrakan, Laniya menggenggam telapak tangannya dengan erat sambil bergumam pelan. "Hancurkan!"


Booms!


Suara ledakan terdengar. Angin berhembus kencang menyapu ke segala arah membuat rambut siapapun berkibar.


Bruakk!


"Ugh!"


Tubuh Patriak Wadi terpental hingga menababrak mension mewah saudaranya sampai retak. Mulutnya tak henti hentinya mengelurarkan darah sambil memegangi perutnya.


Dia memandang lemah Lnaniya dengan raut wajah ngeri serta ketakutan.

__ADS_1


Habis sudah, Dia tak lebih menjadi seorang manusia biasa.


Mata Patriak Tenu melebar melihat adegan ini. Dirinya tak menyangka jika serangan wanita itu sangatlah mengerikan.


Dia menelan ludah kasar. Dia yakin jika saudaranya atau Patriak Wadi itu sudah tidak sanggup untuk bertarung kembali.


Vitalitasnya sudah terkuras karena serangan energi bunga Laniya mengenai titik vital tubuh Patriak Wadi hingga menyebabkan dantiannya pecah.


Kini yang ada di pirannya hanylah satu, Yaitu kabur sejauh mungkin dari wanita gila ini menurutnya.


Namun, Sebelum tersadar, Suara itu kembali terdengar di belakangnya.


"Ingin kabur? Tidak semudah itu."


Mata Patriak Tenu membelalak lebar ketika merasakan punggungnya seperti di hantam oleh baja yang keras.


Tubuhnya meluncur ke atas langit dengan cepat.


"Akhh...!" Teriaknya pilu kesakitan.


Namun, dalam posisi terlentang di udara, Sebuah telapak tangan menghentakkan kembali dengan energi.


Bang!


"Akhh...!"


Suaranya melengking begitu mengerikan. Tubuhnya kembali di luncurkan kebawah dengan kecepatan sedang karena yang menyerang tadi adalah Fanni.


Kultivasinya masih di bawah Patriak Tenu yang sudah berada di Alam Langit tingkat ketiga. Jadi punggungnya hanya terasa kebas sesaat.


xSial! Jika seperti ini terus aku akan mati!" Gerutunya yang tubuhnya masih meluncur kebawah.


Nmamun, Sebuah telapak tangan menekan perutnya di sertai energi yang mengerikan menurutnya.


"Apa? Kematian jntukmu terlalu lembut bagiku!" Suara Laniya terdengar dingin.


Telapak tangannya mengeluarkan energi mengerikan dan langsung menyebabkan mata Patriak Tenu melebar dengan putus asa.


"J-Jangan... " Suaranya putus diiringi suara ledakan teredam dari dalam tubuhnya.


"Kesengsaraanmu akan di mulai! He-he!" Suara kekehan Laniya putus - putus dan ia menghentekkan tubuh Patriak Tenu keatas kembali.


Bang!


"Akhh...! Huek...! Huek...!"


Suara rintihannya begitu menyedihkan diikuti semburan darah terus menerus dari mulutnya.


Sebelum kembali meluncur ketanah. Fanni menangkap tubuh tua itu dan langsung meluncurkan tendangan sembilan puluh derajat.


Bang!


Bruakk! Boms!


Tubuh Patriak Tenu menabrak mensionnya hingga roboh. Resmi sudah kedua pria itu tidak memiliki kultivasi.


Dirga melirik tempat itu tanpa bersalah. Dirinya juga diam diam melesatkan energi mental sejatinya ke tubuh dua ptriak itu.


Tujuannya adalah agar vitalitasnya lama kelamaan menurun dan menyebabkan kematian.


"Puas?" Kata Dirga menatap Laniya yang sudah kembali di depannya.

__ADS_1


"Emm~ " Laniya mengangguk dan melingkarkan tangan lembutnya ke lengan Dirga. Fanni yang baru saja tiba tak ingin kalah.


Dirinya juga mengapit lengan Dirga seperti Laniya. Dirga hanya menggelengkan kepalanya pasrah ketika dirinya di apit oleh dua wanita cantik ini.


Dua mata indah menatap itu dengan tatapan rumit. Dirinya iri melihat kedekatan dua wanita itu bersama dengan pemuda tampan yang baru ia kenal.


Namun ia menggelengkan kepalanya. Dirnya merasa tak cocok ketika sudah mengetahui status pemuda itu.


"Ayo pergi!" Kata Dirga acuh.


Baru saja ingin melesat. Sebuah seruan terdengar dari belakangnya. "Berhenti...!"


Ketiganya menoleh dan melihat tiga pria. Satu seorang pemuda dan dua pria dewasa. Dirga juga mengetahui jika kulrivasi pemuda itu hanyalah Pemurnian Qi tingkat menengah. Sedangkan dua pria dewasa itu Alam Langit tingkat ketujuh dan ke delapan.


Di belakangnya ada dua puluh orang yang sepertinya pengawal salah satu pria itu.


"Ada apa?" Tanya Dirga acuh. Sebenarnya ia tak peduli dengan tiga orang itu. Namun ia merasa pernah bertemu dengan pemuda itu.


Ketiganya tidak menjawab. Salah satu pria dewasa maju dan berkata. "Tuan dan Nona - Nona! Perkenalkan saya adalah Tuan Kota, Kota Mutian! Saya hanya bertanya dan berharap kalian menjawabnya!"


Nadanya tegas namun ada sedikit takut takut. Dia sudah melihat semuanya kejadian tadi. Jadi dia harus berhati hati dengan orang orang ini.


"Hm, Sebagai Tuan Kota kamu sudah pasti tahu kan akan kelakuan mereka? Aku membunuhnya karena mereka berdua ingin membunuhku! Dari pada keduluan, Lebih baik aku bertindak lebih awal. Beruntung aku masih memiliki kasihan dengannya." Bukan Dirga yang menjawab, Laniya lah yang menjawabnya dengan acuh.


Pria dewasa itu menganggukkan kepalanya mengerti dan berkata. "Begitu. Aku mengerti! Dan terima kasih kalian sudah menghancurkan Keluarga ini. Kami tidak berani bertindak karena kami mendengar jika ada seseorang yang berada di belakangnya!"


Dahi Laniya mengkerut. Namun sebelum berkata, Tuan Kota sudah menyelanya seakan tahu apa yang di maksud Laniya. "Dia seorang pria tua. Orang itu memiliki kekuatan yang lebih tinggi dariku! Maka daripada itu, Aku tidak ingin bertindak gegabah."


"Oh." Laniya hanya ber oh ria saja. Dia tak terlalu peduli dengan orang itu.


Namun Dirga berkata enteng namun mengejutkan Tuan Kota Mutian itu. "Apa pria tua itu memiliki tompel di pipi sebelah kanan?"


"Bagaimana kamu tahu??" Tuan Kota berseru terkejut.


Pria dewasa dan pemuda itu juga mengerutkan keningnya. Meskipun ia tak tahu akar masalahnya, Dia mengetahui akan pentingnya.


Dirga tersenyum tipis dan berkata. "Aku rasa dia tidak akan menginjakkan kakinya ke sini lagi!"


Mata Tuan Kota menatap menatap pemuda itu dengan raut wajah rumit. Dia tak tahu dari mana akan datangnya percaya diri pemuda itu.


Namun mengingat wajah wajah orang ini yang tak dikenal, Ia hanya bisa diam namun waspada.


Dirga tahu orang itu siapa. Orang itu adalah Pria tua yang di bunuh oleh Leluhur Suwi waktu tadi. Alasan kenapa dia mengetahuinya.


Karena di mension itu masih terdapat aura pria rua itu meskipun samar samar. Dirinya menduga jika pria tua itu pernah menerobos kultivasi ke mension ini. Itulah kenapa masih ada auranya yang menempel.


"Baiklah, Aku tidak ada urusan dengan kalian! Ayo kita pergi!" Dirga mengajak kepada ketiga wanita itu dan melesat pergi.


Sedangkan Tuan Kota menatap kepergiannya dengan tatapan rumit. Meskipun dirinya sedikit marah karena tidak kesopanan Dirga dan ketiga wanita. Dia tak mau menimbulkan masalah.


Bagaimanapun orang yang berani menghancurkan Keluarga Tenu dan Keluarga Wadi dalam waktu bersamaan tanpa memikirkan konsekuensinya, Itu adalah orang yang menurutnya tidak harus di singgung!


Tuan Kota menggelengkan kepalanya dan segera mengurusi kekacauan di Keluarga ini bersama para pengawalnya.


Sedangkan pemuda di belakangnya memandang pria dewasa di sisinya dan bergumam. "Kenapa aku sepertinya pernah melihat pemuda itu? Tapi dimana?"


Pria di sampingnya juga menatapnya dan berpikir sejenak. Kemudian, Matanya melebar dan berseru. "It-itu...Itu orangnya...!"


Pemuda itu bingung mengapa ayahnya berkata tergagap seperti itu. Diapun bertanya karena penasaran. "Apakah ayah tahu siapa dia?"


Pria dewasa itu mengangguk dan berkata sambil tersenyum. "Ya! Dialah orang yang sudah menolong kita wantu itu! Apa kamu masih ingat Wade?"

__ADS_1


Pemuda yang di panggil Wade itu tampak berpikir dan bertanya dengan wajah bodohnya. "Apa maksud ayah dia adalah orang yang menolong kita dari bandit pas waktu di kereta itu?!"


"Ya! Apa kamu tahu kekuatan bandit itu? Mereka semua berada di Alam Langit seperti ayah, Hanya saja di atas ayah. Orang seperti itu tidak harus kita singgung dan kita harus menjadikannya menjadi teman."


__ADS_2