Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 152


__ADS_3

3 jam kemudian


"Akh! U-udah...Ak-aku tidak kuat...." Laniya merengek tanpa daya ketika dirinya yang lemah masih di gempur Dirga.


"Tu-tunggu sebentar!" Ucap Dirga dan malah mempercepat aksinya di bawah tatapan pasrah Laniya.


1 jam kemudian


"Akh!" Laniya mendesah pasrah dan ia kemudian tergeletak di ranjang yang kini sudah berantakan.


Dirga menelusup ke sisi Laniya dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, Sepertinya kamu harus mencari wanita lain. Kamu benar benar kuat!" Ucap Laniya sayup - sayup.


Dirga yang mendengarnya tak menjawab. Namun ia sebenarnya agak malu di hatinya.


Bagaimanapun kapasitas tempurnya di atas rata - rata laki laki pada umumnya.


Ini saja ia sebenarnya belum puas.


"Masih ada Fanni, Lalu Xenia untuk kamu jadikan wanita agar kamu puas dalam urusan ini." Imbuh Laniya dan membalikkan badannya menatap wajah tampan Dirga.


Mata hitamnya memancarkan aura ketenangan yang tidak bisa di lukiskan.

__ADS_1


Jari jemari lentiknya mencoba mengelus pipi Dirga dengan penuh lembut dan kasih sayang.


"Jangan bergerak dulu..Nanti kamu harus menanggung konsekuensinya." Ucap Dirga mencoba memejamkan matanya di bawah gerak lembut Laniya.


Namun bukannya berhenti. Laniya malah bergerak liar dan telapak tangan putihnya hinggap di bawah sana.


Membuka matanya, Dirga menyeringai. "Oke, Kamu harus bertanggung jawab untuk melemaskannya!"


"Tu-tunggu! B-bukan itu maksudku! Keluarkan saudari Fanni dan Xenia terlebih dulu!"


Laniya buru - buru berkata dan tubuhnya mencoba menjauh dari Dirga yang ganas ini.


Wushh!


Dua sosok wanita cantik tiba - tiba muncul di sisi mereka dengan wajah tercengang serta malu.


"Fanni, Xenia! Aku sudah tak sanggup. Kini giliran kalian berdua yang harus menaklukkannya!" Ucap Laniya menarik cepat tangan Fanni dan Xenia hingga terjungkal ke kasur.


Dirga yang melihat ini matanya menjadi berbinar. Tanpa persetujuan pihak lain, Ia menggenggam erat tubuh menggoda Xenia.


"Ahk!" Jerit Xenia kaget dan melihat Laniya yang tersenyum menatapnya.


"A-ap-...Emchh!!!" Ucapannya terhenti karena bibirnya sudah menyatu dengan bibir Dirga.

__ADS_1


Fanni yang melihat ini pun gairah nya tiba - tiba memanas. Ia menunduk dan menggenggam benda besar itu membuatnya ngeri.


Seketika saja, Ruangannya kembali mengeluarkan suara jeritan yang penuh akan gairah.


Namun kali ini berbeda. Pihak pria kini mendapatkan dua kesucian yang selama ini di jaga oleh pihak wanita.


Namun keduanya menerima akan hal itu karena kedua nya sebenarnya menginginkannya sejak lama.


"Ahk" 1000×


•••


Kerajaan Qin


Di kamar pangeran Qin Arma. Qin Arma, Penasehat Fe'a, Pangeran Qin Rama sedang berdiskusi dengan raut wajah berubah - ubah.


"Pangeran! Jika seperti ini, Saya takut jika jenderal itu mengetahui semuanya!" Ucap Penasehat Fe'a menatap Qin Rama yang ekspresinya muram.


"Aku tahu, Tadi pria tua itu selalu menatapku seperti binatang buas! Mengapa tiba - tiba ada seorang jenderal kemari?" Kata Qin Rama sambil menggertakkan gigi.


"Bukankah jenderal tua bangka itu sedang mencari putri dari kaisar? Bagaimana kalau kita ikut mencari dan menculiknya? Lalu kita buat negosiasi dengan mereka?" Ucap Qin Arma dan mendapat geplakan oleh Qin Rama.


"Bodoh! Itu sama saja menunjukkan identitas kita! Aku tidak mau itu terjadi sebelum menjadi Raja daratan ini. Hahaha!" Cebik Qin Rama sambil tertawa liar.

__ADS_1


"Itu..." Sebelum Qin Arma berkata, Pintu ruangan terbuka dan menampilkan dua sosok wanita cantik.


Mata kedua pangeran itu bersinar. "Ibu!" Teriak keduanya dan berjalan menghampiri.


__ADS_2