
Boom!
Boom!
Suara ledakan berturut turut di pagoda lantai 3.
"Majulah para semut!"
Seru seorang pemuda dengan tubuh bermandikan darah. Dia berlari penuh semangat dan menebaskan pedangnya ke arah monster monster di depannya.
Slassh!
Slassh!
"...."
Setengah jam kemudian....
Monster monster berbagai bentuk dan tak terhitung jumlahnya tampak bergelimpangan tak bernyawa.
Di lantai pertama, Ruang pagoda itu hanya berisi tekanan gravitasi membuat gerak tubuhnya melambat.
Tapi tentu saja Dirga bisa melewatkannya dengan mudah.
Wushh..
Secara otomatis tubuh Dirga di selimuti cahaya biru terang dan sosoknya menghilang.
"Hmm? Laut?"
Alis Dirga menyatu melihat pemandangan depan yang adalah lautan tak berujung.
Dirinya sekarang berdiri di atas air dengan tenang.
Wushh!
Wushh!
"...."
Tiba - tiba beberapa monster besar berbentuk ikan paus berwarna merah melompat ke atas dan melaju ke arahnya.
Dirga tentu tak membiarkannya. Ia menebas pedangnya dengan kecepatan mengerikan.
Slassh!
Boom!
Tubuh beberapa paus yang mendekatinya seketika langsung meledak bagaikan bubur.
Tak lama setelah itu, Monster - monster laut segera berkumpul menuju ke arahnya ketika mendengar suara ledakan.
"Hehe, Majulah ikan - ikan kecil!" Ucap Dirga menyeringai tanpa rasa takut.
Dia melompat ke udara dan menyatukan kedua tangannya ke bawah.
Wushh!
Boom!
Ledakan yang di timbulkan oleh serangan Api immortal Dirga sangat mengerikan.
Tampak banyak monster yang langsung tewas dan terlihat lautan bercampur warna merah.
Tak mau menyita banyak waktu, Dirga segera menghabisi semua kumpulan monster laut ini.
Boom!
Boom!
Boom!
Setengah jam kemudian...
Laut tampak merah sepenuhnya dan mengambang monster monster berbagai ukuran.
Setelah itu tubuh Dirga di selimuti cahaya biru dan sosok di alihkan ke lantai selanjutnya.
Pagoda lantai 5....
Skip!
Pagoda lantai 6....
Dirga tidak kesulitan di lantai ini.
Karena yang dia lawan adalah monster semut yang kultivasinya sama dengannya.
Pagoda lantai 7....
"Ck! Ini cukup menyulitkan!" Decak Dirga menebaskan pedangnya acak.
Wushh!
Boom!
Tampaknya ada sesuatu yang mengenai serangannya membuatnya tersenyum puas.
Arhg..!
Suara jeritan melengking dan terdengar aneh terdengar ketika Dirga menebaskan pedangnya....
Saat ini, Di lantai 7 ia tidak bisa melihat apa - apa. Hanya kegelapan yang tak berujung.
Bahkan Mata Surgawi nya seolah tak berfungsi ketika mau di gunakan.
Namun sebenarnya ada beberapa sosok yang dekat dengan dirinya.
Tentu ini adalah untuk meningkatkan ketajaman pendengaran.
Boom!
Boom!
Dua jam kemudian....
Dirga menghela napas kasar ketika penglihatannya tiba - tiba terbuka sendirinya.
__ADS_1
"Iblis??"
Dirga sedikit terkejut ketika mendapati sosok yang ia bunuh tadi adalah iblis.
Tampak banyak iblis hitam dengan tanduk dua maupun tiga di dahinya.
Ada yang ukurannya seukuran manusia, Ada yang seukuran mobil dan yang terbesar seukuran rumah.
Wushh!
Lantai 9 atau tingkatan terakhir dari Pagoda Langit.....
"Grooaarrr!"
Dirga yang baru saja menginjakkan kakinya di sebuah bukit gersang mendengar suara auman Naga.
Swosshh!!
Tiba - tiba lima bola api oren melesat ke arahnya dengan cepat.
"Sial!" Umpatnya kesal.
Dirga melambaikan tangannya ke depan. Seketika lima siluet pedang putih panjang muncul dan menyambut serangan api itu.
Boom!
Duarr!
Duarr!
Suara ledakan terjadi berturut turut di udara.
Wushh!
Dirga terdorong ratusan kaki dan terlihat darah sedikit keluar dari mulutnya.
Groarrr!
Syara raungan besar kembali terdengar. Bersamaan itu, Di Gunung mati jauh di depannya terlihat seekor Naga berwarna emas melesat keluar.
Groaarr!
Naga itu meraung marah kepada Dirga.
Tekanan membunuh menyebar ke segala arah membuat Dirga kesulitan bernafas.
Melapisi tubuhnya dengan Energi mental dan membatin mengefnyit. "Hm? Naga ini sangat kuat! Apa kultivasinya?"
Groarr!
Naga itu kembali meraung keras dan tubuh besarnya melaju ke arah Dirga dengan mulut terbuka lebar.
"Hm? Merepotkan sekali!!" Dengus Dirga dingin.
Mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan menebas ke depan dengan cepat.
"Tebasan Surgawi"
Raung Dirga penuh semangat.
Boom!
Boom!
Percikan api yang dahsyat membuat tempat tempat di sekitarnya berantakan.
Grroaarr!!
Naga itu meraung sangat marah ketika tubuhnya terkena serangan manusia itu.
Tubuh besarnya meliuk ke atas langit dan dari ekor dan mulutnya yang terbuka..Muncul bola api oren besar yang nampak menjilat - jilat itu.
Wushh!
Wsuhh!
Dua api oren panas itu melesat ke arah Dirga dengan kecepatan mengerikan.
"Oh...Mau adu api, kah?"
Dirga menyeringai dan mengangkat telapak tangannya ke atas.
Sebuah api hitam muncul dan membesar dua kali lipat dengan dua bola api Naga itu.
"Kita lihat! Api siapa yang akan menang!" Ucap Dirga dingin dan melemparkan ke depan.
Boom!
Duarr!
Duarr!
Jedyaar!
Suara ledakan yang sangat besar terdengar menggelegar mengerikan.
Wushh! 2×
Nampak keduanya sama sama terdorong mundur.
Namun Dirga tak ingin memberi kesempatan Naga emas itu menstabilkan diri.
Di bawah tatapan terkejut Naga emas itu, Tubuh Dirga menghilang bagai hantu.
Boom!
Naga emas itu merasakan kepalanya seperti di hantam oleh baja keras.
Groaarr!
Raungnya kesakitan dan tubuhnya melesat cepat ke tanah hingga membuat kawah besar.
Dirga yang melihat ini tak peduli, Tubuhnya kembali menghilang dan muncul di atas Naga emas itu sambil menebaskan pedangnya.
Dentang!
Suara benturan seperti baja terdengar sangat keras.
__ADS_1
Naga emas itu semakin masuk ke tanah. Sedangkan Dirga terpental ke atas dengan semburan darah di mulutnya.
Bagaimanapun kultivasinya berada di bawah Naga emas!
"Sial!" Kutuknya dan tubuhnya kembali menghilang lagi.
Dentang! Dentang! Dentang!
Boom! Boom! Boom!
Suara benturan baja dan suara ledakan terjadi secara berturut - turut.
Entah berapa banyak serangan mereka berdua yang di keluarkan.
Boom!
Suara tubuh besar ambruk ke tanah membuat tempat itu seolah sedang gempa.
Dirga muncul di atas kepala Naga emas itu dan mengangkat pedangnya tinggi - tinggi.
"Matilah!" Ucapnya dingin.
Segera, Pedang Chaosnya di selimuti energi tak terlihat namun bisa di rasakan oleh Naga emas itu.
Groaarr!
Naga emas itu meraung seolah memohon ampun kepada Dirga. Namun Dirga tak memperdulikan itu.
Dia menebas pedangnya ke arah leher besar Naga itu.
Slassh..! Boom..!
Kepala Naga emas itu terpisah terpental jauh dan tanah yang di tempati Naga itu muncul sebuah parit yang sangat dalam.
Bugh!
Tubuh Dirga ambruk ke tanah seraya mengatur napasnya terengah.
Dia tadi menghabiskan seluruh energi mentalnya membuatnya sangat kelelahan.
Ding! Selamat Tuan rumah telah berhasil menaklukan Pagoda Langit Sembilan Lantai!"
"Sebagai penghargaan dari sistem. Sistem memberi hadiah kepada tuan"
"Pedang Surgawi, 1.000 Energi Mental, Lima pil Immortal, Sebutir Pil pemurnian jantung."
Tiba - tiba suara sistem bergema di benaknya.
Detik itu juga tubuhnya yang lemas terangkat ke udara dan merasa tubuhnya menjadi lebih energik dari sebelumnya.
"Ding! Pemulihan Pagoda Langit Sembilan Lantai sedang berjalan setelah 10 menit."
Dirga tidak terkejut mendengar suara sistem barusan.
Lalu tiba - tiba tubuhnya di selimuti cahaya emas dan tubuhnya menghilang dari Pagoda Langit.
Wushh!
Dirga muncul di atas goa tempatnya tadi dan terlihat langit sudah malam.
"Uh, Hm?" Dirga mencium aroma aneh membuatnya mengernyitkan dahi.
Melihat ke depan di mana ada sesosok gadis kecil yang tampak duduk tenang di dekat api unggun.
Merasa adanya kehadiran seseorang, Gadis kecil itu menoleh dan wajahnya yang kusut itu berubah sumringah.
"Ugh! Tuan~ Kenapa tuan tiba - tiba menghilang begitu saja!? Zining pikir Tuan telah meninggalkanku!" Suara imut kecil Zining terdengar lucu.
Dirga agak tersenyum tipis dan menghampiri Zining yang sedang membolak balikkan daging bakar itu.
"Dimana Fei Ha? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Dirga setelah duduk di sebelah Zining.
Zining mengerucutkan bibirnya seolah sedang kesal.
"Itu!" Ucapnya singkat sambil mengisyaratkan kepala kecilnya ke depan.
Dirga menoleh dan tercengang melihat keadaan Fei Ha yang tubuhnya diikat rapi oleh energi dan mulutnya di sumpal kain.
Fei Ha yang melihat kehadiran tuannya matanya berbinar dan menatapnya dengan tatapan memohon.
"Apa yang terjadi?" Ucap Dirga.
Zining yang mendengar itu mendengus kesal.
"Huh, Zining kesal dengan Nenek kecil itu! Repot - repot mengumpulkan daging malah di buat seperti itu! Malah merepotkan Zining!" Gerutu Zining menunjuk sebelahnya.
Dirga melihat tunjukkan jari Zining dan melihat daging - daging hitam gosong berserakan di tanah.
Dia tidak bisa untuk tidak tertawa melihat kelakuan konyol dua gadis kecil ini.
"Pantas saja aku mencium bau aneh! Ternyata bau daging gosong!...Kemana daging buatan Zining?"
Kata Dirga mengangkat satu alisnya karena tidak melihat daging bakar Zining.
Wajah Zining memerah dan mengeluarkan semua daging bakar miliknya yang ia simpan di cincin penyimpannya sejak tadi.
"Uh!" Nafas Dirga tercekat melihat daging itu.
Lalu ia pun tertawa puas.
"Hahaha, Zining! Ternyata kamu sama saja dengannya! Bahkan kamu lebih ngeri darinya!" Kata Dirga mengusap kepala kecil Zining.
Zining mengerucutkan bibirnya ketika dirinya di tertawai oleh Tuannya. Fei Ha yang melihat itu pun juga tertawa tertahan.
"Umm, Zining kan seorang Naga! Bagaimana bisa seorang Naga di suruh membuat makanan enak?!"
"Zining biasanya kalau makan tinggal mencari hewan atau monster di sekitar sini!"
Gerutu Zining sambil menundukkan kepalanya malu.
Dirga berhenti tertawa dan mengusap rambut halus Zining membuat si empu tak bisa untuk mengerang memejamkan mata.
"Oke, Tuan akan mengajari cara membuat makanan enak! Tapi syaratnya Zining harus melepaskan Fei Ha dulu!"
Kata Dirga tersenyum.
Mendengar kata tuannya, Zining menjadi cemberut. Namun dia menganggukkan kepala.patuh.
__ADS_1
"Uh...Baiklah tuan!" Ucap pasrah Zining dan berdiri menghampiri Fei Ha.