
"Apa?!"
Ada sedikit kejutan di mata Dirga ketika mendengar seruan leluhur Sido Lawang. Bahkan para murid di belakangnya juga terkejut ketika mendengarnya.
Seorang Jenderal Senior masuk ke kawasan sini tanpa pengawalan dari prajurit Kerajaan? Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh mereka.
Namun kesemuanya hanya diam sambil menunggu tanggapan Master dan tetuanya. Bagaimanapun hanya mereka berdua yang berhak mengambil keputusan.
Dirga memicingkan matanya menatap lurus ke depan dengan tajam. Ia juga mengaktifkan tehnik Mata Surgawi-nya untuk menembus segala penghalang dinding mension.
Mension itu memiliki tiga lantai. Lantai satu terdapat ratusan orang yang nampak sedang berkultivasi. Lantai dua puluhan orang dan lantai ketiga hanya puluhan saja.
Dahi Dirga mengernyit, Dia tak melihat adanya suatu hal aneh apapun yang ada di dalam mension itu. Namun tiba tiba matanya menatap ke satu arah.
Di mana arah itu ada dua pria kekar yang sedang memasuki pintu kayu. Namun posisi pintu itu nampak mengarah ke atas sedikit. Seolah olah pintu itu terdapat ruangan bawah tanah.
"Apa yang mereka sembunyikan?" Gumamnya lirih namun tetua Sido Lawang yang berada di sebelahnya masih bisa mendengar.
"Tuan muda, Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu. Namun aku tak mengerti apa itu selain aura iblis yang cukup kental di sini!" Leluhur Sido Lawang berkata dengan raut wajah serius.
Dirga mengangguk mengamini perkataan Leluhur Sido Lawang. "Memang, Tapi tampaknya ada suatu rahasia yang mereka sembunyikan!" Ucap Dirga.
"Rahasia? Apa itu?" Gumam Leluhur Sido yang penasaran.
Namun Dirga menggelengkan kepalanya dan berkata. "Lebih baik tidak usah pikirkan itu dulu, Kita fokus saja ke penyerangan kita!" Leluhur Sido Lawang menganggukkan kepalanya patuh.
"Kalian serang mereka dan keluarkan semua kekuatan kalian! Jika ada beberapa di antara kalian yang masih baik baik saja, Bantu obati lainnya jika ada yang terluka!" Ucap Dirga kepada semua anggotanya dengan nada tegas.
"Baik!"
Semuanya menjawab serempak dan sorot mata mereka memancarkan cahaya keberanian tak terkalahkan.
•
"Jenderal Gudik! Mari saya antar sampai anda kembali dengan selamat!" Ucap seorang pria dewasa dengan nada ramah serta sanjungan.
Di sebelah kirinya, Pria dewasa juga menimpalinya dengan senyum menawan. "Benar Jenderal! Kami tidak ingin anda terkena musibah saat berada di perjalanan nanti!"
Sedangkan orang yang berada di tengah keduanya saat ini tengah merekas senyum indahnya. Dagunya semakin terangkat begitu dirinya di sanjung oleh dua orang ini.
__ADS_1
Orang ini adalah Jenderal Gudik! Jenderal Senior yang berasal dari Kerajaan Qin!
Menekan hatinya yang di liputi kegembiraan. Jenderal Gudik berkata merendahkan. "Tetua Ciq dan Tetua Cuq! Kalian berdua jangan khawatir, Bukankah tempat kalian ini di lindungi oleh anak buahmu? Apa ada seseorang yang berani membuat keributan di sini?"
Dua orang itu yang di panggil Tetua Ciq dan Tetua Cuq hanya meremaskan senyum ramahnya. Namun di dalam hatinya memaki Jenderal bedebah ini.
'Brengsek! Mentang - mentang kamu seorang Jenderal Senior dan di lindungi oleh Pangeran pertama, Kamu bisa seenak jidat merendahkan kami! Sialan!' Kutuk mereka berdua di dalam hati.
Namun belum sempat keduanya berkata. Terdengar suara sanjungan ramah dari atas mereka. "Oh, Jenderal Gudik! Aku tak menyangka jika pengutus Pangeran pertama berada di sini. Maafkan saya telat menyambut anda!"
Muncul asap tipis hitam ke abuan dari depan mereka dan berubah menjadi sosok pria paruh baya yang memancarkan aura iblis yang begitu kuat.
Bahkan Jenderal Gudik yang merasakan ini hatinya sedikit gemetar. Namun mengingat jika dirinya di utus oleh pangeran pertama kemari, Ia menjadi tidak takut.
Bahkan raut wajahnya berubah muram ketika menatap pria itu. "Huh, Apa kamu ketua di sini yang bernama Guandong?"
Orang yang di panggil Guandong menganggukkan kepalanya dan bahkan badannya sedikit membungkuk. "Benar Jenderal Gudik! Saya bernama Guandong, Ketua dari Cabang kedua dari Organisasi Serigala Hitam!" Katanya dengan ramah tamah.
Jenderal Gudik mengangguk dan berkata tidak puas. "Huh! Kamu seorang Ketua namun kedatanganmu terlambat menyambut ku. Jika Pangeran pertama sendiri yang datang kemari, Aku tak yakin jika dirimu masih bisa melihat indahnya alam semesta ini!"
Badan Ketua Guandong gemetar ketika mendengar ini. Tanpa ragu ragu dia berlutut di hadapan Jenderal Gudik sambil berkata tergagap. "Je-jenderal! Ma-maafkan saya. Saya terlambat tadi ada sedikit kendala dan saya tidak tahu jika anda datang kemari tanpa ada informasi!"
Ketika melihat ini. Senyum puas tercetak di bibir Jenderal Gudik. Ia melambaikan tangannya layaknya seorang raja. "Bangkitlah! Waktuku tidak banyak di sini dan bagaimana dengan misi yang Pangeran perintahkan waktu lalu." Ucapnya dengan tegas dan senyumnya tak henti hentinya tercetak.
Ketiganya buru buru bangkit. Ketua Guandong menepuk sedikit pakaiannya dan berkata agak sedikit takut. "Jenderal! Bagaimana kalau kita masuk dan minum anggur dulu. Tidak enak jika kita berbicara seperti ini."
Namun Jenderal Gudik melambaikan tangannya acuh. "Aku tak peduli! Aku hanya di suruh oleh Pangeran untuk membawa itu semua ke sisinya!" Katanya dengan acuh tak acuh tak peduli.
Ketua Guandong juga tak mempermasalahkannya. Ia melambaikan tangannya keatas dan seketika muncul dua orang pria kekar di depannya.
Ia menganggukkan kepalanya dan berkata kepada dua bawahannya. "Bawa mereka kemari! Cepat..!! Jangan sampai Jenderal Gudik marah!"
"Baik!"
Kedua orang itu mengangguk dengan tubuh gemetar karena suara Ketua Guandong yang begitu menggelegar.
Selang beberapa menit. Dua kereta kuda muncul dari mension itu dan di bawa ke hadapan ketiga pria itu.
"Jenderal! Mereka semua ada di sini dan jumlahnya ada lima puluh orang! Dan kereta di belakangnya adalah Koin emas dan tanaman langka maupun obat untuk Pangeran pertama!" Ucap Ketua Guandong dengan ramah, Takut jika dirinya salah bertingkah.
__ADS_1
Jenderal Gudik menganggukkan kepalanya puas. Dia menatap ketiga nya dan memindai wajahnya satu persatu.
Ketiga orang itu hanya bisa menundukkan kepalanya dengan tubuh sedikit gemetar.
"Bagus! Aku akan mengingat wajah - wajah kalian ini! Mungkin sehari kemudian, Pangeran akan memberikan kalian hadiah!" Ucap Jenderal Gudik dengan senyum nya.
Ketiga orang itu segera mengangkat kepalanya dan hatinya bahagia berbunga bunga. Jika mereka di beri hadiah oleh Pangeran, Kemungkinan itu adalah sebuah pil tingkat atas atau beberapa senjata tingkat atas pula.
Memikirkan ini, Ketiga pria itu tak henti hentinya menyanjung Jenderal Gudik membuat wajah si empunya merah karena senang nan bahagia.
"Baik! Jika ada masalah, Kalian pergilah ke Bukit Woasyu! Di sana ada Pangeran pertama yang sedang melakukan kultivasi tertutup. Namun aku tidak yakin jika kalian bisa menemuinya!" Ucap Jenderal Gudik sambil melangkahkan kakinya ke kereta kuda paling depan.
Namun, Sebelum kakinya benar benar masuk ke kereta kuda. Terdengar ucapan dingin di sertai dengusannya yang menggema di sekitarnya.
"Hmph..!? Ingin pergi dari sini dan membawa para gadis untuk di jadikan santapan? Kalian memang layak di sebut sebagai iblis! Bahkan kalian lebih iblis daripada iblis itu sendiri..!!"
Wajah semuanya sontak berubah ketika mendengar suara asing nan dingin itu. Namun tiba - tiba...
Wushh...!
Terpaan angin yang sangat kuat menerpa area itu dan membuat mension sedikit berguncang. Sedetik kemudian muncul aura penindasan yang begitu kuat hingga menyebabkan tubuh kesemuanya sulut bergerak.
"Si-siapa itu? C-cepat keluar!"
Ketua Guandong wajah nya berubah pucat. Dia bisa merasakan aura ini sangatlah kuat dan tidak bisa di lukiskan seberapa tingginya aura ini.
Ia menoleh ke arah Tetua Ciq, Tetua Cuq dan lainnya yang kini seluruh tubuh mereka hanya bisa berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ketua Guandong berkata dengan usaha. "Ce-cepat Li-lindungi Jenderal Gudik! Jangan sampai tubuhnya terluka! Kita di serang...!"
Namun sebelum kedua tetua itu tersadar, Tiba tiba muncul dua anak panah yang menembak cepat ke arah bagian dada mereka.
"Menghindar!!" Teriak Ketua Guandong dengan wajah pucat pasi karena ia bisa merasakan energi mengerikan yang terdapat di anak panah itu.
Namun kedua tetua bodoh itu tidak sempat menghindar. Dua anak panah itu menancap di dada atau lebih tepatnya jantung mereka berdua.
Jleb!
Jleb!
__ADS_1