
Pada saat yang sama
Di penginapan lantai tiga Kota Sanging. Arya, Kai dan leluhur Suwi Lapo sedang berpesta minum anggur.
Terlihat mata Arya dan Kai sudah memerah karena tidak tahan dengan minuman anggur milik leluhur Suwi.
"Haha, Leluhur ini memuji kehebatan minum kalian berdua. Ayo kita habiskan anggur ini, Nanggung tersisa sedikit!" Leluhur Suwi berkata sambil terus menerus menuangkan anggurnya.
Glek! 2×
Keduanya menerima suguhan anggur leluhur Suwi dan tidak menyadari ada senyuman misterius leluhur Suwi Lapo.
'Hehe, Rasakan ini bocah kecut!' Gumamnya dalam hati dengan seringai licik.
Tok..tok..tok
"Tuan, Kami layanan penginapan mengantarkan makan untuk kalian." Suara ketokan pintu di sertai suara lembut pelayan terdengar dari luar.
"Biar aku saja yang membukanya!" Arya berkata suara khas mabuk dan berdiri.
Kriek!
Suara pintu berdecit ketika Arya membuka pintu ruang kamar.
Ia tertegun melihat sosok yang tak asing di hadapannya.
"Tu-tuan! I-ini saya mengantarkan makanan untuk anda!" Pelayan yang ternyata adalah wanita berkata gugup ketika melihat tatapan aneh sosok pemuda di depannya ini, Arya.
"Istri? Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu berada di Sekte? Dan sejak kapan kamu bertugas menjadi pelayan?" Arya berkata khas mabuk dan kedua tangannya langsung hinggap di bahu pelayan wanita itu.
"Ehh?-...Tu-tuan, An-anda mungkin salah lihat! S-saya bukan istri anda!" Pelayan wanita itu mencoba berkilah dan mencoba mengusir tangan Arya.
Namun tangan Arya itu kuat di bahu nya membuat dirinya sulit menghindar.
"Hehe, Istri! Bagaimana bisa aku salah lihat? Kenapa kamu ada di sini? Ohh..Ternyata kamu tahu apa yang ku inginkan, Bukan??... Ayo masuk! Sudah lama aku tidak menyentuhmu!" Arya berkata sambil menyeret bahu pelayan wanita itu ke dalam.
Tubuh pelayan wanita itu gemetar ketakutan melihat sikap aneh pelanggannya ini. Ia tahu jika Arya sudah mabuk karena dirinya mencium bau anggur yang menyengat.
"Tu-tuan! Ma-maaf! Mungkin anda terlalu banyak minum...Saya bukan istri anda! Tolong..." Pelayan wanita itu masih tetap berontak meskipun usahanya tidak berhasil.
"Jangan banyak bergerak istriku sayang...Ayo kita lakukan sehari penuh! Aku sudah tidak sabar menantikan ini!" Arya berkata lembut sambil mengusap puncak kepala pelayan wanita itu.
__ADS_1
"Ti-tidak! Kumohon jangan lakukan itu! S-saya bukan istri anda!" Pelayan itu berkata teriak dan mengeluarkan air mata bening di pelupuk matanya.
"Sialan! Bocah ini terlalu bahaya jika sudah mabuk seperti ini!" Suara serak pria tua terdengar dari dalam.
Dugh!
Leluhur Suwi Lapo tadi yang mendengar suara berisik segera melihatnya. Namun ia terpana melihat Arya yang mabuk dan ingin melecehkan sosok pelayan wanita.
Segera ia membuat Arya pingsan terlebih dahulu agar tidak kebablasan dan menatap wajah sembab pelayan wanita ini.
"Nona, Maafkan kelancangan bocah ini! Tolong jangan di sebar masalah ini...Sebagai gantinya, Aku memiliki ini!" Ucap leluhur Suwi Lapo menawar dan mengeluarkan benda yang membuat mata pelayan wanita itu melotot.
"Jika masih kurang, Saya memiliki banyak koin emas di dalam sini!" Leluhur Suwi kembali melanjutkan sambil menunjuk ke cincin penyimpanannya.
Pelayan wanita itu tetap tak berkedip. Apa yang di lihatnya ini mampu membuat dirinya tercengang.
Bagaimana tidak? Di depannya saat ini ada setumpuk koin emas serta koin perak dan ada beberapa pil yang tidak ia ketahui.
Tapi ia yakin jika pil itu adalah pil tingkat tinggi karena ia mencium aroma herbal yang kuat.
"Nona cantik! Katakan berapa yang kamu inginkan...Kami bertiga dari Sekte Pedang Langit Abadi dan tidak ingin masalah ini berlanjut menjadi rumit!" Kai yang masih setengah sadar berjalan sedikit sempoyongan.
Pelayan wanita itu seketika tersadar dari tercengangnya dan menggelengkan kepala.
Lalu matanya membulat sempurna melihat tiga sosok di depannya dengan tatapan ngeri ketika mendengar identitas ketiga pria ini.
"A-apa? A-anda bertiga dari Sekte Pedang Langit Abadi?" Ucapnya sedikit teriak karena terkejut.
Leluhur Suwi mengangguk dan menjawab. "Iya, Kami berasal dari Sekte Pedang Langit Abadi! Kami tidak ada maksud apa - apa kemari! Kami hanya ingin istirahat di penginapan yang nyaman ini! Kebetulan aku sangat suka dengan dekorasi di dalamnya."
Ia sengaja memuji pelayanan dan bagaimana suasana penginapan ini karena tidak ingin berlama - lama di situasi ini.
Benar saja, Wajah pelayan wanita itu yang tadinya pucat ketakutan kini matanya berbinar dan senang ketika tempat kerjanya di puji.
"Benarkah? Terima kasih sudah menginap di sini! Kalau begitu, Saya permisi dulu!" Pelayan wanita itu berkata membungkuk gembira ke ketiga pria itu.
Leluhur Suwi melambaikan tangannya. "Sudahlah, Aku tidak ingin berlama - lama, Oh ya, Tolong terima semua ini karena perlakuan busuk anggota kami tadi!"
Leluhur Suwi memasukkan semua koin emas tadi yang berserakan di lantai ke cincin penyimpanan dan memberikan ke pelayan wanita itu.
Pelayan wanita itu tercekat dan ia sebenarnya mau menerima pemberian leluhir Suwi itu, Tapi karena malu ia menunduk.
__ADS_1
Melihat ini, Leluhur Suwi tahu apa yang di pikirkan nya dan berkata menambahkan. "Begini saja, Kamu berikan semua ini ke manajer atau pemilik penginapan ini untuk pembayarannya. Kebetulan hari ini kami pergi dari sini!"
Sebelum pelayan wanita itu berkata, Sosok pria masuk ke ruangan dan terkejut ketika melihat situasi di dalam.
Namun itu tidak membuatnya berhenti dan tetap melangkahkan kakinya masuk.
"Tetua, Kami telah memindai di seluruh Kota Sanging dan ada beberapa tempat yang menurut kami mencurigakan!" Ucapnya membungkuk hormat.
Leluhur Suwi Lapo mengangguk dan memberi perintah. "Baiklah, Kamu pergi dulu nanti kita kesana dan melihat situasi di sana!"
"Baik tetua!" Pria itu membungkuk hormat sekali lagi dan meninggalkan ruangan setelah di beri perintah.
Pelayan wanita itu tercengang melihat leluhur Suwi Lapo itu. Tadi ia hanya dapat melihat jika pria tua itu menggerakkan bibirnya menandakan berbicara.
Namun ia tak dapat mendengar suara sedikit pun yang masuk ke telinganya membuatnya seketika bingung.
Tentu saja karena leluhur Suwi menutupi telinga wanita itu dengan energi tak terlihatnya.
Merasa bukan ini urusannya, Ia pun buru buru berkata canggung. "I-itu, Maafkan saya...Saya izin pergi untuk melanjutkan tugas saya!"
Leluhur Suwi Lapo dan Kai mengangguk menanggapi. Merasa suasana sudah sepi, Luhur Suwi buka suara serius.
"Kita harus segara memeriksanya! Ayo!!"
"Baik! Tapi bagaimana dengan saudara Arya? Apa dia kita tinggal di sini?" Kai berkata setengah bingung sambil melirik Arya yang pisan.
Leluhur Suwi Lapo menanggapi sambil melirik Kai. "Ugh, Tulang pria tua ini sudah hampir retak, Seharusnya orang yang lebih muda dariku harus bisa mengangkat tubuh orang sialan ini."
Kai tertegun. Lalu akhirnya ia baru sadar maksud perkataan leluhur tua ini.
"Leluhur sialan! Bajingan...!" Kai memaki kesal.
Leluhur Suwi Lapo yang sudah siap mau menghilang melirik Kai yang wajahnya merah padam itu.
"Dari pada kamu memaki orang tua ini, Lebih baik kamu angkat dia dan meninggalkan penginapan!"
Melihat hilangnya Leluhur sialan itu, Kai menjadi semakin kesal dengannya. "Sialan! Tua bangka ini selalu saja mengerjai-ku...!"
Meskipun kesal, Kai tetap mengangkat tubuh Arya dan siap untuk menyusul leluhur Suwi Lapo.
"Ugh! Makan apa aja manusia ini? Tubuhnya cukup berat...!"
__ADS_1