Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 76


__ADS_3

Semua orang yang mendengar itu wajahnya pucat pasi. Saat ini pintu masuk di buka oleh seseorang yang lari dengan tergesa gesa. "Para Tetua! Ada penyusup..! Penyusup itu telah membantai banyak para murid..! Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya!" Ucapnya dengan keringat dingin.


Mereka yang mendengar itu terkejut. Salah satu dari mereka berteriak marah sambil mengerahkan aura penindasan. "Apa yang kamu tunggu! Cepat bunuh penyusup itu! Jangan sampai membunuh banyak murid kita!"


Semuanya juga menganggukkan kepala mengamini. Sedangkan seorang yang melaporkan tadi keringatnya tambah deras lagi. "T-Ta-Tapi... Belum sempat bicara, Pria berkumis melengkung ke atas menyela dengan bentakan. "Tidak ada tapi tapi! Cepat selesaikan tugasmu! Saat ini Master sedang dalam pengasingan! Jangan membuat marah hanya karena tidak bisa membunuh penyusup itu!"


Pria pelapor seakan ingin kencing di celananya tapi ia tahan sebisa mungkin. Sebelum menjawab, Tetua Roto bertanya penasaran. "Ada berapa banyak penyusup itu? Dan berapa banyak korban yang terluka karenanya?"


Pria pelapor menelan ludahnya. Ia menjawab ragu ragu. "Ti-Tidak ada yang terluka pada murid! Ta- " Belum selesai ucapannya, Juyo menyelanya. "Baguslah! Berarti penyusup itu sangat lemah yang hanya ingin membuat onar saja! Cepat bawa dia kemari! Aku akan menyiksanya!"


Pria pelapor ingin sekali menampar wajah menjengkelkan Juyu. Dia belum sempat melapor sudah di selanya, Membuatnya ingim menguliti Juyo sialan ini!


Tetua Roto yang menangkap.ekspresi tidak beres si pria pelapor segera bertanya. "Ada apa dengan wajahmu? Bukankah murid tidak ada yang terluka? Mengapa kamu seperti sedang ketakutan?"


Semua orang juga menatap si pria pelapor, Begitu juga dengan Juyo. Hegu berkata santai. "Tidak masalah jika hanya terluka! Pil penyembuhan kita juga masih banyak! Seperti itu saja cemas! Tenang saja! Jangan takut!" Sambil berlalu duduk kembali dengan menghisap cerutunya.


Si pria pelapor itu menggertakkan giginya menahan amarah yang membludak di ubun ubun. Menghirup napas dalam dalam menahan gejolak hatinya untuk mencabut kumis panjang Hegu tengik ini baginya.


Belum sempat berkata. Lagi lagi terdengar beberapa ledakan serta teriakan kesakita dark arah luar. Seketika saja, Raut wajah semuanya berubah. Mereka menatap si pria pelapor itu dengan harapan jelasan.


Hegu yang tadi menghisap cerutunya di kagetkan dengan suara ledakan yang amat keras tadi. Seketika saja wajahnya merah padam dan menatap si pria pelapor. "Bajingan! Bukankah kamu bilang penyusup itu hanya mampu melukai? Kenapa suara ledakan itu seperti sangat dekat dengan kita?" Ucanya sambil melototkan matanya dengan ekrspresi garang.


Si pria pelapor ingin sekali mencabuti kumis berantakan Hegu ini. 'Bajingan! Bukankah dia menyelanya begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku?' Batinnya dengan gertakkan giginya menahan emosinya yang ingin meledak kapan saja.


Tiba tiba....

__ADS_1


"Booms! Booms! Booms! Booms! Booms!"


Lima ledakan berturut turut memborbardil ruangan yang di tempati orang orang tadi. Seketika saja bangunan yang di tempati itu runtuh beserta tubuh beberapa orang terkena ledakan.


Tidak ada yang mengetahui, Jika para gadis yang terikat tadi kini sudah menghilang tanpa neninggalkan jejak sama sekali.


"Wush! Wush! Wush! Wush!"


Tetua Roto, Hegu, Juyo, dan pria barmbut hitam legam memanjang sebahu keluar dari reruntuhan bangunan akibat serangan tiba tiba tadi.


Begitu tersadar, Mereka kembali tercengang begitu apa yang di lihatnya. Bangunan bangunan Sekte yang awalnya sangat indah kini berantakan.


Tidak hanya itu saja, Nampak juga ribuan mayat mayat yang berserakan di mana mana. Ada yang tak memiliki kepala, Kedua tangan, Kaki maupun jantungnya yang berlubang, Bahkan ada yang tubuhnya terbelah menjadi beberapa bagian.


Tetua Roto dan keduanya yang melihat pria itu segera bertekuk lutut di udara dan berkata dengan hormat. "Salam Master Giman!"


Orang yang di panggil Master Giman hanya diam dan menatap ke atas. Tanpa sadar ketiganya mendongakkan kepalanya.


Di atas langit. Terlihat seorang pemuda berparas tampan berambut perak sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Pakaiannya serta wajahnya yang terdapat banyak darah menambah ngeri bagi siapapun yang melihatnya.


Mereka berempat tahu, Meskipun tubuh pemuda itu di penuhi bercak darah, Tapi itu bukan darahnya.


Melainkan darah para murid yang menyiprat mengenai pemuda itu!


Tanpa sadar, Semuanya menelan ludah begitu melihat sosok mengerikan bagi mereka. Bukan karena apa, Di punggungnya nampak Sayap emas yang melambai lambai lembut.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, Tubuh pemuda itu memancarkan aura yang begitu mendominasi dan membuat siapapun yang merasakan jantungnya berdebar debar.


Bahkan aura itu lebih menakutkan daripada aura milik Masternya sendiri!


Juyo dan Hegu yang melihat pemuda itu ngeri takut dan eajahnya pucat. Menengok ke kiri dan kekanan berharap bisa melarikan diri dari Dewa Pembunuh ini!


Namun, Dirga yang melihat itu mencibir. "Ingin lari? Tidak semudah itu!"


Melambaikan tangannya ke depan dan meraung di dalam hati.


Niat Pedang — Tusukan Kehancuran!


Seketika saja beberapa cahaya perak berbentuk pedang melesat dengan sangat cepat ke arah keduanya!


"Slash, Booms!"


Suara tebasan dan di akhiri ledakan terdengar di sertai tubuh keduanya yang langsung hancur menjadi kabut darah.


Tetua Roto dan Master Giman yang melihatnya tanpa sadar menelan ludah kasar.


Master Giman yang memiliki kultivasi yang cukup tinggi dan persepsi yang tajam, Ia mengetahui serangan apa itu meskipun hanya merasakan auranya saja tanpa bisa melihat serangannya.


Karena kecepatan lesatan Niat Pedang Dirga sangatlah cepat!


Tanpa sadar, Ia berteriak ngeri. "I-Itu Ni-Niat Pedang...! Si-Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana bisa kamu menggunakan tehnik langka itu?"

__ADS_1


__ADS_2