Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 55


__ADS_3

"Kata kakek hebat itu, Batu ini yang membuat kami bisa menerobos tingkat ranah tanpa hambatan meskipun harus mengkonsumsi sumberdaya cukup banyak! Tapi ada yang lain dari batu ini." Ucapan Retania berhenti karena ragu ragu.


Dirga serta laniya mengerutkan keningnya karena penasaran dengan kalimat selanjutnya. Dirga melepas pelukannya dulu dan mengambil batu yang di letakkan di depannya.


"Jangan!!" Pekik Arya dan Retania bersamaan dengan raut wajah pucat serta ketakutan.


Dirga menaikkan satu alisnya ketika melihat perubahan wajah mereka berdua. Tepat ketika ingin bertanya. Tiba tiba saja batu merah redup itu memancarkan cahaya merah tiga kali, Tapi tidak menyilaukan, Seolah olah Dirga menggenggam lampu neon mini merah yang berkedip kedip.


Arya dan Retania tercengang dengan mata melebar menatap batu di genggaman Dirga dan jantungnya berdebar debar begitu menyaksikan ini. Keduanya bangkit dari duduk dan langsung bersujud ke arah Dirga hingga mengejutkan si empunya.


"Kami melihat Yang mulia!" Seru keduanya dengan serempak yang mengejutkan Laniya serta Dirga.


Dirga seketika tersadar dan melambaikan tangan sambil berkata. "Bangunlah! Tidak perlu seperti ini! Jelaskan apa maksud kalian!"


Mereka berdua kembali menjawab serempak tapi tidak berdiri. "Kami tidak berani Yang Mulia!"


Dirga pura pura marah dan berkata. "Bangun! Aku menyuruhmu bangun dari sujudmu itu! Dan segera jelaskan apa maksud semua ini!"

__ADS_1


Tubuh mereka berdua bergetar ketakutan merasakan tekanan hebat dengan dahi bercucuran keringat. Mengusap keringatnya, Mereka berdua kembali berdiri. "Kami tidak mengetahui batu apa itu dan untuk apa, Tapi waktu itu Kakek Hebat pernah berkata kepada kami berdua jika batu ini sangat berharga bagi kami dan keturunan kami." Ucap Arya dengan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Dirga secara langsung.


Dirga semakin bingung dengan reaksi mereka berdua ini. Meletakkan batu merah itu kembali ke meja depan.


Dirga kembali melingkarkan tangannya ke pinggang mulus Laniya membuat si empunya tersentak kaget tapi tidak protes.


Dirga segera berkata kepada mereka. "Duduklah! Aku tidak tahu maksud perkataan kalian! Apa kalian bisa menjelaskannya secara rinci?"


Mereka berdua saling berpandangan dan mengangguk lalu duduk kembali. Arya menarik napas dalam dalam dan berkata dengan hormat. "Yang Mulia, Batu ini sangat aneh jika ada orang yang menyentuhnya kecuali kami berdua dan Yang mulia. Mereka yang secara tak sengaja maupun di sengaja menyentuh batu ini, Tiba tiba saja tubuhnya menghitam tanpa sebab dan tiga tarikan napas kemudian mereka mati yang membuat kami ingin membuang batu ini karena takut jika ada hal hal yang di luar dugaan kami."


Berhenti sejenak sambil menghirup napas dalam dalam dan melanjutkan perkataannya. "Tapi kami menemukan secarik kertas di sisi batu merah ini yang bertuliskan 'Jika kamu ingin berpetualang di dunia luar, Bawalah batu ini agar bisa menyelamatkan nyawamu dari mara bahaya! Tapi jika ada seseorang yang menyentuh batu ini hingga bersinar tiga kali! Segera beri hormat kepadanya dan ikuti semua perkataannya bahkan menjadi budak sekalipun' Itulah isi dari kertas itu Yang Mulia!" Arya mengakhiri ucapannya dengan hembusan napas panjang.


"Tring! Bukan Tuan!"


Tiba tiba saja sistemnya menyahuti isi benaknya. Tidak ingin membuang waktu, Ia lantas bertanya kepada sistem. 'Jika bukan karena itu, Lantas apa maksud batu ini sistem?'


Setelah beberapa saat menunggu, Tidak ada jawaban dari siatem membuat dahinya mengkerut lebih dalam. 'Sialan! Cukup beritahu saja apa susahnya?' Gerutunya di benak dan tanpa sadar tangannya mengusap benda lembut.

__ADS_1


Melirik benda lembut nan kenyal di genggaman tangannya, Dirga seketika tertegun dan tanpa sadar tangannya kembali menekan benda itu.


"Ah!" Pekik Laniya tanpa sadar dengan wajah memerah malu dan matanya melotot ke arah Dirga.


Agar Laniya tidak teriak - teriak tak jelas, Ia berkata cepat kepada mereka berdua. "Baiklah! Tidak usah di pikirkan dahulu masalah ini...Apa aku boleh menyimpan batu ini?"


Mereka berdua mengangguk serempak dan menjawab. "Tentu saja boleh Yang Mulia!"


Dirga mengambilnya dan menyimpan di ruang penyimpanan sistemnya. Tiba tiba saja raut wajahnya berubah menjadi serius serta sorot matanya berubah menjadi tajam.


Mengeluarkan 3 topeng rubah serta jubah hitam, Ia berkata. "Kalian pakai ini, Di luar ada suatu masalah yang harus kita selesaikan!"


Arya, Retania dan Laniya kebingungan dengan perkaraan Dirga. Tapi Arya dan Retania tanpa ragu ragu memakainya.


Dirga mengangguk puas serta membuka gerbang ruang Cermin Kultivasinya. "Dunia luar sedang kacau! Aku rasa ada seseorang yang membuat kekacauan di sana...Kalian keluarlah!" Perintahnya dan mereka berdua mengangguk patuh dan keluar dari Cermin Kultivasi.


Laniya yang wajahnya masih memerah karena benda kenyalnya masih di pegang Dirga ia berkata kesal. "Dasar cabul! Apa tanganmu ingin aku potong?"

__ADS_1


Dirga menggumam tanpa sadar. "Sangat lembut!" Tapi seketika ia tersadar dan berkata cepat tanpa memerdulikan wajah Laniya yang semakin memerah ke telinga. "Kita harus keluar dari sini!"


"Wushh!"


__ADS_2