
Dirga tak menjawab, Ia berkata singkat dengan wajah datar serta tatapan kosong seolah tidak memiliki jiwa. "Aku benci penghianat!"
Laniya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Dirga yang menyimpang dari pembicaraannya. Dengan kesal, Ia berkata nyalak. "Katakan padaku! Apa yang kamu lakukan dengannya?"
Dirga tanpa ekspresi menjentikkan energi mental sejatinya menuju kedua mata Laniya. Seketika saja, Matanya melebar dengan mulutnya yang ia tutupi.
Tampak dua manusia yang sedang melakukan hal tak senonoh, Pria sedang menggenjotnya dengan tempo brutal, Sedangkan si empunya teriak teriak kesakitan serta putus asa dengan air mata mengucur dipipinya.
Menatap Dirga yang tanpa mengubah ekspresi, Ia berkata dengan mata merah. "B-Bajingan...! Kenapa kamu melakukan ini? K-Kamu?.. I-Ini...Ini terlalu berlebihan! K-Kamu kejam dan tak memiliki hati nurani! A-Aku...Aku akan membunuhmu..!" Sambil mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya.
Dirga tak menanggapi perkataan marah Laniya, Matanya tetap kosong, Hampa yang tak memiliki jiwa. Ia tidak menjelaskan apapun yang terjadi jika yang bersangkutan dengan namanya penghianat.
Seketika, Punggungnya terasa dingin dan sesuatu tajam menembus dadanya, Menunduk, Ia melihat sebuah pedang yang di kenalnya menembus dadanya menusuk jantung.
"Jleb!"
Tapi tetap saja, Meskipun merasakan sakit yang teramat sakit di jantungnya, Ia masih bertahan tanpa memerdulikan itu, Bahkan ia kembali menatap depan dengan ekspresi sama.
Sedangkan di sisi lain, Sosok yang menusuk Dirga adalah Laniya. Dia tidak dapat menahan amarahnya ketika melihat kelakuan yang di lakukan Dirga yang di luar batasnya.
Meskipun ia tahu siapa sosok mereka,Menurut pemikirannya, Setidaknya jangan menggunakan cara ini untuk melakukan semua ini.
"A-Ak-Aku minta maaf... Ucapnya terbata dengan kepala menunduk dengan penyesalan di dalam hatinya.
Seseorang yang menggantikan sosok gurunya kini mati di tangannya sendiri. Air matanya mengalir di pipi lembutnya ketika menyadari jika ia melakukan kesalahan.
Suasana menjadi hening, Hanya terdengar suara teriakan lemah putus asa dari Naila. Lama ia menunduk, Laniya memberanikan dirinya untuk melihat sosok yang membuatnya nyaman untuk terakhir kalinya.
Seketika matanya melebar, Ia melihat punggung Dirga mengeluarkan darah yang berbeda dari lainnya.
Darah itu berwarna emas yang nampak mengalir di pedang immortalnya yang masih menancap di punggung Dirga.
Seketika saja, Laniya merasakan suatu firasat buruk yang bisa saja menghilangkan nyawanya. Sebelum ia bereakai, Suara retakan dari pedangnya terdengar.
"Krak! Krak! Krak!...Pyar..!"
Suara seperti kaca terdengar dari pedang Laniya yang kini telah berubah menjadi serpihan - serpihan besi tak berguna.
Laniya tercengang melihat semua ini. "Pe-Pedangku...!" Serunya dengan tak rela.
Tapi sebelum itu, Darah berwarna emas yang tercecer di punggung Dirga perlahan masuk ke tubuhnya diikuti lubang tusukan pedang tertutup kembali.
Mata Laniya kembali melebar, Belum sempat bereaksi, Dirga berdiri dan membalikkan badannya.
__ADS_1
"Kejam? Hati nurani? Berlebihan? Jika kamu memiliki pemikiran seperti itu lebih baik pergi dari hadapanku!" Ucap Dirga yang bergema dari segala arah membuat tubuh Laniya menegang ketakutan.
Laniya ketakutan ketika melihat ini. Belum juga tahu mengapa luka menganga di tubuh Dirga bisa menutup kembali, Kini ia di buat ketakutan setengah mati karena perkataan Dirga yang penuh tekanan kuat.
Suara tadi seperti bukan suara Dirga seperti sebelumnya. Mengangkat kepalanya menatap Dirga, Seketika saja wajahnya rumit dan jantungnya berdebar kencang.
Dia melihat mata Dirga berubah menjadi merah darah, Apalagi tatapannya yang dingin yang mengarah kepadanya membuatnya ketakutan menelan ludah.
"Hahaha! Aku tidak peduli dengan ucapanmu! Kamu bukan siapa siapaku! Aku akan bertindak sesuka hatiku! Tidak ada yang bisa menghentikanku! Bahkan Dewa sekalipun...!" Teriak Dirga dengan tertawa lantang membuat seluruh dunia cermin bergetar hebat.
"Cetar..! Cetar..! Cetar..!"
Suara petir terdengar dari langit, Awan awan hitam berkumpul menghiasi dunia cermin kultivasi, Angin angin abadi yang terdengar tajam sedang menari di mana mana.
Rumah maupun gedung tinggi yang tidak bisa menahan besar serta kuatnya angin ****** beliung, Seketika menghilang tersedot.
Beruntung jika saat ini mereka ada di dalam dunia cermin kultivasi, Jika dunia luar, Berapa banyak nanti keadaan yang akan terjadi.
Sedangkan Laniya, Jangan di tanya keadannya saat ini. Wajahnya penuh dengan ketakutan hebat yang tak bisa di gambarkan.
Tubuhnya menegang ketika baru menyadari jika tubuhnya tidak bisa di gerakkan sama sekali, Seolah olah ada tekanan yang menimpa tubuhnya dari segala arah.
Menatap Dirga yang melayang menjauh, Ia menjadi ketakutan saat ini. Dia tidak menyangka jika Dirga memiliki kekuatan semengerikan ini, Ini pertama kalinya melihat fenomena awan hitam yang seolah menunjukkan kemarahannya.
"Hahaha! Aku senang! Aku senang! Aku bisa melakukannya dengan bebas!" Gemahan suara Dirga terdengar dari segala arah yang di sambut oleh petir hitam yang menyambar dari segala arah.
Mengangkat ketiga tubuh yang di penuhi rasa takut yang luar biasa, Dirga menatapnya dengan dingin tanpa senyum.
"Kalian akan tahu sendiri akibatnya jika menghianatiku! Sudah ditolong! Malah merusak!" Ucap dingin Dirga menatap ketiganya yang hanya bisa menunduk dengan air matanya.
Naila mengangkat wajahnya ragu yang masih di penuhi air mata. "Dir- Tu-Tuan muda! Ma-Maafkan aku!" Mohon lemah Naila dengan ketakutan.
Sayangnya, Dirga menanggapinya dengan acuh tak cuh dinginnya. "Aku tak peduli!" Singkatnya.
Melambaikan tangannya, Ia membuat energi pedang dan langsung menyayat tubuh ketiganya dengan sangat cepat.
"Argh! S-Sakit sekali..!"
"A-Aku tidak kuat! Argh..!"
"Arghh...!"
Teriakan kesakitan mereka menggema, Tapi tidak ada yang menolongnya. Sedangkan Laniya, Dia saat ini berlutut sambil menyemburkan darahnya berkali kali.
__ADS_1
Ia menatap Dirga dengan ngeri dan takut yang luar biasa. Dirinya sangat menyesali perbuatannya tadi yang membangkitkan kemarahan hebat Dirga yang seperti Dewa kehancuran saja.
Dirga sebenarnya saat ini yang kesadarannya setengah ada dan setengah tidak. Ia menatap tubuh ketiga penghianat yang sudah menjadi serpihan daging.
Mengepalkan kedua tangannya dan matanya tertuju ke arah Laniya. "Kamu tidak berhak menyuruhku..!" Ucapnya dingin.
Laniya menelan ludahnya kasar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain m, Takut melihat tatapan Dirga yang kini selayaknya menjadi iblis.
Dirga menatap Laniya dalam waktu yang lama, Tatapan itu hanya tersedia Kosong, Dingin, Hampa, Putus asa, Tak perduli, Dan tak memiliki jiwa.
Tiba tiba saja, Dari tubuh Dirga muncul sebuah bola hijau kecil yang langsung melesat ke atas langit.
Tak lama setelah itu, Bola cahaya itu kini berubah menjadi sosok wanita yang sangat cantik layaknya dewi. Pakaiannya berwarna hijau cerah serta rambutnya pun juga sama.
Matanya hijau tenang damai dan lekuk tubuhnya terlihat sangat sempurna. Wanita cantik itu menengadahkan kepalanya ke langit.
Dia berkata lembut. "Aku tahu kamu mempercayai Tuanku! Tapi bukan sekarang waktunya kamu menunjukkan semua itu!"
Seolah mengerti, Petir petir yang masih menyambar sektika berhenti, Hanya terlihat awan awan hitam yang masih menggumpal di atas.
Wanita itu menatap langit dengan seksama, Mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi, Sebauh energi berwarna hijau yang damai serta menenangkan jiwa melesat keatas langit dan menimbulkan ledakan yang sangat besar.
"Wushh!"
"Booms..!"
"Booms..!"
"Booms..!"
"Booms..!"
Setelah itu, Awan awan hitam menghilang di gantikan awan biru langit yang cerah. Serta angin angin yang tajam tadi kini menghilang entah kemana.
Wanita cantik itu melayang lembut di depan Dirga yang saat ini masih menatap kosong depan, Entah apa yang sedang di lihat.
Mengusap kepala Dirga dengan lembut, Wanita cantik itu berkata lirih yang bisa di dengar Dirga dengan senyum manisnya. "Tuan! Perjalanan anda masih sangatlah jauh! Semangatlah! Aku menunggu Tuan menjadi kuat agar aku bisa menjadi bebas dan menjadi milikmu!"
Setelah kata itu selesai, Wajah wanita cantik itu memerah dan mengalihkan pandangannya ke arah Laniya.
Ia berkata dengan lembut. "Dia memiliki sesuatu yang seharusnya tidak kamu bicarakan! Lebih baik perbaiki omonganmu agar lebih baik!"
Setelah itu, Wanita berparas dewi berubah menjadi sebuah cahaya hijau kecil dan masuk kedalam tubuh Dirga. Seketika, Mata Dirga menutup dan tubuhnya terjun bebas kebawah.
__ADS_1
Laniya segera melesat tanpa ragu ragu. "Dirga...!"