
Pihak asing yang tak di ketahui etintas nya itu kini ekspresinya berubah pucat ketakutan. 'Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin dia bisa mendeteksi keberadaanku?' Ucapnya di dalam hati dengan perasaan was was.
Setelah ragu ragu sejenak, Dia berpikir. 'Ah! Lebih baik menemui Tetua Thu Wek agar lebih hati hati! Tiga bedebah itu terlalu percaya diri!'
Namun, Sebelum tubuhnya menghilang. Ia mendengar suara di dalam benaknya. 'Pergilah! Beri tahu Tuanmu agar tidak mengusikku! Jika kalian menggangguku lagi, Tunggu tiga bulan berikutnya! Aku yakin tidak ada seorangpun yang menghentikan ku!'
His!
Tubuh pihak asing itu seketika merinding begitu mendengar suara dingin yang terdengar di benaknya. Dirinya buru buru menghilang dari balik kegelapan.
**
Di tempat yang jauh. Seorang pemuda tampan sedang melayang di ketinggian langit malam. Pemuda itu menyunggingkan senyum aneh.
"Beruntung aku telah menyelipkan energi mentalku! Tidak lama lagi aku akan mengetahui markas busukmu itu!" Gumamnya dengan dingin sambil menatap kepergian pihak asing tadi.
Sudah jelas, Jika pemuda itu adalah Dirga!
Sebelumnya, Ia sempat menyelipkan energi mentalnya. Tujuannya adalah agar ia tak perlu lagi bersusah payah menemukan keberadaan yang lainnya.
Kenapa Dirga tidak melakukannya seorang diri? Ya! Karena ia tidak yakin jika harus menyelinap seorang diri di markas mereka.
Apalagi ia sempat merasakan nafas aura pihak asing itu yang berada di ranah Pertapa tingkat sembilan! Setengah langkah menjadi seorang Immortal!
__ADS_1
Jika di tingkat delapan, Ia masih bisa mengalahkan seorang diri meskipun harus kehabisan energi di tubuhnya.
Apalagi kini dirinya bisa menggunakan energi mental sejati dalam bentuk serangan, Itu bisa membuat serangannya meningkat dua kali lipat lebih tinggi dan memiliki desduktrif yang jauh lebih besar pula.
Tapi, Untuk melawan seorang Pertapa tingkat sembilan seorang diri adalah hal yang paling bodoh baginya! Beruntung orang tadi termakan ucapannya, Padahal ia hanya menggertak nya saja!
Bagaimanapun, Kultivasinya saat ini masih di tingkat empat Pertapa! Lima tingkat di atasnya tentu ada perbedaan yang cukup besar!
Dirga melesat kembali di Istana Sekte nya. Setelah menuju ke ruangan tertentu, Ia melihat Arya, Tetua Roto, Kai, Tei, dan Zei.
Di depannya ada tiga pria yang kondisinya dalam keadaan terikat di seluruh tubuhnya.
Melihat Master mereka yang telah tiba, Mereka membungkukkan badannya dan menyapa dengan hormat.
Dirga mengangguk menanggapi. Ia berjalan mendekati tiga pria itu yang kini sudah pingsan. Dirga mengeluarkan tiga pil dan memaksanya masuk ke dalam mulut mereka.
Tetua Roto dan lainnya yang melihat Dirga memasukkan pil penyembuh, Mereka di buat kebingungan. Tapi tidak ada yang menanggapinya.
Mata ketiga orang itu nampak terbuka sedikit demi sedikit. Melihat banyak orang asing yang berada di depannya, Mereka berkata waspada. "S-Siapa kalian? Kenapa kalian mengikat tubuhku? Apa kamu tidak tahu siapa ak..
"Saudara..!" Sela salah satu sambil menatap tajam pria yang baru saja bicara.
Pria yang bicara tadi pun seketika terdiam. Ketiganya benar benar bingung dengan apa yang terjadi. Padahal sebelumnya mereka mengintai di balik bayangan.
__ADS_1
Tapi, Ingatannya kembali muncul beberapa saat lalu, Sebuah sekelebat bayangan yang entah datang dari mana langsung memukulnya hingga tak sadarkan diri!
Namun sekarang, Tubuhnya sudah dalam keadaan terikat. Mereka yakin jika orang orang di depan ini lah yang sudah menemukan keberadaannya.
Dirga diam sejenak sambil menatap tajam dan memperhatikan raut wajah ketiganya yang semakin lama semakin gelisah entah karena apa.
Dirga berkata datar. "Katakan! Siapa yang menyuruh kalian mengawasi Sekte ku?"
Raut wajah ketiganya menjadi gelisah. Salah satu dari mereka menjawab nyalak. "A-Apa maksudmu? Apa kamu menuduh kami mengawasi Sekte kecil seperti ini? Buang buang waktuku saja!"
"Plak!"
Sebuah jawaban tamparan keras terkena di pipi orang itu. Pipinya langsung biru dan giginya rata entah sudah melarikan diri kemana.
"Ahk!" Ringis nya lemah tak berdaya.
Kedua pria lainnya terdiam dengan raut wajah ketakutan melihat itu. Jika tamparannya saja bisa meratakan gigi? Lalu bagaimana jika tinjunya yang mengenai?
Bukankah sudah jelas jika organ dalamnya terasa di obrak abrik bahkan bisa saja menghilangkan nyawanya?
Begitu membayangkan, Raut wajahnya berubah ngeri.
Sedangkan para bawahan Dirga terpana dengan tamparan Dirga yang nampak tak bertenaga sekali, Tapi bisa merontokkan semua gigi.
__ADS_1
"Jika tamparannya saja bisa begitu? Bagaimana dengan pukulan? Lalu serangan dengan energi? Bukankah tubuh kita sudah berubah menjadi abu terlebih dahulu?" Gumam Tei tanpa sadar membuat Kai dan Arya menoleh menatapnya dengan aneh.