Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 155


__ADS_3

  "Si-siapa kalian?" Ucap Tuan Jing sedikit terengah karena agak lelah setelah pembantaiannya tadi. Meskipun ia tahu identitas pihak lain.


"Iblis! Kamu seorang iblis berani - beraninya muncul di depan kami! Semua!..Bunuh dia!!" Salah satu pria berkata dingin dan mengangkat pedangnya di ikuti lainnya.


"T-Tunggu dulu! Aku mengenal seragam yang kalian kenakan dan itu adalah murid dari tuanku!!!" Tuan Jing berkata cepat dan membuat penghalang energi.


Ia tak ingin membuat masalah dengan anggota Sekte tuannya.


Seketika kelima nya berhenti melakukan aksinya dan menatap wajah berlumuran darah Tuan Jing dengan penuh curiga.


"Siapa kamu sebenarnya?" Pria tadi bertanya dengan memicingkan matanya curiga.


"Kalian para murid dari Tuanku! Aku di suruh oleh tuan untuk membantai tempat depan!" Jawab Tuan Jing dengan nada ramah.


"Tuan? Siapa tuanmu? Jangan coba - coba kamu membohongiku pak tua iblis!" Pria itu kembali mencecar dan semakin membuatnya curiga jika Tuan Jing benar - benar musuhnya.


"A-Aku-" Tuan Jing tak berkata dan agaknya benar benar tidak tahu siapa nama sebenarnya Tuannya.


Karena Dirga belum mengenalkan namanya.


Pria itu semakin yakin jika Tuan Jing adalah targetnya.


"Sudah kuduga..Kau adalah kumpulan iblis yang tak layak hidup! Maka dari pada itu, Sekarang matilah!" Ucapnya bengis dan mencoba menebas depan dengan pedangnya.

__ADS_1


Trang!


"Aku baru ingat! Tuan memiliki penampilan pemuda gagah,Warna rambutnya perak dan wajahnya sangat tampan! Itu yang aku tahu!" Ucap Tuan Jing cepat setelah memantulkan pedang milik pria tadi yang mencoba menebasnya.


"Apa??" Pria itu membelalakkan matanya lebar melihat pedangnya terpental agak jauh.


Namun yang membuatnya lebih kaget adalah Tuan Jing menyebutkan ciri - ciri sosok yang amat di kenalnya.


Seketika raut wajah kelimanya berubah membuat Tuan Jing tersenyum indah di balik penampilannya yang berlumuran darah.


"Tu- tuan maafkan saya yang bodoh ini!" Pria itu dan kelimanya berucap bersamaan dan mereka menyangka, jika sosok Tuan Jing adalah pesuruh Masternya.


Maka dari itu, Kelimanya menjadi sopan ketika salah bersikap tadi.


"Sudahlah! Tugas kita sepertinya sama. Menghancurkan Sekte Seribu Pedang...Bukan??" Ucap Tuan Jing melangkahkan kakinya diikuti yang lain. "Tapi, Tuan menyuruhku untuk membantai semua penghuninya, Bagaimana?" Imbuhnya.


"Ti-tidak! Biarkan saudara yang lainnya yang melakukannya!...Selain itu, Master sudah menanamkan bendera formasi di seluruh penjuru...Jika anda yang membantai semuanya, Apakah anda ingin membuat apa yang di lakukan Master sia - sia??" Pria itu menolak usulan Tuan Jing dengan ramah. "Oh, Iya...Namaku Cong Hue! Salam kenal!" Imbuhnya memperkenalkan diri agar tak canggung.


"Namaku Cong Rui!"


"Aku Cong Fei!"


"Saya Cong Ve!"

__ADS_1


"Dan aku Cong Jae!"


Seketika ke empat teman Cong Hue memperkenalkan namanya dan itu membuat Tuan Jing tersentak dan tiba tiba memberhentikan langkahnya.


"Sejak kapan di daratan ini ada marga Cong??" Gumamnya tanpa menoleh ke belakang.


Namun kelima Cong itu masih bisa mendengarnya dan membuat kelimanya saling tatap menatap tersenyum tipis.


"Sejak remaja, Kami berlima sudah saling hidup sama lain dan saling memperbaiki satu sama lain! Kalau anda? Siapa namanya??" Cong Jae berkata dan menyelimur agar tidak teringat dengan kehidupannya dulu.


"Panggil saja Jing Quasu! Kalian sudah hidup bersama sejak remaja? Lalu siapa yang memenuhi kebutuhan kalian?"


Tuan Jing memperkenalkan diri sekaligus bertanya membuat ekspresi kelimanya sedikit berubah.


Namun kelima Cong bersaudara itu masih tetap tersenyum walaupun kaku.


"Iya, Orang tua kami berlima saat itu tewas oleh serangan monster ganas! Dan kami berlima di asuh oleh seorang nenek yang selalu sayang kepada kita berlima!" Cong Jae sedikit menjelaskan kepada Jing Quasu.


"Lalu, Kemana nenek kalian itu?" Tanya Jing Quasu penasaran dan tidak menyadari perubahan ekspresi lima Cong bersaudara itu.


Ia sangat penasaran dengan lika - liku lima pemuda ini yang ia anggap sebagai pemuda baik.


Namun jawaban dari Cong Ve membuat langkahnya seketika berhenti dan ekspresinya berubah muram.

__ADS_1


"Hah, Gara - gara Organisasi Serigala Hitam brengsek itu, Nenek menjadi korban akan keganasan mereka dan orang - orang terdekat kami!!"


__ADS_2