
Di lain tempat
Dirga beserta kedua wanitanya kini melihat di depan sana ada Kota sama seperti Kota Luyung. Hanya saja wilayahnya cukup luas dari pada Kota Luyung.
Tentu saja itu adalah Kota Mutian.
Turun dari langit. Dirga dan kedua wanita di sisinya berjalan untuk di pemeriksaan identitas.
"Identitasnya Tuan muda dan Nona Nona!!" Dua pejaga gerbang menyambut ketiganya dengan ramah.
Dirga mengeluarkan token berwarna biru berlambang Pedang mengacung ke atas. Salah satu penjaga mengambil untuk memeriksanya.
"Sekte Pedang Langit Abadi" Gumam penjaga gerbang ketika membaca aksara kecil yang ada di bawah lambang token.
Sontak, Wajahnya berubah dengan kedua kaki nya sedikit bergetar. Teman nya yang melihat perubahan ekspresi itu menjadi heran.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu berubah seperti ketakutan?" Tanya nya sambil merebut token nya.
Seperti penjaga tadi, Ekspresi nya seketika berubah drastis ketika melihat token itu.
"Tu-Tuan dan Nona Nona! Ma-Maafkan kami! Anda bertiga silahkan masuk!" Ucapnya gugup sambil menyerahkan token ke pemuda berambut perak itu dengan hati hati.
Dirga, Laniya dan Fanni yang melihat perubahan kedua penjaga itu merasa aneh.
"Ada apa? Kenapa dengan wajah kalian?" Tanya Fanni menatap pria penjaga dengan heran.
Penjaga yang di tanyai itu ketakutan setengah mati, Dengan tergagap, Ia menjawab. "I-Itu...Ap-Apa anda bertiga berasal dari Sekte Pedang Langit Abadi?"
Ketiganya menganggukkan kepalanya tanpa mengubah eksresi. "Apa ada yang salah dengan Sekte kami?" Tanya Laniya sambil memincingkan matanya aneh.
Melihat itu, Penjaga gerbang satunya berkata. "Bukan! Sekte kalian benar benar telah membuat seluruh Benua Timur gempar!...Dari informasi yang kita dapat, Sekte kalian telah menghancurkan Sekte Langit Surgawi yang peringkatnya tidak rendah di Benua ini."
Ketika mendengar penjelasan penjaga gerbang, Kedua wanita itu hanya tersenyum tipis. Karena kehancurannya hanya di sebabkan oleh satu orang saja.
Ya! Hanya satu orang! Orang itu berada di sisinya.
"Oh...Oke, Terima kasih informasinya. Bagilah dengan temanmu dengan rata!" Dirga menanggapinya dengan senyum tipisnya.
Tapi ia melemparkan cincin penyimpanan ke penjaga gerbang itu sambil berlalu pergi bersama kedua wanitanya di bawah tatapan cengo dua penjaga.
Melihat ketiganya pergi, Pria penjaga yang di lempari cincin tadi tersadar dan langsung melihat isinya dengan hati hati.
Tiba tiba matanya melebar dengan dua matanya yang nyaris keluar. Teman satunya yang melihatnya menjadi penasaran dan segera mengintipnya.
"D-Du-Dua Juta koin emas...?!" Seru keduanya tak percaya. Antara senang dan senang.
Siapa yang tidak senang jika di beri koin emas dengan jumlah yang baginya sangat banyak. Padahal gaji perbulan mereka hanya lah dua koin emas.
Buk! Buk!
Suara tubuh jatuh. Mereka kedua berlutut di arah hilangnya pemuda berambut perak dan dua wanita cantik tadi.
__ADS_1
"Tu-Tuan muda! T-Terima kasih...Meskipun banyak orang yang tidak menyukaimu, Kami berdua selalu mendukungmu!" Ucap penjaga gerbang dan di angguki temannya dengan air mata membasahi pipi keduanya.
*
"Sayang~ Sepertinya Sekte kita di kenal semua orang!" Ucap Fanni sambil bergelayut manja di lengan sang pemuda berambut perak sambil berjalan mencari penginapan.
"Iya sayang~ Haruskah kita menghancurkan semua Sekte agar menjadi semakin terkenal?" Laniya tak mau kalah, Ia juga bergelayut seperti Fanni dengan perkataan konyolnya.
Dirga menjitak dahi Laniya dengan lembut. "Jika kita menghancurkan semua Sekte, Bagaimana kita bisa menghadapi makian semua orang? Baru satu Sekte saja membuat orang ketakutan." Dirga menanggapi ucapan Laniya yang terkesan bodoh itu.
Laniya mengelus dahinya dengan cemberut. "Bukankah bagus jika kita menghancurkan semua Sekte? Semua orang pasti takut dengan Sekte kita dan tidak ada yang mengganggu kita" Cerocos Laniya tak peduli.
Dirga menjitak dahinya lagi membuat si empunya mengeluh. "Aduh, Sakit..."
"Tidak semua Sekte maupun Organisasi yang di bilang jahat. Ada yang baik dan ada pula yang jahat. Mereka yang baik tidak bertindak karena mereka memiliki pertimbangan sendiri yang sulit untuk di hadapi. Tapi aku tak peduli! Siapapun itu yang menggangguku maka di situ ada kehancuran!" Ucap Dirga dengan sorot mata dingin di akhir katanya.
"Emmm~ " Kedua nya mengangguk sambil saling menatap dengan senyuman nya dan pelukannya menjadi semakin erat.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga menemukan penginapan. Tapi mata Dirga sedikit menyipit menatap bangunan berlantai tiga itu.
'Hm? Mereka? Cukup menarik! Hehe...' Ucapnya di hati dengan sejuta rencana.
Laniya dan Fanni juga merasakan ada yang aneh dengan penginapan ini. Tapi melihat raut wajah tenang, Keduanya mengikuti Dirga.
Laniya yang penasaran bertanya kepada Dirga dengan telepatinya. 'Apa kamu merasakannya?'
Dirga yang mendengar suara itu mengangguk dan membalasnya. 'Ya! Tenangkan dirimu! Kita ikuti permainannya atau beri kejutan nantinya.' Laniya pun mengangguk menuruti tanpa sepengetahuan Fanni yang terus bersenandung di sisi kiri Dirga.
"Halo...Selamat datang di Penginapan Surga! Apa Tuan dan Nona Nona mau menyewa kamar di sini?" Sambut gadis itu dengan ramah namun ada senyum tipisnya.
'Pake nanya' Pikir Dirga kesal.
"Iya, Kami mau menginap beberapa hari di sini!" Bukan Dirga yang menjawab,Melainkan Fanni.
"Baik! Silahkan masuk dan bicarakan dengan resepsionis di sebelah sana!" Si gadis itu antusias memberikan ruang untuk ketiganya masuk, Sambil melirik resepsionis dengan mengedipkan matanya dan di sambut dengan kedipan tipisnya.
"Tuan dan Nona Nona mau menyewa satu kamar atau berapa? Satu kamar harganya tiga koin emas per hari dan dua puluh koin emas satu minggu!" Si resepsionis berkata dengan senyum ramahnya ketika ketiganya sudah dekat.
"Emm...Satu kamar saja sehari! Kami hanya singgah sebentar di tempat ini." Kata Laniya sambil mengeluarkan beberapa koin emas untuk membayar.
"Baik! Harganya tiga koin emas! Ini token nomor kamar kalian yang berada di lantai dua. Nanti pelayan mengantarkan makanan gratis ke kamar anda! Selamat menikmati malam kalian...Semoga mimpi indah!" Ucap Si resepsionis dengan riang.
"Oke!" Dirga membalas acuh dan berbalik untuk menaiki tangga lantai dua.
Karena lantai pertama adalah restoran makan. Jadi banyak tatapan semua pengunjung mengarah ke ke-tiganya.
Di sudut ruangan. Terlihat tiga pemuda yang sedang makan sambil minum minum anggur dengan liar sambil bersendawa keras.
Salah satu pemuda tiba tiba matanya berbinar dan berkata. "Tuan muda Sabri! Lihatlah di sana ada dua wanita yang cantik!"
Orang yang di panggil Sabri menghentikan minumnya dan menoleh. Tiba tiba matanya berbinar. "Ayo...! Kita hampiri mereka! Aku tidak sabar mencicipinya! Huh, Nasibku benar benar bagus sekali hari ini" Kata Tuan muda Sabri dengan menjilat bibir bawahnya cabul.
__ADS_1
"Tapi Tuan muda, Ada pemuda yang sangat tampan di sisinya! Sepertinya keduanya wanita dia." Salah satu mereka menanggapi.
"Sialan! Apa gunanya jika hanya tampan? Lihat ketiganya tidak memiliki aura sedikitpun! Sudah jelas ketiganya manusia biasa!" Sanggah kesal Tuan muda Sabri. Tak mau kedua anak buahnya berkata lagi, Ia menambahkan. "Ayo ayo cepat! Jangan sampai kehilangan kenikmatan ini!"
Ketiga pemuda itu pun lantas bangkit dari duduknya dan menghampiri Dirga dan kedua wanitanya.
"Hei hei hei! Ternyata ada Nona cantik di sini! Perkenalkan nama ku Sabri Tenu dari Keluarga Tenu kelas satu di Kota Mutian! Apa gadis cantik ini mau ikut bersamaku?" Tuan muda Sabri memperkenalkan dirinya dengan angkuh dengan gaya orang mabuk.
"Hehe, Gadis cantik! Perkenalkan namaku Bima Wadi dan ini adikku Bimo Wadi dari Keluarga Wadi kelas dua di Kota ini." Pemuda Bima Wadi memperkenalkan dirinya dengan gaya sama seprti Sabri Tenu.
Dirga, Laniya dan Fanni yang melihat ketiga pemuda yang entah dari mana ini membuatnya kesal.
Alis Dirga sedikit menyatu dan menanggapi acuh. "Enyahlah jika kalian sayang nyawa kalian!"
Sabri Tenu yang mendengar perkataan acuh Dirga menjadi marah. Dia berkata nyalak. "Hei! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Berlutut atau aku patahkan sendiri tulangmu itu!"
Suaranya begitu cempreng namun menggema. Semua pengunjung yang melihat pertikaian itu pun ingin memisahkan, Tapi ketika melihat siapa pelakunya membuatnya mengurungkan.
Dirga, Laniya, Fanni juga menyadari sikap pengunjung itu. Tiba tiba sudut mulut Laniya terangkat ke atas.
Ia mendekat kan mulutnya ke telinga Dirga dan berbisik. "Sayang, Sepertinya bermain main dengan mereka sangat menyenangkan. Dari pakaiannya mungkin mereka orang kaya! Dan juga, Memberi sedikit kejutan kepada mereka juga sepertinya menarik!"
Dirga melirik Laniya yang menyeringai dan mengerti apa maksud perkataan Laniya itu. Tanpa persetujuan Dirga, Laniya maju selangkah dan berkata ramah dengan senyum menggodanya. "Tuan - Tuan! Mereka berdua sangat lelah, Biarkan saja mereka beristirahat! Aku sanggup melawan kalian bertiga."
Melihat perkataan Laniya, Fanni tersentak kaget. "Saudari- " Dirga mencengkram pundaknya lembut. "Biarkan saja, Dia ingin memberikan kejutan untuk orang penginapan. Aku akan memberi tahumu nanti!" Bisik Dirga.
"Tapi- " Perkataannya di sela Dirga. "Tenanglah, Saudarimu sangat kuat, Melawan ketiganya bukanlah apa apa baginya!" Fanni menganggukkan kepalanya meskipun agak khawatir.
Sabri Tenu dan dua kawannya yang melihat inisiatif Laniya membuatnya tertawa liar. "Hahaha, Aku tak menyangka jika Nona cantik sendiri yang menawarkannya!" Ucap Sabri Tenu dan di balas tatapan cabul kedua temannya.
"Tapi, Aku ingin kalian berdua bukan hanya satu saja!" Tambah Sabri Tenu dengan seringainya balik menatap lekuk tubuh Fanni yang nampak menggoda itu.
"Bukankah aku sudah bilang jika dia sangat kelelahan? Cukup aku sendiri akan membuat kalian pingsan!" Ucap Laniya dengan sudut mulut terangkat.
"Tuan muda Sabri! Tidak masalah jika dia sendiri, Lagian dia sangat cantik dan untuk yang satunya kita culik saja nanti malam!" Bisik Bima Wadi ke telinga Sabri Tenu.
Sudut mulut Sabri Tenu menyeringai dan melambaikan tangan. "Oke oke, Aku menerimanya! Aku harap kamu bisa memuaskan kami bertiga!" Ucapnya dengan tak sabar.
"Tentu saja! Cepat bawa aku ke kamar kalian!" Desak Laniya sambil membalas seringainya.
Di bawah tatapan aneh pengunjung. Laniya mengikuti ketiga pemuda itu ke kamar pemuda bejat itu.
Setelah pintu kamar ditutup, Fanni berbisik khawatir. "Sayang! Apa kamu yakin membiarkan Saudari Laniya bersama dengan tiga cabul itu?"
Dirga memeluk pinggang wanitanya dan masuk kamar nya sambil berkata acuh. "Jangan khawatir! Dia memiliki rencana agar mereka tidak bisa melakukan perbuatan itu lagi!"
"Baiklah" Meskipun Fanni khawatir, Ia berharap saudari nya tidak kenapa napa.
Dirga tak peduli, Ia mengeluarkan batu komunikasi dan mengirimkan informasi kepada Arya untuk melakukannya sekarang.
***
__ADS_1