Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 58


__ADS_3

Begitu kata itu jatuh, Semua orang tersentak dan tanpa sadar menatap ketiganya untuk mengidentifikasi.


Terlihat mereka bertiga masih tampak sehat wal afiat di permukaan. Tapi, Organ dalam beserta tulangnya terasa seperti ingin keluar dari tempatnya.


Mereka hanya bisa meringis tanpa suara karena semua anggota tubuh mereka telah Dirga segel dengan jarum peraknya.


"I-ini?...Ini adalah Tuan Kota! B-bagaimana bisa terjadi...?"


"Bu-bukankah Tuan Kota sangat baik kepada kita?..Bagaimana dia bisa melakukan hal se brengsek ini...!"


"..."


Banyak orang yang tidak percaya dengan perkataan Dirga. Menurut mereka, Tuan Kota selalu baik kepada penduduknya. Bahkan, Mereka merasa jika tidak ada Tuan Kota lainnya yang sebaik Tuan Kota Garden ini!


Pada saat ini, Seseorang maju mendekati Dirga dan Laniya yang masih tetap tenang berdiri sambil menatap ketiganya dengan tatapan tajam.


"T-tuan! Apa benar mereka bertiga telah melakukan semua ini? Jangan berbohong kepada kami dan jika bisa, Tunjukkan buktinya!" Ucapnya dengan nada sopan serta takut takut.


Dirga melirik orang itu yang ternyata pria dewasa. Ia berkata santai. "Benar! Dia orangnya!...Kamu lihat gedung yang ada di tengah tengah itu?" Melihat kesemuanya menatap gedung itu dengan bingung. Ia mdlanjutkan. "Apa kalian tidak merasa aneh dengan bangunan itu? Lihat di sekitarnya! Banyak bangunan - bangunan yang roboh akibat ulah monster itu!"


Semua orang berpikir cepat dan mengangguk mengamini perkataan Dirga. Bukankah aneh jika bangunan itu masih tampak segar? Tapi sekitarnya sudah antah berantah.


Dan saat ini Dirga melanjutkan ucapannya. "Jika kalian tidak percaya kepadaku. Masih ada bukti di dalam bangunan itu! Kalian bisa masuk kedalam dan melihatnya dengan jelas apa isinya!"


Semua orang berpandangan dengan perkataan Dirga. Keika masih ragu ragu. Seseorang berteriak dari jauh. "Benar! Lebih baik kita mengeceknya! Aku yakin jika di dalam bangunan itu menyimpan rahasia!"


Beberapa orang yang awalnya ragu langsung berlarian ke arah bangunan yang cukup megah itu.


Laniya saat ini berkata kepada Dirga. "Bukankah wanita ini yang kamu tolong beberapa hari yang lalu?" Dirga mengangguk sebagai jawaban. "Iya, Tapi waktu itu aku mendapati hal aneh yang ada pada dirinya!" Ucap Dirga.


Laniya di balik topeng memicingkan matanya menatap Dirga. Seakan mengerti, Dirga menjawab lirih yang hanya bisa di dengar Laniya. "Sebelumnya, Ketika aku bertemu dengan Tuan Kota serta Gadis ini. Aku merasa auranya sedikit berbeda dari kultivator biasa! Dan ternyata benar jika itu seperti aura iblis meskipun samar samar tidak terdeteksi."


Laniya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Dirga. Meskipun ia tidak mendeteksi adanya aura samar yang di katakan Dirga, Dia percaya karena saat memasuki bangunan itu, Dirga dan dirinya sempat berkeliling dan menemukan ada beberapa sosok manusia yang di kurung untuk dilakukan tumbal.


Arya yang melihat Dirga dan Laniya mengobrol santai. Ia mengajak istrinya untuk mendekati dan bertanya. "Yang mu- Ucapan Arya terhenti dengan selaan Dirga. "Panggil saja seperti biasanya agar tidak menimbulkan perkataan aneh dari orang!"


Arya mengangguk dan berkata serius kepadanya. "Tuan muda! Aku pernah melihat ini waktu itu. Jika tidak salah ingat, Waktu itu lelaki ini dan gadis itu sedang mengantarkan beberapa gadis dan anak kecil ke suatu tempat yang aku tidak ketahui dengan kereta kuda." Berhenti sejenak sambil menghirup napas dalam dalam dan melanjutkan. "Karena mereka di kawal beberapa orang Raja Langit tingkat menengah, Aku sengaja tidak mau mencari gara gara dengannya."


Dirga yang mendengar perkataan Arya mengangguk dalam diam. Ketika ingin bertanya lagi, Tiba tiba suara penuh kebencian terdengar di belakangnya.


"Bajingan! Orang itu sangat brengsek! Aku menemukan beberapa anak kecil yang di kurung di ruangan gelap! Bunuh saja dia...!"

__ADS_1


Menatap ke sumber suara. Dirga dan lainnya melihat orang orang tadi yang baru pergi untuk menyelidiki bangunan tinggi itu dengan wajah garang serta aura permusuhan tercetak di muka semuanya.


"Benar! Bunuh saja ketiga orang brengsek itu! Aku tidak menyangka jika di balik sikap baiknya mereka sedang melakukan penghianatan kepada bangsa sendiri!"


"Benar! Bunuh saja mereka...!"


"Bunuh..! Bunuh..! Bunuh..!"


"..."


Seketika orang orang langsung mengerumuni tubuh ketiganya yang masih pingsan sambil malayangkan beberapa pukulan serta tendengannya.


Seorang lelaki dewasa, Wanita dewasa dan pria muda maju mendekati Dirga dan berkata dengan sopan. "Tuan! Terima kasih telah membantu keluarga kami menemukan putri kami yang hilang beberapa saat yang lalu." Ucapnya dan mereka bertiga langsung berlutut di hadapan Dirga.


Buk! Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!


Suara tubuh jatuh terdengar secara bertahap ketika semua orang mengikuti kedua lelaki itu untuk berlutut penuh terima kasih.


Dirga melambaikan tangan dan berseru. "Bangunlah! Tidak perlu seperti ini! Sudah sepatutnya kami untuk melindungi kaum manusia dari serangan iblis!"


Tubuh mereka yang masih berlutut langsung berdiri tegak dengan sendirinya karena telah di gerakkan dengan energi Dirga.


Semua orang menatap keempat sosok misterius itu dengan kagum. "Baiklah! Untuk saat ini kalian beristirahat dulu di tempat ini! Aku takut jika ada hal yang tidak di inginkan kembali terjadi!" Seru Dirga kembali sambil mengeluarkan banyak daging daging monster untuk di konsumsi oleh orang orang.


Seketika mereka bertiga membuka kedua matanya yang sayu. Ketika ingin berkata memohon, Mulutnya tidak bisa di gerakkan sama sekali dan hanya diam.


'Apa yang terjadi?' Itulah pikir mereka ketiganya.


"Tuan! Saya menyerahkan ketiganya kepada anda! Bagaimanapun kalian yang sudah menangkapnya dan kami melepaskan untuk anda!" Ucap kembali lelaki dewasa tadi dengan helaan napasnya.


Dirga seketika terdiam. Ia mulai berpikir untuk menemukan Tuan Kota baru agar tidak menjadi kacau.


Ketika masih berpikir. Tiba tiba matanya tak sengaja melihat lelaki yang di kenalnya bersama wanita muda yang tampak duduk dengan ekspresi kosong tidak jauh darinya.


"Hei! Kemarilah! Ada yang ingin aku katakan kepada kalian berdua!" Ucap Dirga memanggil keduanya yang membuat mereka berdua tersadar dari lamunannya.


Semua orang saat ini sedang menikmati makan malam dengan canda tawanya. Saat ini, Dirga, Laniya, Sidik Kenta, Wahyu Kenta, Yanti Kenta beserta putri kecilnya dan dua orang sedang duduk melingkar di tengah api unggun.


Arya dan Retania ia suruh untuk membantu para warga.


Adapun Tuan Kota dan keduanya. Mereka bertiga di tempatkan Dirga di benda Tabung Kehampaan untuk menguji kehebatan benda hadiah dari sistem.

__ADS_1


"Tuan, Aku khawatir jika Keluarga Deska sedang mencari kalian karena rencana mereka telah di bongkar oleh kalian!" Ucap lelaki dewasa tadi yang bernama Sidik Kenta.


"Benar tuan! Aku yakin mereka mengerahkan para bawahannya untuk mencari keberadaan kalian!" Imbuh pria muda di samping Sidik yang bernama Wahyu Kenta.


Dirga dan Laniya hanya tersenyum tipis di balik topengnya. Dirga bertanya kepada mereka berdua. "Apa keluarga mereka sangat kuat?"


Sidik Kenta segera menjelaskan. "Kami tidak mengerti kekuatan asli mereka. Tapi, Jika melihat kelakuan ketiga bedebah itu, Aku yakin kekuatan di belakangnya pasti kuat!"


Dirga menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian matanya menatap ke arah lelaki tua dan wanita muda yang masih terdiam dari tadi.


"Ada apa dengan wajahmu itu?...Tetua Shane!" Ucapan Dirga mengejutkan keduanya dan tanpa sadar matanya melotot ke arahnya.


"K-kamu? Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana bisa kamu mengenal ayahku?" Tanya wanita sambil menunjuk Dirga dengan gemetar. Begitu juga dengan orang yang di panggil Tetua Shane yang masih kaget karena ada orang yang mengenalanya.


Dirga melambaikan tangannya acuh. "Aku melihat kalian dari tadi hanya diam saja. Ada apa?" Ucap Dirga tidak menjawab perkataan wanita itu.


Tetua Shane terdiam ketika di tanyai itu. Ia tidak tahu harus berkata seperti apa dengan orang yang ia tidak ketahui ini.


Ketika ingin menolak. Suara yang tidak asing terdengar di benaknya. 'Ini aku tetua! Jangan takut dan ceritakanlah!'


Tetua Shane terbelalak menatap sosok Dirga yang masih bertopeng dengan tatapan rumit. Ia menghela napas panjang dan menceritakannya. "Aku tidak tahu harus apa. Rumah Lelang Surgawi yang kami bangun telah rata dengan tanah akibat monster tadi!....


Dari cerita itu, Dirga menyimpulkan jika Tetua Shane kebingungan untuk mencari ganti rugi meskipun bukan semuanya salahnya. Anggota anggota rumah lelangnya banyak yang tewas akibat monster monster ganas tadi.


"Karena aku mamiliki cedera dalam, Aku tidak bisa melawannya sama sekali, Apalagi jumlahnya sangat banyak tadi!" Ucapnya mengakhiri dengan menundukkan kepalanya.


"A-ayah...!" Ucap Fanni khawatir serta sedih dengan apa yang terjadi tadi.


"Putriku! Tidak apa apa, Ayah akan mencari cara agar bisa mengganti rugi semuanya!" Ucap Tetua Shane dengan nada lirih.


Sidik Kenta dan kelaurganya yang melihat jika ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh tatapan Dirga, Ia mengerti dan berkata. "Baiklah, Tuan - tuan dan nona, Kami pamit pergi karena ada suatu alasan!" Keluarga Kenta berdiri dan pergi.


Saat ini menyisakan Dirga, Laniya, Tetua Shane dan Fanni. Dirga berkata dengan serius ke Tetua Shane. "Tetua, Aku bisa menyembuhkan cedera dalammu dan bisa membuat kalian berdua naik lagi, Tapi ada syaratnya!"


Kedua ayah dan anak itu saling berpandangan dan menatap Dirga dengan ekspresi masam. "Tuan! Jangan omong kosong! Apa kamu tidak tahu biaya kompensasi ini? Meskipun kamu sangat kuat jangan membual seperti itu!" Cibir Fanni dengan nada kesal.


"Fanni- Tetua Shane ingin berkata, Tapi di sela oleh ucapan dingin Laniya. "Kamu tidak pantas menghinanya!"


Fanni melirik sosok bertopeng di sebelah Dirga dengan tatapan terkejut. "Oh, Tidak kusangka ternyata kamu wanita! Bagus! Aku yakin kamu punya maksud tertentu, Katakan! Apa maksud semua ini?" Ucap Fanni dengan nada permusuhan ke arah Laniya.


Laniya menggertakkan giginya dan berkata dingin. "Cih! Kamu tidak ada apa apanya denganku. Aku memberimu kesempatan untuk memikirkan perkataannya tadi." Sambil menggenggam tangan Dirga dan berdiri. "Ingatlah perkataanku!" Imbuhnya seraya menyeret tangan Dirga pergi menjauh.

__ADS_1


Fanni yang di hina oleh Laniya menahan kekesalannya. "Berpura pura saja dirimu! Aku tidak akan peduli dengan ucapanmu!!" Teriaknya ke arah perginya Laniya dan Dirga.


__ADS_2