Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 169


__ADS_3

 "Apa ini, Zining?" Tanya Dirga membuat dua gadis kecil itu berhenti rebutan.


Zining melangkah mendekati Dirga. Fei Ha yang melihat ini pun matanya berbinar.


"Ck! Eliksir selangka ini mending buat aku dan tuan!" Decak Fei Ha dan kembali melakukan aksinya.


Zining meraih benda yang di pegang Dirga dan melihatnya bolak balik seolah sedang mengingat - ngingat sesuatu.


"Ah! Zining baru ingat tuan! Benda ini Zining temukan di sebuah desa Alam saya. Namun saya tidak mengerti apa tulisan itu!" Kata Zining menghela napas dan mengembalikannya ke Dirga.


Dirga mengangkat kedua alisnya mendengar perkataan akhir Zining barusan.


"Kalau begitu, Apa aku boleh menyimpannya?" Tanya Dirga merasa logam ini bukanlah benda biasa.


Meskipun ia tidak mendeteksi akan adanya aura di dalamnya.


Zining mendongak menatap aneh tuannya, mengapa begitu tertarik benda tak berguna baginya itu?


Meskipun begitu, Ia berkata mengangguk tersenyum. "Tentu saja! Bahkan tuan boleh mengambil semua benda milik Zining!"


Mengangguk puas. Dirga pun menyimpannya dan kembali melihat satu persatu tanaman berharga di tempatnya.


Setengah jam kemudian...


Dirga menghela napas panjang.


"Benda benda seperti ini tidak berguna untukku! Tapi..."


Ucapnya terputus memikirkan untuk apa tanaman spritual langka sebanyak ini?


Boom!


Tiba - tiba ia mendengar suara ledakan teredam di samping kanannya.


"Yeay! Akhirnya aku berhasil membuat Pil tingkat 5!!" Ucap Zining kegirangan sambil melompat lompat kecil.


"Oh, Ternyata kamu seorang Alkemis juga!" Ucap terkejut Dirga mengetahui Zining yang baru membuat Pil.


Zining menoleh ke asal suara itu dan wajahnya merah malu. "Eh- Tapi Alkemis sepertiku ini hanya Alkemis tingkat bawah di Alamku!"


Ucap cemberut Zining dan menghampiri Dirga lalu duduk di sebelahnya.


"Oh..Minimal harus Pil bintang berapa jika menjadi Alkemis tingkat atas?" Tanya Dirga sedikit terkejut namun kembali tenang.


Zining perlahan berkata. "Seingat Zining, Alkemis tingkat bawah harus bisa membuat Pil bintang 1-5. Alkemis menengah 6-8. Dan untuk Alkemis tingkat atas sangat langka di Alam ku! Seingatku, Hanya Alkemis tingkat menengah yang ada dan itupun hanya bisa mentok membuat Pil bintang 8"


Mendengar pernyataan Zining barusan, Dirga agak sedikit tersenyum tipis.


Jika mereka tahu Dirga adalah Alkemis tingkat atas mungkin dirinya menjadi rebutan para Kultivator kuat.


"Apa tuan juga seorang Alkemis?" Tanya Zining meskipun ia menebak jika tuannya bukan seorang Alkemis.


"Hmm, Apa Zining ingin melihatku membuat Pil?" Dirga mengangguk dan berkata mengejutkan Zining.

__ADS_1


"Ah? Tuan seorang Alkemis?" Tanya kaget Zining dan di angguki Dirga.


"Kalau begitu, Bolehkah Zining melihat cara tuan membuat pil?".Imbuh Zining memelas penasaran akan seperti apa tingkat Alkemis tuannya.


"Tentu!" Jawab Dirga tak keberatan.


Di saat itu juga, Lima jarinya menunjuk kedepan dan lima tanaman memancarkan cahaya emas mengambang di depan keduanya.


Di bawah tatapan tercengang Zining, Lima tanaman itu berputar lembut dan putarannya menjadi semakin kencang.


Wushh!


Berputar hebat kemudian menyatu dan memancarkan cahaya sesaat lalu menghilang.


Terlihatlah tiga buah pil berwarna emas dan juga aroma bahan herbal menyebar di tempat itu.


Zining meraih satu pil itu dan matanya melotot sempurna.


"I-ini Pil Peledak Energi bintang 9???" Pekik Zining dengan suara cemprengnya yang nyaring.


Menatap wajah tuannya yang tidak berubah dan hanya datar itu membuatnya bingung.


"Tu-tuan!? Bolehkah Zining mengambilnya??" Ucap Zining dengan wajah memelas nya.


Ia tahu jika Pil buatan Dirga bukanlah sembarang pil. Jika ia menelannya, Ia bisa menyimpan energi alam sebanyak banyaknya di dunia akan sedikitnya energi ini.


"Tentu boleh! Tiga pil itu tidak berguna untukku. Zining boleh mengambil semuanya!" Ucap santai Dirga melambaikan tangannya.


Namun kini bukan saatnya untuk mengomel. Dirga telah memberikan tiga pil itu untuknya dan dengan senang hati menerimanya.


"Hehe, Tuan! Terima kasih! Nanti jika Zining selesai kultivasi, Zining akan memberi hadiah untuk tuan!"


Ucap Zining gembira akan pemberian Pil Dirga.


Sebelum dirinya pergi, Ia sempat mencium bibir tuannya dengan wajah memerah lalu pergi meninggalkan Dirga.


Dirga yang di tinggalkan begitu saja oleh Zining hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecut.


Melihat ke depan jauh, Dimana ia melihat Fei Ha sedang bersila di atas dahan pohon besar.


Merasa kesepian, Ia memutar otaknya agar tidak larut dalam kegabuttannya.


"Pagoda Langit? Hm, Sepertinya aku harus melihat tempat ini!" Ucap Dirga baru ingat dan tubuhnya menghilang.


Wushh!


•••


Sekte Pedang Langit Abadi


Saat ini Laniya, Tetua Shane, Tei, Zei, Fanni, Xenia Xu, Bai Lubai, Retania, dan dua leluhur nampak duduk di kursi melingkar.


"Apa kalian benar - benar tidak tahu akan perginya Master?" Tanya Tetua Shane pada para wanita Sekte.

__ADS_1


"Kami benar - benar tidak tau tetua! Terakhir Master bersama kami berempat, Namun saat kami memasuki ruangnya, Tiba - tiba kita tidak mendeteksi auranya lagi!"


Kata Laniya sedikit cemas, Meskipun ia sendiri selalu di tinggalkan oleh Dirga di dunia cermin.


Mendengar perkataan Laniya barusan. Semuanya saling diam seolah sedang berpikir.


"Hmm, Ini bukan pertama kalinya Master menghilang. Aku berharap Master dalam keadaan baik - baik saja!"


Ucap Leluhur Siwa Kenta dengan suara dalam dan di angguki semuanya berharap seperti itu.


"Sekarang, Bagaimana dengan perkembangan para murid?" Ucap Leluhur Sido Lawang mencoba mengalihkan pembicaraannya menatap Tetua Shane, Tei dan Zei.


Karena ketiga orang itu yang menjaga dunia cermin selain Andira. Murid Dirga.


"Leluhur, Semenjak seribu murid sekte sebelumnya memasuki dunia cermin, Banyak sekali yang menerobos tingkat di dunia itu!" Jelas Tetua Shane dan di angguki Tei dan Zei.


"Benar leluhur! Sekitar tujuh ratus murid laki laki yang terkuat berada di Raja Langit menengah dan yang terlemah hanya Alam Bumi tingkat atas!" Imbuh Tei menyerukan.


Dan di pertegas oleh Zei. "Sisanya adalah murid perempuan yang terkuat adalah Raja Langit awal dan yang terlemah Alam Bumi tingkat awal juga!"


Mendengar itu, Para bawahan Dirga menangguk dan mengulum senyum.


"Baguslah, Tapi sepertinya aku melihat masih ada beberapa murid yang belum kamu jelaskan!" Ucap Leluhur Siwa Kenta mengangguk dan bertanya pada ketiganya.


Namun di sela tegas oleh Laniya yang berdiri. "Itu pasukanku sendiri! Master yang membuatkan pasukan itu! Biarkan aku sendiri yang melatihnya dan jangan ikut campur dengan pasukan Bunga Langit ku!!"


Mendengar perkataan Laniya barusan. Leluhur Siwa Kenta mengernyit namun menganggukkan kepalanya mengerti perkataan Laniya.


Setelah itu mereka pun berbincang bincang hangat dan itu membuat suasana di ruangan itu menjadi lebih hidup.


Di sela perbincangan mereka, Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang pelayan wanita cantik.


"Maaf para tetua sekalian! Kami ingin melaporkan jika di atas Sekte ada tiga Burung putih!" Ucap pelayan itu membungkuk hormat.


"Burung Peri???"


Pekik Leluhur Siwa Kenta, Sido Lawang, Tetua Shane dan Bai Lubai secara serempak.


Keempatnya saling memandang dan kembali menatap pelayan wanita itu.


"Apa yang mereka katakan?" Kata Leluhur Sido Lawang merasa aneh dengan kemunculan Burung pihak Kekaisaran ini.


Pelayan wanita itu menjawab dengan hormat.


"Kami mendengar jika mereka kesini hanya untuk menjemput Yang Mulia Putri!"


"Yang Mulia Putri!??" Ucap semuanya yang berada di ruangan serentak.


Mereka bertanya - tanya tentang siapa sosok yang mereka sebut sebagai Yang Mulia Putri?


Apa di Sekte ini ada sosok yang memiliki latar belakang mengerikan itu?


Namun siapa itu?

__ADS_1


__ADS_2