
Dunia Luar
Saat ini, Arya, Retania, Tetua Shane dan Fanni sedang duduk melingkar di meja yang agak memanjang di temani segelas cangkir teh.
Dari ekspresi mereka, Nampak serius. Tetua Shane berkata. "Apa kalian tidak melihat di mana Master muda? Sudah tiga berlalu aku tidak melihatnya sama sekali!"
Mereka bertigia menggelengkan kepalanya, Arya berkata dengan ekspresi tenang. "Kami juga tidak melihatnya! Tapi jangan khawatir, Tuan muda pasti melakukan kultivasi tertutup, Jadi dia tidak keluar selama ini!" Padahal di hatinya ia sedikit risau karena tak merasakan jejak Tuan mudanya sedikitpun.
Tetua Shane mengangguk meskipun agak ragu,Tapi ia berkata untuk mengalihkan pembicaraan dengan wajah muram. "Keadaan kota ini kembali sedikit kacau, Pada saat aku keluar sekte, Aku mendengar desas desus para warga jika ada beberapa orang yang tiba tiba menghilang!"
Arya, Retania dan Fanni baru mengetahui informasi ini terkejut. Karena sebelumnya mereka tidak keluar sama sekali saat Sekte Pedang Langit Abadi baru di bangun.
Retania bertanya. "Apa Tetua mengetahui siapa orang orang yang hilang itu?"
Tetua Shane mengernyitkan dahi dan menjawab. "Aku mendengar jika orang yang hilang itu hanya gadis gadis." Berhenti sejenak, Lalu ia berkata dengan terkejut. "Tehnik iblis??... Ya! Pasti itu tehnik iblis!"
Arya dan Retania saling berpandangan tidak tahu maksud perkataan Tetua Shane. "Maksud Tetua?" Ujarnya bersamaan.
Tetua Shane segera menjawab dengan mengingat ingatannya. "Aku yakin jika hilangnya para gadis itu pasti ada seseorang yang akan membuat ritual pengorbanan, Tidak menutup kemungkinan iblis itu sendiri. Konon katanya, Ritual itu memerlukan gadis gadis untuk mengaktifkannya dan menyerap semua esensi gadis seperti darah, daging dan lain lain hingga menyisakan tulang belulangnya saja!" Setelah berkata itu, Raut wajahnya berubah ngeri.
Arya menangkap perubahan ekspresi Tetua Shane, Lalu berkata agak ragu. "Bagaimana Tetua bisa tahu tentang semua ini?"
Sebelum Tetua Shane menjawab, Fanni memotongnya dengan penjelasannya. "Dulu, Saat usiaku berumur tujuh belas tahun aku di culik oleh seseorang...Aku di bawa ke tempat yang gelap dan di penuhi belasan perempuan yang seusiaku!" Berhenti sejenak, Ia melanjutkan. "Saat itu aku melihat seorang yang memiliki tubuh dua meter dan besar yang sedang menyesap darah gadis gadis itu dengan lahap! Aku takut waktu itu!" Ia berhenti membayangkan kejadian silam yang mengerikan baginya.
Arya dan Retania yang baru tahu ada hal yang di luar nalar semua ini terkejut. Retania berkata penasaran dengan alis sedikit terangkat. "Bukankah waktu itu kamu dalam kondisi tidak bisa kabur? Lalu bagaimana kamu bisa bebas hingga saat ini?"
Wajah Fanni berubah memerah dengan kepala menunduk malu. Arya dan Retania mengangkat kedua alisnya melihat reaksi aneh Fanni. Mengalihkan pandangannya ke arah Tetua Shane berharap bisa mendapatkan penjelasan.
"Dia pamit kencing waktu itu!" Jawabnya singkat dan mendapatkan pekikan serta lototan mata Fanni. "Ayah...!"
Arya dan Retania kebingungan dengan kedua orang ini. Jadi Arya berinisiatif bertanya ke Tetua Shane. "Bagaimana Tetua tahu kondisi Fanni saat itu?"
"Sebenarnya Fanni bukanlah putri kandungku..!" Ucapnya yang mengagetkan mereka berdua. "Waktu itu, Aku kebetulan melihat kereta kuda yang di dalamnya terdapat beberapa aura seseorang, Karena aku penasaran, Jadi aku mengikutinya!" Tambahnya sambil menatap Arya dengan tatapan rumit.
"Ada apa?" Tanya Arya ketika menangkap tatapan yang tidak bisa di jelaskan oleh Tetua Shane, Begitupun juga dengan Retania, Sedangkan Fanni hanya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Terdengar helaan napasnya dari lelaki tua itu. "Hah! Saat itu, Aku belum bergabung dengan anggota Rumah Lelang Surgawi, Aku hanya pria bebas yang hanya bisa berkelana kemanapun yang ku inginkan. Tepat aku melihat kereta tadi, Aku berpikir jika itu anggota assasin tersembunyi yang hebat karena aku melihat pakaian mereka yang serba hitam."
"Singkatnya, Kereta kuda itu menuju ke suatu goa yang aku tidak tahu apa di dalamnya, Karena penasaran aku mengikutinya hingga dalam. Tapi yang membuatku marah, Ada banyak tulang belulang yang berserakan di segala sisi goa itu dan aku juga melihat penjara besi yang di dalamnya ada beberapa gadis yang kondisinya semuanya terikat dan juga ada Fanni di dalamnya"
"Seperti yang di katakan Fanni sebelumnya, Aku melihat dia keluar seolah mencari sesuatu agar bisa kabur, Sebelum itu, Aku sempat membuka pintu penjara itu tapi tidak berhasil. Akhirnya aku hanya bisa menyerah dan mengikuti Fanni yang di jaga oleh dua orang Raja Langit. Tapi, Aku terbesit di benakku untuk menolong gadis kecil ini dan akhirnya aku bisa membawanya kabur tanpa masalah yang serius. Karena dia tak memiliki seorangpun, Jadi aku memutuskan merawatnya apapun terjadi!" Jelasnya mengakhiri sambil menatap Fanni dengan lembut serta senyumnya.
"A-Ayah...!" Fanni terbata sedih ketika mendengar ceritanya.
Adapun Arya dan Retania yang kini tahu, Mereka berdua menatap keduanya dengan pandangan rumit serta kasihan. Tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Arya berkata serius. "Jadi, Apa yang harus kita lakukan dengan masalah ini? Apa ini berkaitan dengan orang orang yang tetua ceritakan?"
"Bisa jadi!" Jawab Fanni tegas.
Tetua Shane berpikir sejenak lalu berdiri dari duduknya. "Kerahkan beberapa murid untuk mengawasi keadaan Kota malam ini! Aku yakin jika mereka beroperasi saat malam hari!" Ujarnya dengan tegas.
"Baik Tetua Agung!" Ucap Arya dan Retania serempak dan berlalu pergi meninggalkan Tetua Shane yang masih nampak menatap kosong putri angkatnya.
"Ay-Ayah!" Ucap Fanni dengan air matanya yang mengalir dan memeluk Tetua Shane yang sudah ia anggap sebagai ayahnya saat ini.
"Jangan menangis! Ayah akan melindungimu kali ini!" Ucapnya tegas seraya memeluk putri angkatnya dengan penuh kasih sayang.
Di tempat yang tak di ketahui. Dirga membuka matanya dan segera pandangannya berubah jelas dan saat ini ia berada di ruangan aneh.
Ruangan itu hanya memiliki satu warna, Yaitu putih. Segala arah yang di pandangnya hanyalah putih dan putih.
"Ugh! Sial! Dimana ini sebenarnya sistem!" Gumamnya sambil memegangi kepalanya yang bingung.
"Hohoho! Teman! Akhirnya kamu kesini juga!"
Sebuah suara yang terdengar tidak asing menggema dari segala arah membuatnya sedikit cemas.
"S-Siapa kamu? Cepat! Tunjukkan dirimu!" Teriak Dirga sambil menoleh ke segala arah, Tapi tak melihat siapa itu. 'Sistem! Dimana ini sebenarnya?' Tanyanya di benak.
Lama menunggu, Tidak ada respon dari sistem membuatnya sedikit panik.
"Hohoho, Tidak perlu takut! Aku tidak akan menyakitimu! Menyentuhmu saja aku tidak bisa!" Suara itu kembali terdengar dari belakangnya.
__ADS_1
Reflek, Ia membalikkan badannya dan melihat siluet seorang pemuda yang cukup tampan sedang melayang.
Tapi, Ia mengerutkan keningnya dan merasa tak asing dengan suara itu dan wajahnya juga seperti pernah melihatnya tapi tak tahu dimana.
"Siapa kamu? Tempat apa sebenarnya ini? Bagaimana aku bisa berada disini? Di mana jalan keluarnya" Cecar Dirga menatap siluet itu dengan mata menyipit.
Siluet itu hanya terkekeh pelan lalu mengendikan bahunya acuh. "Aku juga tidak tahu tempat ini, Sudah lama aku terkurung di tempat sialan ini, Tapi tidak ada jalan keluarnya!" Ucapnya menatap Dirga.
Dirga menatap siluet itu dengan serius dan berkata dingin. "Maksudmu?"
Siluet itu menatap balik Dirga lalu tersenyum. "Aku tidak tahu tempat apa sebenarnya ini! Tapi aku pernah mendengar suara aneh yang menyeramkan membuatku takut selamat ini!" Dengan raut wajah pucatnya.
Dirga menatap pemuda itu dan berkata acuh. "Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa kamu bisa berada disini?"
Siluet itu menatap Dirga dengan penuh prihatin. "Seorang pemuda yang malang di khianati orang tua angkatnya dan teman temannya lalu berakhir di bawah jalan dan berakhir dengan wanita, Tapi ternyata pemuda itu mati karena di pukul orang - orang besar!" Ucapnya menatap Dirga.
Dirga tercengang begitu mendengarkan perkataan siluet ini. Dengan wajah dingin, Ia menunjuk pemuda itu. "Bagaimana kamu tahu?"
Siluet itu diam seperti berpikir keras. "Aku melihat layar array yang tiba tiba muncul dan melihat jelas wajahmu yang ada di layar waktu itu?" Ucapnya sambil menatap Dirga.
Dahi Dirga mengernyit, "Layar? Array? Apa itu? Kenapa aku bisa terlihat di layar itu? Apa benda itu televisi?" Gumamnya.
"Televisi? Apa itu?" Ucap siluet itu dengan alis terangkat menatap Dirga dengan dahi berkerut.
Mereka berdua saling diam dengan dahinya mengkerut kerut. Tak tahu apa yang mereka pikirkan ini.
Dirga melirik siluet pemuda itu dengan heran. "Siapa kamu sebenarnya?"
Siluet itu mengangkat satu alisnya dan mendecihkan lidahnya. "Cih! Bukankah kamu yang menempati tubuhku sekarang?"
Mata Dirga melebar menatap sosok itu, Pantas saja ia merasa tak asing dengan wajah maupun suara siluet pemuda di depannya. Ternyata dia adalah pemilik tubuh yang ia tempati.
"Jadi kamu Pangeran Qin Diega itu? Huh! Aku tak tau mengapa aku tiba tiba saja menempati tubuhmu!" Ucapnya sambil mendengus dingin.
"Hehe, Teman! Jangan marah seperti itu, Aku juga tak mengerti kenapa jiwaku bisa berada di tempat ini, Tapi karena kehidupanku yang...Yah seperti itulah, Jadi lebih baik aku berada di tempat ini meskipun ada suara aneh yang menghantuiku!" Ucapnya sambil menatap Dirga dengan pandangan rumit.
__ADS_1