Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 145


__ADS_3

Wushh!


Bang! 5×


 Dirga muncul di samping sosok itu dan langsung mengibaskan energi kecilnya.


"Arhg...!!"


 Merasa mendengar suara yang mengejutkan, Sosok itu berbalik badan dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.


 "Kamu??" Matanya terbelalak lebar melihat kedatangan sosok pemuda tampan berambut perak ini.


 Dirga mengangguk tipis. "Ya, Nona. Ini aku yang kamu layani tadi! Aku tak sengaja melihatmu berjalan lesu." Ucap Dirga dan membuat gadis bernama Selly ini menunduk.


 Dirga sepertinya tahu apa yang di rasakan gadis ini. "Nona, Kamu bisa ikut denganku jika ingin bekerja. Kamu juga bisa berlatih kultivasi di sana!" Imbuh Dirga.


 "Benarkah?" Mata Selly berbinar ketika mendengar kata kerja.


 Meskipun ini pertama kalinya melihat sosok Dirga ini, Entah kenapa dirinya merasakan jika pemuda di sampingnya ini bukan pemuda sembarangan.


 "Ya! Di sana juga banyak perempuan dan gadis sepertimu, Kamu bisa berkenalan dengan mereka untuk menambah teman!" Dirga berkata mengangguk dan sedikit menjelaskan.


 Mendengar perkataan Dirga, Selly menjadi tertunduk. Selly adalah gadis desa yang tidak memiliki orang tua sejak umur 10 tahun.


 Dia di adopsi oleh seorang nenek tua yang memiliki rumah di hutan yang jauh dari penduduk kota maupun desa.


 Tentu saja ketika mendengar kata teman, Dia menjadi ragu karena dulu dia selalu di jauhi oleh anak seumurnya karena miskin lah atau yatim piatu lah dan masih banyak lagi.


 "Nona, Percayalah padaku, Aku bukan orang jahat seperti yang kamu pikirkan. Aku sedikit kasihan melihat gadis cantik sepertimu yang tidak memiliki arah tujuan hidup." Ucap Dirga membuat Selly semakin malu karena pikirannya di tebak oleh Dirga.


 "Tapi, Mereka?..." Selly berkata menunjuk ke depan di mana depan ada lima pria kekar yang berguling guling di tanah.


 "Mereka hanya bandit - bandit kecil yang hampir menculik mu" Ucap Dirga yang mengejutkan Selly karena ia tak menyadari akan hal itu.


 Meskipun begitu, Ia bersyukur karena kehadiran Dirga yang menyelamatkannya dari keteledorannya.


 "Nona, Aku tak punya waktu banyak, Jika mau, Aku bisa mengantarmu kesana. Kebetulan aku ada urusan di sana." Dirga berkata mendesak dan mengeluarkan Pedang Chaosnya.


 Di bawah tatapan tercengangnya Selly. Dirga menyentuh ujung pedang dan melemparkannya ke depan.


 Seketika saja, Pedang yang berukuran satu meter menjadi panjang dan membesar lalu membesar.


 Dirga naik ke atas pedang lalu melirik Selly yang membuka mulutnya lebar lebar itu. "Nona, Ayo naik!" Ucapnya.


 "Eh?- I-iya iya." Selly berkata salah tingkah karena menyadari dirinya ambigu.


 Setelah keduanya naik di atas pedang, Dirga menambahkan tekanan energinya dan pedang itu terbang melesat sangat cepat.


 "Aaaaa!!" Selly berteriak terkejut melihat kecepatan terbang pedang milik Dirga.


 Tanpa sadar ia memeluk tubuh Dirga dengan erat karena takut tubuhnya jatuh dari tingginya langit.


•••


Boom!


Krack! Krack! Krack!...Pyar!!!


 Suara ledakan yang sangat keras terdengar dan di sertai suara retakan serta pecahan kaca.


 "Formasi kita hancur! Serang mereka!!" Tetua Shane yang melihat Formasi Sekte nya hancur segera memberi perintah.


 "Cih! Ternyata formasi ini sangat lemah! Buang buang energi saja!" Tuan Jing mendecih dan mencibir Formasi milik Dirga.


 Tangannya terentang kesamping dan sebuah bola energi hitam muncul dan langsung mengerahkan ke para murid Sekte Pedang Langit Abadi.


 "Menghindar!!" Tetua Shane, Tei dan Zei yang menyadari akan serangan bola energi itu berteriak muram.


 Namun terlambat, Bola energi itu langsung mengenai banyak tubuh para murid Sekte Pedang Langit Abadi.


Boom!


Tetua Shane melihat setengah murid yang terkapar di tanah dengan kondisi yang terlihat terluka parah.


 Mereka semua ada yang pria dan juga wanita yang membuat matanya merah marah.


 "Brengsek! Siapa dia sebenarnya? Apa yang mereka inginkan dari kami?" Tetua Shane memaki kesal melihat kekuatan mengerikan dari Tuan Jing ini.


 "Tetua, Sebaiknya kita bertiga menyerang tua bangka itu! meskipun gak berguna, Tapi kita bisa mengulur waktu sambil menunggu kedatangan Master!" Usul Tei dan di angguki Zei.

__ADS_1


 Tetua Shane mengangguk. "Tidak peduli siapa yang menang. Aku akan tetap maju melawan dia!" Ucapnya menggertakkan gigi.


Saling mengangguk satu sama lain, Ketiganya melesat sambil mengeluarkan senjatanya masing masing.


"Hmph! Senjata seperti itu tak berguna untuk melawanku! Lebih baik berikan padaku!" Tuan Jing mencibir senjata ketiganya meskipun agak sedikit terkejut di hatinya melihat tingkat senjata itu.


"Berisik!!"


Boom!


Di sisi lain, Retani, Rista dan para murid tersisa sedang mencoba melawan dan menghindari serangan demi serangan yang di luncurkan oleh musuh.


"Cantik...Menyerahlah! Lebih baik ikut aku dan aku akan menunjukkan puncak kenikmatan dunia ini!" Seorang pria muda namun wajahnya agak pucat berkata mesum melihat kecantikan Retania dan Rista.


"Cih! Aku tak sudi dengan wajah babimu itu!" Retania mengumpat dan menghindari serangan yang hampir menusuknya dari belakang.


Boom!


"Kak! Jumlah mereka sangat banyak! Kita tidak bisa melawan semuanya!" Bisik Rista sedikit terengah karena energinya banyak yang terkuras.


"Aku tahu! Tapi kita tidak boleh menyerah! Tunggu sampai Master datang!" Retania tetap gigih dengan semangat juangnya melawan musuh.


"Ck! Udah di kasih kesempatan malah memilih bertarung. Tapi tetap saja kalian tidak akan lepas dariku!..Semua! Serang mereka!" Pria pucat itu maju dan memukul tombaknya bersama yang lain.


Boom!


Pada saat yang sama, Leluhur Siwa Kenta dan Leluhur Sido Lawang saat ini saling bertatap punggung satu sama lain.


Keduanya bertarung menjauh dari Sekte agar tidak membuat kerusakan parah di sekitar Sekte.


Saat ini, pakaian yang di gunakan banyak robekan di mana mana. Rambutnya berantakan seperti gelandangan. Ada jejak darah di dada keduanya.


"Ugh..!! Mereka sangat kuat! Apalagi mereka sudah mengkultivasi tehnik iblis cecunguk itu membuatnya semakin kuat!" Leluhur Sido Lawang berkata dengan nafas terengah sambil memuntahkan sedikit darah.


"Hah, Meskipun begitu, Kita tidak boleh menyerah begitu saja! Mereka adalah manusia terkutuk yang sudah menyusahkan umat manusia!" Leluhur Siwa Kenta berkata menggertakkan gigi marah.


Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Saat ini, Keduanya terpojok oleh empat orang Setengah Immortal. Dua awal dan menengah.


Mudah bagi keduanya jika melawan satu satu, Tapi lagaknya pihak lain tidak memberikan kesempatan itu.


"Hahaha, Pak tua! Apa kamu menyesal melihat kelemahanmu itu? Sudah tua lebih baik mati saja!" Hua Bhot yang berkata mencibir.


"Kau juga tua idiot!" Leluhur Siwa Kenta marah mendengar Master nya di remehkan.


Dengan sisa kekuatannya, Ia dan Leluhur Sido Lawang menebaskan pedang ke depan dengan gerakan yang sama sambil memejamkan matanya.


Niat Pedang — Tebasan Pedang Giok


Keduanya merapalkan tehnik yang selama ini keduanya rahasiakan dari luar, Bahkan Dirga pun juga tidak mengetahuinya.


Sebuah cahaya biru ke unguan muncul dari ujung pedang keduanya. Dua cahaya biru ke unguan itu melesat ke atas dan membentuk siluet pedang ungu raksasa.


Aura Niat Pedang berkumpul dan mengeluarkan tekanan yang luar biasa.


Ekspresi keempatnya berubah drastis ketika melihat siluet pedang raksasa itu.


Aura dari siluet Pedang itu mengeluarkan tekanan aura yang membuat gerak tubuh keempatnya terkunci.


"Brengsek! Cepat buat perisai pelindungan!!!" Hua Bhot berseru kepada ketiganya.


Segera, Keempatnya melakukan gerakan yang rumit dan tidak di mengerti.


Lalu cahaya hitam keabuan yang penuh dengan aura iblis muncul dan membentuk kubah yang melindungi tubuh keempatnya.


"Maju dan hancurkan!" Kedua leluhur itu berseru serempak dan membuka matanya yang memancarkan cahaya ungu sesaat.


Wushh!


Siluet pedang raksasa itu bergerak dan ujungnya mengarah keempatnya yang kini wajahnya pucat lalu terbang sangat cepat.


Boom!!


Suara ledakan kembali bergema di sekitarnya. Pohon pohon yang ada di bawah jauh seketika tercabut oleh sapuan angin.


Dampak dari serangan itu membuat kedua kubu yang saling menyerang itu berhenti sejenak karena merasakan sapuan aura yang mengerikan.


Dahi Tuan Jing mengernyit merasakan aura yang membuat firasatnya tidak enak.


Namun belum sempat pergi untuk melihat empat bawahannya, Ia melihat ke bawah dengan tatapan tercengang.

__ADS_1


Dhuar! Dhuar! Dhuar! Dhuar! Dhuar!


Ia melihat tubuh para pasukannya yang entah bagaimana tiba tiba meledak menjadi kabut darah.


Tak lama setelahnya, Ia merasakan aura ratusan Alam Langit menuju kemari dengan aura membunuh yang kental.


'Apa yang terjadi?' Batinnya terkejut melihat situasi yang berubah.


"Berhenti! Menjauh dari sini?" Tuan Jing berteriak kepada para pasukannya yang sedang bertarung di bawah.


Saat ini ia baru menyadari jika para pasukannya banyak yang hilang sudah jelas jika tewas.


Belum sempat ada yang bereaksi, Dari arah selatan muncul lesatan cahaya warna warni berbentuk pedang memanjang melaju ke para pasukannya.


Boom!


Seketika lima ratusan pasukannya terpenggal saat itu juga membuatnya seketika marah.


"Siapa? Siapa yang melakukan ini?" Tuan Jing berteriak marah.


Seketika aura ranah Setengah Immortal tahap akhir langsung meledak dari tubuhnya di sertai aura iblis yang pekat.


Semua yang ada di tempat itu tidak bisa untuk tidak berlutut menahan nafas yang terasa mencekik itu.


Wushh!


Tiba tiba dari arah barat muncul ribuan untaian bunga warna warni yang indah lalu melesat sangat cepat menuju tubuh pasukan Tuan Jing.


Boom!


Dhuarr!


Ledakan kecil di sertai meledaknya tubuh pasukan Tuan Jing membuat pasang mata membulat sempurna melihat keganasan itu.


Banyak potongan potongan tubuh yang berserakan di bawah Sekte. Bau amis darah menyebar kemana - mana.


"Brengsek! Siapa itu? Cepat keluar! Jangan sembunyi sembunyi jika kamu kuat!" Tuan Jing tidak bisa untuk tidak menunjukkan ekspresi cemas di wajahnya.


Bahkan sedikit bulir keringat keluar dari pelipisnya.


Lagi lagi, Masih dalam tercengangnya, Ia melihat banyak sekali untaian - untaian bunga warna - warni yang indah nan harum yang menyebar ke segala penjuru.


Dalam waktu singkat, Ribuan untaian bunga itu berubah menjadi kubah setengah lingkaran yang sangat besar dan mengurung semuanya.


"Formasi Bunga ini memerlukan banyak sekali energi. Kuharap ini bisa menyulitkan mu pak tua! Meskipun tak dapat membunuhmu!"


Suara lembut seorang wanita terdengar bergema. Suara nya yang nyaring dan tenang itu membuat semuanya merasakan berada di surga yang tenang.


"Bajingan! Ini formasi ilusi! Tutup telinga kalian! Jangan terjebak dengannya!" Tuan Jing berteriak menutup mata dan telinga karena ia merasa agak sedikit pusing.


Berbeda dengan semuanya, Saat ini semua sudah berdiri tenang di udara maupun di tanah.


Entah apa yang mereka lihat. Yang pasti semuanya sudah masuk ke dalam ilusi yang penuh dengan bunga yang indah.


Tak terkecuali Tetua Shane, Retania, Rista, Tei dan Zei. Semua murid termasuk Sekte Pedang Langit Abadi pun terkena ilusi itu.


"Hmph! Buka matamu pak tua!" Suara itu bergema kembali di sekitar Tuan Jing membuatnya menggertakkan gigi.


'Sial! Kenapa jadi seperti ini? Jika seperti ini terus aku bisa mati bodoh di tempat terkutuk ini!' Batinnya setengah ketakutan.


Meskipun ranahnya tinggi dari yang lain, Di hadapkan dengan ilusi seperti ini membuatnya tak berkutik. Karena ilusi inilah kelemahan yang dimilikinya!


"Hmph! Padahal aku ingin memberi kejutan kepadamu pak tua!"


Suara tenang nan lembut itu bergema kembali. Hanya dirinya seorang yang bisa mendengar suara itu.


Tak kuasa dengan penderitaan ini. Ia pun membuka matanya.


"Si- " Matanya tiba tiba terbelalak lebar melihat apa yang pertama kali ia lihat.


Sebuah bunga teratai yang sangat besar berwarna hitam setengah putih sudah berada tepat di hadapannya.


Tubuhnya terasa panas dan dingin di waktu yang bersamaan.


Ingin mengelak namun terlambat.


Boom!


"Arhg...!!"

__ADS_1


__ADS_2