
"Si-Siapa kamu?" Tetua Wis bicara tergagap.
Dia tidak tau bagaimana ketiga orang ini bisa memasuki kawasan ini apalagi tempatnya terdapat formasi ilusi.
Dirga berkata ringan. "Orang yang mau mati tidak perlu banyak bertanya!" Setelah itu, Ia mengeluarkan pedangnya dan menebas dengan kecepatan cepat.
Mata Tetua Wis terbuka lebar ketika kepalanya tiba tiba terpisah dari tubuhnya.
Memasukkan kembali pedangnya. Dirga menjentikkan jarinya dan belasan bola api hitam melesat membakar tubuh mereka menjadi abu.
Laniya dan Fanni yang melihat itu seketika merinding. Dirga meliriknya sejenak dan berkata. "Ayo...Ada harta di ruangan itu. Kita kuras habis semuanya!"
Kedua wanita itu mengangguk dan mengikuti langkah kaki Dirga ke arah lorong panjang namun terdapat beberapa pintu besi.
Sebelum membuka pintu ruangan pertama. Dirga melirik ke arah sudut tertentu sambil tersenyum tipis.
Di sudut tertentu. Tentu saja ada seseorang yang mengawasi dari tadi. Bayangan itu seketika tersentak melihat tatapan pemuda berambut perak itu mengarah ke arahnya.
'Bagaimana bisa?!' Gumamnya di hati dengan ekspresi berubah.
Tidak mau di tangkap oleh pihak lain. Bayangan itu pergi melesat sambil mengumpat. "Sialan! Siapa pemuda itu? Bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanku? Dan...Dan bagaimana bisa dia memasuki Formasi tanpa menghancurkannya?...Sialan!"
Dirga kembali tersenyum tipis melihat kepergian orang itu. Dirga tidak ingin menghentikan orang itu karena ia ingin mengetahui dia mau kemana.
Laniya dan Fanni yang melihat ekspresi aneh Dirga membuatnya penasaran. "Sayang...Ada apa?" Tanya Laniya dengan nada lembut sambil melingkarkan tangannya ke lengan pemuda itu.
"Tidak apa! Hanya semut kecil yang baru saja mengintai kita! Dia sudah pergi dari sini!...Nanti aku akan memberi misi Arya dan lainnya." Jawab Dirga acuh.
"Emmm~" Keduanya mengangguk dengan senandung lirih nya.
Dirga tersenyum masam ketika dirinya di apit oleh dua wanita cantik ini. Menjentikkan jarinya ke pintu besi itu.
Seketika pintu itu leleh dengan cepat dan menampilkan pemandangan indah di dalamnya membuat mata siapapun berbinar.
"Waw! Koin emas sebanyak ini? D-Dan Batu Roh? Senjata tingkat Langit!" Seru Fanni dengan membuka mulutnya lebar lebar.
Dirga yang melihat itu tak ada ekspresi senang sedikit pun. Ia mengeluarkan lima cincin penyimpanan dan memberikan ke kedua wanitanya.
"Masukkan semuanya ke cincin ini! Aku akan melihat lihat sebentar!" Perintah Dirga.
"Kamu mau kemana?" Tanya Laniya melihat Dirga membalikkan badannya.
"Hanya penasaran dengan lorong depan!" Jawab Dirga acuh dan meninggalkan mereka berdua.
Padahal, Dirga pergi ke ruangan ke dua sampai ruang kelima untuk menguras benda berharga. Karena ruangan pertama cukup besar, Jadi ruangan kedua sampai kelima memiliki ukuran kecil dan letaknya cukup sempit di lewati.
Melihat kepergian Dirga. Kedua wanita itu kembali menghela napas dan terjadi situasi yang canggung. Karena ini pertama kalinya mereka berdua bertemu.
Sambil memasukkan barang. Fanni berdehem pelan. "Hem! A-Apa aku boleh bertanya?" Kata Fanni sedikit ragu.
Laniya menoleh dan menjawab singkat. "Boleh! Tanya apa?"
"Itu...Apa kamu tahu siapa sebenarnya Dirga? Dan...Dan apakah kamu wanita pertamanya?" Ucap Fanni dengan sedikit menggigit bibir bawahnya.
Laniya berpikir sejenak dan berkata canggung. "Emm...Sebenarnya aku tidak tahu siapa dia. Awal aku bertemu dengannya karena dia menyelamatkanku di Hutan Terlarang waktu itu!" Laniya sedikit berbohong meskipun ada benarnya juga.
__ADS_1
"Sulit menebak kepribadiannya meskipun aku selalu bersamanya. Entah mengapa, Aku merasa dia sepertinya menyimpan sesuatu besar namun di pendam sendiri." Lanjut Laniya setelah ragu.
Fanni yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya. Lalu berkata. "Aku juga sepertinya merasakan seperti yang...." Tidak melanjutkan katanya dan Fanni berucap lirih. "A-Apa aku boleh memanggilmu dengan saudari?"
Laniya tertegun sejenak mendengar perkataan Fanni. Melihat Fanni yang menundukkan kepalanya bak gadis polos, Laniya menghampirinya.
Memegang tangan Fanni, Laniya berkata. "Kamu bisa memanggilku seperti apa. Meskipun dia selalu bersamaku, Entah mengapa aku merasa hatinya sulit untuk di taklukkan! Kita sebagai wanitanya harus menjadi kuat agar Dirga tidak kecewa dengan kita!"
Fanni yang mendengar perkataan Laniya pun memberanikan diri mendongak dan menatap wajah cantik Laniya yang menatapnya dengan tersenyum.
Bibirnya melengkung menjadi tersenyum. Memeluk tubuh Laniya dan berkata. "Aku paham! Aku paham!...Kita harus berlatih menjadi kuat agar tidak menjadi beban untuknya!"
Laniya balas memeluk Fanni dengan hangat dan melepaskannya. "Biarkan dia memilih jalan takdirnya seperti apa! Kita tidak bisa mengganggunya dan hanya bisa mendukungnya...!" Ucapnya dengan senyum manisnya.
Dia masih ingat dengan kejadian yang berada di Dunia Cermin milik Dirga waktu itu. Jadi ia memberi saran kepada saudari barunya agar tidak membangkitkan kemarahan Dirga.
"Aku akan mengingatnya!" Balas tegas Fanni dengan menambah senyum manisnya.
"Apa kalian sudah selesai? Waktu sudah menjelang malam, Lebih baik kita cari tempat di Kota sebelah untuk beristirahat!" Suara Dirga di belakang mereka seketika membuyarkan mereka berdua.
Dengan senyum kikuknya, Mereka berdua menghampiri Dirga dan kembali memeluk kedua lengan pemuda itu.
"Ayo~" Senandungnya dan melesat pergi di bawah senyum kecut Dirga.
***
Sekte Pedang Langit Abadi
Di ruang bawah tanah, Arya dan ketiga saudara serta tiga leluhur sedang berjalan menghampiri pintu ruangan yang di dalamnya tentu saja Ruang Neraka.
Suwi Lapo menanggapi. "Sepertinya begitu! Tapi aneh bagi kita bertiga tidak bisa mendeteksinya sama sekali."
Arya, Kai, Tei dan Zei yang mendengar percakapan konyol ketiga leluhur Sekte Giok Abadi itu tidak tau harus tertawa atau menangis.
Tiga leluhur tidak bisa mendeteksi Formasi buatan seorang pemuda adalah pernyataan yang sangat mengejutkan namun fakta.
Sudah jelas, Jika tehnik Formasi Master nya sangat hebat, Bahkan seorang leluhur sekalipun di buat tidak berkutik.
"Leluhur, Memang benar tempat ini telah terpasang Formasi ilusi buatan Tuan muda!" Tanggap Arya menjelaskan.
"Hebat! Master kalian ini memang tidak sederhana penampilannya. Bukan seperti Sekte ku yang kini telah berubah semenjak kedatangan si bajingan itu!" Ucap Sido Lawang. Melintas kemarahan di sorot matanya yang tajam itu.
"Lebih baik menunggu, Aku yakin Tuan muda memiliki rencana untuk membantu kalian!" Hibur Arya agar tidak berlarut marah semakin dalam.
Plak! Plak! Plak!
Sampai di ruangan yang agak gelap, Tei dan Zei tanpa babibu langsung melayangkan tamparan ke kelima orang itu membuat yang lainnya terpana.
"Si bajingan ini senang sekali di pukuli! Aku tahu kalian sudah sadar!" Geram Tei dengan menambahkan kekuatan tamparannya.
Plak!
"Ahk!"
Suara tamparan renyah di ikuti suara ringisan pilu kelimanya bergema di ruangan itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian memukulinya? Lebih baik kita bunuh saja kelimanya!" Ucap Arya tak berdaya melihat kedua pemuda itu yang asik menampar.
"Cih! Orang yang suka menindas rakyat, Mati terlalu lembut untuk mereka!" Geram Tei dan melayangkan tamparan yang di bubuhi sedikit energi.
Plak!
"Ahkk!"
"Siapa mereka ini?" Tanya Leluhur Sido Lawang kepada Arya.
"Mereka ini semua antek antek dari Sekte Seribu Pedang! Mereka tadi ingin menyerang Sekte kita. Beruntung Tuan muda bertindak cepat." Ujar Arya dengan sopan.
"Sekte Seribu Pedang?!"
Ketiga leluhur itu terkejut, Lalu saling berpandangan satu sama lain dengan sudut mulut terangkat ke atas sedikit.
"Tunggu dulu!" Ketiga leluhur itu menghentikan aksi keduanya.
Di bawah tatapan aneh Arya, Kai, Tei, Zei. Ketiga leluhur itu maju dan menggulung pakaian lengan tangannya.
"Hehe! Sudah lama aku tidak menampar seseorang!" Kekeh Suwi Lapo dengan seringainya.
Mereka bertiga lalu menampar ketiga pihak Sekte Seribu Pedang itu dengan bersamaan.
Plak!
Plak!
Plak!
Suara tamparan yang lebih keras dari sebelumnya terdengar menggelegar. Mata semuanya melebar tak percaya melihat itu.
Karena tamparan tadi langsung menjadikan ketiga manusia itu menjadi kabut darah. Tewas tanpa menjerit kesakitan.
Mereka mengulanginya lagi ketika ada dua yang tersisa.
"Huh! Kenapa tamparanku menjadi berkurang?" Gumam Siwa Kenta sambil menatap kedua tangannya dengan wajah bodohnya.
Arya dan kawan kawan kembali tersentak mendengar gumaman pria tua itu. Jika bukan karena ketiganya seorang leluhur,Mereka ingin mencabut rambut ketiganya satu persatu.
Berkata tamparan nya berkurang tapi yang di tampar malah tewas seketika. Bukankah itu tidak waras?
Tiba tiba Arya tersadar karena cincinnya bergetar. Memeriksa sejenak dan ekspresinya berubah.
Kai yang melihat perubahan ekspresi Arya bertanya. "Saudara. Ada ap- Arya langsung menyelanya dengan sedikit serius. "Tuan muda memberi kita misi untuk pergi ke arah Selatan Kota Mutian! Tuan muda juga menyuruh kita untuk membawa 50 anggota Sekte...! Kita harus pergi secepatnya!"
Mereka yang mendengar itu pun ekspresinya berubah serius dan langsung mendengarkan perkataan Arya.
"Hei! Apa kita boleh ikut kalian?" Suara Suwi Lapo terdengar membuat ekspresi mereka tersentak.
Melihat keraguan mereka, Sido Lawang berkata ringan. "Jangan khawatir! Bukankah Sekte kalian sudah di selimuti Formasi pertahanan? Aku yakin tidak ada seorang pun yang bisa menghancurkannya!"
"Ya! Aku juga ingin sedikit olahraga! Sudah lama aku tidak menggerakkan tubuh tua ini." Timpal Siwa Kenta dengan lambaikan tangannya.
Para bawahan Dirga berpikir sejenak. Arya mengangguk ringan dan berkata menyetujui. "Baiklah! Kalian bertiga boleh ikut kami!"
__ADS_1
Mereka pun seketika bersemangat ketika melaksanakan perintah dari Tuan muda. Apalagi misinya memungkinkan untuk bertarung dengan pihak lain.