Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 129


__ADS_3

Dirga kembali mengalihkan arah pandangannya ke timur.


Di depannya jauh, ada tiga gunung atau lebih tepatnya di sebut bukit.


Tiga bukit itu berjejer rapi hingga membuat siapapun sejuk memandangnya.


Namun berbeda di mata Dirga. Apa yang di lihatnya bukanlah pemandangan indah seperti orang orang.


Suasana remang temaram,Energi iblis yang kental menggumpal di wilayah itu. Awan awan di atas berwarna hitam dengan gumpalan lebat.


Begitu menakutkan dan menyeramkan!


Di sekitar area bukit, Ada tiga gedung indah berlantai berjajar rapi. Di depan gedung ada banyak tempat tempat tinggal para manusia.


Di beberapa tempat, Ada gapura besar dan bertuliskan Sekte Seribu Pedang!


Dahi Dirga tiba - tiba mengernyit dan bergumam dengan sedikit kejutan di matanya. "Setengah Immortal tahap akhir?? Apakah orang ini di balik latar belakangnya?"


Dirga merasakan ada sekitar lima aura yang memiliki ranah kultivasi setengah immortal berbagai tahap.


Tiga tahap awal, satu menengah dan satunya lagi yang berada di puncak.


"Dari mana mereka mendapatkan orang sekuat ini?" Gumam Dirga penasaran.


Setahunya, Selain tiga leluhur Sekte Giok Abadi itu, Hanya Raja Qin Xuantian lah yang sudah berada di Ranah Setengah Immortal.


Itupun hanya berada di tahap menengah!


Jika membiarkan orang - orang ini lepas di dunia luar, Kemungkinan besar akan terjadi kekacauan yang akan menewaskan banyak korban.

__ADS_1


Memikirkan ini, Dirga sedikit khawatir akan keselamatan masyarakat yang tak bermasalah.


Tiba tiba ia menemukan ide di benaknya dan bergumam. "Jika tidak mencobanya, Kita tidak tahu akan hasilnya, bukan?"


Senyum licik terukir di bibirnya.


Dirga mengeluarkan belasan bendera yang memiliki lambang bintang emas.


Bendera itu tentu saja bendera formasi bintang kuno miliknya yang ia buat dalam waktu senggang.


Ia lalu melesat dengan cara teleportasi agar tidak ada yang bisa mendeteksi keberadaannya.


Muncul di utara batas wilayah Sekte Seribu Pedang, Ia menancapkan dua bendera formasinya lalu menghilang.


Muncul di timur laut dan menancapkan bendera, sama seperti sebelumnya. Ia terus melakukan semua itu.


Timur,Tenggara,Selatan,Barat daya,Barat, dan terakhir ia muncul di barat laut lalu menancapkan bendera terakhirnya.


Ia berjongkok. Karena bendera itu berada di semak semak mengharuskan tubuhnya masuk sedikit.


Ia mengalirkan energi mentalnya selama beberapa saat ke bendera terakhir dan menyudahinya.


Alasannya adalah untuk memperkuat kegunaan formasi bintang kuno miliknya!


Karena sedang fokus dan tidak memikirkan apapun, Tiba - tiba dari belakangnya terdengar suara serak terkejut.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa berada di area terlarang Sekte?! Apa kamu tidak takut di beri hukuman dari para petinggi sekte??"


Ekspresi Dirga sedikit berubah namun kembali tenang.

__ADS_1


Membalikkan badannya, Ia melihat seorang lelaki tua dengan jenggot tua nya.


Dari auranya, Dirga mengetahui jika kultivasi kakek tua ini berada di Ranah Pertapa bintang lima.


Melihat pemuda itu yang hanya diam dan tidak menjawabnya. Kakek tua itu menjadi geram.


"Sialan! Apa kamu tuli? Dari murid mana kamu berani tidak menjawab pertanyaanku? Apa kamu tahu...Aku tetua terhormat yang ke dua puluh dan harusnya kamu patuh denganku!" Kakek tua itu kesabarannya setipis tisu. Akhirnya dia membentak marah ke Dirga.


Dirga menatap datar kakek ini. "Diamlah! Aku tidak suka berdebat dengan seorang kakek tua!" Ujarnya dengan nada kesal.


Kakek tua itu wajahnya tercengang. Ia terkejut karena baru kali ini ada seorang murid sektenya yang menghiraukannya dan malah menghinanya dengan sebutan kakek tua.


Lagaknya dia berpikir jika pemuda berambut perak di depannya ini adalah murid Sekte Seribu Pedang.


Dengan wajah merah padam beringas, Ia berkata sambil melepaskan aura Pertapa nya. "Bajingan! Siapa namamu? Dari murid luar mana kamu berasal? Baru kali ini ada seorang murid yang berani menghiraukan perkataanku...Jika begitu, Rasakan hukumanku!!"


Aura ranah Pertapa bintang lima meledak dari tubuhnya membuat udara di sekitarnya terdistorsi.


Bersamaan dengan itu juga samar - samar aura hitam iblis merembes keluar dari tubuhnya membuat Dirga menyeringai di hatinya.


Namun ekspresi Dirga tetap tenang. Wajahnya acuh tak acuh memandang kakek tua ini dengan tatapan bodoh.


Ayra seperti bukanlah ancaman baginya. Menurutnya aura ini tidak lebih sekedar dari aura anak kecil!


Melihat diamnya pemuda itu, Kakek tua ini menyeringai dan tidak menyadari keanehannya.


menurutnya pemuda itu diam akibat tekanan auranya membuat gerak tubuh pihak lain menegang dan hanya bisa berdiam diri.


Sudut mulutnya melengkung ke atas dan berkata sambil mendecih. "Cih! Murid luar belaka ingin bersombong di hadapanku! Sudah begini baru tahu rasa!"

__ADS_1


Dia maju perlahan menghampiri Dirga tanpa menarik auranya sedikitpun.


__ADS_2