
Melihat semuanya sudah pergi, Dirga memutuskan untuk memasuki Dunia Cermin nya dan berencana untuk memurnikan darah Naga Primordial nya.
Dahi Dirga mengernyit begitu sudah memasuki Dunia Cermin nya. Di dalam Istana Peraknya, Ia merasakan ada beberapa aura.
"Apa ada seseorang yang bisa memasuki cermin ini? Tapi, Bagaimana mungkin?" Gumamnya dengan raut bingung.
Dengan penasaran, Ia memasuki istananya sendiri. Pertama, Ia melihat ruang aula istana terdapat banyak deretan kursi yang terbuat dari emas dan perak di kedua sisi, Kanan dan kiri.
Jauh di depannya, Ada satu kursi berwarna emas dengan ukiran gambar Naga dan Phoenix di pegangan sisi kursi.
Dirga yang penasaran dengan beberapa sosok yang berada jauh di dalam istana pun segera kesana.
Ketika sampai di depan pintu ruangan, Ia sedikit mengernyit. Di dalamnya ada beberapa aura asing yang nampak mondar mandir tak tentu.
Dirga juga mengetahui jika ruangan depan ini adalah dapur istana.
Namun, Bukan itu yang menjadi perhatiannya. Di dalamnya ada dua aura gadis kecilnya yang entah sedang apa.
"Apa yang di lakukan kedua bocah kecil itu? Dan semua ini?....
Dirga tak melanjutkan ucapannya. Dengan perasaan khawatir ia mendorong pintu perak itu dengan sedikit tenaga.
Seketika, Pemandangan yang tidak pernah ia pikirkan pun terlihat di depannya membuatnya tercengan.
Banyak gadis-gadis yang sedang kerja sama untuk membuat masakan, Layaknya ada sebuah hajatan besar.
Ada yang mengupas kentang, Ada yang berlarian membawa masakannya, Ada yang mengupas sayuran dan ada pula yang mengaduk aduk makanan dengan teliti seolah takut tidak sesuai pikirannya.
Mereka semua bekerja dengan terampil sambil mengobrol dan tertawa lepas. Dirga juga melihat Ania dan Cintia sedang merusuhi dua gadis cantik yang sedang membuat adonan tepung.
Merasa kehadiran seseorang, Para gadis itu menengok ke pintu dan seketika mereka langsung berdiri sambil menepuk - nepuk pakaiannya sendiri.
Mereka berujar serempak dengan senyum manisnya.
"Selamat datang Tuan muda!"
__ADS_1
Suara mereka sangat lembut terdengar di telinga Dirga membuat bulu kuduknya merinding. Ia pun bertanya dengan raut wajah keheranan. "Siapa kalian? Kenapa kalian bisa berada di tempat ini?"
Kini, Para gadis itu tertegun begitu mendengarnya. Salah satu gadis paling depan maju selangkah dan berkata. "Tuan muda, Bukankah Tuan muda yang membawa kami ke sini? Apa Tuan muda audah lupa?"
Dirga menepuk dahinya sendiri dan merutuki kebodohannya. 'Bodoh! Kenapa aku bisa lupa dengan mereka?' Batinnya.
Memandang para gadis cantik di depannya, Ia berkata tenang. "Baiklah, Jika kalian sudah selesai membuat makanan, Aku akan mengembalikan kalian semuanya!"
Namun, Dirga menangkap wajah sedih para gadis itu yang membuatnya bingung keheranan. "Ada apa?" Tanya nya.
Para gadis tak menjawab.Kepalanya tertunduk lesu yang menandakan jika ada sesuatu.
Sejenak, Suasana menjadi hening. Salah satu wanita yang berada di tengah menunjukkan dirinya di hadapan Dirga membuatnya terkejut.
"Kamu?" Katanya tersentak.
Wanita itu menatap Dirga sambil tersenyum. "Benar Master! Nama saya Rista murid Sekte Master. Mereka semua ini adalah temanku satu desa yang terletak cukup jauh. Master penasaran kan dengan ekspresi mereka?"
Dirga mengangguk penasaran, Sebelum Rista berbicara, Salah satu gadis menyelanya dengan takut. "Kak! Janganlah! Biarkan saja! Mungkin ini semua sudah takdir kita."
Para gadis itu menatap Riska dengan wajah memohon tapi malu. Lalu mereka menarik napas dalam dalam dengan wajah tertunduk.
Dirga merasakan fluktuasi kemarahan sesaat dari gadis gadis itu. Ia bingung dengan situasi ini.
Menatap Riska yang saat ini memakai seragam biru berlambangkan pedang mengacung. Ia bertanya pelan. "Apa yang terjadi dengan mereka? Apa aku memiliki kesalahan dengan mereka?"
Kepala Rista menggeleng dan buru buru berkata. "Tidak! Tidak! Mereka menyembunyikan sesuatu yang menurut mereka paling berharga di kehidupannya, Tapi mereka sudah kehilangan semua itu!"
Dahi Dirga mengernyit, Ia memandang Rista dengan aneh. Dia tak mengerti maksud perkataan tadi. 'Berharga? Kehilangan? Apa sebenarnya ini?' Batinnya.
Ia tidak menangkap ada sesuatu yang salah dari para gadis ini. Hanya raut wajahnya yang ekspresi yang berubah ubah. Padahal tadi mereka sedang bercanda sambil tertawa.
Dalam pikirannya, Ia menduga jika itu barang atau semacamnya yang di maksud Rista. Karena tidak mau menjelaskannya, Ia pun mengalihkan pembicaraannya. "Baiklah, Tidak usah di pikirkan terlebih dahulu. Bukankah kalian sedang memasak? Ayo aku bantu!"
Para gadis itu menunjukkan raut muka kecewa, Tapi, Mereka juga tidak mengharapkannya. Sedikit demi sedikit paling juga mengetahuinya.
__ADS_1
"Kak~ Sini! Lihatlah! Aku membuat roti besar!" Seru Ania yang dari tadi sibuk membuat adonan.
Dirga segera berjalan mendekat ke arah keduanya sambil mengusap kepala kecilnya. "Kalian ini! Lihatlah! Wajah kalian berdua penuh dengan tepung!" Ucap Dirga sambil mencubit hidung Cintia dengan gemas.
"Aduh~ Kakak! Ish...!" Gerutu Tia dengan mengelus hidungnya yang memerah.
"Hahaha~ Wajahmu penuh dengan tepung!" Tawa imut Ania sambil menunjuk Tia yang wajahnya sudah di penuh dengan tepung beserta pakaiannya.
Tia memandang kembarannya itu sambil mendengus. "Huh! Bukankah wajahmu juga penuh dengan tepung? Lihatlah! Bahkan rambutmu hampir putih seperti nenek nenek tua! Haha~"
Mereka berdua tertawa sambil mengerjai satu sama lain. Tepung tepung bertebaran di sekitar dua bocah itu.
Dirga yang melihat itu menggelengkan kepalanya. "Gadis nakal..!" Gumamnya.
Menoleh kebelakang, Ia masih melihat para gadis itu masih berdiri diam. Dirga pun segera berkata. "Kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku memasak! Kita makan bersama sama. Kebetulan aku juga sudah lapar!"
Shanni berkata. "Tuan muda! Biarkan kami yang memasaknya! Tuan muda bisa menunggu di ruang makan saja! In- Sebelum menyelesaikan kalimatnya. Dirga menyela ringan. "Tidak apa apa! Aku juga ingin membantu kalian agar cepat selesai!"
Para gadis itu pun menuruti saja. Namun di hatinya gembira karena di bantu Tuan muda yang terlihat sangat tampan itu.
Gadis yang di sebelah Rista berbisik. "Kak! Ternyata Master Sekte mu masih muda dan juga...Sangat tampan...!"
Di kanannya juga menimpali. "Iya! Kak...! Kamu sangat beruntung bisa mendapatkan Master Sekte yang sangat tampan dan kuat!"
Wajah Rista memerah karena di goda oleh saudarinya ini. Sambil tetap memasak, Ia berkata. "Hus...! Zisya! Xiayi! Apa yang kalian bicarakan! Tidak baik membicarakan Master Sekte yang tidak tidak!"
Xiayi berkata dengan ekspresi aneh. "Apanya yang tidak tidak..? Menurutmu? Apa Master tidak tampan?"
"Tentu saja sangat tampan!" Jawab Rista cepat dengan sedikit memekik membuat yang lainnya menatapnya dengan senyum indahnya.
Wajah cantik Rista memerah karena malu, Ia baru menyadari jika dirinya di goda kedua temannya ini. "Kalian pasti sedang mengerjaiku kan? Dasar kalian ini! Huh..!" Gerutu Rista dengan wajah malu.
"Hahaha..!" Xiayi dan Zisya tertawa karena berhasil menggoda wanita yang paling tertua di antara semuanya.
Dirga yang sedang asyik memasak juga mendengar pembicaraan mereka. Dia hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
.............