Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 27


__ADS_3

Mendaratkan bokongnya, Dirga bertanya dengan aneh. "Nona, Apa ingatanmu begitu buruk sampai tidak mengenalku?"


Laniya yang mendengar suaranya yang tak asing melebarkan matanya dan berseru kaget. "Ka-kamu! Bagaimana kamu bisa berubah secepat ini?"


Dirga yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas, Tanpa memperdulikan tatapan mereka berdua, Ia mengambil mangkuk dan menyantap makanannya.


Sedangkan di sisi pak tua Tri Wulyo, Dia tersenyum hangat melihat gadis kecilnya yang ia rawat belasan tahun kini nampak aktif.


Sebelum sebelumnya, Laniya berbicara hanya sedikit kata yang di perlukan. 'Gadis kecil ini!' Batinnya tersenyum hangat sekaligus sedih.


Dirga yang sedang asyik makan, Merasa ada yang menatapnya. Begitu dia melihat siapa orangnya, Ia berkata dengan senyum menggoda. "Apa aku tampan?"


Laniya menjawab tanpa sadar. "Sangat tampan!". Setelah beberapa saat, Wajahnya memerah dan memalingkan mukanya. 'Kenapa aku bisa ngomong begitu?' Batinnya malu, Apalagi gurunya menatapnya dengan senyum, Membuatnya sangat malu.


"Kalian berdua! Ikuti aku!" Ucap Tri Wulyo tiba tiba, Yang membuat mereka bingung, Tapi mengangguk patuh.


Mereka berdua di ajak ke sudut ruangan, Dimana di sudut itu ada pintu tua uang rapuh. Laniya mengerutkan keningnya dan tidak bisa untuk tidak bertanya. "Guru! Bukankah guru mengatakan jika di dalam pintu itu sangat bahaya? Kenapa guru malah membawa kami kesini?"


Tri Wulyo hanya tersenyum dan tidak menjawab. Sedangkan Dirga, Ia tidak merasakan apapun di dalamnya. Meskipum dia bisa menembus pandang pintu itu, Ia tidak ingin melihatnya lebih dalam, Takutnya privasi mereka.


Setelah pintu di buka oleh kunci khusus, Tri Wulyo berkata sambil masuk. "Masuklah kedalam!"


Wajah Laniya berubah takut. Ketika ingin menolak masuk, Tiba tiba tangannya di genggam oleh tangan lembut dan melihat Dirga menggenggamnya sambil berkata senyum. "Ayo masuk! Tidak mungkinkan gurumu mau mencelakai muridnya sendiri?"


Laniya berubah menjadi tenang dan menggenggam balik tangan Dirga dengan erat membuat pihak lain tersenyum menyeringai.


Ketika mereka masuk ternyata ruangnya gelap tanpa penerangan sama sekali. Tiba tiba saja cahaya putih dari atas memancar terang dan seketika isi di dalamnya terlihat.

__ADS_1


Laniya melotot dan membuka rahangnya ketika mengetahui isinya. "Apa aku sedang bermimpi? Ko-koin emas sebanyak ini??" Ucapnya terbata bata.


Sedangkan Dirga awalnya terkejut, Tapi setelah itu kembali tenang. Tapi yang membuatnya terkejut lagi, Ternyata ada beberapa rak dan berbagai buku yang tertata rapi.


Tidak hanya itu, Berbagai senjata seperti Pedang, Tombak, Belati, Parang, Gada dan masih banyak lagi yang tertata rapi di dinding ruangan.Dari tingkat fana ke tingkat immortal dan berbagai kualitas.


Namun pandangannya tidak sengaja menangkap sebuah batu bulat berwarna biru muda sebesar kepalan tangan manusia dewasa yang berada tak jauh dari kanannya.


Tanpa sadar kakinya melangkah untuk mendekati. Batu biru itu di letakkan di atas meja dan terlihat di penuhi debu, Tapi masih memancarkan cahaya biru samar.


Ketika mengambilnya, Tiba tiba terdengar suara dering system.


"Tring! Terdeteksi benda berharaga yang di sebut Mutiara Langit!"


"Mutiara Langit?" Ulangnya dan bertanya di benak. 'Apa kegunaan batu ini system? Kenapa aku sepertinya merasakan ada aura kehidupan di dalamnya?'


"Tring! Mutiara Langit memiliki fungsi untuk membuka suatu keberadaan alam"


Dirga berbalik dan terkejut melihat tubuh jiwa tua Tri Wulyo seperti ada perubahan. "Tetua anda- Ucapannya di sela dengan sedih. "Aku tahu maksudmu, Sekarang aku hanya memiliki waktu tak banyak di dunia ini."


Dirga terdiam mendengar perkataan tua Tri Wulyo yang menandakan dia akan pergi meninggalkan dunia ini. 'System, Apa ada cara agar jiwa ini bisa di selamatkan?'.Tanyanya di benak merasa kasihan dengan Laniya jika mengetahui gurunya pergi.


"Tring! Tidak bisa tuan! Jiwa lelaki tua itu sebenarnya bisa bertahan beberapa tahun lagi, Tapi karena banyak menggunakan energinya menyebabkan usia jiwa nya berkurang, Dan saat ini hanya tersisa 5 menit saja."


"Tring! Selain itu, Teknik terlarangnya masih tidak sempurna hingga membuat perpanjangan usianya berkurang."


'Apa tidak ada cara lain untuk memperpanjang usianya?' Tanyanya barang kali ada harapan, Tapi system menjawab tidak ada karena waktunya tidak mumpuni untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


Seolah mengetahui yang di pikirkan Dirga, Jiwa Tri Wulyo berkata sambil menghela napas. "Tidak apa apa anak muda, Aku hanya bisa berharap kamu bisa menjaga Laniya."


"Tentu! Aku akan menjaga dia dengan semua kemampuanku!" Jawab Dirga tegas.


Tri Wulyo mengangguk puas dan mengalihkan pandangannya ke Laniya yang masih asyik dengan buku buku di rak. "Jika ada seseorang yang menjemputnya kembali, Itu tergantung dengannya, Apa dia siap bertemu dengan orang tuanya apa tidak!" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Dirga yang mendengar perkataannya mengangguk lirih tapi mengerutkan keningnya. "Tetua! Aku masih penasaran dengan teknik segel itu, Bukankah anda bisa melakukannya sendiri?" Tanyanya bingung.


Tri Wulyo mengalihkan pandangannya dan menyeringai. "Tidak bisa! Hanya kamu yang bisa membuka segelnya dan hanya kamulah yang bisa menerima efeknya!" Ucapnya dengan senyum misterius.


Dirga semakin bingung dengan perilaku aneh jiwa tua ini. "Efek? Bukankah itu hanya efek? Kenapa harus aku yang bisa menerimanya?" Gumamnya semakin bingung tak karuan.


Sebelum jiwa Tri Wulyo menjawab. Laniya dari arah belakang menghampirinya dan berteriak. "Guru! Ada apa dengan tubuh guru?"


Dirga yang masih tak memperhatikan tubuh Tri Wulyo sontak terkejut melihat tubuhnya yang kini melayang tanpa adanya kaki dan sebatas pinggang sambil perlahan merayap ke atas sedikit demi sedikit.


"Guru! Apa yang sedang terjadi dengan guru? Apa guru sedang sakit?" Ucap Laniya dengan cemas sambil mencoba memeluk gurunya tapi tidak bisa karena hanya sebuah jiwa.


"Laniya! Maafkan aku- Ucapnya terhenti tak kuat melanjutkan karena melihat wajah sedih muridnya. "Guru! Ada apa ini?...Dirga! Apa yang sebenarnya terjadi dengan guruku?" Tanyanya dengan nada tinggi ketika melihat tubuh jiwa gurunya tersisa perut ke atas.


"Itu- Dirga tak melanjutkan perkataannya takut jika omongannya malah menambah kesedihan Laniya.


"Laniya! Maafkan guru...Kamu tahukan kalau guru hanya keberadaan jiwa yang bisa saja musnah siring berjalannya waktu- Berhenti sejenak sambil tersenyum samar dan melanjutkan. "Saat ini, waktu guru sudah hampir habis, Guru hanya bisa menitipkan dirimu bersama pemuda hebat ini."


"Guru!...Tak mungkin! Tidak mungkin guru meninggalkanku sendirian!!" Raungnya sambil berlutut dengan isak tangisnya.


"Laniya! Maafkan guru yang berbohong ini, Tapi guru memberikan hadiah ini! Aku harap kamu senang dengan pemberian guru!" Ucapnya tersenyum dengan serak lalu kemudian tubuh berubah menjadi bintik bintik warna biru dan langsung menggumpal seukuran kepalan tangan bayi.

__ADS_1


Dari gumpalan itu, Muncul lima untaian energi berwarna biru dan langsung melesat masuk ke punggung Laniya yang masih berlutut sambil menangis.


'Oh menerobos' Ucapnya di benak. Dirga yang melihat semua ini tak tahu apa yang ia lakukan. Jadi dia membiarkannya terlebih dahulu untuk sementara waktu agar Laniya bisa tenang.


__ADS_2