Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 169


__ADS_3

Semuanya terdiam selama beberapa saat. Akhirnya Tetua Shane angkat bicara.


"Lebih baik kita kesana!"


 Mereka pun menganggukkan kepala setuju dan kesemuanya yang ada di ruangan itu melesat keluar.



Di atas langit Sekte


Tiga Burung Peri nampak sedang mengepakkan sayapnya lembut.


Di atasnya, Beberapa sosok menungganginya.


"Hmm? Tidak kusangka di daratan ini ada Formasi kuat!" Gumam Jenderal Tanbi mengernyit.


Apa yang di lihat di bawahnya adalah Formasi berbentuk bintang emas nampak melindungi tempat yang mempunyai area yang cukup besar.


Nampak juga bangunan - bangunan kokoh memanjang dan danau luas serta ada istana perak di antara dua gunung mati itu.


Terlihat sangat indah!


Jenderal Rawil yang berada di sisinya, tak sengaja mendengar gumaman Jenderal Tanbi dan juga ikut mengernyitkan dahi.


"Aneh! Padahal aku sudah melintasi di benua ini selama bertahun - tahun, Tapi baru kali ini aku menjumpai wilayah yang di kelilingi Formasi sekuat ini!" Jenderal Rawil ikut bergumam.


Jenderal Tanbi menoleh memandang ekspresi bingung sosok pria tegap membuatnya semakin bingung.


Dia adalah Jenderal besar utusan Raja Qin!


 "Apa Jenderal baru mengetahui tempat ini?" Tanya Jenderal Tanbi menaikkan satu alisnya.


Jenderal Rawil yang di tanyai sedikit gugup dan menjawab mengangguk. "I-itu benar Jenderal! Nama saya Rawil! Panggil saja saya Rawil. Saya tidak pantas di panggil Jenderal oleh Jenderal sebesar anda!"


Ucapnya dengan menundukkan kepalanya hormat. Baru kali ini dia berbicara dengan seorang Jenderal besar kekaisaran.


Jenderal Tanbi yang mendengarnya cukup tersenyum tipis dan menepuk pundak Jenderal Rawil.


"Baiklah! Anggap saja aku Seniormu dan kamu Juniorku!..Bagaimana?" Kata Jenderal Tanbi.


"Ah! Itu— Baiklah..Baiklah! Saya akan mengikuti apa kata Senior!" Ucap Jenderal Rawil sumringah.


Bagaimana dia tidak senang? Dirinya di panggil Junior oleh sosok yang memiliki status lebih tinggi darinya.


Dengan kata lain, Ia seperti kakak seperguruan dengan Jenderal Besar ini.


Memikirkannya, Wajahnya berubah berseri seri layaknya orang mendapatkan jp.


"Cih!!" Suara decakkan malas terdengar di belakangnya.


Dua Jenderal itu tak memperdulikannya karena mereka tahu siapa yang mendecakkan lidah itu.


Siapa lagi jika bukan Lian Xin.


Wush!


Tiba - tiba beberapa cahaya dari bawah melesat ke atas dan berhenti di depan tiga burung peri.


Tetua Shane yang merasakan aura mengesankan pihak lain maju selangkah dan berkata ramah.


"Maaf tuan - tuan! Bolehkah saya bertanya mengapa tuan tuan datang kesini??"


Jenderal Tanbi berdiri diikuti Jenderal Rawil dan yang lainnya.


"Maaf jika kedatangan kami membuat kalian semua terganggu, Tapi kami mempunyai misi dari Yang Mulia Kaisar!"

__ADS_1


Ucap sopan Jenderal Tanbi dan menunjukkan token berwarna emas.


"Jenderal??" Pekik kaget Tetua Shane, Leluhur Siwa, Leluhur Sido dan Bai Lubai serentak.


Laniya dan wanita di sekitarnya yang tidak mengerti tentang ini menjadi bingung.


Laniya maju dan bertanya tak mengerti kepada Tetua Shane.


"Maaf tetua, Apa tetua tau apa arti Token itu?"


Jenderal Tanbi yang melihat paras cantik Laniya hatinya sedikit terkejut. Dia saling memandang dengan temannya.


'Mirip! Sangat mirip!' Ucap di hatinya terkejut.


"Saudari Laniya tidak tau? Token itu adalah token milik Keluarga Kekaisaran dan tidak sembarangan orang yang bisa memilikinya, Kecuali orang kepercayaan Kaisar!"


Sebelum tetua Shane menjawab, Bai Lubai mendahuluinya dan menjelaskannya.


"Oh" Laniya hanya ber'oh ria saja dan memandang token yang di tunjukkan Jenderal Tanbi selama beberapa saat.


"Tidak kusangka ternyata ada wanita cantik di daratan miskin ini!..Halo nona cantik! Namaku Lian Xin, Dari Keluarga Xin di Ibu Kota Kekaisaran!... Bolehkah kita berkenalan?"


Tiba - tiba seorang pemuda sedikit tampan maju selangkah dan berkata dengan mata berbinar.


Dia tercengang melihat paras cantik Laniya, Xenia, Fanni, Retania, dan Bai Lubai.


"Tuan muda Xin!!..Sopan lah bersikap!! Kita berada di wilayah orang!" Peringat Jenderal Tanbi menghentikan Lian Xin yang menggoda wanita - wanita itu.


"Cih! Diamlah! Hanya wanita lemah apa perlu kita bersikap sopan??!" Kesal Lian Xin yang dirinya di halangi oleh Jenderal Tanbi.


Ketika Jenderal Tanbi hendak berkata, Sesosok wanita cantik tiba - tiba muncul di hadapan pemuda Lian Xin.


"Lemah?? Hanya Raja Langit belaka berani - berani nya mengatai kita lemah!!"


Cibir sosok wanita itu dan tangannya meninju dengan kecepatan cepat.


Krak!


Terdengar suara ledakan teredam disertai suara retak tulang dari pemuda Lian Xin itu.


Tubuhnya meluncur ke bawah dengan kecepatan cepat dan berhenti ketika menyentuh tanah.


Terlihat kawah kecil di bawah.


"Uhuk-uhuk! Sialan! Siapa itu?" Marah Lian Xin sambil memegangi dadanya yang baru saja retak dan kepalanya mendongak.


Namun pupil matanya menyusut melihat Laniya mengangkat tangannya ke atas dan sebuah bayangan bunga hijau indah muncul.


Ia bisa merasakan pancaran aura mengerikan dari bunga itu membuat punggungnya berkeringat dingin.


"Berhenti!!" Suara tegas Jenderal Tanbi terdengar menggelegar dan dia melambaikan tangannya.


Seketika itu juga bayangan bunga hijau milik Laniya menghilang begitu saja.


Ekspresi Laniya muram ketika serangannya di hentikan. Ia melirik Jenderal Tanbi yang adalah pelakunya dengan kesal.


Meskipun begitu ia diam tidak menanggapi karena tahu jika dirinya bukanlah lawan Jenderal Tanbi.


Jenderal yang di lirik seperti itu tidak bisa menahan gentar di hatinya. 'Li-lirikan itu? Mirip seperti Permaisuri!!' Batin Jenderal Tanbi.


Ia semakin yakin jika Laniya adalah sosok yang mereka cari selama ini.


"Maaf tuan - tuan dengan sikapnya! Kalau begitu, Mari kita masuk dan mengobrol di dalam!"


Ajak Leluhur Siwa Kenta sopan. Meskipun di hatinya ia merasakan panas dingin.

__ADS_1


Kultivasinya yang saat ini Setengah Immortal Akhir saja tidak mengetahui ranah Jenderal Tanbi.


Sudah jelas jika sosok Jenderal Tanbi ini bukanlah soaok yang mudah di hadapi.


Mendengar ajakan itu, Jenderal Tanbi diam sejenak seolah berpikir.


Tiba - tiba ia merasa pundaknya di tepuk oleh tangan kasar.


"Setujui saja! Kapan lagi kita bisa beristirahat di tempat indah ini! Untung - untung mereka mempunyai anggur yang memuaskan!"


Bisik orang itu yang ternyata adalah teman Jenderal Tanbi. Tentu dia adalah Penasehat Fu, Penasehatnya sekaligus teman seperjuangannya.


Mendengar ini, Jenderal Tanbi menghela napas. Temannya ini memang suka sekali meminum anggur dalam jumlah banyak.


Jika tidak mabuk ya tepar!


Jenderal Tanbi mengarahkan pandangannya ke depan dan mengangguk.


"Baiklah, Kami terima ajakan itu!" Ucapnya dan membuat Leluhur Siwa Kenta berbinar.


Kapan lagi ye kan, Bisa duduk bersama sosok Jenderal besar Kekaisaran.


Begitupun juga dengan mereka yang mengerti akan identitas Kenderal Tanbi.


"Baik! Ikuti saya!" Ucap Leluhur Sido dan melesat ke Sekte bersama yang lain.


Sebelum Jenderal Tanbi memasuki kawasan Sekte milik Dirga.


Ia sempat berpandangan dengan Laniya dan di balas oleh kepalan Laniya dengan mata melotot.


"Dasar tua bangka aneh!" Gumam pelan Laniya dan melesat mengikuti para tetua yang lain.


Jenderal Tanbi yang mendengar Laniya bergumam itu tersenyum masam. Hanya dirinya seorang yang bisa mendengar gumaman Laniya.


'Adik! Sikapnya tidak begitu jauh denganmu! Suka tidak sopan!' Batinnya sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Cih! Malah senyum senyum sendiri! Kesambet apa kau??" Decih Penasehat Fu dan melesat pergi seorang diri.


Jenderal Tanbi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata kepada para bawahannya.


"Kita masuk dan jangan buat keributan di sini!"


"Dimengerti Jenderal!!" Ucap semuanya serempak.


Jenderal Tanbi pun masuk menembus formasi menggunakan burung peri nya diikuti yang lain.


Di bawah, Lian Xin yang di tinggalkan begitu saja membuatnya sangat marah.


"Brengsek! Tua bangka itu main tinggal tinggal saja! Tunggu saja kau!— arhg!!" Umpatnya berhenti di gantikan jeritan pilu di dadanya.


•••


Pagoda Langit


Jleb!


Jleb!


Jleb!


Seorang pemuda dengan tubuh bermandikan darah berhasil menusuk jantung seekor monster di depannya.


"Ding! Tuan rumah telah membunuh Monster Banteng level Pertapa! Koin sistem bertambah...!"


"Ding! Selamat tuan telah menaklukan lantai 2 Pagoda Langit!"

__ADS_1


"Mendapatkan....


__ADS_2