
Mereka semua segera melesat untuk melihat keadaan Dirga. Bagaimanapun, Pertarungan kali ini tidak sesederhana keliathatannya. Bahkan ini bukan di cap sebagai pertarungan, Melainkan pembantaian sepihak!
Melihat Dirga pisan yang tubuhnya di peluk oleh seorang pria tua renta membuat semuanya bersikap waspada.
Tetua Roto tahu jika mereka bawahan pemuda yang menolongnya dari kematian ini. Ia berujar dengan hormat. "Tidak perlu takut! Aku sangat berterima kasih ke pemuda ini! Jika tidak ada dia mungkin aku sudah mati!"
Mendengar perkataan Tetua Roto membuat dahi ke semuanya mengernyit bingung. Tapi ada dua sosok yang tak memperdulikan itu semua.
Mereka berdua segera maju dengan memeluk tubuh Dirga sambil menangis tersedu sedu. "Kak! Hiks...Hiks! Apa kakak tidak apa apa? Kenapa kakak melakukan semuanya ini?"
"Hiks..! Kakak jangan pergi! Ania butuh kakak!"
Keduanya menangis sambil meringkuk di kedua sisi pemuda yang kini wajahnya tampak pucat itu. Tetua Roto yang melihat ke imutan kedua gadis kecil itu kagum.
Ia menghibur lembut. "Kakak kalian hanya kelelahan karena kehabisan energi. Nanti juga dia akan sadar sendirinya! Kakak kalian benar benar hebat..!" Puji Tetua Roto.
Arya, Retania dan lainnya yang melihat keadaan Masternya tidak apa apa menghela napas lega. Bagaimanapun, Pembantaian ini mengejutkan semuanya.
Sekte Langit Syrgawi yang statusnya Sekte kelas atas kini sudah hancur! Sekarang yang tersisa hanya puing puing dan mayat mayat yang berserakan membuat semua orang yang melihatnya bergidik ngeri.
Arya memandangi murid sektenya yang hanya diam terpana segera memberi perintah. "Cepat bersihkan semua ini..! Jangan samapai ada pihak asing yang mengetahui sebelum keadaan kembali normal!"
"Baik"
Arya menoleh ke tiga bersaudara danmemberi instruksi. "Bantu para murid membereskan kekacauan ini! Setelah selesai kita kembali ke Sekte!"
Mereka mengangguk dan menjawab sopan. "Baik!"
Segera, Para murid Sekte Pedang Langit Abadi membuat kelompok untuk segera menunaikan tugasnya.
Orang yang paling benar benar terkejut saat ini adalah Fanni. Dirinya benar benar tercengang dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
Kepalanya berdengung hebat, Pikirannya entah kemana. Dirinya merasa sedang berhalusinasi membuatnya tidak mempercayai apa yang di lihatnya.
Namun, Semakin di pikirkan, Semakin dia sangat percaya jika kejadian ini benar - benar nyata!
"Ini?!" Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. Nafasnya tercekat dan tidak mengeluarkan kata katanya.
Mengalihkan pandangan ke arah pemuda tampan yang kini wajahnya nampak pucat, Dirinya menatap Dirga dengan pandangan rumit dan ketakutan setengah mati.
Dia tidak menyangka jika perkataan Dirga sebelumnya bukan omong kosong, Meskipun berakhir dengan tak sadarkan diri. Malahan kini dia takut ketika memikirkan ucapannya tadi.
Retania yang di sebelahnya menyunggingkan senyum main main dan berkata rendah. "Bagaimana? Apa kamu menepati janjimu tadi?"
Fanni tersentak begitu mendengar perkataan Retania dan tanpa sadar tubuhnya bergetar ringan membuat Retania semakin terkekeh.
Tetua Shane saat ini terdiam. Matanya memerah tapi pandangannya bukan ke Dirga melainkan pria tua yang ada disisi pemuda itu.
"Sa-Sa-Saudara Roto??" Ujarnya dengan sedikit memekik.
Tanpa sadar dia menunjuk ke Tetua Shane yang juga menunjuk dirinya. "Shane..?"
Dua duanya nampak saling terkejut satu sama lain membuat orang yang berada di sekelilingnya bingung, Begitu juga dengan Fanni.
Tak lama setelah itu, Mata keduanya memerah dan saling berpelukan ala lelaki yang seperti tidak bertemu selama bertahun tahun.
"Bagaiamana kamu bisa kabur dari kejadian itu? Apa sekarang kamu tidak apa apa? Apa ada masalah besar yang kamu alami selama ini?" Cecar Tetua Roto ketika melepaskan pelukannya.
Tetua Shane memandang Tetua Roto dengan mata memerah. "Saudara! Ternyata kamu bisa kabur, Adapun tentang masalah, Selama ini kami baik baik saja! Hidupku sekarang sudah berubah karena bertemu dengan Master muda!" Ucapnya dengan bangga yang melintas di matanya.
Tetua Roto menatap Tetua Shane dengan kagum. "Kamu benar benar hebat Shane! Pemuda ini tidak sesederhana kelihatannya...Tunggu sebentar! Kenapa aku tidak bisa melihat kultivasimu? Bukankah waktu itu kamu berada di Raja Langit kedelapan? Katakan! Apa sebenarnya kultivasimu? Apa sudah meroket secepat ini?" Tanya Tetua Roto dengan menyelidik, Tapi matanya kagum dengan orang ini.
Tetua Shane tersenyum hangat dan berkata rendah namun singkat. "Tidak cepat! Hanya Pertapa tingkat satu saja!"
__ADS_1
Tetua Roto tercengang begitu mendengarnya dan berkata tidak percaya. "Bagaimana kamu bisa secepat itu? Bu- " Tetua Shane melambaikan tangannya menyela. "Nanti aku akan ceritakan!"
Semua bawahan Dirga kebingungan dengan interaksi mereka berdua, Sebelum ada yang berkata.Terdengar suara memekik kesal namun terkesan imut. "Hei! Kenapa kalian diam saja? Kakakku sedang tidak sadarkan diri malah kalian tidak membantunya..! Cepat! Bawa kakakku ke Sekte..!"
Suara Cintia kesal namun imut itu segera membuyarkan mereka semua. Mereka menganggukkan kepala dan ketika melihat tumpukan mayat yang menggunung serta terbakar, Mereka segera pergi secepat mungkin.
*
Ketika semuanya sudah benar benar menghilang. Tiba tiba muncul dua orang dengan jubahnya yang berkibar. Yang satu pria tua dan yang satunya wanita tua yang sedang terbang dengan pedangnya.
Mata keduanya memandang pemandangan di depannya dengan raut muka terkejut dan ngeri.
"Brengsek! Siapa yang telah menghancurkan Sekte Langit Surgawi? Apa mereka tidak takut dengan Ketua? Benar benar bajingan..!" Pria tua itu mengutuk dan memaki dengan wajah marah.
Wanita di sebelahnya melebarkan matanya dengan ngeri melihat arah depannya. "Jangan bodoh! Apa kamu tidak melihat wajah siapa itu? Bukankah itu Master Sekte ini?" Sambil menunjuk depannya.
Pria tua yang di sebelahnya mengikuti arah jari telunjuk wanita itu dan pupil matanya menyusut ngeri. "I-Ini? Master Giman?? Bagaimana bisa Master Giman bisa terbunuh juga?" Pekiknya dengan raut muka masam.
Wanita itu menoleh menatap pria di sampinya. Lalu ia berkata serius. "Sebaiknya kita pergi melaporkan ini ke Ketua Gheger! Tidak hanya Tuan Kota Luyung yang juga ketahuan, Master Giman juga telah tewas! Jangan gegabah dulu! Ini menunjukkan jika musuh kita tidak sesederhana yang kita lihat...!"
Pria tua menganggukkan kepalanya mengerti maksud wanita itu. Tuan Kota Luyung sudah ketahuan berkhianat dengan bangsanya sendiri, Kini kakaknya yaitu Master Giman telah tewas dengan keadaan mengerikan.
Pria tua itu menyatukan kedua alisnya dan bergumam. "Apa pelaku semua ini adalah orang yang sama dengan kasus Tuan Kota Garden sebelumnya?"
Wanita tua itu menyanggahnya. "Tidak mungkin..!!! Tidak mungkin pelakunya hanya seorang saja yang bisa menghancurkan Sekte ini! Mungkin ada kelompok tersembunyi yang memiliki kekuatan besar untuk menghancurkan semua ini!"
Pria tua itu bingung dan menduga. "Apa itu benar benar... " Wanita tua segera berkata serius. "Sial! Kita harus pergi melaporkan ke Ketua! Jangan sampai orang ini bergerak lebih jauh..!"
Mereka berdua segera pergi ke arah tertentu. Tanpa menyadari, Jika ada satu sosok yang mengawasinya dari kejauhan.
Ketika mereka berdua pergi, Sosok itu pun meninggalkan tempat itu juga tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
__ADS_1