
Dahi Dirga mengernyit ketika mendengar suara yang tak asing menurutnya. Tanpa berlama lama, Ia pun menghilang.
Sekitar lima ratus meter dari tempat Dirga, Sesosok tubuh dengan pakaian lusuh serta compang camping sedang berlarian penuh keringat.
Raut wajahnya berubah - ubah seiring dengan tangannya yang menggenggam sebuah kalung liontin biru.
Tak jauh di belakangnya, Lima sesosok pria mengejarnya di atas pedang hingga melihatkan garis cahaya.
"Hahaha, Mau lari kemana kamu gadis kecilku? Sudah saatnya giliranmu! Hahaha!" Suara tawa serak salah satu dari mereka menggelegar.
Wajah sosok tubuh berpakaian compang camping itu berubah muram ketika mendengar suara itu yang semakin dekat.
Karena tak fokus berlari, Sosok compang camping yang di panggil gadis itu tersandung oleh batang pohon membuatnya terjatuh.
"Ahh!"
Lima pria di belakangnya yang melihat ini turun dari pedang dan menghampiri dengan seringainya.
"Hehe, Cindy! Lebih baik kamu kembali dan nikmati saja di Sekte!" Salah satu dari mereka yang adalah seorang pemuda berkata dingin. Dia bernama Cuhong, Putra dari Sekte Seribu Pedang!
Di sebelahnya ada seorang lelaki yang tampak setengah tua. Dia mencibir dingin.
"Cindy, Apa kamu kecewa denganku? Sudah lama mengenalku dan baru ini kamu mengetahui sifat asliku. Bagaimana? Menyenangkan bukan?"
Dia bernama Dahui, Tetua Agung Dahui Sekte Seribu Pedang!
Sedangkan tiga sisanya dari mereka adalah pengawal pemuda yang bernama Cuhong itu.
"Paman Dahui, Anda sangat bijak menyembunyikan seorang putri Keluarga kelas atas yang kaya selama bertahun - tahun tanpa ketahuan sama sekali. Tapi sayangnya dia harus menjadi tumbal untukmu." Cuhong berkata dan pura - pura memasang wajah sedih.
Dahui melihatnya dan kemudian wajahnya bersinar.
"Tuan muda Cuhong! Bagaimana kalau dia menjadi bagianmu saja? Untukku...Biarkan saya sendiri yang memikirkannya!"
Dia berkata dengan nada ramah dan sikapnya menunjukkan hormat. Karena ia ingin menampilkan sikap menjilatnya.
Mendengar perkataan Tetua Dahui, Cuhong tentu saja sangat gembira dan melihat wajah berlumuran Cindy itu.
"Paman Dahui! Anda sangat pintar membuatku senang! Nanti aku berikan gantinya untukmu agar lebih adil!" Cuhong berkata melambaikan tangannya.
Sedangkan wajah sosok itu berubah jelek ketika mendengar percakapan dua lelaki itu.
"Ka-Kalian brengsek! Padahal kalian sudah aku anggap sebagai saudara mengapa kalian mengkhianatiku?"
Cindy! Ya! Sosok tubuh compang camping itu adalah Cindy yang pernah Dirga selamatkan waktu lalu.
__ADS_1
Kini hidupnya sedang terancam karena keberadaan dua lelaki itu yang sedang memperebutkan tubuhnya.
Satu adalah pemuda yang selama ini ia cintai secara diam diam yang memang sebelumnya memiliki sikap manis terhadapnya.
Dan satunya adalah pria dewasa yang selama ini telah mengurusi hidupnya.
Tapi kini, Mereka telah menunjukkan sifat aslinya yang selama ini ternyata pura - pura baik hanya menginginkan tubuhnya untuk di jadikan tumbal tehnik iblis oleh mereka!
Cindy menatap Dahui yang adalah ayahnya sendiri dengan tatapan marah serta kecewa.
"A-ayah, Ayah benar - benar jahat! Kenapa ayah melakukan semua ini? Sadarlah ayah, Iblis itu adalah musuh kita! Mengapa ayah malah bekerja sama dengan iblis??"
Cindy benar - benar merasa tak berdaya ketika mengucapkan ini. Karena ia mengetahui jika Dahui telah menggunakan tehnik kultivasi iblis.
Dahui menatap wajah gadis kecil itu sejenak dan mendengus dingin. "Huh! Aku bukan ayahmu! Bukankah kamu sudah mendengarnya tadi jika kamu masih bayi waktu itu aku menculiknya hanya untuk meningkatkan kekuatanku!? Ck!"
"Hahaha, Cindy! Bagaimana perasaanmu ketika mengetahui yang sebenarnya? Marah? Silahkan melampiaskan amarahmu dulu sebelum kematianmu tiba! Hahaha...!" Cuhong berkata sambil tertawa diikuti dengan yang lainnya.
Cindy merasa hatinya penuh dengan rasa kekecewaan. Dia tadi tak sengaja mendengar jika dirinya sebenarnya bukan putri kandung seorang Dahui.
Melainkan dari Keluarga kelas atas yang berada jauh dari sini!
Meskipun dia tak tahu Keluarga mana, Tapi ia memiliki petunjuk dari sebuah kalung liontin yang berada di genggamannya itu.
"Kalian bajingan! Kenapa kalian melakukan semua ini?" Cindy berkata dengan raut wajah marah.
"Apa? Kamu juga ingin menumbalkan murid Sekte? Brengsek! Aku akan membunuhmu!!" Cindy benar benar marah mendengar perkataan Cuhong.
Dia mengeluarkan pedangnya dan melancarkan serangan energi.
Swoshh!
Cuhong melirik serangan itu dengan remeh. "Hanya serangan kecil seperti ini ingin membuatku mati? Huh, Sungguh naif dirimu Cindy!"
Mengangkat tangannya dan sebuah belasan bola energi melesat menyambut serangan pedang Cindy.
Dhuarr!
Suara ledakan menggema di sekitar itu membuat pohon di sekitarnya agak bergetar!
Wajah Cindy berubah ketika melihat serangan Cuhong itu yang tidak menghilang ketika mengenai serangannya.
Melainkan terus melaju kearahnya dengan cepat!
Wajahnya benar benar pucat pasi dan ia tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar karena tubuhnya benar benar lemah.
__ADS_1
Booms!
Bruakk!
Tubuh Cindy terhempas jauh dan menabrak pohon hingga memuntahkan darahnya.
Kini ia benar - benar ketakutan setengah mati karena energinya benar benar sudah habis karena pertempuran tadi.
"Huh, Cindy! Lebih baik patuhlah denganku! Dan aku akan membuatmu melayang jauh! Sia - sia saja tidak menggunakan tubuh indah mu itu!" Cuhong berkata sambil menjilat bibir bawahnya.
Cindy benar benar tak berdaya saat ini. Apalagi tatapan mesum itu membuatnya merinding ketakutan.
Saat ini, Bayangan seorang pria berambut perak melintas di benaknya dan ingatannya kembali ketika mendengarkan perkataannya waktu itu.
'I-ini? A-apa dia sudah mengetahui??' Sejenak, Cindy membatin ketika memahami perkataan pria waktu lalu.
Tapi kini ia menyesal dan malah menghiraukan perkataan pria berambut perak waktu itu.
Saat ini, Dia memejamkan matanya menutup muka dengan kedua tangannya.
Kini ia hanya bisa berharap jika sosok pria berambut perak itulah yang kini membantunya.
Namun harapan hanyalah suatu harapan. Sebuah tangan kasar memegang tangannya yang membuatnya harus membuka matanya.
Cuhong dan lainnya yang ada di depannya sambil menyeringai penuh kemenangan.
"Hehe! Sudahlah...Menyerah sajalah! Kamu tidak mungkin bisa kabur dari genggamanku!"
Tuan muda Cuhong berkata sambil mengangkat tangannya bermaksud untuk memukul tengkuk leher Cindy agar pingsan.
"Ja-jangan....!!" Cindy berteriak dengan tubuh bergetar ketakutan.
Namun terlambat, Tengkuknya terasa dingin dan sebelum kehilangan kesadarannya, Ia melihat sekelebat bayangan hitam tak jauh di belakang tiga pengawal Cuhong.
Sepertinya Cuhong dan Dahui tidak menyadari jika ada yang tidak beres dengan ke tiga pengawalnya itu.
Mereka berdua menatap tubuh Cindy dengan seksama dan Cuhong berkata mesum. "Tubuhnya sangat menggoda, tapi sayangnya sekarang dia lusuh seperti pengemis hingga tidak membuatku bernafsu!"
Dahui yang mendengarnya tanpa sadar mengangguk setuju.
"Tuan muda Cuhong tenang saja, Nanti saya sendiri yang membersihkan tubuhnya itu dan setelahnya silakan Tuan muda mencicipinya!" Dahui berkata mengusulkan.
Dan benar saja, Raut wajah Cuhong berbinar ketika mendengar usulan Tetua Dahui. "Anda benar tetua Dahui! Tetua memang terbaik! Pantas saja tetua menjabat sebagai tetua agung!"
Cuhong memuji tetua Dahui membuat si empu merasa senang akan pujian itu.
__ADS_1
Cuhong pun mengangkat tubuh Cindy di pundaknya.
Keduanya membalikkan badan dan tiba - tiba badan mereka membeku menatap tak percaya ke depan.