
Dirga melihat kota di depannya dengan sorot mata dingin. Terlihat suasana di sana sedang berantakan kacau balau.
Beberapa mayat ada yang tergeletak ditanah dan sedang di kerumuni oleh monster monster berbagai bentuk dengan mulut terbuka ganas.
"Dirga, Lihat! Ada banyak orang yang sedang di kerumuni monster monster itu! Cepat! Kita harus segera menyelamatkannya!" Ucap Laniya sambil menunjuk depan dengan ekspresi kawatir.
Dirga menganggukkan kepalanya. Jauh di depan, Masih ada beberapa orang yang masih hidup dengan wajah pucatnya menatap banyak monster monster mengerikan yang tiba tiba datang.
Dirga berkata serius kepada Arya dan Retania. "Kalian pergi ke arah selatan dan bunuh monster yang ada! Jika ada beberapa orang yang masih hidup segera bawa ke tempat yang aman." Berhenti sejenak sambil mengeluarkan dua pedang ke mereka berdua. "Gunakan pedang ini untuk melawannya!"
"Pedang tingkat Surgawi!!" Ujar mereka serempak terkejut ketika melihat dua pedang indah baginya.
Dirga segera berkata cepat. "Ambillah! Dan selesaikan urusan kalian!"
Arya dan Retania mengangguk patuh. Sekarang ia semakin memantapkan hatinya jika mengikuti pemuda ini bukan masalah besar baginya.
__ADS_1
Wush! Wush!
Setelah mereka pergi, Laniya kembali berkata dengan cemas. "Apa yang kamu lihat? Cepat! Kita harus membunuh semua monster ini!"
Dirga melihat kota di depannya yang sedang kacau. Beberapa bangunan roboh nyaris tak terbentuk. Kemudian matanya menyipit menatap jauh.
Ada satu gedung yang cukup besar masih dalam keadaan sehat wal afiat. Karena jaraknya cukup jauh, Dirga tidak bisa merasakan adanya fluktuasi energi di gedung itu.
Dirga merasa aneh dengan keberadaan gedung itu. Beberapa bangunan saja roboh akibat serangan monster ganas itu, Tapi monster monster di sekitarnya nampak enggan untuk merusaknya dan hanya lewat.
Ketika ingin bertanya, Tiba tiba saja kelima jari Dirga bersinar putih perak dan muncul bola bola kecil lalu langsung melesat ke depan dengan cepat.
Laniya terpana dengan teknik aneh Dirga ini. Bagaimana tidak? Bola bola kecil yang melesat jauh ke depan itu tiba tiba memanjang dan memanjang dan berubah menjadi energi berbentuk pedang yang langsung menebas ke beberapa monster monster.
Laniya tercengang, Ia tidak mengerti dengan teknik aneh ini. Serangan pedang itu tidak menghilang ketika mengenai target melainkan terus melaju dan melesat kesini kemari.
__ADS_1
Tapi, Setiap lajunya ada beberapa kepala monster yang langsung berhenti bergerak karena beberapa anggota tubuhnya telah terbelah.
Melirik mulut Dirga yang melengkung ke atas, Laniya kembali mengerutkan keningnya. Tangan Dirga masih menjulur kedepan tapi kelima jarinya bergerak gerak seolah olah kelima cahaya pedang itu mengerti dengan maksud gerakan jari Dirga.
Dirga melirik ekspresi kosong Laniya dan tersenyum tipis. Dia berkata santai tapi jarinya masih bergerak gerak. "Apa kamu ingin kuajarkan teknik hebat ini?"
Laniya tanpa sadar mengangguk. "Teknik ini sangat hebat! Apa ini yang dinamakan niat pedang?" Tanyanya dengan penuh kekaguman.
Dirga mengangguk menanggapi. "Benar! Ini niat pedang. Tapi aku bisa mengontrol sesuka hatiku dengan energiku sendiri, Jadi serangan itu tidak bisa menghilang begitu saja ketika mengenai target kecuali aku sudah kehabisan energi." Jelasnya dan kembali fokus ke depan untuk membantai semua kawanan monster.
Dirga menghentikan tekniknya secara tiba tiba, Mengeluarkan pedang chaosnya, Dirga berkata kepada Laniya yang masih bengong menatap ke arahnya. "Kita harus terjun kesana! Aku merasa ada yang aneh di gedung itu!"
Laniya yang masih ingin berbicara lagi menjadi urung. Mengeluarkan pedang immortalnya dan mengikuti gerakan Dirga untuk menyerang monster.
............
__ADS_1