
Naila terharu begitu mendengarnya. Padahal ia sudah mempasrahkan eliksir itu dan mencoba cara lain. Tetua Shane sejak tadi diam, Padahal di hatinya sudah terkejut karena nilai ini cukup besar baginya.
'Siapa sebenarnya pemuda ini?' Batinnya penasaran.
Sedangkan Tetua Putel saat ini wajahnya yang berubah muram. Ia berkata kepada pengawal di belakangnya. "Selidiki siapa yang berada di ruang vip nomor 2!"
"Baik Tetua!"
"Sial! Siapa dia? Kenapa ada seseorang yang kaya di kota kecil ini?" Ucapnya dengan menggertakkan giginya kesal. "Aku tidak mau melepaskan eliksir ini!" Imbuhnya.
Dengan napas dalam dalam, Ia mulai teriak menawar. "Dua belas juta koin emas!"
Dirga hanya tersenyum mendengar orang ini menawar lagi. Dia tidak perlu takut jika koin emasnya berkurang, Masih banyak di cincin penyimpanannya dan ditambah dengan kekayaan jiwa Tri Wulyo waktu itu.
Dengan tenang tanpa ekspresi, Ia berteriak sekali lagi. "Dua puluh juta koin emas!"
Mulut semua orang terbuka lebar begitu mendengar suara mengejutkan ini. Bahkan tetua Shane, Fanni, dan Naila juga tersentak kaget.
Bagi mereka, Koin emas sebanyak ini bisa menyambung hidup selama sepuluh tahun bahkan masih ada beberapa juta yang tersisa.
Mereka bertanya tanya. Seberapa kaya orang ini sebenarnya?
Orang yang saat ini wajahnya benar benar jelek adalah Tetua Putel. Dia tidak menyangka jika tawaran kali ini mengejutkannya.
Padahal kota ini baginya sangat kecil. Bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki kekayaan melebihinya? Meskipun itu tidak seberapa baginya di keluarganya. Tapi tetap saja ini mengejutkannya.
Saat ini pengawal di sebelahnya berkata dengan hormat. "Tetua Putel, Orang yang berada di ruang vip nomor 2 adalah wanita muda yang memiliki ranah Alam Bumi tingkat rendah, lelaki tua itu saya tidak tahu dan terakhir seorang pemuda berusia 18 tahun yang tidak memiliki kultivasi sama sekali."
Tetua Putel mengerutkan keningnya dan bertanya untuk memastikan. "Apa kamu tahu siapa mereka?"
__ADS_1
Pengawal itu menjawab dengan gelengan kepala menandakan tidak mengetahuinya. Tetua Putel mendengus dingin dan tak berkata apa lagi karena ia hanya membawa belasan juta koin emas.
'Huh! Apa yang di takutkan? Mereka hanyalah orang yang tak punya latar belakang sama sekali!' Pikirnya dengan menyeringa.
Fanni yang melihat tidak ada yang menawar sekali lagi ia segera berkata dengan tersenyum. "Dua puluh juta koin emas pertama! Dua puluh juta koin emas kedua! Dua puluh juta koin emas ketiga!...Selamat kepada tuan ruang viap nomor 2!"
Setelah itu pelayan gadis mengantarkan barangnya ke ruang Dirga. Begitu masuk mulutnya terbuka lebar ketika melihat seseorang yang di kenalnya sedang duduk di sebelah pemuda tampan.
"Ma-ma-manager?" Ucapnya tergagap.
Tetua Shane tersenyum dan berkata. "Letakkan saja di meja sebelah itu dan kembalilah!"
"Ba-baik manager!" Ucapnya gugup menuruti dan segera pergi. Tapi Dirga menghentikannya. "Tunggu!"
Pelayan gadis itu berhenti dengan gugup. Dirga menghampirinya dan berkata seraya menyerahkan cincin penyimpanan. "Di dalamnya ada koin emas yang cukup. Sebaiknya nona melihatnya!"
Naila tidak tahu harus berkata seperti apa. Jadi ia berucap dengan memandang Dirga. "Tuan muda! Terima kasih!" Dirga hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Baiklah! Untuk yang kedua barang ini adalah senjata pedang tingkat surgawi! Pedang ini di tempa menggunakan tulang monster tingkat tinggi. Harga awal lima juta koin emas dan harus menawar lebih satu juta koin emas!" Ucap Fanni seraya memperlihatkan pedangnya.
"Enam juta dua ratus koin emas!" Ucap Tetua putel di ruang viap nomor 4.
"Enam juta tujuh ratus koin emas!" Balas orang di ruang vip nomor 5.
"Tujuh juta koin emas!" Ucap seorang di ruang vip nomor 4.
"Tujuh juta lima ratus koin emas!" Balas orang di ruang vip nomor 5 yang tak mau kalah.
"Delapan juta seratus lima puluh koin emas!" Ucap orang vip nomor 4 dan seketika tidak ada yang menawarnya sekali lagi.
__ADS_1
Acara ini berlangsung selama beberapa menit. Pada saat ini, Fanni si pembawa acara memegang nampan kayu, Dia atasnya terdapat dua batu kasar yang tampak berlumur. Satu sebesar kepalan tangan dewasa, Dan satunya sebesar kepalan tangan balita.
Dengan sedikit ragu. Fanni berkata. "Batu misterius! Batu ini di temukan oleh anggota rumah lelang kami di suatu tempat yang tak di ketahui. Kami menjual kedua batu ini seharga sepuluh juta koin emas! Tidak boleh kurang dari lima ratus koin emas!"
"Batu apa itu? Aku tidak dapat mendeteksi adanya energi di dalamnya...!"
"Benar benar batu aneh! Lebih baik buang saja batu itu...!
" Benar! Buang buang koin emas saja! Huh...!"
"...."
Peserta lelang benar benar menghina batu itu karena tak ada kandungan energi apapun di dalamnya membuat Fanni si pembawa acara hanya bisa menggertakkan giginya tak tau harus apa.
Pada saat ini, Dirga juga melihat kedua batu itu dengan seksama. Memang benar tidak ada energi apapun di batu itu, Tapi yang kecil. Yang besar, Dirga merasakan ada energi aneh yang terdapat di dalamnya. Tapi ia tak mengetahui energi apa itu.
Seketika itu juga. Suara system tiba tiba bergema di benaknya.
"Tring! Batu Nompok Jiwa! Batu yang memiliki kandungan energi mental. Jika tuan menyerapnya poin energi mental sejati bertambah 200 poin!"
'Hm? Ternyata ini batu nompok jiwa!' Batinnya dengan senang. Lalu mengalihkan pandangannya ke batu yang lebih kecil dan bertanya ke sistem.
"Tring! Terdeteksi Batu Kristal Cahaya! Jika tuan menyerap batu itu, Maka tuan mendapatkan elemen cahaya."
'Elemen cahaya?' Serunya di hati kaget. Ia tak menyangka jika batu seburuk ini ternyata batu paling berharga.
Melihat tidak ada yang menawarnya, Raut wajah Fanni berubah muram. Ketika ingin berkata lagi, Tiba tiba suara orang dari vip nomor 2 mengejutkannya.
"Dua belas juta koin emas!"
__ADS_1