
Apa yang di lihatnya adalah tiga pengawalnya sudah di tumpuk rapi ke atas dan di atasnya ada sosok manusia yang berdiri menatapnya santai.
Tubuh ketiga pengawalnya itu ada pedang yang menusuk hingga tembus ke bawah!
Seolah pedang itu adalah tusuk sate!
"Ba-bagaimana mungkin? Bagaimana bisa aku tidak menyadari kehadirannya?" Dahui tanpa sadar memekik kaget.
Dia yang berada di Ranah Raja Langit saja tidak mendeteksi munculnya pemuda itu, Apalagi Cuhong yang hanya Alam Bumi.
"Ka-kamu?! Siapa kamu? Kenapa kamu membunuh tiga pengawalku??" Cuhong berkata sambil menurunkan tubuh Cindy dengan kasar hingga menimbulkan suara 'gedebuk'
Dirga tidak menjawab dan matanya tertuju pada gadis itu yang kini pingsan.
Ia akhirnya mengerti kenapa dia merasa familiar dengan suara itu, Ternyata memang benar dugaannya.
"Tu-tuan?! Ap-apa kita mempunyai masalah sebelumnya? Jika tidak biarkan kami pergi!" Tetua Dahui berkata sopan namun terdapat sedikit nada kesal.
Dia berkata seperti itu karena ia merasa pemuda di hadapannya bukanlah pemuda sembarangan karena tak mendeteksi keberadaannya sebelumnya.
Seolah - olah pemuda itu datang secara tiba - tiba dan mengejutkannya!
"Aku tidak memiliki masalah denganmu sebelumnya...Tapi sekarang kalian telah membuat masalah denganku!" Dirga berkata acuh menatap pria itu.
"Ap-apa maksud tuan?" Tetua Dahui berkata bingung.
Dia tak tahu mengapa Dirga berkata seperti itu, Padahal ia memang benar - benar pertama kali melihat pemuda ini.
"Apa aku salah mengurangi jumlah pengikut iblis??" Dirga berkata dengan sorot mata dingin menatap tetua Dahui.
Dahui menelan ludah kasar mendapati tatapan itu.
__ADS_1
Ia yang berada di Ranah Raja Langit pun di buat gentar oleh pemuda yang tak di ketahui apa kultivasinya!
Berbeda dengan Cuhong yang malah menyeringai. Agaknya dia sedang meremehkan akan kekuatan tak tentu pemuda ini.
"Cih! Pergilah jika kamu sayang nyawa!!" Cuhong mendecih sambil melambaikan tangan ringan.
"Merepotkan sekali!" Dirga menjawab dengan lambaian tangan ringan.
Namun wajah kedua lelaki itu benar - benar berubah!
Karena lambaian tangan Dirga mengeluarkan energi pedang yang mengandung Niat Pedang yang luar biasa!
"Brengsek! Apa kau tak tau siapa aku? Aku adalah putra Ketua Sekte Seribu Pedang! Jika kamu berani menyentuhku, Kamu akan menanggung sendiri akibatnya!" Cuhong meraung dan menunjukkan identitasnya.
Namun Dirga lagaknya tak peduli tentang identitas pemuda cecunguk itu. Dia kembali melambaikan tangannya kembali.
Dan seketika Niat Pedang itu melesat ke arah Cuhong membuat pupil mata sang empu menyusut.
Tetua Dahui yang berada di sebelahnya terpaksa mundur dengan kejadian tak terduga ini.
Sing!
Kilatan cahaya silang melaju cepat menuju niat pedang Dirga!
Boom!
Suara ledakan keras menggema. Namun ekspresi Cuhong saat ini benar benar berubah drastis.
Karena serangan niat pedang Dirga tidak menghilang ketika bertabrakan melainkan masih melaju ke arahnya!
"Sial!"
__ADS_1
Cuhong mengutuk serangan itu dan ingin menghindar. Namun terlambat, Karena serangan Dirga lebih cepat dari gerakannya.
Boom!
Tubuh Cuhong langsung meledak menjadi kabut darah!
Tetua Dahui yang melihat ini seketika terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah Dirga yang juga memandangnya dengan tatapan dingin.
Wajahnya tegang dan ia merasa ada tekanan seberat gunung yang membuatnya harus bertlutut saat itu juga!
"Tu-tuan! To-tolong jangan bunuh saya! Saya adalah ayah dari gadis ini!" Tetua Dahui benar benar merasa ketakutan saat ini.
Namun tetap saja ekspresi Dirga masih datar. Dia berkata. "Aku sudah mengetahui pembicaraan kalian sejak tadi."
Tetua Dahui tersentak kaget dan merasa tidak ada gunanya memelas kasihan ini.
Dia mengangkat kepalanya yang menunduk bermaksud untuk berkata.
Namun ia urung karena melihat serangan yang sama seperti serangan yang meledakkan tubuh Cuhong.
Namun kali ini Niat Pedang itu mengandung energi yang menakutkan baginya!
"Tidak...!!" Tetua Dahui meraung putus asa.
Namun tidak ada yang menanggapinya karena tak lama kemudian tubuhnya meledak seperti Cuhong.
Melihat ini, Dirga menghela napas kasar dan bergumam. "Hah! Hanya karena kekuatan mereka berani bekerja sama dengan iblis!"
Kembali mengalihkan pandangannya ke tubuh Cindy yang tergeletak. Ia benar - benar tak berdaya dan menggelengkan kepalanya.
"Gadis yang merepotkan!" Gumamnya dengan senyum kecut.
__ADS_1