
Semua pasang mata yang melihat ini hatinya bergetar. tak terkecuali Wira Marde dan Patraik Marde.
Seorang gadis kecil bahkan tidak memiliki kultivasi dapat membuat sepuluh pengawal Alam Bumi rendah tak berkutik?
Dengan masih mata melotot, Patriak Marde memekik kaget. "I-itu elemen api dan angin! Ya, Itu adalah elemen langka!"
Menyadari semua orang masih melebarkan matanya. Patriak Marde menghampiri dua gadis kecil itu bermaksud menjadikannya budak.
Bagaimanapun, Orang yang memiliki elemen adalah orang langka nan jenius.
Ketika jaraknya sudah satu meter dari dua gadis kecil itu, Tangannya terulur ke depan dengan cepat.
Namun, Ada yang lebih cepat dari gerakannya. Sebuah telapak tangan energi mengenai perutnya tepat area dantiannya.
Boom!
Tubuhnya terpelanting ratusan meter. Beberapa penginapan maupun tempat yang di laluinya seketika roboh sedemikian rupa.
Bruak!
Tubuhnya menabrak batang pohon tebal dan seketika itu juga energi yang ada di dalam tubuhnya meluap keluar.
"Arghh! Kultivasiku...Kultivasiku hancur...!" Patriak Marde berteriak ngeri sambil menyemburkan darahnya berulang kali.
Masih dengan kondisi mengenaskan, Tubuhnya kembali terpental ke langit. "Arghh....!"
Belum sempat menyadari bagaimana bisa tubuhnya tiba - tiba terpental, Sebuah sekelebat cahaya emas melaju ke arahnya dengan cepat.
Bang!
Tubuhnya kembali terpental ke segala arah dengan menyemburkan darah berulang kali.
Bang!
Di bawah, Semua pasang mata menatap ke langit seraya menelan ludah. Seorang kepala keluarga ini tak lebih dari seonggok sampah yang bisa di lempar lempar.
Booms!
Tubuh Patriak Marde jatuh tepat di depan putranya yang masih tercengang dengan apa yang di lihatnya.
Wajah Wira Marde muram begitu melihat kondisi memilukan ayahnya yang kini berada di depannya.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan ha?!" Wira meraung marah kepada Dirga ketika menyadari jika kultivasi ayahnya telah hancur.
Dirga melirik acuh si Wira ini. "Salahkan sendiri dia mau menculik adikku. Beruntung aku masih memiliki belas kasihan dengannya!"
Dirga berkata dingin kepada Wira tak peduli.
__ADS_1
Wira seakan mau muntah darah begitu mendengarnya. Bagaimana bisa orang yang mau menculik malah menghancurkan kultivasinya.
Dia yang biasanya menculik gadis gadis orang untuk kepuasan pribadinya menganggap ini sebuah penghinaan baginya.
Suasana menjadi hening. Tak ada seorangpun yang berani berbicara. Sesekali terdengar rintihan sepuluh pengawal itu yang kini kondisinya kena luka bakar serius.
"Si-siapa kamu??" Patriak Marde dalam kondisi memilukan bertanya susah payah dengan Dirga.
Kini ia akhirnya menyadari jika pemuda berambut perak ini bukanlah pemuda sembarangan.
Dirinya yang berada di ranah Raja Langit saja tak berkutik di hadapannya. Namun semuanya terlambat, Dantiannya kini hancur dan secara langsung ia tidak bisa berkultivasi.
"Apa kamu mempunyai hubungan dengan iblis?" Dirga tak menjawab pertanyaan Patriak Marde ia berkata pelan kepadanya, Saking pelannya, Hanya patriak marde saja yang mendengar.
Mata patriak melebar begitu di tanyai pemuda asing ini. "Si-siapa kamu sebenarnya? B-bagai-..." Ucapannya terhenti karena ia merasa di bodohi oleh Dirga.
Dirga tetap acuh tak acuh dan membalas ringan. "Sudah kuduga, Di sekitar tubuhmu masih tertempel aura iblis."
Mata Patriak Marde melotot sempurna dan ia merasa keringat dingin di punggungnya.
Apa yang di katakan pemuda ini memang benar adanya jika ia pernah bertemu dengan sesosok iblis. Namun, Ia tak mengerti bagaimana bisa pemuda ini mengetahuinya.
Wira yang melihat ekspresi pucat ayahnya menjadi bingung. Ia tahu jika ayahnya tadi menggerakkan bibir menandakan ia sedang berbicara.
Namun ia tak begitu mendengar jelas omongannya padahal posisinya terbilang dekat dengannya.
"Jika kau tidak mengatakannya dengan jujur aku akan membunuh dia!" Dirga berkata dingin seraya menambah cekikan leher Wira membuat muka nya membiru.
Melihat ini, Patriak Marde merasa ketakutan. Ia tahu nasib selanjutnya jika ia tak menuruti pemuda di depannya.
Melihat diamnya Patriak Marde, Ia menambah cekikan leher si Wira membuat kakinya yang melayang tergoyang goyang hebat.
Alasan ia melakukan ini, Dirga bisa merasakan jika aura yang masih menempel di tubuh Patriak Marde bukanlah iblis kecil.
Dari auranya, Ia menebak jika kultivasi iblis itu paling tidak berada di ranah Pertapa tingkat tinggi.
Merasa tidak ada yang d untungkan, Patriak Marde mencoba untuk bicara.
Namun belum sempat suaranya terdengar. Terdengar seruan seseorang dari belakangnya.
"Berhenti! Kamu telah melanggar peraturan Kota karena berani membuat kegaduhan dan menyebabkan ketakutan warga!"
Dirga menoleh dan melihat ada sekumpulan pria. Dua pria dewasa berada di ranah Raja Langit bintang lima dan delapan.
Sisanya dua puluh orang yang hanya Alam Langit menengah tinggi tampaknya mereka ini adalah pengawal pria dewasa itu.'Pikirnya'
Melihat siapa yang datang. Mata Patriak Marde berbinar dan dia berkata dengan sedikit memaksa. "Tuan kota Xu! Dia yang memulai ini semua! Bocah bau kencur ini yang meng-..."
__ADS_1
Belum sempat perkataannya selesai. Sebuah tendangan mengenai wajahnya dan tubuhnya kembali terpelanting dan menabrak gerobak pedagang.
Pria yang di panggil Tuan Kota Xu dahinya mengernyit. Ia mengenal jika Patriak Marde adalah orang yang sombong. Namun kini ia tak berkutik di hadapan seorang pemuda.
Ia tahu jika saat ini terjadi perkelahian karena bawahannya tadi melaporkan kepadanya. Maka dari itu, Ia harus bertindak cepat agar tidak terjadi situasi yang semakin kacau.
Melihat penampilan Dirga dari bawah sampai ujung, Tuan Kota Xu mengernyit karena ia tak bisa mendeteksi adanya aura sedikitpun.
Dengan kehati hatiannya, Ia berkata dengan ramah. "Anak muda! Bisakah kamu mencoba menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Melihat keramahan Tuan Kota Xu, Dirga melemparkan tubuh Wira terlebih dahulu dan mengangguk.
Buk!
"Ahw!"
"Sebenarnya aku tidak ingin seperti ini. Hanya saja dia menyeret ku dalam masalahnya!" Dirga berkata ringan kepada Tuan Kota Xu.
"Maksud anda?" Tuan Kota Xu mengernyit karena tak paham dengan apa yang di bicarakan pemuda ini.
Dirga tak menjawab dulu. Ia menoleh ke arah Indira yang saat ini masih terbengong dengan apa yang di lihatnya selama tadi.
Dirga melambaikan tangannya menyuruhnya kesini sambil berkata. "Nona, Kemarilah dan jelaskan apa yang terjadi!"
Indira seketika tersadar ketika pemuda tampan itu memanggilnya. Ia berjalan agak kaku ke arah Dirga.
Tuan Kota Xu yang melihat kedatangan wanita cantik ini merasa pernah melihatnya.
Ia akhirnya tersadar dan berkata ramah. "Ah...Ternyata anda Nona Indira! Kenapa anda berada di sini?"
"Eh-?" Indira terkejut ketika Tuan Kota Xu menyapanya dan sebenarnya ia tak mengenal orang ini.
Menyadari kebingungan Indira, Tuan Kota Xu tersenyum lantas berkata ramah. "Nona Indira mungkin lupa. Apakah Nona Indira masih ingat tentang pria yang Nona dan ayah anda pernah selamatkan seminggu yang lalu?"
Indira yang mendengar itu terdiam dan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
"Ah- Iya! Saya baru ingat! Apakah anda pria itu?" Indira memekik terkejut dan melihat penampilan Tuan Kota Xu yang sedikit berubah dari waktu lalu.
Memang dulu ia pernah menyelamatkan seorang pria, Namun wajah dan penampilannya tidak terlihat karena pria itu berlumuran darah habis bertarung dengan seseorang
Tuan Kota Xu mengangguk tersenyum begitu Indira masih mengingatnya.
"Ternyata Nona masih ingat! Tapi, Dimana ayah anda sekarang? Aku harus menemuinya dan berterima kasih kepadanya karena telah menolongku!" Tuan Kota Xu berkata kepada Indira.
Namun yang di ajak berbicara menundukkan kepalanya dengan raut wajah berubah. Dirga memicingkan matanya karena ia tak sengaja melihat perubahan sedih gadis ini.
(Maaf cuy🙏, Author nya lagi gak enak badan. Ini saja sedikit maksa meskipun hanya sedikit. Hehe....)
__ADS_1