
Ekspresi wajah tuan muda Feri benar - benar berubah ketika mendengar perkataan dari sosok yang ia panggil kakaknya itu.
Namun ia tidak bisa untuk mengelak karena tahu endingnya akan gimana.
"I-iya! Ka-kakak tenang saja! Feri akan melaksanakan perintah kakak!" Ucap Feri tergagap.
Tanpa berlama - lama, Feri membungkukkan badan ke segala arah dan berkata dengan wajah memohon maaf.
"Maaf semua karena tindakanku yang bodoh ini. Sebagai permintaan maafku, Tolong bagikan semua ini ke orang - orang di sini!"
Sambil mengeluarkan setumpuk koin emas dan langsung di letakkan di atas meja orang - orang. Dia tak peduli rekasi aneh semua orang.
Yang ia harus lakukan saat ini adalah berlari ke rumah se cepat mungkin dari sepasang mata dingin kakaknya itu.
Sebelum.berlalu, Ia sempat melihat kakaknya itu yang juga masih menatapnya. "K-kak! A-ayah sedang mencari mu dan sekarang keadaannya semakin memburuk!"
Suaranya semakin lama semakin mengecil agar tidak ada orang yang mendengarnya.
Namun karena sosok kakaknya yang pendengarannya tajam pun bisa mendengarnya. Raut wajahnya berubah ketika mendengarnya.
"Kamu duluan saja nanti aku menyusulnya!" Kakaknya berkata melambaikan tangan.
"I-iya kak!" Feri menjawab cepat. lantas lari terbirit - birit meninggalkan dua pengawalnya yang tertinggal jauh.
Ia tidak tahu jika ada satu sosok yang pendengarannya lebih tajam dari kakak Feri ini. Namun si empu hanya diam acuh tak acuh.
Sejenak suasana kedai makan pun hening. Tidak ada yang menyangka jika sosok Tuan muda Feri takut dengan seorang wanita cantik ini.
Mereka bertanya tanya siapa gadis cantik dan pemuda tampan ini?
Dirga yang memang malas dengan situasi ini pun berkata datar. "Ayo kita pergi dari sini!"
"Kak! Gendong~"
Cintia yang dari tadi duduk pun menjulurkan kedua tangan kecilnya.
Dirga tersenyum tipis dan menyambut Cintia masuk ke dalam pelukannya.
"Kak~ " Ania yang melihat saudari kecilnya pun tidak bisa untuk tidak mengikutinya.
Dirga kembali tak berdaya,Namun begitu ia tetap menggendong kedua gadis kecilnya.
Melihat sosok Dirga yang berlalu pergi meninggalkannya, Indira menghentakkan kakinya kesal.
'Ish! Kenapa dia selalu dingin kepadaku? Apa aku berbuat salah dengannya?' Ucapnya dalam hati dan mengikuti arah Dirga sambil mendengus.
Tidak ada yang menghalangi mereka ber empat karena kesemuanya melihat kejadian tadi.
__ADS_1
•••
Sekte Pedang Langit Abadi
"Kak Retania! Tehnik pedang kakak tadi sangat hebat! Apa kakak tidak berencana melatih Rista?" Rista berbicara sambil melihat depan dengan tatapan kagum.
Seorang wanita cantik berjalan menghampirinya sambil membawa pedang perak berukir indah di gagangnya.
Retania tersenyum dan berkata. "Tentu saja boleh! Tapi kultivasimu masih rendah karena tehnik pedangku ini harus berada di ranah Alam Bumi menengah!"
"Yah, Memang harus begitu yah?!" Riste berkata mengeluh mendengar ucapan Retania.
Retania mengangguk menjawab dan memandang danau luas di depannya sambil memangku dagunya.
Rista yang di sebelahnya ini tahu apa yang ada di pikiran Retania. Selama di Sekte, Rista hanya menemani Retania berlatih dan sesekali ia berkultivasi.
"Kak, Jangan khawatir! Suamimu itu pasti kembali kesini!" Rista berusaha menghibur teman barunya ini.
"Kuharap juga begitu! Tapi entah mengapa aku merasakan suatu firasat tentangnya!" Retania mengangguk dan berkata mengernyit.
"Ah, Itu paling hanya ilusimu karena sudah lama tidak bertemu dengannya!" Rista berkata tak percaya ketika mendengar jika Retania mengucapkan sebuah firasat.
"Hmm!" Retania menjawab berdehem dan kembali melamun ke arah depan. Rista pun membiarkannya dan malah mengikutinya.
Di saat mereka berdua sedang melamun entah apa. Tiba tiba keduanya di kejutkan suara ledakan dari atas langit.
Krakk! 3×
Boom! Boom! Boom!
Suara ledakan keras saling bersahutan, Beberapa kali terdengar suara retakan membuat semua yang ada di dalam ekspresinya berubah.
Semua penghuninya pun tak bisa untuk tidak melihat apa yang terjadi.
"Kak! Sepertinya Sekte kita sedang di serang! Aku bisa merasakan ada aura kuat di atas sana!" Rista berkata berdiri dengan wajah muram.
Retania yang di sebelahnya wajahnya berubah serius. "Ya! Aku juga merasakannya! Cepat! Kita harus pergi melihatnya!"
Wushh! 2×
Di atas langit Sekte. Lima pria tua namun tidak terlalu tua nampak sedang terbang menaiki pedang.
Di belakangnya ada sekitar lima ribu manusia yang sepertinya pasukan lima orang ini.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menyerang Sekte Pedang Langit Abadi??" Leluhur Siwa Kenta dan Leluhur Sido Lawang yang keduanya memang memiliki kultivasi tinggi bertanya dingin.
Salah satu sosok pria maju dan menatap bawah dengan tatapan terkejut. 'Bagaimana mungkin? Formasi macam apa ini yang tidak bisa di hancurkan walaupun ada lima orang setengah immortal?!' Batinnya tercengang.
__ADS_1
Ia melihat formasi berbentuk ribuan bintang emas setengah lingkaran itu masih tetap utuh meskipun ada sedikit retakan.
Namun untuk menghilangkan keterkejutannya, Ia menatap bawah dengan tatapan remeh.
"Ternyata benar jika tempat ini adalah markas Sekte Pedang Langit bedebah itu! Dan aku tidak menyangka jika ada dua Setengah Immortal di sini!...Hmhp! Benar - benar membuatku terkejut!" Ucapnya dengan suara dalam dan aura Setengah Immortal tahap akhir meletus dari dalam tubuhnya.
Wajah kedua leluhur itu sontak muram ketika merasakan tekanan ini. Mereka tahu jika bertarung habis - habisan pun tidak akan bisa menang.
Melawan satu per-satu saja tidak mungkin, Tapi ini ada lima. Meskipun ada beberapa di tahap menengah dan awal itu pun juga sulit.
"Kalian semua! Hancurkan Formasi sialan ini dan serang mereka!"
Tidak ingin membuat pihak Sekte Pedang Langit Abadi berkata, Pria tua itu memberi perintah ke seluruh pasukannya.
Boom! Boom! Boom! Boom!
Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!
Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr!
Suara ledakan bergema dan disertai suara tabrakan pedang menimbulkan percikan api dimana - mana.
Namun itu tidak dapat membuat formasi milik Dirga ini hancur.
"Siwa! Jika terus menerus begini, Formasi milik master akan hancur! Bagaimana ini?" Leluhur Sido Lawang berkata kepada Siwa Kenta.
"Benar leluhur! Jika mereka terus menerus menyerang, Seke kita akan hancur!" Tei yang berada di sebelahnya pun setuju dan di timpali oleh Zei. "Itu benar!"
Siwa Kenta yang memang kultivasinya Setengah Immortal Akhir pun berpikir sejenak.
Tetua Shane yang dari tadi diam pun berkata. "Aku baru ingat! Master pernah mengatakan jika Formasi ini memiliki dua fungsi! Jika ada yang menyerang dari luar, Itu bisa di tahan oleh formasi.Tapi jika dari dalam, Serangan kita masih tetap melaju!" Ucapnya menjelaskan tentang perkataan Dirga waktu lalu.
"Apa itu benar?" Leluhur Sido Lawang bertanya memastikan menatap wajah Sido Lawang.
"Benar leluhur, Jika leluhur tidak percaya leluhur bisa mencobanya!" Tetua Shane berkata memastikan ucapannya.
Leluhur Sido Lawang mengangguk dan mencoba menuruti perkataan Tetua Shane apakah benar.
Mengeluarkan pedang Surgawi nya dan menebas ke atas langit.
Sring!
Sebuah cahaya biru berbentuk silang dengan panjang puluhan meter muncul dan melesat ke atas.
Di bawah tatapan banyak murid Sekte. Cahaya biru silang itu tembus keluar dari Formasi berbentuk ribuan bintang itu.
Boom...!!
__ADS_1