
Dirga muncul di atas Kota Lewai. Ia berdecak kagum melihat luasnya satu Kota ini. Kota ini hampir memiliki luas 300 kilo meter.
Namun kemudian ia mengernyitkan dahi sedikit, Dan tak lama kemudian ekspresinya sedikit masam.
"Gadis ini...Kenapa dia begitu ceroboh?" Gumamnya tak habis pikir.
Karena merasa kasian, Dirga pun menghilang dari langit malam.
•••
Keluarga Marde
Keluarga Marde adalah Keluarga kelas atas yang peringkatnya menduduki peringkat ke tiga setelah Keluarga Longgo.
Meskipun hanya Keluarga kelas tiga, Bisnis keluarga mereka sangatlah banyak dan memiliki banyak sekali cabang yang ada di Ibu Kota.
Pada saat ini, Di dalam satu ruangan keluarga. Ada lima pria yang sedang duduk. Patriak Marde, Wira Marde dan ketiga lainnya sedang duduk.
Raut wajah kelimanya sangat datar dan dingin serta mengeluarkan aura membunuh yang kuat.
Wira Marde yang salah satu di antara mereka berkata muram. "Paman! Bagaimana? Apa paman sudah membawa gadis brengsek Kintang itu?"
Pria dewasa seumuran ayahnya dan memiliki wajah mirip juga berkata. "Wira! Tenanglah...Pamanmu ini memiliki pengawal kuat yang tak terkalahkan! Hanya seorang gadis saja menjadi masalah! Apalagi harus kehilangan dua tangan, Itu sangat bodoh!"
Dia bernama Putel, Tetua Putel Marde yang jika Dirga ada di sini mungkin ia merasa tak asing. Karena orang ini pernah mengikuti acara lelang Tetua Shane waktu lalu.
Ekspresi Wira sangat masam dan kesal mendengar pamannya berkata seperti ini. Karena secara tak langsung ia di ejek karena tak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sebagai tuan muda keluarga kelas atas, Hal inilah yang membuatnya malu.
"Bukan begitu paman! Hanya saja perempuan idiot memiliki seseorang yang kuat, Bahkan ayahku bukan tandingannya!" Wira mencoba mengelak atas permaluannya ini.
Patriak Marde yang mendengar perkataan putranya hanya bisa menunduk malu seraya senyum kecut. Apalagi di tatap oleh orang yang di takutinya ini.
Dahi tetua Putel mengernyit. "Bukankah dia hanya memiliki satu pengawal saja? Kenapa ayahmu tidak mampu mengurusinya?" Dia bertanya dengan bingung.
"Benar! Memang kenapa jika dia memiliki pengawal yang kuat?? Dengan kekuatan Kakek saat ini mungkin sudah mokad duluan dia!" Orang yang sejak tadi hanya diam angkat bicara. Dia bernama Truwen. Adik pertama dari Patriak Marde.
Seingatnya, Keluarga Kintang tidak memiliki seorang pengawal kuat. Apalagi bisa membuat kakaknya seorang kepala keluarga tak berkutik.
"Biarkan saja! Dia hanya seekor semut! Tidak usah di pikirkan...Sekarang bagaimana kita menyusun agar Keluarga Longgo dan Keluarga Xu itu saling menyerang satu sama lain!" Saat ini, Seorang lelaki tua namun tidak setua tua juga berbicara dengan sikap martabat.
Dia adalah kakek Wira dan secara asli juga kakek tua itu adalah ayah dari ayahnya.
Sebelum ada yang berbicara, Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sesosok tubuh kekar dan di atas bahunya ada sosok yang dia gendong.
Wira yang melihat ini matanya berbinar cerah dan langsung berdiri. "Hahaha...Paman! Akhirnya pengawal paman bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik! Kalau begitu, Paman akan kuhadiahi ini!"
Wira berkata sambil tertawa seraya mengisyaratkan kepalanya ke depan dan seketika pengawalnya yang ada di luar masuk.
Keempat pria lainnya merasa bingung melihat sikap Wira ini. Belum sempat ada yang berkata, Psngawal Wira Marde mengeluarkan benda yang langsung di letakkan di meja.
"Batu Surgawi..!!!" Keempatnya memekik keras dengan mata melotot begitu melihat apa yang di keluarkan oleh Wira ini.
"Hehe, Paman! Berbahagialah karena aku sudah menyimpan ini begitu lamanya! Dan ini waktunya untuk mengeluarkan benda ini untuk paman!" Wira berkata puas melihat tercengang nya mereka.
"Wi-wira? B-bagaimana kamu bisa kamu memiliki Batu Surgawi yang langka ini??" Tetua Putel berkata dengan gugup merasa apa yang di lihatnya adalah mimpi.
Batu Surgawi adalah Batu yang memiliki kesamaan layaknya Batu roh. Hanya saja ukurannya sebesar kepala manusia dewasa dan memiliki aura yang besar di dalamnya. Jika ada seorang kultivator setengah immortal ke bawah yang menyerapnya, Itu bisa membuat si penyerap akan menerobos tiga tingkat sekaligus. Bahkan tidak menutup kemungkinan empat tingkat sekaligus. Karena kandungan aura di dalamnya sangat kental nan murni.
Sebelum ada yang menyentuh batu sebesar kepala manusia itu. Tiba - tiba saja batu itu melayang sendirinya ke arah sudut ruangan.
Sontak, Semua kepala bergerak mengikuti di mana arah gerak melayang batu itu.
Tiba tiba mata semua orang melebar tak percaya. Tak terkecuali Patriak Marde dan Wira Marde yang memang melihatnya.
Sesosok pemuda tampan berambut perak entah kapan sudah berdiri di sudut ruangan.
__ADS_1
"Batu ini cukup bagus! Namun ini tak berguna untukku!" Gumam sosok itu pelan sambil membolak balikkan batu itu dengan tatapan tidak puas sembari menggelengkan kepala.
"Siapa kamu! Bagaimana kamu bisa masuk kesini? Pengawal...!!" Tetua Putel dan Kakek Marde segera menyadari jika ada penyusup.
Segera, Sekumpulan pengawal menerobos masuk dan tanpa ba-bi-bu mereka pun bergegas ke arah sosok Dirga yang masih tenang.
"Nak! Kau salah memilih lawan! Hari ini adalah kematianmu dan bicaralah jika masih ada kata kata terakhirmu!" Tetua Putel yang melihat kesombongan Dirga yang berani menampakkan diri ini, Bahkan di kediamannya pun mengolok oloknya.
Truwen pun menimpali dengan mencibir remeh. "Nak! Kau naif sekali! Apa menurutmu jika memaksa masuk kesini bisa menang dengan mudah? Itu tidak akan terjadi!!"
Berbeda dengan Wira dan ayahnya. Meskipun di permukaan juga setuju dengan perkataan dua orang ini, Tapi di hatinya merasa tidak tenang, entah apa.
Bahkan Kakek Marde pun tidak mengomentarinya dan malah mengerutkan keningnya. 'Anak ini? Bagaimana mungkin aku tidak bisa mendetekai ranah kultivasinya sama sekali? Padahal aku berada di ranah Pertapa tingkat tinggi!' Batinnya merasa ada yang tidak beres.
Dirga saat ini hanya memasang wajah datar dan acuh acuhnya. Melihat sekumpulan pengawal sudah dekat dengannya, Ia berkata ringan.
"Semut - semut seperti ini bukanlah lawanku! Mari aku tunjukkan sebenarnya siapa yang naif sekali!"
Dirga menjalarkan tangan ke depan dengan kepalan tangan sejenak. Lalu ia membuka kepalan tangan itu dua kali.
Dan seketika pemandangan mencengangkan sekaligus ngeri pun terjadi di depan mereka.
Setelah kepalan tangan terbuka, Kepala - kepala sekumpulan pengawal itu pun meledak dan menghamburkan darah serta isi kepala mereka.
Para keluarga Marde yang melihat pemandangan ini pun menelan ludah, Tidak ada yang menduga jika sekumpulan pengawal itu tewas dalam kondisi kepala hancur.
"Si-sialan! Nak! Berani beraninya kamu membunuh para pengawal keluarga Marde! Pengawal! Serang dia!" Tetua Putel yang di diliputi rasa ketakutan tak peduli.
Ia menyuruh pengawalnya tadi agar bisa membunuh pemuda mengerikan menurutnya ini.
Begitupun juga dengan Truwen yang sudah menyiapkan pengawalnya. Pengawal mereka berdua sama sama berada di ranah Alam Langit tingkat rendah.
"Akan tidak enak bertarung di ruangan sempit ini!" Dirga berkata enteng dan tubuhnya melesat keatas langit menghancurkan atap ruangan.
"Sialan! Cepat kejar dia brengsek!" Tetua Putel dan Truwen meraung marah dan mereke semua pun melesat ke atas langit malam.
Di atas langit, Terlihat dua orang yang sedang melayang. Namun salah satu nya memeluk satunya.
Dirga tak berdaya, Nampaknya gadis ini belum menyadari jika situasi saat ini tidak mendukung.
"Idiot! Sialan! Cepat bunuh orang itu!"
Terdengar suara marah seseorang dari bawah mereka berdua.
Andira menatap bawah sejenak dan melihat ada lima pria yang menatapnya dengan aura membunuh yang kuat.
"Guru! Apa yang terjadi? Apa mereka sudah membuat guru marah??" Andira bertanya menatap Dirga tanpa melepaskan pelukannya entah sadar atau tidak.
Dirga menggeleng dan menjawab. "Mereka hanya sekumpulan semut tak berguna! Kamu lawan dua pengawal itu dan sisanya biar aku yang mengurusnya!"
Andira yang mendengar perkataan gurunya sontak mengalihkan pandangannya.
Melihat dua pria kekar yang hanya memiliki ranah Alam Langit tingkat rendah membuat jiwa bertarungnya semangat.
"Baik guru! Andira akan melakukannya!" Andira mengangguk menyanggupi perintah gurunya.
"Hehe, Gadis kecil! Ternyata kamu seorang murid orang itu!" Dua pengawalnya terkekeh melihat kekonyolan antara murid dan guru ini.
"Banyak bicara!" Andira berkata dingin mendengar gurunya di jelekkan.
Dia mengeluarkan pedangnya dan menebaskan pedang ke depan.
Sring!
Suara pedang terdengar dan muncul kilatan cahaya biru dengan panjang puluhan meter melesat ke arah dua pengawal itu.
Raut wajah kedua pengawal itu berubah melihat serangan milik Andira.
__ADS_1
"Sialan! Kekuatan gadis kecil ini tidak bisa di remehkan!" Salah satunya mengutuk marah.
Boom!
"Cih! Sekumpulan semut seperti kalian tak layak menghina guruku!" Andira mendecih marah dan mereka pun kembali menyerang satu sama lain.
Boom!
Tetua Putel, Truwen, dan Kakek Marde yang melihat pemandangan ini pun terkejut.
Seorang gadis berusia 17 tahun an bisa mengimbangi pengawal terkuat mereka.
"Bajingan! Aku akan membunuhmu!" Tetua Putel meraung marah melihat pengawalnya terdesak oleh satu orang. Begitupun juga dengan Truwen.
Mereka berdua serempak melesat ke arah Andira yang berhasil mendorong jauh dua pengawal itu.
"Mati!"
Tetua Putel dan Truwen menyeringai melihat ada kesempatan ini.
Boom!
"Hahaha, Hanya Alam Langit belaka ingin memojokkan dua pengawalku!" Tetua Putel mencibir dingin begitupun juga Truwen.
Mereka berdua merasa serangan tadi sudah mengenai Andira dengan telak.
Namun suara dingin nan lembut terdengar di depan mereka membuat ekspresinya berubah.
"Seorang Raja Langit ingin menggunakan kesempatan untuk menyerang Alam Langit? Huh, Rasakan ini!"
Dua kelopak energi berbentuk mawar putih keluar dari asap hitam depan dan melesat ke arah masing masing.
Boom! 2×
"Argh...!"
"Hoek!" 2×
Kedua pria itu terpental ratusan meter dan menghancurkan isi kediamannya sambil menyemburkan darahnya berulang kali.
Kakek Marde yang melihat ini pun mengerutkan kening menatap atas.
Sesosok wanita cantik yang tidak kalah cantik dengan Andira tiba tiba sudah berada di dekat Andira.
"Terima kasih kak Laniya!" Andira berkata ramah kepada sosok yang baru melindunginya.
Laniya menganggukkan kepalanya. "Sama - sama! Lain kali jika bertarung fokuslah untuk melihat lihat sekitar sebentar jika ada serangan menyelinap!" Ucapnya memperingatkan Andira.
Andira menganggukkan kepalanya patuh. "Baik kak! Terima kasih!" Ucapnya hormat dan bersyukur.
"Serang lelaki tua itu dan bunuh dia!" Sebuah suara yang tak asing membuyarkan mereka berdua dari percakapan.
Laniya mengalihkan pandangannya menatap Dirga sebentar dan menatap Kakek Marde dengan dingin.
"Cantik! Kau tidak bisa membunuhku karena kamu sangatlah lemah!" Kakek Marde berkata mengejek hanya untuk menutupi ketakutannya.
Bagaimanapun, Dirinya dan Laniya sama sama memiliki ranah Pertapa bintang sembilan!
"Orang yang akan mati tidak usah banyak bicara!" Laniya berkata dingin dan tubuhnya tiba tiba menghilang.
Mata lelaki tua Marde itu melebar tak percaya melihat ini.
"Kecepatannya? Bagaimana mungkin aku tidak dapat mendeteksinya sama sekali??" Pekiknya tak percaya.
"Jangan alihkan fokus mu ketika bertarung!" Sebuah suara tak asing terdengar di belakangnya.
Belum sempat bereaksi, Punggungnya terasa dingin hingga menusuk ke tulang.
__ADS_1
Boom!
"Argh...!"