
Tuan Jing segera berubah menjadi kabut hitam dan pergi ke arah keempat bawahannya sesuai dengan perintah Dirga.
Melihat kepergian Tuan Jing, Dirga tak bisa untuk tidak menunduk ke bawah melihat Selly yang terus masih berada di pelukannya.
"Apa begitu nyaman berada di pelukanku, Nona?" Tanya Dirga.
Selly yang mendengar Dirga pun sontak mendongak dan melihat wajah tampan Dirga.
Seketika, Ia melepaskan pelukannya dari Dirga dan wajahnya memerah malu sampai ke leher.
Dia ingat dari tadi dirinya sudah berada di pelukan Dirga. Bahkan ia tak melepaskannya sedikitpun. Ini yang membuatnya semakin malu.
"I-itu..Ehhmm...T-tuan m-muda...." Selly berkata gugup dan belum menyadari apa situasinya saat ini.
"Tuan muda! Syukurlah tuan muda sudah datang. Maafkan saya tuan muda yang tidak bisa menjaga para murid Sekte!" Tetua Shane yang baru menyadari Dirga sudah ada di sini segera menghampirinya dan berkata menunduk.
Dirga mengangguk. "Tidak apa apa tetua! Tidak sepenuhnya salah tetua. Dan terima kasih sudah berusaha melawan pria iblis tadi!" Ucap Dirga memuji tetua Shane berani dalam melawan Tuan Jing, Meskipun kekuatannya berada jauh di atasnya.
Tetua Shane tidak lantas bahagia akan pujian dari Dirga. Mengangguk dan sedikit tersenyum. "Tapi tuan muda..." Ada yang ingin ia bicarakan namun terputus ragu - ragu.
Dirga yang mengetahui apa yang di pikirkan Tetua Shane lantas menanggapi. "Dia terkena energi korosif. Biarkan dia sendiri yang mengobati lukanya karena di tubuhnya ada sesuatu yang bisa menghilangkan korosif itu."
Yang dia maksud tentu saja Laniya. Ia berkata seperti itu karena tahu jika pil penyembuh walaupun tingkat tinggi sekalipun tidak ada gunanya untuk Laniya.
Hanya elemen cahaya-nya yang belum terbangun lah yang bisa menyembuhkan lukanya dengan sepenuhnya. Bagaimanapun, Laniya memiliki tubuh khusus.
Tetua Shane yang mendengar perkataan Dirga mengerutkan kening. Ia tak tahu mengapa Dirga berucap seolah - olah Laniya adalah beban yang sudah seharusnya dia sendiri yang melakukannya.
"Jangan berpikir seperti itu tetua! Tetua sendiri tahu apa yang ku maksud tadi!" Imbuh Dirga dan membuat Tetua Shane tersenyum canggung karena Dirga benar menebak pikirannya.
Mengalihkan pandangannya ke bawah dan memberi perintah. "Pindahkan semua mayat mereka di tempat jauh! Untuk para murid kita segera ibati mereka!"
"Baik Tuan muda!" Tetua Shane berkata hormat dan segera pergi membantu yang lain.
Selly yang dari tadi di sebelah Dirga hanya bisa cengo karena tak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh dua pria beda usia ini.
Namun, Ketika mengalihkan pandangannya kebawah matanya membulat sempurna.
"Aaaa!" Teriaknya ketakutan dan tanpa sadar lagi ia memeluk Dirga.
Dirga benar benar tak berdaya melihat ini. Mengalihkan pandangannya ke depan jauh dan melihat Laniya yang sedang di papah oleh Retania dan Rista sedang memandangnya dengan raut aneh.
"Nona, Biar kuantarkan ketempat mu!"
__ADS_1
•••
Di tempat lain
Boom! Boom! Boom! Boom!
Suara ledakan terus menerus menggema di atas langit. Dari kepulan asap hitam di atas langit itu meluncur dua tubuh yang langsung terjun kebawah.
Buk! 2×
Empat pria setengah tua nampak sedang melemparkan serangan bola energi maupun energi pedang.
"Hahaha, Pak tua! Bagaimana? Apa serangan ini belum cukup!?" Hua Bhot berkata tertawa sambil diikuti yang lain.
"Hua Bhot! Jangan bertele tele lagi! Cepat bunuh mereka berdua!" Dai Wuye berkata menyela di sela tawa mereka.
Mengangguk dan mengangkat dua tangannya tinggi tinggi bersama dengan ketiga kawannya.
Wushh!
Suara seruan angin yang besar langsung menyebar di area itu. Dari atas kepala mereka, Muncul siluet tengkorak berwarna hitam legam yang sangat besar.
Leluhur Sido Lawang dan Leluhur Siwa Kenta yang melihat tehnik lawan ini pun tak bisa hatinya bergetar karena aura mengerikan itu.
"Hahhhh, A-apa ini akhir dari kehidupanku?" Gumam Leluhur Sido Lawang dengan nafas lemah.
"Rasakan ini idiot!" Ucap Dai Wuye menyeringai.
Dan seketika itu juga ketiga kawannya yang lain melepaskan serangan tengkorak hitam itu ke arah dua leluhur.
Kedua leluhur itu memandang serangan itu tanpa daya. Saat ini energinya sudah benar benar habis terkuras karena lamanya waktu bertarung.
Dari pagi sampai sore.
Memejamkan matanya dan berharap jika ada suatu keajaiban yang menimpanya.
Tidak ada yang menyadari jika di depan dua leluhur itu muncul asap hitam tipis dan langsung memblokir serangan gabungan mereka.
Boom!
Dhuarr!
Suara ledakan yang sangat besar menggema. Hutan yang memang rusak menjadi semakin rusak. Monster - monster yang berada di sekitar seketika lari melarikan diri.
__ADS_1
"Hahaha, Sangat di sayangkan kematian kalian berdua sangat konyol!" Cibir Hua Bhot dan diikuti yang lain.
"Idiot! Berani beraninya kalian berempat menyerang bawahan tuanku!"
Tiba - tiba terdengar suara dingin yang tidak asing menggema di sekitar mereka.
Ekspresi keempatnya seketika berubah. Belum sempat tersadar apa yang terjadi.
Sebuah bola energi hitam diikuti telapak tangan hitam raksasa melaju ke arah keempatnya dengan sangat cepat.
Ekspresi mereka berubah tegang. Apa yang di lihatnya adalah adegan yang tidak sesuai dengan ekspetasi mereka.
"I-ini tehnik Telapak Iblis milik Tuan Jing! Cepat menghindar!" Dai Wuye yang pertama kali tersadar berteriak ke mereka.
Namun terlambat. Dua serangan itu melesat sangat cepat membuatnya tak berkutik.
Dhuarr!!!
Ledakan kali ini sangat besar. Dampak dari ledakan itu menyebabkan sapuan angin dahsyat yang menyebar belasan mil jauhnya.
Di atas langit asap hitam pekat mengepul. Dari dalam asap itu, Empat tubuh meluncur kebawah.
Leluhur Sido Lawang dan Siwa Kenta yang mendengar ledakan itu pun terkejut dan tidak bisa untuk tidak membuka matanya.
Namun apa yang di lihatnya pertama kali membuatnya tercengang.
"Iblis bedebah! Apa yang kau lakukan ha?" Siwa Kenta meraung marah kepada Tuan Jing.
Jika Tuan Jing sudah berada di sini, Lalu apakah sekarang Sektenya sudah hancur?
Memikirkan ini membuatnya sangat marah kepada Tuan Jing ini karena dialah biang kerok semuanya. Begitupun juga dengan Leluhur Sido Lawang.
Tuan Jing yang melihat tatapan membunuh dua leluhur itu membuatnya harus mundur selangkah.
Kini tatapannya lebih ke arah sopan dari pada tadi. Tapi karena perintah tuannya belum selesai, Ia pun mengeluarkan dua pil.
"Tuan menyuruhku untuk membunuh empat orang itu! Sekarang telan pil itu dan kembalilah ke sisi Tuan!" Ucap Tuan Jing dan tubuhnya seketika berubah menjadi asap hitam lalu menghilang.
Dua leluhur itu melongo merasa bingung dengan sikap aneh yang di tunjukan oleh Tuan Jing.
Saling berpandangan sesaat dan mengangkat bahunya masing - masing dengan ekspresi cengo.
Karena penasaran pun keduanya segera menelan pil yang di berikan oleh Tuan Jing. Mereka berdua tidak merasa curiga dengan pil pemberian Tuan Jing itu.
__ADS_1
Karena ia merasa tak asing dengan bentuk maupun aroma pil yang di berikan oleh Tuan Jing.
Pikiran mereka mengarah ke satu orang dan sosok itu adalah Masternya. Dirga!